KESAH.ID – Setiap hari hampir selalu ada kehebohan, heboh yang mengungkap borok atau bobroknya seseorang, sekelompok orang, pejabat, instansi atau lembaga kepemerintahan. Hebohnya bisa berhari-hari, seolah dunia akan kiamat, negara akan runtuh atau bubar namun kemudian berlalu begitu saja tanpa kabar, ingatan kolektif kita memang pendek.
Hati saya kerap merasa ngenes setiap kali ada berita tentang seseorang atau sekelompok orang yang tertipu oleh aksi dukun pengganda uang.
“Hari gini kok masih ada saja orang yang percaya pada sama janji pengganda uang,”
Tapi akhirnya saya mahfum sebab yang namanya keinginan untuk menjadi kaya dengan cara mudah dan cepat memang akan membuat orang menjadi tidak waspada. Bayangan yang akan terjadi kemudian bukan hanya membutakan nalar rasionalnya melainkan juga membajaknya.
Modus yang dimainkan oleh pengganda uang tradisional atau dukun sebenarnya juga dimainkan oleh para pengganda uang modern yang dibungkus dengan istilah investasi, trading, kripto dan lain-lain.
Terpana oleh sosok yang masih muda, kaya raya dan royal banyak orang kemudian menyetorkan uang, nitip investasi atau trading dengan harapan uangnya berbiak cepat sehingga bisa beli mobil Tesla, Porsche atau Lamborghini.
Sukses orang lain memang kerap membuat kita terperanggah lalu menyakinkan diri sendiri kalau orang lain bisa maka sayapun juga bisa.
Tentu ada satu dua orang yang bisa meniru kesuksesan orang lain, tapi kebanyakan orang lainnya tidak.
Sukses selalu menarik karena dibaliknya ada uang dan kemahsyuran.
Indra Kenz dan Doni Salmanan kemudian jadi idola. Wajah yang terbilang rupawan dan bersih membuat orang semakin terpana, hingga percaya kalau mereka benar-benar ahli seluk beluk investasi dan permainan dagang uang, saham serta kriptografi.
Bermodal pamer harta kekayaan dan gemar berbagai atau memberi membuat mereka terpercaya hingga kemudian tak ada yang mencurigai bahwa itu hanya modus, cara cepat untuk meraih kepercayaan publik.
Kekaguman yang terburu-buru dan ceroboh kemudian membuat banyak orang tertipu. Kekayaan Indra Kenz dan Doni Salmanan serta banyak yang lainnya ternyata bukan dari menang dagang saham, uang atau kripto melainkan dari penipuan lewat aplikasi. Menipu karena aplikasi binary option disebut sebagai aplikasi trading.
Kagum dan kemudian cepat-cepat meniru memang merupakan kebiasaan kita, karena memang begitu cara kerja otak manusia. Kebiasaan itu bahkan di-endorse dengan istilah yang teramat populer di dunia ekonomi kreatif, ATM atau Amati, Tiru dan Modifikasi.
Semua yang punya faktor ‘wow’ akan melahirkan peniru, baik meniru untuk membuat dan melakukan atau memakai serta mengkonsumsinya.
Lihat saja ketika ada seseorang sukses jualan es dawet ayu, tak lama kemudian muncul es dawet ayu lainnya. Begitu juga ketika ayam geprek laku, dimana-mana ayam akan digeprek, dikepruk dan dipenyet.
Ajian yang sering dipakai oleh orang Indonesia memang aji mumpung, atau dalam bahasa yang lebih bernada metodologis strategis disebut sebagai menunggang angin, mengikuti trend yang sedang berkembang.
Yang penting adalah untung, soal keberlanjutan dan kualitas tak perlu dipikirkan terlalu serius.
Maka tak perlu kaget kalau tiba-tiba semua orang bicara akik, dimana-mana muncul pengosok batu akik yang bisa bercerita tentang batu dengan ndakik-ndakik. Entah darimana pengetahuannya tentang batu akik diperoleh, namun yang pasti apa yang disampaikan seperti susah disangkal karena begitu meyakinkan.
Akibat dari kerapnya muncul ahli-ahli dadakan yang namanya informasi atau pengetahuan lebih diwarnai oleh mitos-mitos, hal-hal yang sulit dibuktikan kebenarannya.
BACA JUGA : Negeri Sampah
Banyak orang Indonesia sakit atau sekurangnya tidak sehat baik fisik maupun mental. Namun kebanyakan enggan pergi ke dokter, tenaga profesional lain atau rumah sakit. Sebagian terbentur karena biaya namun sebagian lainnya enggan karena prosedur layanan kesehatan yang birokratis, dan juga kekhawatiran apabila pergi ke rumah sakit atau layanan kesehatan malah jadi semakin tak sehat karena ketahuan kalau penyakitnya berat.
Maka kemudian orang teramat suka untuk menyebut pengobatan alternatif, seperti misalnya obat herbal. Hingga muncul keyakinan bahwa dengan obat herbal, penyakit yang mestinya disembuhkan atau diatasi dengan operasi bisa diatasi dengan ramuan daun-daunan, kulit kayu dan lainnya.
Adanya kesaksian satu dua orang yang merasa sembuh dan tak perlu dioperasi karena daun-daun tertentu lalu dipakai menjadi mantera sakti, bahwa herbal tertentu punya khasiat luar biasa. Kita memang menyukai yang ajaib, sesuatu yang bisa menyelesaikan masalah tapi sulit diterangkan bagaimana cara kerjanya.
Seperti pengganda uang yang menggegerkan, berkali-kali kita juga digegerkan dengan kemunculan dukun sakti. Seperti Ponari dengan batunya yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit secara ajaib.
Berbondong-bondong orang yang merasa tak sehat datang, bukan untuk berkonsultasi dan melakukan diagnosa atas keluhannya. Yang mereka minta hanya air bekas celupan batu Ponari. Dengan modal air itu apapun keluhannya akan disembuhkan.
Apakah semujarab itu?. Pasti tidak, karena kalau benar mujarab, Ponari saat ini pasti masih sibuk mencelap-celupkan batunya kedalam air yang dibawa pasiennya.
Tidak ada yang ajaib dari batu Ponari, yang ada hanyalah kenyataan bahwa perilaku dan keyakinan kita selalu ditentukan oleh kekuatan diluar diri kita. Logika umum kita adalah apa yang dipercayai oleh banyak orang atau kebenaran komunal adalah benar.
Ukuran semacam itu mudah ditemukan dalam kenyataan sehari-hari, seperti untuk menentukan rumah makan atau warung itu enak atau tidak. Bagi kebanyakan kita rumah makan yang enak adalah yang didatangi banyak orang. Atau lebih spesifik lagi yang didatangi orang China.
Padahal bisa jadi pengunjung yang ramai itu bukan karena makanannya enak, melainkan karena murah, pelayanan yang baik dan lingkungan yang bersih.
Padahal bisa jadi rumah makan atau warung yang enak justru rumah makan dan warung yang tak terlalu ramai karena mahal harganya. Mahal karena dimasak oleh juru masak terbaik dan diracik dari bahan-bahan serta bumbu terbaik.
Selain gampang kagum dan kemudian tangkas meniru yang dikagumi rupanya kita juga terbiasa melakukan segala sesuatu berdasarkan tuntunan atau petunjuk pihak lain. Minta petunjuk atau arahan bahkan sudah menjadi sopan santun tersendiri.
“Siap kanda, ada arahan atau petunjuk!”
Terbiasa dimintai petunjuk mereka yang lebih senior, lebih tua, lebih berkedudukan dan lain-lain kemudian terbiasa memberi petunjuk, mengarah-arahkan walau jari telunjuknya terkadang menuju arah yang tak sesuai dengan perkembangan jaman.
Maka tak perlu heran jika kemudian tentara kerap kali mengendorse hal-hal yang ajaib. Memfasilitasi pengobatan dari penyembuh yang diklaim bisa mengobati berbagai penyakit dengan satu jenis minyak. Atau mempromosikan penemu bahan bakar air, yang membuat motor bisa pulang pergi dari Jawa Barat ke Jawa Tengah tanpa bensin.
Yang diendorse kalau ditanya bagaimana cara kerjanya dengan enteng akan mengatakan “Itu rahasia perusahaan,”
BACA JUGA : Dinamika Takjil Dalam Budaya Nusantara
Kita memang gampang untuk dibuat terkaget-kaget namun tak sulit untuk ditenangkan.
Soal korupsi kita semua tahu perilaku koruptif itu ada dimana-mana. Tapi kita bisa ditenangkan dengan adanya KPK dan slogan-slogan reformasi birokrasi lainnya.
Tapi kemudian kita terkaget-kaget ketika Mahfud MD, Menko Polhukam menyatakan dalam sebuah kesempatan soal adanya transaksi mencurigakan yang jumlahnya sangat besar di lingkungan Kementerian Keuangan dan dibiarkan.
Jangankan kita masyarakat, Menteri Keuangannya saja juga terkaget-kaget.
Padahal kisah permainan kotor, kongkalikong di Direktorat Pajak dan Bea Cukai sudah jadi pengetahuan umum, banyak orang punya pengalaman tentang hal itu.
Wakil rakyat pun pura-pura kaget sehingga merasa perlu mempertanyakan penyataan Mahfud MD itu.
Dan biasanya setelah terjadi pertemuan yang disebut dengan Rapat Dengar Pendapat, masyarakat dan yang lainnya tak lagi punya nafsu untuk kepo. Persoalannya tak menarik lagi untuk diperbincangkan karena duduk persoalannya kemudian menjadi lebih jelas.
Ribut-ributnya surut dan kemudian muncul keributan lain. Begitu siklusnya.
Apalagi sengaja atau tidak, tapi anggap saja sebagai kebetulan, tangkap tangan KPK pertama di tahun 2023 ini berhasil memergoki Bupati yang sebelumnya dikenal publik mengutuk-ngutuk Kementerian Keuangan RI.
Bupati Meranti, Muhammad Adil sebelumnya populer karena mengatakan Kementerian Keuangan dihuni oleh iblis karena bersikap tidak adil dalam urusan Dana Bagi Hasil.
Saking kesalnya sampai menyatakan ingin lepas dari Indonesia.
Sebagai Bupati, sikap dan ucapannya sungguh mengagetkan. Berani sekali.
Sayang kemudian Muhammad Adil ternyata berlaku kurang lebih sama dengan apa yang dituduhkan olehnya. Dia terbukti juga doyan mengantongi uang untuk kepentingannya sendiri.
Dan kemudian banyak orang akan punya kesimpulan bahwa burung yang berkicau atau anjing yang menggongong pasti ada maunya.
Kejadian seperti itu memang kerap membuat masyarakat yang gemar menyimpulkan melakukan kesalahan yang disebut jumping conclusion.
Siapapun yang berkoar-koar untuk membongkar skandal kemudian dituduh punya kepentingan tersembunyi. Istilahnya maling teriak maling.
Kita jadi tak percaya bahwa ada yang ingin sungguh-sungguh membersihkan korupsi dan penyelewengan wewenang serta kekuasaan.
Akibatnya ribut-ribut soal korupsi tak lama kemudian akan kembali berujung pada sepi, ditimpa oleh keributan lain yang entah disengaja atau hanya kebetulan saja.
note : sumber gambar – DETIK.COM








