KESAH.ID – Jangan sepelekan tahi sapi. Kotoran ini terbukti telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat Nusantara untuk berbagai kepentingan. Kini dengan model budidaya yang mengandalkan asupan nutrisi buatan, tahi sapi mempunyai peran untuk turut memulihkan lahan atau tanah yang miskin hara, merana atau kritis. Dengan sedikit sentuhan tambahan, tahi sapi bisa menjadi penyubur dan pembenah tanah untuk pertanian yang berkelanjutan.
Ada banyak tradisi unik dalam masyarakat yang terus bertahan di masa sekarang. Salah satunya adalah kebiasaan masyarakat di Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.
Warga disana rajin melulur, bukan lulur wajah atau badan melainkan lantai rumah. Setiap 4 – 5 hari sekali, warganya akan melulur lantai rumahnya dengan tahi sapi.
Lantai rumah dari tanah tidak berplester memang kerap kali retak. Tahi sapi yang dilulurkan secara rutin itu dimaksudkan agar retakan-retakan itu tertutupi. Tahi sapi dianggap punya daya rekat sehingga retakan tak kelihatan.
Yang dipakai untuk melulur bukan sembarang tahi sapi, tetapi kotoran yang pertama dikeluarkan sapi di pagi hari. Tahi sapi ini dianggap tidak terlalu mengeluarkan aroma yang tak sedap dan belum dikerubuti lalat.
Selain retakan tertutupi, warga merasa nyaman meninggali rumah berlantai tanah yang diluluri tahi sapi karena lantainya menjadi tak berdebu.
Dan kini yang unik-unik atau bahkan aneh itu justru menjadi daya tarik untuk wisatawan. Dusun Sade pun kerap didatangi wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk melihat warganya meluluri lantai dengan tahi sapi.
Bisa dipastikan kebiasaan meluluri lantai dengan tahi sapi ini bukan hanya khas masyarakat Dusun Sade, ada banyak masyarakat daerah lain yang melakukannya. Di negeri seberang sana yakni India, juga ditemukan kebiasaan semacam ini.
Selain untuk membuat lantai tanah menjadi licin, meluluri lantai tanah dengan tahi sapi juga membuat lantai terasa hangat serta rumah terbebas dari nyamuk.
Tahi sapi memang sering dianggap sebagai ‘obat nyamuk’. Tumpukan tahi sapi kering yang dibakar akan mengeluarkan asap yang manjur untuk mengusir nyamuk.
Meskipun unik dan menarik namun kebanyakan orang akan menganggap meluluri lantai atau dinding rumah dengan tahi sapi adalah hal yang jorok, tidak higienis. Tapi dari sisi masyarakat yang melakukannya justru punya pandangan yang sebaliknya.
Meluluri tahi sapi justru dianggap sebagai cara untuk membuat rumah menjadi sehat dan nyaman ditinggali. Mereka yakin tahi sapi mengandung unsur atau zat yang menyehatkan dan mampu menghindarkan rumah dari serangga, nyamuk, kalajengking, ulat dan sebagainya.
Bahkan di India, meluluri lantai rumah dengan tahi sapi dianggap sebagai bagian dari spiritualitas. Dalam tradisi Hindu India, sapi merupakan hewan suci sehingga kotoran berupa tahi dan urinenya juga dianggap suci.
Meluluri rumah dengan tahi sapi dianggap sebagai bagian pensucian. Suci hama dan sekaligus suci hati serta lingkungan.
BACA JUGA : Air Kehidupan
Sepuluhan tahun lalu saya pernah diajak ke salah daerah di Kutai Kartanegara. Kebetulan di daerah itu banyak sapinya. Ada yang dipelihara dengan cara diumbar ada pula yang dikandangkan.
Populasi sapi yang besar tentu saja menghasilkan kotoran yang jumlahnya besar pula. Sapi-sapi yang berkeliaran kemudian menimbulkan masalah, ada banyak ‘ranjau’ bertebaran.
Sebuah perusahaan multinasional yang beroperasi di wilayah itu kemudian berinisatif untuk mengembangkan model pemanfaatan tahi sapi agar tidak menjadi gangguan.
Teman yang mengajak saya pergi kesitu datang dari Bogor karena diminta oleh perusahaan untuk bersama masyarakat mengembangkan reaktor biogas untuk mengolah tahi sapi agar tak bertebaran atau menumpuk dimana-mana.
Waktu itu trend-nya memang memanfaatkan limbah atau kotoran manusia dan ternak untuk diolah menjadi biogas.
Saya tak memantau lebih lanjut apakah proyek modeling biogas dari tahi sapi itu masih berlanjut sampai sekarang. Tapi biasanya proyek-proyek berlabel CSR semacam itu tak lama menjadi ‘bangkai’ walau papan atau penanda proyeknya masih terpasang kokoh.
Untuk perusahaan yang penting mereka sudah berniat dan berbuat baik, mengajak masyarakat memanfaatkan yang dianggap kurang baik menjadi kebaikan.
Tapi di masyarakat kita semua yang punya tujuan baik, dilakukan dengan baik belum tentu akan berkelanjutan.
Masyarakat kerap kali lebih berpikir soal nilai keekonomian, menghasilkan energi sendiri jika dianggap lebih merepotkan maka mereka lebih memilih untuk membeli. Membeli dipilih karena dirasa lebih gampang dan murah.
Jadi membuat tahi sapi menjadi biogas kemungkinan besar akan gagal jika di daerah itu gas melon mudah didapatkan.
Pikiran masyarakat umum tidak akan sedalam para aktivis lingkungan. Yang paling penting untuk masyarakat selama energi tersedia, bisa diakses dengan mudah dan harganya masih terjangkau maka urusan ketahanan energi tidak masuk di kepala mereka.
Apalagi urusan mitigasi iklim mengolah tahi sapi agar tidak menyumbang Gas Rumah Kaca yang merusak iklim, ini sama sekali belum terbayangkan.
Jadi nda perlu heran kalau nanti ada usulan dari masyarakat atau pemerintah desa untuk pemanfaatan dana karbon yang malah merusak iklim.
Makanya banyak proyek atau inisiatif untuk transisi energi, pengembangan energi yang lebih bersih hanya berhasil jika dilaksanakan di daerah-daerah yang ketersediaan energi konvensionalnya memang langka.
Tapi tak usah menyalahkan masyarakat, sebab memang begitulah cara kerja otak manusia yang cenderung tak mau repot-repot.
Dan memang betul, rasanya kita semua memang lebih memilih makan nangka tanpa terkena getahnya.
BACA JUGA : Sukai Disukai
Namun jangan khawatir soal tahi sapi, ada trend lain yang sekarang sedang berkembang hingga membuat mencari tahi sapi dalam jumlah yang cukup besar jadi tak mudah.
Tahi sapi terbukti efektif untuk dimanfaatkan sebagai pupuk organik dan pembenah tanah.
Dengan pengolahan yang sederhana, tahi sapi bisa menghasilkan pupuk cair, pupuk padat dan kompos.
Hingga mengolah tahi sapi menjadi penyubur dan pembenah sampah menjadi relevan serta punya nilai ekonomis. Sebab salah satu masalah dalam dunia pertanian kita adalah harga pupuk yang mahal.
Selain mahal, aplikasi pupuk buatan pabrik yang sering disebut pupuk kimia ternyata membuat tanah makin merana.
Dan faktanya, aplikasi pupuk dan kompos tahi sapi pada tanah-tanah yang merana bisa mengembalikan kesuburan dan kegemburan tanahnya.
Maka memelihara sapi sebagai pabrik tahi bisa menambah nilai ekonomi untuk peternaknya.
Peternak tidak hanya akan beroleh untung saat menjual sapi di Hari Raya Kurban. Dengan pemanfaatan tahi sapi untuk diolah menjadi penyubur dan pembenah tanah, peternak sapi bisa memperoleh hasil bernilai ekonomis bahkan ekologis terus menerus tanpa menjual sapinya.
Model peternakan sapi semacam ini menjadi amat relevan dengan Kalimantan Timur yang sebagian besar lahannya merupakan area konsesi pertambangan.
Maka jika perusahaan-perusahaan tambang tidak ingin jadi penerus PT Timah dan mitranya yang dituduh korupsi 271 trilyun karena merusak lingkungan, bersegeralah memelihara sapi. Kalau tak mau pelihara sendiri, bermitralah dengan masyarakat tani dan ternak.
Kemudian manfaatkan tahi sapinya untuk diolah menjadi penyubur dan pembenah tanah sehingga area lahan bekas tambang perlahan-lahan bisa dipulihkan kembali.
Andai lahan-lahan bekas wilayah pertambangan bisa dipulihkan kembali maka bisa dimanfaatkan sebagai lahan berkelanjutan untuk pertanian tanaman pangan. Sehingga tak perlu pemerintah membangun area food estate dengan cara ‘merampas’ atau menyingkirkan masyarakat dari lahan garapannya.
Bagaimanapun juga tambang jelas merusak lingkungan, tapi lingkungan masih bisa dipulihkan untuk kemudian dimanfaatkan secara berkelanjutan. Konsep ini kata teman saya yang berprofesi sebagai konsultan lingkungan diistilahkan sebagai impact to be property.
Dan ternyata caranya nggak rumit-rumit amat, syaratnya juga mudah yakni jangan sepelekan tahi sapi.








