KESAH.IDAda kecenderungan kecerdasan intelektual masyarakat Indonesia terjun bebas mendekati kecerdasan Gorilla. Ada banyak penyebab dan faktor yang membuat penurunan kecerdasan terus terjadi. Dari antara banyak penyebab, salah satunya adalah politik, terutama perilaku para elit politik yang kerap diluar nalar. Namun karena elit yang jumlahnya sedikit itu punya pengaruh besar, walau tak bisa jadi role model, pengaruhnya tetaplah besar.

Ada indikasi IQ orang Indonesia merosot, bahkan cenderung terjun bebas. Ryu Hasan, pada tahun 1980 pernah melakukan penelitian pada sebuah kecamatan di Kediri, hasilnya IQ rata-rata masih 100-an lebih.

Dan pada masa orde baru, sekitar sepuluh tahun kemudian, rata-rata IQ-nya menurun menjadi 83,82. Di tahun 2025, Willy Aditya, anggota DPR RI menyebut rata-rata IQ orang Indonesia 78.

Jika IQ ini terus menurun mungkin tidak sampai sepuluh tahun lagi, kecerdasan orang Indonesia setara dengan Gorilla.

Banyak yang mengatakan jangan terlalu terpaku dengan IQ, sebab kecerdasan itu bersifat majemuk. Tidak sedikit yang justru berpikiran kalau kecerdasan emosional lebih penting daripada kecerdasan intelektual.

Berkaca dari realitas biologis, yang terbaik atau yang normal adalah seimbang. Dan otak manusia terdiri dari otak rasional dan otak emosional, maka tak benar kalau intelektual lebih penting dari emosional, atau emosional lebih penting dari rasional. Keduanya sama-sama penting, maka kecerdasan emosional sama pentingnya dengan kecerdasan intelektual.

Orang yang cerdas secara intelektual namun rendah kecerdasan emosionalnya jelas berbahaya. Pun juga orang yang cerdas secara emosional namun rendah kecerdasan intelektualnya juga tak kalah bahayanya.

Konon menurunnya kecerdasan intelektual pararel dengan minat baca. Semakin masyarakat minat bacanya rendah, kecenderungan menurunnya kecerdasan intelektual semakin tinggi. Dan rasanya memang benar, minat baca masyarakat Indonesia memang makin menurun.

Gerakan literasi misalnya lebih banyak omong-omongnya daripada bacanya. Ambil contoh, acara bedah buku yang menjadi salah satu acara favorit gerakan literasi, dalam acara seperti ini buku tidak dibaca melainkan dibincang.

Faktor apa yang membuat kecerdasan rata masyarakat Indonesia terjun bebas.

Kalau kita tanyakan pada AI, maka akan muncul jawaban yang normatif. Mesin kecerdasan buatan di internet memang diajari untuk sopan. Maka jawaban dari Chat GPT adalah gizi buruk, kualitas pendidikan, lingkungan sosial dan paparan teknologi.

Jawaban yang berbeda dan lebih keras sudah lama diberikan. Salah satunya oleh Tan Malaka, menurutnya bangsa Indonesia menjadi tidak maju {tidak cerdas} karena terlalu percaya tahayul. Bangsa ini terlalu banyak membuang waktu untuk membincang hal-hal yang sumir, hal yang tidak ada.

Rocky Gerung sering mengucapkan kata dungu, kata yang sepadan dengan tidak cerdas alias IQ rendah. Dungu artinya berpikir dan bertindak tanpa logika, tanpa argumen yang kuat. Atau dalam istilah lain tidak berpikir kritis.

Karena cara berpikirnya berantakan maka tindakannya juga amburadul.

Aristoteles mengajarkan first principle thinking, mencari masalah hingga ke akarnya yang paling dalam. Prinsip ini masih relevan hingga sekarang. Elon Musk yang sering dianggap sebagai manusia cerdas versi  ultra modern menerapkan prinsip ini dalam pengembangan bisnisnya, hingga kemudian Tesla, Space X dan lainnya memperoleh sukses.

Di Indonesia kebanyakan persoalan terutama yang berhubungan dengan kebijakan sering kali jalan keluarnya tidak didasari oleh first principle thinking. Bantuan Langsung Tunai diputuskan untuk dilakukan bukan untuk mengatasi masalah kelesuan ekonomi, kemerosotan daya beli, melainkan untuk menjaga popularitas pemimpin.

Maka salah satu yang membuat intelektual bangsa ini terjun bebas adalah racun politik. Politik yang penuh vested interest.

BACA JUGA : Sepatu Lokal

Walau sifatnya subyektif, secara umum soal kecerdasan bisa dilihat dari kepemimpinan di Indonesia dari masa ke masa. Masa orde lama, bisa disebut sebagai masa Indonesia dipimpin oleh orang-orang cerdas.

Sukarno, Hatta, Syahrir dan lain-lain adalah orang-orang cerdas, jejak mereka adalah bacaan dan perpustakaan. Adu gagasan terjadi dalam masa ini, memang hasilnya kemudian ketidakstabilan dan ekonomi yang tidak tumbuh. Namun banyak pondasi kehidupan berbangsa dan bernegara di letakkan di masa ini.

Berganti ke masa orde baru, Suharto bukanlah orang cerdas, bukan pembaca buku. Tapi Suharto punya cara tersendiri untuk mengatasi kekurangan itu.

Konon Suharto di masa awal kepemimpinannya jarang memimpin rapat kabinet. Saat rapat Suharto lebih banyak mencatat. Rapat dipimpin oleh seseorang yang dianggap oleh Suharto punya kemampuan merumuskan gagasan-gagasan pembangunan.

Untuk ukuran seorang pemimpin, Suharto dianggap punya kerendahan hati karena mengakui dalam hal-hal mana dia tidak terlalu tahu dan kemudian mau belajar. Dalam urusan tertentu, Suharto sangat ketat memilih pembantunya.

Dalam penjenjangan karir pembantu-pembantunya, Suharto juga menerapkan tour of duty, seseorang yang dikader akan ditempatkan berpindah-pindah agar menguasai satu bidang secara komprehensif.

Meski berakhir buruk karena menjelang masa-masa akhir kepemimpinannya terjerat nepotisme, sepanjang kepemimpinan Suharto, Indonesia mencatat berbagai lompatan-lompatan besar dalam ekonomi dan pembangunan.

Pada masa peralihan antara Orde Baru dan Orde Reformasi, Indonesia dipimpin oleh orang jenius, Habibie. Ada perombakan besar yang dilakukannya terutama soal kebebasan pers, kebebasan berserikat, kebebasan bicara termasuk kebebasan menentukan pilihan sendiri. Salah satunya Habibie menyetujui referendum di Timor Timur.

Tapi Habibie tidak disukai. Setelah Habibie, Indonesia dipimpin oleh orang yang tak kalah cerdas, Abdurahman Wahid atau Gus Dur. Lagi-lagi Gus Dur tak disukai karena pikirannya sering melampaui pikiran kebanyakan orang. Gud Dur diganggu oleh konflik di beberapa daerah lalu dijatuhkan.

Diteruskan oleh Megawati yang tak terlalu menonjol kecerdasannya. Namun Mega dikelilingi oleh orang-orang cerdas. Ada Kwik Kian Gie, Laksamana Sukardi dan lain-lain.

Tapi kemudian Megawati dikalahkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono, jenderal yang rajin membaca buku. Kepemimpinan SBY cukup rasional, sebagai presiden SBY tidak baperan, tidak alergi pada kritik. Dalam sebuah demonstrasi SBY disamakan dengan kerbau, tapi tak memperkarakan para pendemo.

Menyelesaikan dua periode kepemimpinan, SBY diganti oleh Joko Widodo, yang sangat berwatak politis. Pagi Jokowi mengatakan A, sorenya bisa mengatakan B. Atau mengatakan A pada si B, lalu mengatakan C pada si D.

Kecerdasan Jokowi adalah kecerdasan bersandiwara. Hingga masyarakat terbelah, yang menyukai akan memuja-muja, yang tidak menyukai akan memaki-maki.

Selepas dua periode, Joko Widodo diganti oleh Prabowo. Konon Prabowo tergolong orang cerdas, namun tidak terlalu terbuka dan sangat protokoler. Lingkaran orang kepercayaannya sangat kecil, sepertinya Prabowo sulit bekerjasama dengan kelompok besar, padahal slogannya satu komando.

BACA JUGA : Alex Marquez

Sebenarnya para pemimpin Indonesia dengan semua keunikan masing-masing bisa dijadikan role model agar masyarakat Indonesia tidak dungu-dungu amat. Masalahnya begitu orde baru runtuh, pembangunan di Indonesia tidak runut. Masing-masing punya selera sendiri. Di daerah juga begitu, pemimpin daerah mendapat kewenangan lewat otonomi daerah.

Kadang-kadang kebijakan daerah suka aneh-aneh.

Namun masalah besar justru ditimbulkan oleh regim pemilu one man one vote. Dengan pemilihan langsung, pemimpin kerap kali lebih mengedepankan popularitas dan elektabilitas dalam kebijakannya.

Problem soal kecerdasan menjadi kurang dipikirkan dengan serius. Bahkan mungkin pemimpin lebih memilih agar masyarakatnya tidak terlalu cerdas, tidak terlalu kritis. Memimpin masyarakat yang cerdas dan kritis nampaknya melelahkan.

Dalam teks pembukaan UUD 1945 disebutkan salah satu tujuan dari negara Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Pembangunan sumberdaya manusia ini salah satunya mesti dicapai lewat pendidikan. Oleh karena itu pendidikan memperoleh alokasi dana yang besar.

Masalahnya dana besar itu kemudian diotak-atik, hingga sebagian besar kemudian terserap oleh belanja-belanja yang secara esensial tidak terkait dengan kecerdasan. Belum lagi soal korupsi, dimana dua kementerian yang paling berkaitan dengan membangun masyarakat yang cerdas dan beradab, malah jadi dua kementerian yang paling korup.

Selain pemerintah, yang mempunyai tugas untuk mencerdaskan bangsa adalah partai-partai. Namun sebagai role model, para elit partai justru kerap membuat masyarakat menjadi tidak cerdas. Para pemimpin atau aktivis partai lebih sering menunjukkan kecerdasan dalam bersilat lidah, kecerdasan mencari-cari alasan yang kebanyakan tidak ilmiah.

Politik Indonesia menjadi politik yang tidak rasional dan lebih bernuansa transaksional. Politik lebih sering menunjukkan dan mengungkapkan hal-hal yang tak sebenarnya.

Politik tidaklah buruk, namun praktek dan perilaku politik yang busuk membuat kecerdasan bangsa ini makin terpuruk.

note : sumber gambar – CNBC