Saya yang lahir tahun 70-an paham benar bahwa Indonesia dengan sangat cepat mengalami perubahan. Awalnya rumah tempat tinggal saya belum dialiri listrik, maka kesibukan setiap sore hari adalah membersihkan torong lampu minyak yang menghitam, mengisi minyak dan memeriksa sumbunya sehingga jika hari mulai petang lampu menyala terang tanpa gangguan.

Tersambungnya aliran listrik ke rumah-rumah membawa perubahan besar, perlahan-lahan tiap rumah mempunyai televisi sendiri dan radiopun berganti menjadi tape recorder. Dulu sebelum ada listrik, televisi hanya dipunyai orang tertentu saja yang mempunyai diesel/genset. Namun dengan tersedianya aliran listrik maka televisi segera menjadi penghias tiap-tiap rumah. Perlahan-lahan rumah juga mulai dihiasi dengan kulkas, mesin cuci dan alat elektronik lainnya.

Waktu saya masih kecil, mobil juga sangat jarang. Setiap mobil yang lewat, saya tahu itu milik siapa, pun demikian dengan motor, saya hafal suara motor siapa yang lewat. Kendaraan yang banyak lalu lalang adalah dokar yang mengangkut penumpang dan gerobak sapi yang mengangkut barang. Gerobak sapi kini menghilang, namun dokar masih tersisa bersaing dengan mobil yang kian banyak dan motor yang merajai jalanan.

Soal teknologi komunikasi, saya ingat persis kalau waktu itu telepon satu-satunya hanya ada di Kantor Kawedanan. Jadi kalau ada yang dapat telepon, penjaga kantor akan menghubungi dan datang ke Kantor Kawedanan menunggu telepon kembali berdering. Namun tak banyak orang yang mendapat telepon, pada umumnya komunikasi dengan kerabat yang jauh dilakukan melalui surat atau kalau ada keadaan darurat maka memakai telegram.

Di jaman surat-suratan itu saya kerap mendapat tugas tambahan dari Mbah yang tinggal disebelah rumah. Apabila dapat surat dari putranya di Jakarta, saya akan dipanggil dan diminta membacakan isi suratnya, kemudian menuliskan balasan berdasarkan apa yang dikatakan oleh Si Embah. Setelah selesai maka saya akan diberi ganjaran, kalau tidak buah ya kue jajanan.

Namun jaman itu telah berlalu jauh, telegram kini tak ada lagi, suratpun mulai surut diganti dengan telepon mobile, smartphone yang membuat orang bak berbicara saat bertukar pesan melalui modus messenger. Rasa rindu bukan hanya diobati oleh teks atau suara yang segera diterima melainkan juga wajah dan ekpresi yang terlihat lewat video call.

Perkembangan teknologi membuat desa tak jauh berbeda dengan kota, semua bisa merasakan hal yang sama, perbedaannya hanya pada infrastruktur dan keramaian atau kepadatan penduduknya saja. Ketika anak-anak di kota mengemari Super Junior, anak-anak di desapun tahu nama-nama personelnya. Apa yang dikenal di kota segera pula dikenal di desa. Pendek kata bangsa dan masyarakat Indonesia telah menjadi bangsa dan masyarakat yang modern, menikmati dan mengkonsumsi teknologi tinggi.

Meski sudah sedemikian maju toh masih ada teman saya yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia tidak ilmiah. Tentu saja saya kaget, bagaimana mungkin masyarakat yang kebanyakan sudah memakai teknologi maju dibilang tidak ilmiah. Bukankah kemajuan yang dicapai dan dinikmati oleh bangsa Indonesia adalah produk ilmiah?.

“Betul, tapi yang namanya ilmiah itu bukanlah produk melainkan sikap dan perilaku. Untuk apa memakai peralatan berteknologi tinggi kalau perilakunya tidak beradab, tidak rasional, itu yang saya maksud tidak ilmiah,” begitu dalil teman saya itu.

Ah, kalau soal tidak beradab sebenarnya di bangsa yang majupun tetap saja ada perilaku yang adabnya rendah, seperti menyelesaikan persoalan dengan kekerasan misalnya. Tapi kalau soal tidak rasional, barangkali memang benar. Banyak kali kebanyakan masyarakat kita kerap berlaku tidak rasional dalam mencari penjelasan tentang segala sesuatu. Bencana misalnya, kerap dianggap sebagai hukuman atau peringatan dari Tuhan atau kekuatan gaib lainnya. Kecelakaan besar kerap dipandang sebagai tumbal atas perilaku tertentu. Orang kaya dianggap mencari kekayaan dengan cara mistik. Orang yang sakit tidak biasa dianggap kena guna-guna, disantet oleh orang yang tidak suka.

Sikap ilmiah pada dasarnya sikap yang melihat hubungan antara sebab dan akibat secara rasional. Orang mengenali setiap aksi selalu menimbulkan reaksi, orang paham akan konsekwensi dari laku tertentu. Misalnya saja membuang sampah sembarangan akan mengakibatkan pencemaran lingkungan, got menjadi mampet dan saat hujan air akan meluber mengenangi daerah disekitarnya karena aliran tak lancar. Jadi ilmiah sebenarnya sepele saja, ilmiah bukanlah soal-soal besar seperti bagaimana mengarungi angkasa, merubah air jadi energi penggerak mesin kendaraan. Ilmiah tak selalu terkait dengan buku diktat tebal, laboratorium atau peralatan-peralatan canggih.

Sopir yang ilmiah misalnya adalah yang berhenti mengemudi jika mengantuk, bukan yang memaksa terus menjalankan kendaraan sambil merokok yang dianggap bisa menghilangkan kantuk. Guru yang ilmiah adalah guru yang tidak mentolerir siswanya mencontek, atau tak bertindak memberikan kunci jawaban ketika tiba waktunya Ujian Nasional untuk mendongkrak nilai murid-muridnya. Pedagang yang ilmiah adalah pedagang yang tidak mengurangi takaran untuk memperoleh keuntungan. Pemimpin yang ilmiah adalah pemimpin yang paham bahwa percuma membuat janji muluk-muluk dihadapan rakyat kalau tak bisa dipenuhi.

“Nah, kan maju tidak selalu berarti ilmiah. Untuk apa bangsa ini mengalami kemajuan yang pesat kalau lingkungan rusak. Kemajuan itu tidak ilmiah kalau membuat banyak orang menjadi susah, sengsara dan sial karenanya,” tandas teman saya tegas.

Benar juga kata teman saya itu, barangkali memang bangsa Indonesia sudah sedemikian maju tapi tetap tak ilmiah, karena membiarkan hutan hijau yang menjadi paru-paru bumi dibiarkan dibabat habis. Tidak dipulihkan melainkan malah kembali digali untuk diambil mineralnya. Laut yang membiru, karangnya didongkel habis, ikannya di bom dan diracun dengan sianida lalu ditimbun untuk memperluas daratannya. Tanah yang subur ditaburi dengan pupuk kimia sehingga kehilangan kesuburan alaminya dan menjadi keras. Tanaman-tanaman yang mempunyai khasiat menyembuhkan tak dijaga, kemudian punah karena dianggap ketinggalan jaman.

“Saya tidak menolak kenyataan bahwa banyak orang pintar atau bahkan rata-rata orang Indonesia ini sudah pintar, tapi kalau orang pintar tak berlaku sesuai dengan kepintarannya maka jelas tidak ilmiah”, pungkas teman saya mengakhiri obrolannya.

Pintar tapi tak ilmiah, kok bisa ya?. Ya bisalah, apa sih yang nggak bisa di Indonesia.

kredit foto : Thisisenginering Raeng – unsplash.com

tulisan pernah dimuat di kompasiana tahun 2013