KESAH.ID – Penerus Marc Marquez di Moto GP sudah kelihatan. Sama-sama dari Spanyol, Pedro Acosta dianggap sebagai bocah ajaib dalam balap Moto GP karena memenangkan gelar juara dunia di Moto 3 dan Moto 2 pada tahun pertama. Dikenal mempunyai kemampuan adaptasi yang cepat, Pedro digadang-gadang mampu mengalahkan rekor Marc Marquez sebagai juara dunia Moto GP termuda. Tampil istimewa di tahun pertama pada kelas utama, Pedro Acosta sudah mempunyai calon penantang. Adalah David Alonzo yang kerap disebut murid Marc Marquez yang tampil begitu menawan di kelas Moto 3. David mendapat julukan #babbyGOAT.
Dalam dunia ‘ngelmu’ dikenal istilah 3 T atau Tetes, Tutus dan Titis. Tetes merujuk pada fenomena sebuah keahlian, ketrampilan atau kesaktian diturunkan dari atas ke bawah, dari ayah ke anaknya, dari kakek ke cucu atau keturunan.
Sedangkan Tutus adalah merguru, seseorang yang bukan keturunan bukan saudara belajar pada ahlinya, mpu, master dan lainnya. Sementara Titis merujuk pada orang lain yang tak punya hak waris dan tidak berguru namun kemudian menguasai ilmu, keahlian atau ketrampilan yang mirip-mirip dengan orang tertentu yang dikenal kesaktian, keahlian atau kedigdayaannya.
Dalam dunia balap Moto GP, almarhum Marco Simonceli dianggap sebagai titisan atau penerus kedigdayaan Valentino Rossi. Meski posturnya jauh lebih tinggi, Simonceli yang berasal dari Italia dilihat mempunyai gaya balap ala Rossi.
Marc Marquez yang berjaya setelah era Valentino Rossi dan Casey Stoner juga dianggap telah mempunyai titisan, yakni Pedro Acosta. Meski sama-sama dari Spanyol, Pedro sebenarnya lebih mengidolakan Valentino Rossi. Marc Marquez-pun juga demikian.
Pedro dianggap sebagai titisan Marc Marquez karena kecepatannya meraih gelar juara. Bergabung dalam balapan Moto 3 dan Moto 2, Pedro Acosta langsung menjadi jawara.
Karena berasal dari Spanyol, Pedro digadang-gadang akan menjadi The Next Marc Marquez yang karir balapnya mulus, hingga mencatat banyak rekor termasuk salah satunya sebagai juara dunia termuda.
Seperti Marc Marquez, Pedro Acosta menjadi rookie atau pendatang baru di Moto GP dalam usia yang sangat muda. Pedro punya potensi untuk memecahkan rekor Marc Marquez. Paling tidak dalam soal meraih rekor pembalap termuda yang memenangkan balapan Moto GP, atau menjadi pembalap termuda yang meraih pole position di Moto GP.
Asa Pedro Acosta untuk melampaui Marc Marquez terbuka. Pedro menunjukkan potensi yang meyakinkan saat mulai berlaga di Moto GP. Pedro dan Marc sama-sama rookie atau pemula di Moto GP.
Pedro menjadi pemula karena berpindah dari Moto 2 ke Moto GP, sementara Marc Marquez menjadi pemula karena berpindah dari Honda ke Ducati. Keduanya sama-sama sedang beradaptasi dengan motornya.
Marc Marquez tampil cukup mulus, namun Pedro Acosta menggila. Sebagai pembalap pemula, Pedro tidak takut bersaing dengan para seniornya, bahkan Marc Marquez sekalipun dilawannya.
Belum berhasil meraih podium pertama, namun di GP Spanyol, GP Amerika dan GP Aragon Pedro Acosta berhasil meraih podium ketiga. Prestasinya melampaui pembalap-pembalap KTM lainnya termasuk pembalap pabrikannya.
Di Moto GP Jepang, Pedro Acosta berhasil meraih pole position pertamanya, dia mencatatkan namanya sebagai pembalap muda yang berhasil start paling depan di balapan Moto GP.
Sayang nasib baik tidak berpihak padanya. Dalam balapan di Jepang pada sessi balap Sprint Race dan balap utama, Acosta terjatuh.
Kini Pedro Acosta telah melampaui rekor Marc Marquez yang dikenal sebagai pembalap yang paling sering jatuh karena memaksakan motornya.
Sebagai pembalap muda, calon bintang di masa depan sering jatuh menjadi berbahaya untuk karirnya. Marc Marquez yang tengah berjaya kemudian puasa gelar 5 tahun karena cidera akibat sering terjatuh. Cidera panjang dan parah bisa mempengaruhi kepercayaan dirinya.
BACA JUGA : Noise Cancellation
Nama lain yang sedang menjadi perbincangan di lintasan balap Moto GP ialah David Alonso. Dia telah mengunci gelar juara dunia Moto 3 2024 di sirkuit Motegi Jepang.
Alonso tercatat sebagai orang Kolumbia pertama yang memenangi gelar di kejuaraan dunia Moto 3. Walau sebenarnya David mengantongi dua kewarganegaraan yakni Kolumbia dan Spanyol.
Alonso lebih diperkenalkan sebagai pembalap Kolumbia karena Moto GP terlalu didominasi oleh pembalap dari Spanyol.
Jika Pedro Acosta dianggap sebagai titisan Marc Marquez. David Alonso lebih disebut sebagai murid Marc Marquez, yang menyebut dia sendiri.
Tapi Alonso tidak benar-benar murid Marc Marquez, seperti halnya Pecco, Morbideli, Bezzecchi atau Luca Marini yang adalah murid Rossi karena dididik di akademi VR46.
Alonso hanya sering berlatih dengan Marc Marquez dan karena sering bertemu David tak segan bertanya ini itu pada Marc.
Seperti Rossi dan Marc, David juga sudah mengukir rekor sejak dini yakni memenangi 10 balapan dalam satu seri dan masih berpotensi untuk memperbaiki rekornya karena masih tersisa empat balapan lagi. Jika seri tersisa dimenangkannya, namanya akan terukir sebagai pembalap Moto 3 yang terbanyak memenangi balapan dalam satu musim.
Jika perkembangannya bagus dan konsisten dalam waktu satu atau dua tahun lagi David Alonso akan berlaga di Moto GP dan menjadi penantang potensial Pedro Acosta.
Menarik menyaksikan balapan yang diikuti oleh Marc Marquez, Pedro Acosta dan David Alonso berebut kemenangan.
Marc Marquez yang berhasil beradaptasi dengan motor Ducati kembali menunjukkan rasa laparnya. Kepercayaan dirinya telah kembali meningkat dan masa depannya di balapan Moto GP kembali cerah setelah direkrut oleh tim Ducati pabrikan untuk menjadi tandem Francesco Bagnaia musim depan.
Sementara Pedro Acosta meski kerap melempem karena terjatuh masih menjadi pembalap KTM yang paling berprestasi. Tahun depan Pedro akan membalap di tim utama pabrikan sehingga dukungan untuknya menjadi lebih besar.
Membayangkan balapan Moto GP musim depan sungguh seru adanya.
Ducati pun menatap masa depannya di Moto GP dengan tenang walau sekarang sedang dalam posisi pusing akibat penampilan para pembalapnya yang gemilang.
Sebagai sebuah tim, Ducati tentu senang jika pembalapnya meraih gelar juara. Namun Ducati tentu tetap ingin yang menjadi juara adalah pembalap utamanya yakni Pecco Bagnaia. Sebab jika Pecco berhasil mengamankan gelar tahun ini maka dia akan mencatatkan hattrick karena memenangi gelar tiga kali berturut tanpa jeda.
Hanya saja Jorge Martin yang membalap di tim satelit Ducati semakin menguat. Jorge terus memimpin klasemen walau dengan margin poin tak terlalu jauh dengan Pecco Bagnaia.
Mungkin Moto GP 2024 ini boleh dibilang sebagai eranya tim satelit. Prestasi pembalap-pembalap dari tim satelit sungguh moncer. Disana ada Jorge Martin, Marc Marquez dan Pedro Acosta. Prestasi Fabio Digianntonio juga tak bisa dikesampingkan.
Pembalap utama pabrikan yang bersinar hanya Pecco dan Enea, yang lainnya kedodoran.
BACA JUGA : Super Cerdas
Balapan di Philip Island, Australia menjadi salah satu penentuan persaingan Pecco dan Martin. Namun Marc justru yang bersinar. Pada sessi practice Marc Marquez menjadi yang tercepat walau tak jumawa.
Pecco dan Enea Bastianini justru kesulitan disini. Dan pada sessi kualifikasi Jorge Martin akhirnya memimpin, diikuti oleh Marc Marquez lalu Vinalles. Pecco tercecer di posisi 5 dan Enea di posisi 10.
Pada sesi sprint race, Jorge Martin dan Marc Marquez melakukan start dengan sempurna. Namun di tikungan pertama Marc melebar hingga tercecer ke posisi 8. Jorge Martin melesat disusul oleh Bezzecchi dan Bagnaia.
Martin seperti tak terhentikan dan langsung membuat jarak dengan pembalap berikutnya. Marc Marquez kembali menunjukkan magicnya dengan menyusul pembalap di depannya satu persatu.
Hingga ketika balapan menyisakan 6 lap, Marc berhasil melewati Francesco Bagnaia yang telah berada di posisi kedua. Marc Marquez berusaha menipiskan jarak dengan Jorge Martin namun tak cukup waktu untuk mengejarnya.
Pecco nampaknya memang kesulitan di Australia hingga kemudian disusul oleh Enea Bastianini yang kemudian berusaha mengejar Marc Marquez namun lagi-lagi tak cukup kecepatannya.
Akhirnya Jorge Martin finis pertama disusul Marc Marquez dan kemudian Enea Bastianini.
Nasib naas kembali menimpa Pedro Acosta yang lagi-lagi terjatuh. Balapan ini juga diwarnai oleh tabrakan ngeri antara Marco Bezzecchi dan Maverick Vinalles.
Jorge Martin memperlebar jarak dengan Francesco Bagnaia dan Marc Marquez kembali tampil mengejutkan.
Saat balapan utama lagi-lagi start Marc Marquez bermasalah. Ban belakang mengalami selip dan berasap. Namun Marc kembali menunjukkan kecepatannya, tercecer ke belakang dalam beberapa putaran kembali bisa menyodok ke depan.
Jorge Martin seperti biasa langsung tancap gas untuk memimpin di depan dan membuat jarak dengan pembalap berikutnya. Marco Bezzecchi dan Francesco Bagnaia mengikutinya.
Saat Bezzecchi mengambil hukuman long lap penalty, Marc mengambil kesempatan untuk menyusul pembalap di depannya. Setelah berada di posisi keempat, Marc Marquez langsung tancap gas.
Franco Morbidelli berhasil dilewati oleh Marc Marquez untuk kemudian mengejar Bagnaia. Martin melakukan kesalahan di tikungan sehingga Bagnaia dan Marquez bisa mendekat.
Pecco kemudian melakukan percobaan untuk melewati Jorge Martin, berhasil. Namun tak lama kemudian Jorge bisa mengambil alih. Saat dilewati Martin, Pecco agak melebar. Celah itu dipakai Marc Maequez untuk menyusulnya.
Dalam beberapa putaran, Jorge Martin dan Marc Marquez mampu mempelebar jarak dengan Francesco Bagnaia. Marc terus membuntuti Jorge Martin dalam beberapa putaran. 4 lap menjelang balapan berakhir, Marquez mencoba melewati Jorge Martin.
Namun tak lama kemudian di track lurus, Martin berhasil melewati Marc kembali. Namun Marc tak menyerah, 3 lap terakhir Marc berjuang dan kemudian berhasil mengambil alih pimpinan balapan. Berada di depan Marc Marquez langsung tancap gas dan Jorge Martin tak berhasil merebut kembali posisi terdepan.
Balapan di Philips Island akhirnya dimenangkan oleh Marc Marquez, disusul Jorge Martin dan Francesco Bagnaia.
Marc Marquez menunjukkan penampilan yang luar biasa karena sepanjang balapan berhasil mengalahkan 4 pembalap Ducati yang memakai motor GP 2024.








