KESAH.ID – Pusparagam ekosistem dataran rendah Mahakam Tengah terus terancam oleh perilaku kebijakan, investasi swasta dan masyarakatnya. Sebagai bentang alam yang khas, ekosistem sungai, danau kaskade dan rawa Mahakam berpotensi untuk menjadi lokomotif baru dari ekonomi esktraksi ke ekonomi hijau. Namun mewujudkan ekonomi kolaboratif masih menjadi sebuah tantangan. Tak mudah untuk menyatukan para pihak yang selama ini cenderung saling menyalahkan dan saling tunggu dalam inisiatif ekonomi berkelanjutan.
Catatan para penjelajah dari Eropa yang menyusuri jalur bentang pegunungan di pulau Borneo memunculkan gambaran wilayah di Pulau Kalimantan adalah kawasan berhutan, rimba belantara.
Hutan rimba ini ditinggali oleh dua orang, Orang Hutan dan Orang Utan.
Ada yang luput dari catatan para pengelana di masa lampau itu, yakni keberadaan kawasan perlembahan, kawasan dataran rendah yang relatif selalu basah karena genangan. Ada penghuni lain di Pulau Kalimantan, yakni Orang Danau.
Di Kalimantan Timur, Orang Danau bermukim di kawasan Mahakam Tengah, wilayah yang berada di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Barat. Kawasan ini dikenal sebagai kawasan Tiga Danau, Semayang Melintang Jempang.
Tapi sesungguhnya ada banyak danau, jumlahnya puluhan. Makanya ada satu kecamatan di Kutai Kartanegara bernama Kenohan. Wilayah yang diapit oleh danau Semayang dan aliran Sungai Nelayan, anak sungai besar Mahakam. Kenohan adalah sebutan danau dalam bahasa Kutai.
Di sekitar muara, tempat sungai Sungai Kahala berakhir pada hamparan danau Semayang, ada desa yang juga bernama Semayang. Warganya bermukim di kanan kiri aliran sungai, dan dikelilingi oleh rawa-rawa serta riparian sungai, danau dan rawa.
Hutan riparian yang berada di ekosistem peralihan antara air dan daratan kering melindungi kawasan permukiman dari banjir dan gelombang yang datang dari Danau Semayang dan Melintang.
Hanya saja di muara, ripian tidak tebal sehingga mesti dibangun benteng berupa dinding kayu untuk menahan gempuran angin dan gelombang dari danau serta terjangan pulau gulma yang bergerak karena dorongan hempasan gelombang dan angin dari danau.
Berada dalam ekosistem sungai, danau dan rawa (sadar), Desa Semayang dilimpahi dengan sumber penghidupan berupa ikan air tawar.
Ikan Patin, Bilis, Gabus, Toman, Biawan, Puyu, Lais, dan Belida, Lais, Kendia, Lepok dan Repang berkembang biak dan melimpah di lingkungan Desa Semayang. Saking banyaknya, Desa Semayang pada musim atau saat tertentu akan kebanjiran ikan.
Karena tak bakal habis jika dikonsumsi sebagai ikan segar, masyarakat Desa Semayang dikenal sebagai penghasil ikan kering air tawar. Produk olahan untuk mengawetkan ikan ini dalam bahasa setempat bernama Jukut Pija.
Namun beberapa tahun terakhir ini lingkungan dan iklim kawasan berubah. Ikan tidak lagi berlimpah, pasang surut danau periodesasinya makin kacau.
Jika di hutan dataran kering dikenal sistem perladangan rotasi atau ulang alik, di kawasan danau-danau Mahakam masyarakat mengembangkan sistem pertanian pasang surut. Danau, rawa dan sungai yang surut akan dipakai sebagai lahan bercocok tanam padi dan tanaman pangan lainnya.
Lumpur atau lahan basah yang tidak tergenang karena airnya surut meninggalkan tapak tanam dengan kesuburan alami. Namun siklus pasang surut yang tak teratur membuat masyarakat sulit bertanam tanaman semusim. Resiko gagal panennya sangat tinggi, karena sebelum saat panen tiba air sering kali sudah lebih dulu datang dan menenggelamkan tanaman.
Ketika segala sesuatu berlimpah lalu mulai berkurang, masyarakat cenderung berperilaku destruktif untuk mempertahankan penghidupannya.
Terbiasa hanya ‘memanen’, mengekploitasi langsung dari alam, ketika ikan mulai sulit didapat, kemudian cara menangkap ikannya berubah. Dari memancing, memerangkap dan menjala kemudian beralih ke menyetrum. Mulai dengan setrum yang berasal dari aki sampai dengan genset.
Ikan semakin berkurang, karena setrum tak pandang bulu. Semua terkapar sehingga proses regenerasi tidak terjadi.
Tanda-tanda ikan mulai langka nampak dalam pengetahuan anak-anak. Menurut seorang tetua, anak-anak Semayang tak lagi hafal dengan nama-nama jukutnya.
BACA JUGA : Alienasi Politik
Berada di muara, ekosistem air dan daratan pasang surut Desa Semayang dipengaruhi oleh wilayah hulunya.
Di wilayah hulu baik yang berada di kecamatan Kenohan dan kecamatan lain yang terhubung dengannya terjadi alih fungsi lahan besar-besaran untuk perkebunan sawit dan juga tambang batubara.
Pembukaan dan alih fungsi lahan menyebabkan peningkatan resiko erosi pada Daerah atau Wilayah Tangkapan Air yang menjadi sumber keairan untuk sungai, danau dan rawa Semayang.
Selain membawa material sedimentasi, aliran air permukaan atau run off dari wilayah hulu juga membawa polutan berupa sisa-sisa pupuk dan material kimia lainnya dari perkebunan sawit dan pertambangan.
Ada edek berantai yang kemudian membuat kawasan sungai, danau dan rawa Semayang ‘menderita’, ekosistemnya berubah.
Dua tahun terakhir ini di wilayah daerah pasang surut Desa Semayang terjadi ledakan gulma yang oleh warga disebut Putri Malu.
Tumbuhan merambat ini tidak berduri, maka disebut Keman Perempuan. Sedangkan yang berdiri disebut Keman Laki Laki.
Pucuk daunnya bisa dimanfaatkan menjadi sayur, namun konsumsinya tak sanggup menjadi pengendali pertumbuhannya.
Tumbuhan ini berkembang biak dengan sangat cepat, hingga kemudian menutupi kawasan dan memangsa apapun yang tadinya ada di kawasan itu. Pohon atau semak lain yang sebelumnya tumbuh disitu mati.
Pertumbuhan Putri Malu yang kemudian menjadi tanaman penganggu ini mengancam keberadaan vegetasi hutan riparian.
Jasa ekologis dari tegakan Rengas, Asam Repeh, Perupuk, Kendi Kara, Prepat, Putat, Kademba, Bengkal dan lainnya menjadi terancam.
Pohon-pohon spesies lokal yang membentuk hutan riparian selama ini menjadi benteng atau pelindung permukiman Semayang dari angin dan banjir yang datang dari danau.
Kawasan hutan riparian sendiri sering sulit untuk dipertahankan karena batang pepohonannya juga mempunyai nilai ekonomis. Pohon kerap ditebang baik untuk kepentingan domestik maupun sebagai komoditas perdagangan.
Hilang atau berkurangnya kawasan riparian selain berpengaruh pada lingkungan permukiman juga berdampak pada keberlanjutan habitat ikan air tawar. Hutan Riparian yang berada di kawasan rawa, pinggiran danau dan sungai adalah tempat ikan berpijah sekaligus sumber nutrisi untuknya.
Kehilangan habitat dan sumber pakan, ikan-ikan kemudian menghilang, jumlahnya makin lama makin berkurang. Antara pertumbuhan dan penangkapan kemudian tak seimbang.
Untungnya ekosistem sungai, danau dan rawa Mahakam Tengah selalu menyimpan potensi yang tak habis-habis. Kehilangan salah satu sumber penghasilan bisa diganti dengan sumber penghasilan lainnya.
Masyarakat Desa Semayang yang mulai kesulitan memperoleh tangkapan ikan mempunyai alternatif penghidupan baru dengan membuat Rumah Burung Walet (RBW).
Ekosistem air kawasan Mahakam Tengah berupa lahan basah, gambut dan kerangas menjadi surga Burung Walet karena ketersediaan air dan sumber pakannya yakni serangga.
Beternak Burung Walet relatif memberi peluang pendapatan berkelanjutan karena yang dipanen adalah sarang yang berasal dari liur walet. Liurnya senilai dengan emas.
Hanya saja pembangunan RBW yang tak terkendali juga berpotensi untuk merusak pemandangan bentang alam Sungai, Danau dan Rawa kawasan Mahakam Tengah.
Lingkungan Sungai, Danau dan Rawa mulai dipenuhi oleh rumah tinggi yang tak berjendela. Dari kejauhan citranya seperti perkotaan yang dipenuhi oleh bangunan bertingkat, penuh hotel dan perkantoran.
RBW yang dipasangi sound kicauan burung juga merubah soundscape kawasan. Bunyi-bunyian artificial yang tak mencerminkan habitat setempat.
BACA JUGA : Lingkaran Kekerasan Elektoral
Semayang, konon kata ini merupakan cermin dari latar belakang warganya yang merupakan masyarakat serumpun, atau saling berkerabat.
Hubungan yang erat membuat masyarakat Semayang punya semangat gotong royong yang tinggi.
Hanya saja seiring perkembangan waktu, nilainitu mulai memudar, komunalitas bergeser menjadi individualitas, kolaborasi menipis, kompetisi menjadi menguat.
Ada banyak narasi tentang pengetahuan dan kebijakan lokal tentang lingkungan hutan serta air. Namun narasi soal pengelolaan sampah dan limbah tak terdengar.
Secara anekdotal justru kerap terdengar celetukan “Dari dulu kami terbiasa membuang semuanya ke sungai, danau dan rawa”.
Bahkan konon salah satu kenikmatan hidup disana adalah membuang hajat dengan mata memandang langit.
Berak di jamban yang ada diatas aliran sungai seperti mencandu nikmat alam.
Anggapan semacam ini menyimpan persoalan besar karena apa yang dibuang di masa lalu berbeda dengan yang dibuang di masa kini.
Pola prosumsi masyarakat pedesaan yang tidak lagi berbeda jauh dengan masyarakat perkotaan membuat sampah dan limbah yang dibuang langsung ke alam menjadi sumber polutan yang merusak kualitas tanah, air dan juga udara.
Perilaku masyarakat berkaitan dengan sampah dan limbah ini mengancam hilangnya potensi lain yang tengah digali oleh pemerintah dan masyarakat yakni potensi wisata alam dan budaya kawasan hutan basah tropis dataran rendah Mahakam Tengah.
Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur getol mendorong masyarakat dan pemerintah desa di kawasan Tiga Danau Kaskade Mahakam untuk merubah paradigma ekonomi dari ekonomi ektraksi ke ekonomi berkelanjutan.
Diyakini dengan segala potensinya yang masih ada, masyarakat Danau Kaskade Mahakam bisa menjadi pioner atau salah satu penggerak inisiatif ekonomi hijau, ekonomi rendah karbon yang akan menopang keberlanjutan masyarakat dan juga lingkungan hidup serta alam secara berkeadilan.
Soal bersih diri barangkali masyarakat tak perlu lagi dihimbau-himbau atau dinasehati secara berlebihan. Namun perihal bersih lingkungan masih perlu upaya yang keras agar masyarakat mau berpartisipasi secara aktif dan tidak menyandarkan harapan pada orang lain, entah itu pemerintah, atau lembaga dan institusi lainnya.
Amat mudah untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan atau ketrampilan tentang manajemen pengelolaan dan pengolahan sampah serta limbah.
Namun pengetahuan dan ketrampilan tak secara otomatis bisa merubah perilaku masyarakat.
Kebiasaan tidak bisa dibangun dengan bekal pengetahuan dan ketrampilan semata.
Maka membiasakan masyarakat untuk membuang sampah dan limbah pada tempatnya butuh pendampingan yang instensif. Karena masyarakat perlu dilatih terus menerus untuk menerapkannya.
Lingkungan yang bersih tidak bisa diciptakan dengan nasehat, melainkan latihan terus menerus, kebiasaan yang dipupuk semenjak kanak-kanak.
Di Desa Semayang hari ini dengan mudah bisa disimpulkan ada banyak kekurangan soal tata kelola sampah dan limbah. Dari sisi infrastruktur atau peralatan, jelas tak nampak adanya tempat sampah yang cukup.
Pun kalau ada, tempat sampah juga terlalu membantu karena tak ada pengumpul sampah, tempat penampungan sampah sementara dan kemudian pengangkutan ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir.
Menunggu semua itu diwujudkan oleh pemerintah bisa jadi masih butuh waktu yang lama.
Maka Pelatihan Kebersihan Lingkungan dan Pengelolaan Sampah serta Sanitasi dimaksudkan sebagai pemantik agar masyarakat Desa Semayang mulai mencari jalan sendiri untuk menyelesaikan persoalan sampah desa di desa.
Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur mengajak masyarakat dan pemerintah Desa Semayang untuk berpikir kreatif dan inovatif. Merubah pandangan pada sampah dan limbah agar tidak menjadi beban melainkan potensi yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga alam sekaligus menumbuhkan iklim usaha pariwisata.
Ada banyak peluang kolaborasi antara warga Desa Semayang dengan pemerintah daerah, organisasi pemerintah daerah, dunia pendidikan, dunia usaha dan lainnya untuk mewujudkan kebersihan lingkungan Desa Semayang, sehingga kelak wisatawan atau tamu yang akan datang bakal pulang membawa kenangan.
Tapi ingat, tidak mungkin kenangan akan dibawa pulang selama masyarakat dan tetamunya masih membuang sampah dan limbah secara sembarang.
Masyarakat mesti berubah. Terus dilatih dan dibiasakan agar tidak hanya menjadi pengambil atau pemanfaat sumberdaya dan kekayaan alam. Ekonomi hijau, ekonomi berkelanjutan atau ekonomi sirkular akan terwujud seandainya masyarakat, pemerintah dan para pihak lainnya turut menjadi penjaga, perawat dan pemulih alam, lingkungan hidup agar menjadi habitat bagi semua yang berkehidupan.








