“Banjir itu berkah,”. Ucapan bernada syukur atas banjir itu mungkin masih bisa ditemui jika kita bertemu dengan masyarakat di Mahakam Tengah. Buat mereka saat banjir adalah saat memanen ikan dan setelah banjir, lahan yang sekian lama digenangi air menjadi lahan basah yang siap untuk ditanami berbagai tanaman semusim.
Orang Samarinda bahari mungkin juga mengatakan hal yang sama. Ketika banjir mereka dapat menangkap haruan yang besar, ikan sepat, papuyu dan lain-lain juga melimpah.
Namun jika sekarang ada orang Samarinda yang dengan gagah berani mengatakan banjir itu adalah berkah, barangkali akan ditimpuk oleh orang satu kampung. Mengatakan bahwa banjir patut disyukuri sama artinya dengan mengabaikan penderitaan orang atas banjir. Bagi orang Samarinda saat ini banjir adalah malapetaka karena menenggelamkan rumah dan jalanan, sehingga membuat kehidupan terhenti.
Namun jika kita mau jujur, banjir dalam arti yang sebenar-benarnya memang penting untuk membentuk ekosistem kawasan dan badan air yang sehat. Para ahli sejarah bisa menerangkan bahwa jauh sebelum Samarinda dihuni banyak orang, banjir sudah dah harus terjadi. Banjir sebagai gejala alam sudah ditunjukkan oleh wajah sungai sebelum diokupasi dan diintervensi oleh manusia dan kebijakan pemerintah. Peta tahun 1940-an menunjukkan kanan kiri aliran sungai Karangmumus dipenuhi oleh dataran banjir, area luapan kala badan sungai tidak mampu menampung air permukaan saat musim hujan.
Banjir-banjir kecil yang tersebar dari hulu hingga hilir itu kemudian membentuk ekosistem sungai Karangmumus yang kaya dengan keanekargaman hayati. Karena banjir itu maka tumbuh berbagai macam organisme yang kemudian menjadi komunitas serta membangun habitat di sepanjang aliran sungai Karangmumus. Pada area banjir tumbuh riparian yang mempunyai karakter jenis tumbuhan yang khas, yang juga jadi sumber hidup bagi binatang yang khas pula.
Model genangan yang berbeda antara hulu, tengah dan hilir juga menumbuhkan jenis atau kelompok tumbuhan yang berbeda antara hulu, tengah dan hilir, pun demikian juga dengan komunitas yang menjadikannya sebagai habitat atau ruang hidupnya.
Sungai kemudian menjadi ruang yang heterogen sebuah kondisi yang diperlukan untuk menjaga keanekaragaman hayati agar tetap lestari. Dan semua itu terjadi karena banjir yang menetap, banjir merupakan komponen utama untuk menjaga konektifitas antara badan air dengan kawasan kering guna memelihara keanekaragaman hayatinya.
Jika kita mempercayai teori evolusi maka komponen utama ekosistem di sektiar sungai adalah hasil dari seleksi alam. Apa yang tumbuh dan berkembang di sekitar sungai adalah jenis terbaik yang berhasil menyesuaikan dengan kondisi setempat dan kemudian menjadi komponen kunci untuk membentuk ekosistem setempat. Tumbuhan atau binatang serta mikroorganisme yang ada adalah komponen kunci yang memegang peran ekologis masing-masing.
Dan dalam kebersamaan sebagai satu kesatuan ekosistem itu akan menghasilkan jasa berupa habitat bagi kehidupan liar, iklim mikro dan keseimbangan serta kestabilan lingkungan sungai. Kualitas, kuantitas dan kontinuitas air akan terjaga. Sungai akan menjadi aliran air yang bersih dan sehat serta lestari.
Maka banjir dalam pengertian banjir alami adalah daya regeneratif. Banjir yang menetap atau siklik kemudian menumbuhkan ekosistem hidroriparian. Kawasan pelindung badan air yang akan berfungsi sebagai sistem filtasi dan penahan air permukaan agar tidak segera masuk ke badan air dan membawa segala macam hal yang bisa dibawa ke dalam air sungai.
Banjir alami pada dasarnya adalah proses alam mencuci atau membersihkan dirinya, genangan banjir akan mengkoneksi satu tempat dengan tempat lainnya yang membuat berbagai macam biota bisa berpindah dan kemudian berbiak. Saat banjir akan pergi atau menyingkir sehingga memberi kesempatan pada mahkluk lain untuk berkembang biak.
Secara sosial banjir alami yang kedatangannya bisa diprediksi atau dikenali karena telah terjadi secara beratus atau beribu tahun, akan membuat masyarakat berkurang aktifitasnya dan akan memberi waktu yang lebih untuk berkumpul bersama keluarga, membina dan menjalin hubungan lebih intensif dalam keluarga. Banjir akan meningkatkan kualitas tali persaudaraan.
Namun kenapa banjir sekarang kemudian berubah menjadi bencana atau penghancur?.
Banjir yang sekarang terjadi sejatinya adalah banjir akibat campur tangan manusia yang semakin besar terhadap kondisi-kondisi alam. Ketika bumi mencapai kondisi yang ramah untuk ditinggali oleh manusia dimana hukum alam telah terbentuk beserta dengan keseimbangannya, manusia yang tadinya beradaptasi pada kondisi itu kemudian berkembang menjadi masyarakat atau komunitas yang dominan dalam habitatnya.
Bumi sebagai ruang hidup bersama kemudian cenderung dipahami hanya tercipta untuk manusia. Peran dan intervensi manusia menjadi semakin membesar. Campur tangannya telah melampaui hukum alam, siklus alam kemudian menjadi terganggu sementara siklus baru belum terbentuk.
Banjir di sekitar sungai kemudian menjadi malapetaka karena perubahan pola pada aliran sungai alami akibat intervensi manusia seperti perubahan penggunaan lahan, pembendungan sungai, pengalihan aliran sungai, pelebaran dan penyempitan serta pendangkalan sungai.
Banjir kemudian dianggap merusak karena merusak infrastruktur atau properti buatan manusia yaitu rumah, bangunan, jalan dan fasilitas lainnya.
Perubahan pola aliran ini kemudian juga merusak tumbuhan hidroriaparian di sepanjang aliran sungai. Perubahan basah dan kering membuat tumbuhan yang butuh terendam kemudian kehilangan air. Tumbuhan akan merana dan mati. Kehilangan tumbuhan baik yang tinggi maupun rendah pada akhirnya akan menghilangkan habitat setempat. Aneka satwa liar kemudian akan turut menghilang karena ketiadaan pasokan pakan dan tempat perlindungan.
Atas nama program mengatasi banjir, berbagai proyek yang dilakukan justru semakin membuat banjir menjadi ekstrim dan destruktif. Setiap kali titik-titik kecil banjir dihilangkan itu sama artinya dengan membuat titik banjir banjir di suatu tempat. Hukum alam menuliskan bahwa banjir besar bisa dihindari dengan cara menyebar menjadi banjir-banjir kecil.
Pola proyek mengatasi banjir juga berlawanan dengan kenyataan air. Proyek didesain justru dengan cara melakukan perkerasan pada permukaan banyak lahan, meninggikan jalan dengan semen, memperlancar aliran air dengan pelurusan aliran air, meninggikan pondasi rumah dan lain sebagainya. Padahal jumlah air selalu sama dan air tak selalu bisa dibuang secepat mungkin ke laut. Maka proyek mengatasi banjir seharusnya bukanlah proyek yang bercita-cita mengeringkan daratan secepat mungkin. Proyek mengatasi banjir seharusnya memberi ruang air seluas mungkin agar bisa menampung sementara waktu air permukaan agar tidak secara bersamaan berkumpul di satu tempat.
Bumi atau daratan selalu perlu kondisi kering dan basah sehingga tercapai keseimbangannya. Terus menerus berusaha mengeringkan lahan yang kerap digenangi atau dibasahi air bukan hanya berpotensi untuk mengundang kekeringan namun juga longsor dan kebakaran lahan.
Puncak perilaku manusia yang paling paripurna dalam merubah banjir regenerative menjadi banjir destruktif adalah merubah sungai menjadi sungai yang homogen. Membuat wajah sungai dari hulu ke hilir berwajah sama, lebarnya sama, dalamnya sama, pinggirannya sama.
Salah satu proyek homogenisasi sungai yang paling terkenal dinamakan sebagai normalisasi sungai. Entah apa yang dinamakan sebagai normalisasi sungai yang hasilnya justru sungai-sungai yang berubah jadi kanal, sungai yang sama sekali jauh dari sungai normal secara alami.
Akhirnya selama kita masih saja akrab dengan tabiat mengatasi banjir dengan normalisasi sungai, yang disebut banjir akan tetap menjadi banjir yang destruktif. Kelimpahan air akan dianggap sebagai daya rusak. Dan kemudian kita lupa bahwa banjir itu punya saudara kembar yaitu kekeringan, longsor dan kebakaran lahan.








