KESAH.ID – Puluhan santri/wati mengikuti pawai taaruf dalam rangkaian Khotmil Quran dan peringatan Maulid Nabi di Purworejo. Masing-masing daerah menyelenggarakan sendiri secara swadaya. Santri/wati yang diarak dengan menaiki kuda dengan aneka kostum yang mencolok menjadi daya tarik tersendiri. Yang menyaksikan parade ngalap berkah dengan cara merebut atau meminta gagar mayang.
Tradisi selalu diupayakan agar tetap lestari oleh masyarakatnya. Jaman boleh berubah, tapi tradisi biasanya menetap walau dalam ekpresi yang disesuaikan dengan jaman dan perkembangan lainnya.
Masyarakat Jawa yang pada mulanya terpengaruh oleh kebudayaan Hindu kemudian bertemu dengan kebudayaan Islam. Penguasa Jawa Mataram yakni Sultan Agung kemudian melakukan penyesuaian pada sistem penanggalan Jawa.
Penanggalan Jawa yang mulanya berdasar pada penanggalan Saka kemudian dipadukan dengan penanggalan Islam dan juga penanggalan Julian. Bulan dalam penanggalan Jawa kemudian disesuaikan dengan nama bulan dalam penanggalan Islam dengan pengucapan berdasarkan lidah Jawa.
Dalam dekritnya, Sultan Agung menghendaki agar perayaan adat atau upacara tradisi dalam masyarakat Jawa tetap dirayakan sesuai dengan perayaan atau hari-hari besar dalam agama Islam.
Bulan September dalam penanggalan masehi dalam sistem penanggalan Jawa disebut bulan mulud.
Kalau tidak salah ingat, dulu di kampung halaman saya setiap bulan mulud akan diadakan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Tapi jangan tanya saya soal lakon atau cerita pewayangan, sebab yang pertama saya tonton bukan wayang tetapi permainan judi dadu atau puteran.
Nanti pertunjukan wayang baru saya tonton setelah memasuki bagian goro-goro, saat dalang mulai memainkan dialog dalam bahasa sehari-hari dan lucu lewat sosok para punakawan.
Selain itu pada bulan ini biasanya juga ada arak-arakan obor di malam hari. Yang diarak adalah anak-anak yang telah selesai membaca Al Quran, sebutannya khataman. Yang khatam biasanya diarak dengan dinaikkan becak atau dokar berhias.
Arak-arakan terdiri dari pembawa obor, pembawa gagar mayang dan pemain fire work yang akan memutar tongkat berapi di kedua ujungnya dalam berbagai gerakan. Ada pula yang menyemburkan api dengan cara menyemprotkan minyak tanah yang dikumur dimulut pada obor di tangannya.
Pertunjukan atraksi api ini yang paling menarik dari pawai khataman.
Puluhan tahun lamanya saya tak lagi menyaksikan tradisi ini karena pergi ke tanah rantau yang mempunyai tradisi berbeda.
Beberapa tahun lalu ketika pulang kampung, saya menyaksikan model arak-arakan yang berbeda. Pawai yang jauh lebih besar dan diikuti oleh lebih banyak orang. Yang diarak pada acara muludan tetap anak-anak yang telah khatam membaca Al Quran tapi tak lagi naik becak atau dokar melainkan kuda tunggangan.
Yang membuat saya kaget ternyata kuda yang dinaiki adalah kuda yang telah dilatih untuk berdiri dengan kedua kaki, sebutannya kuda jingkrak.
Penonton yang memadati tepian jalan akan bersorak ketika kuda mengikuti aba-aba pelatihnya untuk berdiri dengan mengangkat kedua kaki depannya.
Bocak yang menaikinya ada yang tersenyum sumringah, namun ada pula yang wajahnya pucat karena ketakutan kalau terjatuh dari punggung kuda.
Bocak laki-laki yang khatam Al Quran akan didadani dengan pakaian ala Pangeran Diponegoro sementara yang perempuan berkostum seperti pahlawan perempuan dari Aceh, Cut Nyak Dien.
Tak nampak lagi permainan dan pertunjukan api. Keseruan pertunjukan api diganti dengan aksi anak-anak berkuda dan pertunjukan music drumband serta penampil lainnya.
BACA JUGA : Tanpa Partai
Sudah dua malam saya di Purworejo. Biasanya dimalam hari saya akan menghabiskan waktu di Kedai Kopi Pekarangan yang letaknya tak jauh dari lampu bangjo perempatan Cangkrep Lor. Tapi karena satu dan lain hal menjelang malam ketiga baru ada waktu untuk ngopi disana.
Saat sudah bersiap untuk pergi, saya mendapat kabar kalau jalanan ditutup karena ada pawai. Pawai para santri untuk memperingati Maulid Nabi itu melewati jalan Ahmad Yani melewati perempatan Pantok menuju kearah timur, jalan menuju jembatan Bogowonto.
Tak ada alternatif jalan lain menuju Kedai Kopi Pekarangan karena saya bermalam di jalan Katamso, jalan dari Purworejo kearah Yogyakarta.
Sebenarnya ada jalan alternatif untuk menyeberangi Sungai Bogowonto lewat jembatan gantung di Boro Wetan. Tapi saya tak hafal jalannya dan hanya bisa dilalui oleh motor.
Sayapun mencoba untuk bersabar, menunggu pawai usai. Namun ternyata hampir dua jam menunggu rombongan pawai belum juga habis berlalu. Dan setelah baris terakhir lewat ternyata kemacetan belum juga terurai bahkan menjadi kian ruwet karena kumpulan penonton yang bubar dengan kendaraan masing-masing semakin menambah sesak jalanan.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat, karena sudah terlalu malam sayapun mengurungkan langkah untuk menyesap kopi di Kedai Pekarangan.
Tapi saya harus tetap minum kopi. Untungnya dalam perjalanan pulang ke penginapan ada gerai Alfamart yang mempunyai bean spot, layanan F&B yang menyediakan minuman kopi dan non kopi di Alfamart dengan harga yang terjangkau.
Segelas hot americano tanpa gula seharga 10 ribu rupiah menjadi minuman penghantar tidur menjelang waktu tengah malam.
Karena tidur cepat, pagi-pagi saya sudah terbangun dan tak bisa tertidur lagi.
Jembatan gantung diatas Sungai Bogowonto seolah memanggil saya untuk melewatinya.
Dengan bantuan google, saya mendapatkan informasi bahwa jembatan itu tak jauh dari tempat saya menginap. Dengan menaiki motor Honda Beat saya menyusuri jalan Purworejo – Yogyakarta pelan-pelan sembari mencari jalan masuk menuju jembatan yang dibangun atas sumbangan seorang warga Swiss tersebut.
Ternyata pintu atau jalan menuju jembatan gantung melewati pintu atau jalan masuk pekuburan. Persis ketika melewati kuburan, bentangan jembatan yang panjangnya 60 meteran mulai kelihatan. Jembatannya tidak lebar, hanya cukup untuk dilalui motor satu persatu tidak boleh berpapasan. Agar tak bertemu maka di masing-masing ujung jembatan dipasangi lampu merah dan hijau. Lampu yang menyala bergantian pada masing-masing ujung membuat yang akan lewat tidak berpapasan.
Di sisi timur atau Boro Wetan ada penjaga yang akan menerima sumbangan untuk perawatan jembatan, yang lewat diminta untuk menyumbang seihklasnya.
Yang berjaga bertanya pada saya “Saking tindak pundi Pak?” {Baru bepergian dari mana Pak?}
Dia mungkin mengira saya baru pergi darimana.
Saya jawab saja “Bade teng Cangkrep,” {Mau pergi ke Cangkrep}.
Kali ini dia mengira saya tahu jalan, jadi dia hanya mengangguk tanpa menunjukkan jalan kearah Cangkrep.
Untung di jalan ada petunjuk kearah Kedungsari, Semawung dan Wonoroto. Saya memilih jalan kearah Kedungsari, kelurahan yang tidak asing untuk saya.
BACA JUGA : Nyanyian Kritis
Ketika melewati sebuah lapangan muncul perasaan lega. Puluhan tahun lalu saya sering bermain di lapangan itu walau kini lingkungan kesekitarannya begitu asing untuk saya. Tak jauh dari lapangan itu ke arah utara saya akan segera menemukan Sekolah Dasar Negeri 1 Cangkrep tempat saya menuntut ilmu untuk pertama kalinya.
Begitu melewati depan sekolah yang dulu sering diolok-olok sebagai SD Kandang Wedus, perempatan Bangjo Cangkrep Lor sudah kelihatan. Dari kejauhan saya melihat lampu sirene berkelap-kelip dan deretan gagar mayang melambai-lambai. Perempatan nampak penuh dengan orang berdiri di masing-masing sisinya.
Nampaknya ada lagi rombongan pawai mauludan. Kali ini mungkin pawai para santri di bagian timur Sungai Bogowonto.
Sayapun segera memacu motor agar tak terjebak dalam barisan pawai yang bakal memakan waktu berjam-jam itu.
Untuk saja rombongan pawai itu sedang bersiap-siap untuk mulai berangkat sehingga saya bisa mendahului menuju rumah bapak dan ibu saya. Dan dari halaman rumah saya akan menonton pawai khataman disaat muludan untuk kedua kalinya.
Setelah semalam jengkel gara-gara pawai serupa biking agal ngopi, pagi ini suasana hati saya justru lain. Pawai mauludan ini jadi berkah yang tidak direncanakan.
Meski panas mulai menyengat saya tetap tegak berdiri di pinggir jalan depan rumah bapak dan ibu menyaksikan satu persatu rombongan santri/wati berkuda. Kali ini kudanya tidak berjingkrak dan santri/wati yang menunggangi tidak lagi berkostum alam Diponegoro atau Tjut Nyak Dien lagi, kostumnya lebih warna-warni.
Beberapa tahun tak menyaksikan, pawainya menjadi lebih berwarna dan lebih panjang.
Dan pawai yang berbasis tradisi adat Jawa dan Islam ini adalah event yang berbasis masyarakat. Event yang dirancang dan dibiayai sendiri oleh para orang tua santri/wati. Mereka harus mengeluarkan biaya untuk menyewa kuda, menyewa kostum, juru rias, konsumsi, sound system, petugas keamanan, pemusik dan group drumband.
Tradisi ini menghidupi dan menghidupkan banyak tradisi lainnya. Hingga kemudian kelompok pemuda Anshor sekalipun punya group drumband.










