KESAH.ID – Tidak banyak yang tahu bahwa lagu Indonesia Raya diciptakan oleh musisi café. Wage Rudolf Supratman yang numpang lahir di Somongari, Kaligesing, Purworejo itu sebelum menciptakan lagu Indonesia Raya berkarir sebagai musisi café di Bandung bersama White and Black Jazz Band. Pemain musik ini kemudian terhubung dengan pergerakan nasional lewat dunia jurnalistik. Selain bermusik, W.R Supratman juga merupakan seorang jurnalis yang bekerja di koran Kaoem Kita di Bandung dan koran Sin Po di Jakarta.
Jum’at, 7 April 2023 lalu sepulang dari mengikuti Misa Jum’at Agung saya pergi ke Bukit Raya, Tenggarong Seberang. Tujuannya ke Pondok Pesantren Al-Masyhuriyah untuk mengikuti Halaqah Kebangsaan dan Doa Bersama untuk Bangsa.
Acara dengan tema “Memperkokoh Ukhuwwah Wathaniyyah, Menepis Politik Identitas” ini diselenggaraan oleh Himpunan Santri Nusantara {Hisnu}, Kalimantan Timur.
Atas endorsan dari Kahar Al Bahri, Kakak Pembina Kamisan Kaltim saya dijadikan salah satu pembicara. Dan entah ketua atau koordinator Hisnu Kaltim, Asman Azis menyetujuinya. Saya manut saja toh urusan Ukhuwwah Wathaiyyah ini sudah lama saya hidupi dan praktekkan bersama Ocha dan Asman serta teman-teman lainnya di Forum Pelangi dulu.
Tapi saya tak hendak menceritakan soal bagaimana Ukhuwwah Wathaniyyah dihidupi untuk menepis politik identitas yang biasanya menguat menjelang pemilu. Yang saya ingin ceritakan adalah lagu kebangsaan Indonesia Raya yang seingat saya selalu dinyanyikan bersama diawal-awal acara yang diselenggarakan dalam lingkungan Nahdhatul Ulama.
Buat saya kumandang lagu Indonesia Raya itu mengantar pada kenyataan bahwa identitas politik yang kerap membedakan antara nasionalis dan religius ternyata tak ditemukan dalam lingkungan Nahdhatul Ulama pada umumnya.
Tak ada pemisahan antara nasionalis dan religius karena nasionalis ya religius dan religius ya nasionalis. Sintesis ini jelas dalam ungkapan “NKRI Harga Mati”.
Sayapun ikut merasakan semangat kebangsaan itu ketika menyanyikan bait demi baik sambil mengingat-ingat syairnya.
Selain rasa kebangsaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya selalu mengingatkan saya pada Desa Somongari, tempat dimana WR Supratman sang komposernya dilahirkan.
Di mata warga desa tempat saya tinggal di masa kanak-kanak hingga remaja, Somongari lebih dikenal sebagai desa penghasil buah durian. Setiap musim durian, jalanan depan rumah saya sering dilewati mobil yang dipenuhi buah durian yang dibawa dari Somongari, duriannya dibawa hingga ke Jakarta.
Selain durian, Somongari dan desa-desa disekitarnya juga dikenal sebagai penghasil buah manggis, ada juga duku dan kokosan.
Saya dan teman-teman sepermainan juga suka piknik ke Somongari, karena disana ada air terjun yang tinggi. Namanya air terjun Silangit. Sebelum kami punya sepeda masing-masing, kami pergi kesana berjalan kaki.
Selain untuk piknik ke air terjun, biasanya kami pergi ke Somongari untuk mencari pring tulup, bambu kecil yang ruasnya panjang untuk dipakai mainan. Di kanan kiri jalan menuju Somongari dan air terjun banyak tumbuh pring tulup liar yang bisa kami ambil tanpa permisi.
Setiap kali saya dan teman-teman sampai Somongari, sebelum melangkah ke jalan setapak menuju air terjun, biasanya kami akan singgah ke sebuah rumah yang oleh masyarakat disebut sebagai tempat WR. Supratman dilahirkan.
Bagaimana bocah yang lahir di hari Jum’at Wage di desa terpencil bisa menjadi musisi yang pandai memainkan biola?.
Ternyata WR Supratman hanya numpang lahir di Somongari, tiga bulan setelah kelahirannya pada 19 Maret 1903, dia dibawa oleh bapak ibunya ke Jatinegara. Ayahnya yang adalah tentara KNIL itu kemudian mencatatkan atau membuat akte kelahirannya di Jatinegara. Dalam surat lahirnya, WR Supratman ditulis terlahir di Jatinegara.
Sebelum menamatkan sekolah di Budi Utomo, Jakarta, ibunya meninggal dunia. WR Supratman kemudian dibawa oleh kakaknya ke Makassar untuk meneruskan pendidikan disana. Kakak perempuannya menikah dengan orang Belanda.
Pada ulang tahun ke 17, W.M. Van Eldick suami dari kakaknya memberi hadiah sebuah biola. Semenjak saat itu W.R. Supratman akrab dengan musik.
Sementara pendidikan yang dibiayai oleh kakak iparnya berhasil dituntaskan. W.R. Supratman menamatkan sekolah pendidikan guru dan kemudian menjadi guru di Sekolah Angka 2.
Bersama dengan kakaknya yang juga menyukai musik. WR. Supratman kemudian membentuk sebuah group band beraliran music Jazz yang dinamai Black and White.
BACA JUGA : Ribut Ribut Yang Berujung Sepi
Semangat nasionalisme W.R. Supratman tumbuh ketika hijrah ke Bandung. Selain berprofesi sebagai musisi dengan memainkan musik jazz di café, WR. Supratman juga berprofesi sebagai jurnalis.
Moyang dari musisi café ini terhubung dengan dunia pergerakan ketika tercatat sebagai redaktur koran Kaoem Kita yang berslogan “Djembatan Soeara Ra’jat”. Koran ini dibuat oleh aktivis Syarikat Islam, tangan kanan Cokroaminoto yang bernama Abdoel Moeis.
Kita mengenalnya sebagai penulis roman Salah Asuhan.
Berada dalam lingkungan kaum pergerakan, W.R. Supratman yang merupakan musisi café kemudian bermetamorfosisi menjadi musisi pergerakan, musisi legendaris nasional.
Dari Bandung kemudian W.R Supratman pindah ke Jakarta untuk bekerja di kotan Sin Po. Media ini diterbitkan oleh kaum peranakan Thionghoa sebagai penanda identitas politik mereka yang berpihak pada perjuangan kemerdekaan.
Saat itu ada ketegangan pilihan politik bagi kaum peranakan Thionghoa, untuk bersatu menjadi bagian dari perjuangan bangsa Indonesia atau tetap berkiblat pada Tiongkok.
Haluan politik yang ditunjukkan oleh Sin Po tercermin dalam kata Indonesia di halaman pertama sebagai nama sebuah rubrik. Pencantuman nama Indonesia dilakukan oleh Sin Po sebelum konggres pemuda kedua yang melahirkan sumpah pemuda, dimana Indonesia disebut secara ekplisit untuk pertama kalinya.
Pada tahun 1928, Indonesia disebut sebagai tumpah darah atau tanah air, bangsa dan bahasa persatuan.
Dalam pergulatannya di Sin Po, W.R Supratman menciptakan lagu Indonesia Raya. Notasi lagu ini juga dimuat dalam kolom Indonesia untuk pertama kalinya di koran Sin Po.
Lagu Indonesia Raya sendiri pertama direkam di perusahaan gramofon, milik seorang pengusaha rekaman Thionghoa bernama Tio Tek Hong pada tahun 1927. Nama yang kemudian dicatat sebagai perintis dunia rekaman di Indonesia.
Sudah diciptakan bertahun sebelumnya, lagu Indonesia Raya oleh W.R Supratman kemudian diperdengarkan di hadapan peserta kongres pemuda kedua tanggal 28 Oktober 1928.
Pada tahun 1965, koran Sin Po yang telah berubah nama menjadi Warta Bakti, koran kiri yang berada di barisan belakang pendukung Sukarno dibredel bersama dengan koran-koran kiri lainnya.
BACA JUGA : Negeri Sampah
Saya dan kita semua yang pernah sekolah pasti menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap hari Senin dan upacara hari besar lainnya. Begitu rutinnya sampai-sampai tak menyadari kalau dibalik lagu itu ada pesan untuk mencuci dendam purba, virus rasisme dalam kepala kita.
Lagu Indonesia Raya setelah diperdengarkan dihadapan peserta konggres pemuda mampu membuat organisasi pemuda Jong Java yang memperjuangkan nasionalisme jawa membubarkan diri untuk kemudian bergabung dalam Indonesia Muda.
Syair lagu yang dituliskan oleh W.R Supratman mampu mengerakkan aktivis-aktivis pergerakan keluar dari sekat-sekat indentitas primordialnya untuk kemudian membangun identitas baru yang mempersatukan berbagai perbedaan dalam wadah bernama Indonesia.
Setelah diperdengarkan dihadapan para peserta konggres, lagu Indonesia Raya dengan cepat menjadi populer. Lagu ini kemudian selalu dinyanyikan setiap kali organisasi pergerakan mengadakan pertemuan.
Pemerintah kolonial Belanda khawatir melihat perkembangan ini sehingga sempat melakukan pelarangan. Namun kemudian dikoreksi, lagu Indonesia Raya hanya boleh dinyanyikan di ruang tertutup.
Kelak W.R Supratman juga menciptakan lagu Matahari Terbit. Lagu yang kembali dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda karena ditenggarai merupakan pujian bagi Dai Nippon atau Jepang. W.R Supratman bahkan ditahan karena lagu ini.
Kesehatannya memburuk selepas dari tahanan dan pada tanggal 17 Agustus 1938, W.R Supratman wafat dalam usia ke 35.
Sebelum wafat, W.R Supratman mengungkapkan keyakinan pada kakaknya bahwa Indonesia akan merdeka. Dan benar Indonesia kemudian merdeka 7 tahun kemudian, tepat pada hari wafatnya W.R. Supratman.
Ada kurang lebih 10 lagu yang ditulis oleh W.R Supratman, berupa lagu kebangsaan, kepahlawanan dan mars. Meski tak beralbum-album namun sebagai musisi ternyata lagu yang ditulisnya menjadi lagu monumental, lagu yang abadi.
Bermula dari pemain musik di café, aktivisme bermusik W.R Supratman selain diabadikan sebagai lagu kebangsaan atau lagu nasional, hari kelahirannya juga dijadikan sebagai Hari Musik Nasional.
Sesudah tidak sekolah lagi, tidak bekerja di instansi pemerintah, tak bergabung dalam partai politik dan ormas kebangsaan, saya terbilang jarang menyanyikan lagi Indonesia Raya.
Namun justru karena jarang menyanyikan maka ketika mendengar dan ikut menyanyikannya kemudian lebih bisa menghayati pesan-pesannya.
Bagi saya setiap kali menyanyikan Indonesia Raya, saya akan memperbaharui janji dan niat untuk membersihkan diri dari kerak-kerak busuk politik identitas, membuang sejauh mungkin sekat-sekat SARA dalam diri saya.
Lagu Indonesia Raya yang terakhir saya nyanyikan bersama para santri di Al Mahsyuriyah, Bukit Raya, Tenggarong Seberang menjadi perayaan kebangsaan. Sebagai orang Katolik, saya tetap merasa 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia ketika berada di tengah saudara-saudari kaum muslimin dalam bingkai persaudaraan satu bangsa, bangsa Indonesia.
note : sumber gambar – NATIONALGEOGRAPHIC.GRID.ID








