Pagi itu terlihat ada keramaian di ujung Jembatan Baru. Di ujung jalan Tarmidi, berdiri banyak petugas berjejer menutup jalan. Mobil dilarang masuk, sementara motor setelah sedikit berdebat diijinkan untuk lewat. Di sepanjang beton pinggiran sungai, ramai berjajar orang duduk bercerita. Terlihat juga tas-tas besar berisi dos makanan entah makanan kecil atau makanan besar. Mobil dan motor berjajar di tepian jalan.
Setiap hari, Mustofa pulang pergi ke sekolah melalui jalan Tarmidi. Awalnya Mustofa mengira, Tarmidi adalah nama orang yang pertama membuka permukiman di daerah itu. Namun ternyata dari cerita beberapa orang tua, Tarmidi adalah nama seorang pejuang yang tewas dalam sebuah pertempuran dengan Belanda di pinggiran Kota Samarinda.
Tarmidi adalah salah satu dari pejuang yang melakukan long march dari Balikpapan menuju Samarinda. Kelompok pejuang ini dipimpin oleh Herman Raturambi, berisi antara lain eks tentara KNIL yang menyeberang ke Republik. Kedatangan mereka disambut dengan serangan oleh Tentara NICA dimana Belanda ikut mendompleng di dalamnya. Dalam ‘clash’ itu tewaslah Tarmidi. Dan untuk menghormatinya kemudian namanya dipakai sebagai nama jalan di tepi Sungai Karang Mumus, yang bermula dari ujung Jembatan Baru hingga ujung Jembatan Kehewanan.
Setiap hari Mustofa melewati jalan ini dan hampir-hampir tak ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Sesekali Mustofa singgah di kios-kios penjual binatang, untuk melihat burung, ayam, kelinci dan binatang lain-lainnya yang dijual.
Namun keramaian pagi hari itu yang ditemui saat Mustofa pulang cepat karena guru-gurunya hendak rapat, menarik perhatiannya. Mustofa menyeberang, menenggok ke arah sungai. Terlihat di sungai ada banyak perahu dan penumpangnya asyik memunguti sampah di sungai. Di sisi Jembatan Baru ke arah Pasar Segiri terlihat sekumpulan perahu dan speed berdiam di dekat rumah pembuat tempe tak jauh dari jamban besar yang selalu terlihat dari atas Jembatan Baru.
“Lho ini anak sekolah kok jam begini sudah pulang,” Mustofa mendengar komentar dari seseorang.
Mustofa menoleh ke arah suara dan mengatakan “Nda ada pelajaran Om, guru-guru rapat,”
“Kenapa rapat kok nda sepulang jam sekolah,” orang itu memprotes.
“Lha om dari mana?”
“Dari kantor pemerintah,”
“Om ngapain disini?”
“Kerja bakti,”
“Nah kenapa kerja bakti kok tidak setelah pulang kantor?”
Muka aparat kantor pemerintah itu terlihat memerah mendengar komentar anak sekolah yang agak kurang ajar itu.
“Lho itu Pak Wali saja turun ke sungai, kami ini kerja bakti,” jawabnya.
“Oh, Pak Wali ada di sungai, pungut sampah. Nah, Om kalau kerja bakti kenapa nggak ikut turun ke sungai. Kok malah duduk-duduk disini,” tanya Mustofa kembali.
Lagi-lagi ucapan Mustofa membuat aparat kantor pemerintah menjadi tersentak. Nampak di wajahnya rasa sesal kenapa tadi mesti membangun komunikasi dengan anak sekolah yang pulang cepat.
Namun ada selisik kesadaran di ruang hati sang aparat kantor pemerintah itu. Barangkali yang dikatakan anak sekolah yang pulang cepat itu benar. Mereka bekerja bakti di sungai. Sungai sedang dalam kondisi air pasang tinggi, sehingga dibutuhkan perahu untuk memungut sampahnya. Namun jumlah perahu dan orang yang datang tak seimbang.
Pun demikian dengan peralatan, jujur saja sebagian yang datang seperti mau joging, tidak mempersiapkan peralatan seperti galah dengan ujung berjala untuk menangkap sampah di permukaan sungai yang terbawa arus.
Aparat kantor pemerintah itu sadar memang kerap kali dia dan teman-temannya dalam acara seperti ini hanya sekedar hadir, setor muka. Yang penting acaranya ramai, masuk berita di media, soal apa dan bagaimana hasilnya itu soal nanti saja. “Yang penting ada kegiatan dan mendapat penilaian baik,” ucapnya dalam hati.
“Pak ….,”
Aparat kantor pemerintah itu menenggok pada Mustofa yang nampaknya ingin mengatakan sesuatu.
“Mungut sampah di sungai itu ada tata caranya,”
“Iya, tahu sudah,”
“Belum bapak belum tahu. Kan bapak berdiri saja disitu dari tadi,”
“Ah, sudah … pulang saja kamu nanti dicari-cari sama orang tuamu. Nda baik pulang sekolah mampir-mampir,” ujar aparat kantor pemerintah mengusir Mustofa pulang.
Mustofa berjalan ke arah rumahnya. Dalam hatinya dia berkata “Kalau kerja baktinya begini, biar setiap hari, sungainya sama saja, masih sama kotornya,”








