Bersih itu dalam pandangan umum selalu diandaikan sehat, padahal tidaklah demikian. Dalam dunia kebahasaan dikenal istilah paradoks. Yakni, pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebnaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran.

fenomena ini kemudian dalam dunia satra diwujudkan dalam bentuk majas paradoks. Atau gaya bahasa yang menyatakan sesuatu secara berlawanan atau bertentangan. Yang berbeda dengan ironi. Sebab ironi adalah bahasa kiasan yang mengimplikasikan sesuatu yang berbeda, bahkan ada kalanya bertentangan dengan yang sebenarnya dikatakan tersebut.

Lalu apa hubungannya antara sungai dan paradoks?.

Bicara sungai pada hari ini kita kerap terjebak dalam kenyataan sungai yang kotor, sungai yang dipenuhi oleh sampah dan limbah yang berasal dari aktivitas rumah tangga, aktivitas ekonomi dan industri serta aktivitas lainnya.

Prihatin dengan kondisi ini kemudian memunculkan berbagai gerakan yang bertujuan untuk membersihkan sungai. Tujuannya adalah agar sungai menjadi bersih.

Tidak salah jika kita ingin sungai menjadi bersih karena hal ini berkaitan dengan citra kota. Seperti tanpa sungai yang bersih akan sulit bagi sebuah kota untuk mendapatkan penghargaan Adi Pura.

Namun jika dikaitkan dengan kebutuhan yang primer, dimana sungai adalah sebagai sumber air baku, bahan air bersih, maka yang menjadi tujuan dari semua gerakan peduli terhadap sungai adalah sungai sehat.

Yang disebut sebagai sungai sehat adalah airnya berkualitas, jumlahnya cukup dalam arti tidak berlebihan di saat musim hujan dan berkekurangan di saat musim kemarau. Dengan demikian kontinuitas atau ketersediaan air akan terjaga sepanjang musim.

Sungai yang sehat atau kualitas, kuantitas dan kontinuitas airnya terjaga hanya dimungkinkan jika ekosistem sungai terjaga. Yang disebut ekosistem sungai itu terdiri dari ekosistem daratan, ekosistem peralihan dan ekosistem air.

Menyebut sungai sebagai ekosistem maka sungai bukan hanya alur aliran air, melainkan ruang sungai yang lainnya, seperti riparian, rawa atau danau serta hutan yang terhubung dengan sungai.

Tanpa itu semua sungai tidak akan sehat walau mungkin saja bersih.

Sungai yang bersih bisa dicapai dengan campur tangan manusia, namun sungai yang sehat justru menuntut campur tangan manusia sesedikit mungkin.

Sungai sehat sebenarnya adalah manifestasi dari jasa atau layanan ekosistem alamiah. Dimana segala macam siklus termasuk siklus air masih terjaga. Dan layanan seperti ini semakin lama akan semakin menurun jika campur tangan manusia semakin besar atau ekosistem buatan menjadi semakin luas.

Layanan ekosistem dalam bahasa lain bisa disebut sebagai bentuk kecerdasan alam, kecerdasan kolektif dari berbagai unsur yang ada dalam sebuah ekosistem. Maka sungai yang sehat adalah bentuk atau hasil dari sungai yang cerdas. Sungai yang mempunyai perangkat untuk melakukan filtrasi dan pemurnian air dengan semua fasilitas yang ada dalam ruang sungainya.

Gambaran kecerdasan sungai lewat kerjasama antar organ baik yang hidup maupun tak hidup di ruang sungai bisa digambarkan sebagai berikut.

Sungai sebagai ruang air terbuka tentu saja rentan mengalami polusi. Berada dalam posisi paling rendah sungai akan menjadi muara dari sebagal sesuatu yang tertransportasi oleh aliran air permukaan dan juga angin.

Air hujan yang jatuh ke permukaan tanah sebagian akan menjadi air permukaan {runoff} yang kemudian mengalir dan menyapu atau mencuci daerah yang dilewati untuk kemudian masuk sungai. Tentu saja aliran ini akan membawa berbagai macam hal yang bisa berakibat buruk pada sungai.

Namun dalam perjalanan menuju sungai, berbagai hal buruk ini kemudian bisa difilter oleh ruang perlindungan sungai, seperti pepohonan, semak-semak dan rerumputan sehingga air yang masuk ke sungai sudah disaring.

Pun demikian pasti akan ada yang lolos karena material organik bisa saja tersuspensi dalam air. Namun nanti di sungai apa yang tersuspensi di dalam air bisa saja menjadi sumber pangan bagi biota air atau unsur-unsur tertentu yang berbahaya kemudian akan dijerap atau akan melekat pada akar-akar dari tumbuhan air.

Proses pemurnian atau penyehatan air bukan hanya akan dilakukan oleh tumbuhan air, melainkan juga tumbuhan lain di riparian. Beberapa jenis tumbuhan sistem perakarannya akan melakukan detoks terhadap kandungan berbahaya yang ada dalam air sungai.

Proses lainnya adalah melalui berbagai jenis daun yang jatuh ke dalam air sungai. Daun-daun dengan kandungan zat tertentu juga akan membantu meluruhkan berbagai kandungan bahan berbahaya yang ada dalam air sungai.

Morfologi sungai yang tidak teratur, seperti lebar sempit yang tidak sama, kedalaman dan kedangkalan yang tidak sama, alur yang berkelok-kelok juga merupakan dinamika lain untuk membantu meningkatkan kualitas air sungai.

Dinamika air sungai akan membuat sungai kemudian mampu mengendapkan sedimen yang tersuspensi, melarutkan atau menumpuk di area-area tertentu sehingga air yang kemudian mengalir ke dalam alur sungai menjadi air yang mempunyai daya dukung untuk kehidupan berbagai mahkluk yang memanfaatkan sungai.

Dan sungai yang cerdas, sungai yang masih mampu menghasilkan layanan ekosistem pada akhirnya akan mewujud dalam sungai yang secara fisiologis pasti indah. Sebuah keindahan yang unik karena setiap sungai pasti akan mempunyai karakternya sendiri menyangkut flora dan fauna yang hidup disekitarnya.

Jangankan antara satu sungai dengan sungai lainnya, dalam satu alur sungai saja pemandangan akan berbeda-beda. Apa yang hidup di daerah hilir belum tentu ada di daerah tengah dan hulu. Dengan demikian dalam satu alur sungai saja keindahan secara fisiologis akan beragam.

Apabila kesehatan, kecerdasan dan keindahan sungai terjaga maka dengan sendirinya kehidupan dan masa depan sungai akan cerah. Sungai tetap menjadi sungai dan terus menjadi sungai.

sumber gambar : klikhijau.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here