KESAH.IDYang berempati kepada dunia pendidikan terutama pendidikan tinggi kerap nelangsa. Bahkan kemudian ada yang bersuara sarkas karena sungguh kecewa. Ini kejadian di negeri Konoha dimana para petingginya yang mempunyai kekuasaan politik dan tentu saja juga uang kerap ‘merusak’ marwah gelar akademik demi memvalidasi suksesnya. Seorang para politisi negeri itu belum lengkap suksesnya jika tak punya gelar DR didepan namanya. Doktor terbaru di negeri Konoha lulus hanya dalam waktu 1 tahun 8 bulan di sebuah universitas terbaik negeri itu.

Orang-orang di sekitar menyebut laki-laki berbadan gempal dan selalu menebar senyum itu sebagai Tuan Guru. Sebetulnya sebutan ini hanya sekedar gurauan, tanda keakraban diantara teman-teman sepergaulannya.

Tuan Guru di tanah Borneo adalah sebutan atau gelar terhormat untuk tokoh yang mempunyai pengetahuan dan mendakwahkan ajaran Islam. Sebutan ini dipopulerkan oleh masyarakat Kalimantan Selatan, orang Banjar dan Melayu.

Salah satu sosok yang paling kondang adalah Tuan Guru Zaini Abdul Gani, sebutan populernya Tuan Guru Sekumpul.

Foto atau poster Tuan Guru Sekumpul dengan mudah ditemui warung atau rumah makan, bukan hanya di Kalimantan Selatan melainkan hingga ke wilayah Kalimantan lainnya ketika yang berjualan adalah orang Banjar.

Diberi bingkai yang bagus, foto biasanya dipasang di belakang meja kasir atau bagian dinding yang menghadap ke pintu masuk. Hingga semua yang datang akan melihat.

Karena kerap dipanggil dengan sebutan Tuan Guru, orang lain yang mendengar namun tak terlalu akrab atau terlalu dekat jadi salah sangka. Teman saya yang berbadan gempal dan ramah itu benar-benar disangka seorang guru.

Namun ada teman lainnya yang menyebutnya dengan sebutan Raja Banjar. Ini semacam gurauan lain lagi. Hubungannya dengan labu yang oleh orang Banjar disebut dengan waluh. Selain nama tanaman atau buah untuk sayuran, waluh juga merupakan sebutan untuk kebiasaan membual di masyarakat Banjar.

Teman saya itu memang punya ketrampilan lebih dalam membual.

Salah satu bualannya yang saya ingat adalah cara menjadi kaya. Menurutnya ada 3 cara atau syarat untuk menjadi kaya. Yang pertama rajin sholat, yang kedua hormat pada bapak ibu dan orang yang lebih tua dan yang ketiga rajin menabung sekurangnya satu juta setiap harinya.

Karena cara memberi wejangannya meyakinkan, hampir semua terpana. Alasan pertama dan kedua masuk akal namun begitu ketiga yang tidak telat mikir akan tahu kalau itu hanya bualan.

Namun karena bualan-bualannya itu setiap pertemuan atau perkumpulan yang dihadiri olehnya selalu terasa menyenangkan. Selalu ada senyum yang menular darinya.

Beberapa waktu terakhir ini saya sudah jarang bertemu dengannya, circle kami sudah berbeda.

Tapi jika tak sengaja bertemu tetap saja gelak tawa yang mewarnai saat bersua.

Walau dari dulu dipanggil dengan sebutan Tuan Guru, namun nampaknya garis tangannya lebih dekat dengan kedudukan sebagai ketua. Rasanya dia telah menjadi ketua di berbagai organisasi.

Mungkin kalau ketemu nanti saya akan merubah sapaan, bukan lagi memanggilnya dengan sebutan Tuan Guru melainkan ketua. Dan saya kembali akan memperkenalkan diri sebagai kemuda.

Hanya saja saya tak berharap dia akan menyebut dirinya sendiri sebagai Doktor. Karena dengan kefasihannya dalam berbicara tak cukup ada kecakapan di dalam kepalanya untuk bersekolah sampai strata tiga dan lulus.

BACA JUGA : Primadona Merana

Sekali lagi saya tak berharap kelak jika kembali bertemu dengan teman saya itu saat berjabat tangan dia mengatakan “Jangan sebut saya Tuan Guru lagi, saya Doktor lulusan dari universitas terbaik republik ini,”

Bukan apa-apa, saya tak ingin republik saya seperti republik Konoha. Dimana ada banyak orang dengan gampang meraih gelar Doktor di universitas terbaiknya dalam waktu yang sangat singkat.

Terus terang saya tak tahu seluk beluk pendidikan atau syarat akademik menjadi seorang Doktor, walau sekolah saya sampai S4 yakni SD, SMP, SMA dan Seminari. Dan saya meninggalkan sekolah tinggi terakhir tanpa gelar S1.

Saya memang tak cukup rajin untuk sekolah. Ilmu, pengetahuan dan ketrampilan lebih banyak saya dapatkan dijalanan.

Tapi konon di Konoha tak perlu rajin sekolah untuk mendapatkan gelar Doktor.

Buktinya dalam postingan yang banyak beredar di media sosial warga Konoha ada seseorang yang baru mendaftar menjadi mahasiswa tingkat doktoral di bulan Februari 2023, pada bulan Oktober 2024 sudah bisa meraih gelar Doktornya.

Ujian doktoralnya pun banyak dihadiri oleh petinggi dan eks petinggi negeri Konoha. Banyak puja-puji untuknya. Meski beberapa bulan sebelumnya sang Doktor ini lebih banyak dihujat dimana-mana.

Tapi benarkah di negeri Konoha, syarat untuk menjadi Doktor memang semudah itu?.

Sebenarnya tidak juga. Dari postingan seorang akademisi yang juga mengajar dan mengampu kelas doktoral di salah satu universitas terbaik yang ada di Konoha, dituliskan bahwa mungkin saja seseorang meraih gelar Doktor dalam waktu dua tahun jika kepintaran atau kecerdasannya jauh diatas rata-rata dan telah punya publikasi internasional.

Nah, setelah saya check sana-sini, sang Doktor yang baru lulus dari salah satu universitas terbaik ini namanya tidak masuk dalam daftar orang pintar atau orang cerdas. Saya hanya menemukan nama dari republik ini yang masuk didalam daftar itu adalah BJ. Habibie.

Nama Habibie masuk dalam daftar orang pintar yang dikenal dan dikenang karena temuannya dalam bidang dirgantara. Habibie menemukan teori Crack yang sangat berguna dalam bidang penerbangan.

Entahlah teori apa yang ditemukan atau diajukan oleh Doktor yang baru lulus dari universitas ternama itu. Dalam berbagai video yang diunggah oleh netizen di negeri Konoha terlihat jelas cara bicaranya saja berantakan. Kalau orang bicaranya berantakan biasanya cara berpikirnya juga berantakan.

Namun dalam ukuran negeri Konoha, Doktor baru ini memang terbilang sukses. Sukses karir dan sukses harta, tapi sukses sumbangsih untuk negeri Konoha masih layak dipertanyakan.

Tapi begitulah di negeri Konoha. Sukses dalam kedudukan dan harta kemudian sering mendorong untuk melenting kelewat jauh. Pingin juga melengkapi suksesnya dengan sukses akademik.

Para ketua di negeri Konoha rasanya akan semakin percaya diri jika di depan namanya tercantum DR. bahkan tak sedikit pula yang akan lebih bangga di depan DR ada juga Prof-nya.

Padahal profesor bukan gelar, melainkan tanda kalau telah lama dan rajin mengajar. Dan yang diajar adalah calon-calon Doktor. Profesor adalah guru besar, gurunya orang-orang pintar dan rajin belajar.

BACA JUGA : Tahu Tempe

Mungkin saya terlalu sinis pada Doktor baru di negeri Konoha itu. Padahal saya tak mengenalnya sama sekali. Bisa jadi memang kecerdasan melebihi Albert Einstein, Nikolai Tesla, Thomas Alva Edison atau juga Isaac Newton.

Atau di dunia super modern saat ini mungkin setara dengan Elon Musk.

Sebab kalau kembali ke status seorang akademisi di negeri Konoha yang menyebut hanya orang super cerdas yang bisa lulus doktoral dalam waktu 4 semester. Sementara Doktor baru ini malah kurang dari dua tahun, dia lulus hanya dalam waktu 1 tahun 8 bulan.

Ini adalah sebuah rekor kalau dibandingkan dengan beberapa capaian dari para mahasiswa doktoral yang normal di republik. Coba bandingkan dengan DR Mufti Reza Aulia Putra yang berhasil lulus di Universitas Sebelas Maret tahun 2023 lalu. Doktor Reza dicatat sebagai lulusan tercepat di UNS pada program studi Ilmu Mesin dengan waktu belajar 2 tahun 6 bulan. IPK kumulatifnya 4 dan ketika lulus doktoral umurnya 25 tahun 9 bulan.

Artinya Doktor Reza ini muda, pintar dan rajin belajar tepatnya meneliti kalau untuk mahasiswa doktoral.

Nah, Doktor baru di negeri Konoha itu jelas tak muda lagi. Pun dia juga bukan mahasiswa yang hanya belajar untuk meraih gelar, jabatannya di negeri Konoha berjibun, kesibukannya sama dengan Presidennya. Sebab dimana ada Presiden Konoha, disitu pula Doktor baru itu ada. Kapan dia belajar, atau lebih tepatnya kapan dia meneliti?.

Mari baca baik-baik penjelasan seorang akademisi di republik ini yang menerangkan dengan gamblang dinamika akademik seorang mahasiswa doktoral.

Rangkaian kuliah seorang mahasiswa doktoral diawali dengan proposal penelitian melewati empat rangkaian perkuliahan selama satu semester. Jika lolos semester berikutnya proposal akan dimatangkan bersama promotor dan co-promotor, paling tidak juga satu semester.

Setelah itu baru melakukan penelitian yang sangat serius. Waktunya bisa memakan 1 hingga 4 semester. Lalu setelah itu dilanjutkan dengan menulis hasil penelitian yang juga bisa memakan waktu 1 hingga 4 semester.

Jadi hanya dengan tingkat kecerdasan yang setinggi Tugu Monas, seorang mahasiswa doktoral bisa lulus dalam waktu dua tahun. Sementara rata-rata yang cerdasnya normal akan butuh waktu setidaknya 4 tahun.

Nah, terlebih lagi untuk yang punya kesibukan lain misalnya ikut memimpin negeri Konoha. Dengan kesibukan tingkat tinggi ini normalnya gelar Doktor bisa diraih dalam waktu 5 – 7 tahun.

Selamat untuk Doktor baru di negeri Konoha. Anda memang luar biasa, cerdas tiada tara.

Semoga nama anda akan dikenal dan dikenang setara dengan BJ Habibie yang se-republik dengan saya.

note : sumber gambar – KOMPASIANA