KESAH.IDPrabowo Subianto dan Donald Trump layak disebut sebagai imposible man. Keduanya berhasil meretas kemustahilan. Jalan Prabowo untuk menjadi presiden sungguh terjal, berkali-kali terganjal karena isu pelanggaran HAM berat. Sedangkan Donald Trump menunjukkan kemampuannya meretas kemustahilan dengan banyak hal. Dia berhasil mengalahkan politisi-politisi senior, orang yang telah malang melintang di pemerintahan. Dan kredit Trump menjadi lebih kuat karena program yang ditawarkan banyak yang kontroversial, sesuatu yang nampaknya mustahil dilakukan oleh presiden Amerika Serikat lainnya.

Tidak ada hal yang mustahil, mungkin itu nasehat yang paling banyak diucapkan oleh motivator untuk memacu semangat hadirin yang datang ke seminar, workshop, lokakarya atau apapun nama pertemuannya.

Peserta ingin berubah, terutama berubah dari tak kaya menjadi kaya, bahkan super kaya. Kaya artinya sukses.

Kepada yang sudah berumur, dia mengatakan tak ada kata terlambat untuk sukses. Dan disebutlah nama Kolonel Sanders yang pada usia 65 baru sukses mewaralabakan resep ayam gorengnya.

Kolonel Sanders menjadi salah satu nama yang paling diceritakan dalam kisah inspiratif untuk memberi contoh tentang tidak pernah berhenti berusaha walau hidupnya penuh tantangan dan kegagalan.

Seberapa banyak orang yang terinspirasi oleh Kolonel Sanders?. Tentu saja banyak, tetapi berapa yang berhasil seperti dirinya?. Tentu saja tidak banyak.

Nasehat atau inspirasi untuk terus berusaha tiada henti walau mengalami kegagalan sebenarnya tak perlu diasup dari cas-cis-cus motivator menceritakan kisah inspirasi dari tokoh tertentu. Ada pepatah lama yang mengatakan “Kegagalan adalah awal keberhasilan”.

Silahkan baca sebanyak mungkin kisah inspiratif, atau rajinlah ikuti seminar-seminar motivator namun percayalah ada banyak kemustahilan di dunia ini.

Percayalah kalau daun sirih bisa berbuah semangka itu hanya sebuah lirik lagu yang dipopulerkan oleh Broery Pesolima.

Mulanya saya percaya bahwa mustahil bagi Prabowo untuk jadi Presiden Republik Indonesia. Terlalu banyak tantangannya, terlebih ketika dua kali berturut dikalahkan oleh Joko Widodo.

Namun plot twist paska pemilu kedua yang diikuti oleh melawan Joko Widodo, menjadi jalan bagi Prabowo untuk meretas kemustahilan.

Prabowo pantas disebut sebagai the imposible man, karena bukan hanya memenangkan pemilu presiden 2024, tetapi juga menang dalam satu putaran padahal bersaing dengan dua pasangan lainnya.

Saya saya menggangap Prabowo mustahil menjadi Presiden Indonesia, maka tak ada salahnya jika kemudian saya menduga kalau Yusril Ihza Mahendra dan Muhaimin Iskandar yang kemudian mustahil menjadi Presiden.

Kenapa dua orang ini?. Karena kedua orang ini hobinya nyopras-nyapres.

Dan kini Prabowo sudah melewati angka 100 hari memimpin Indonesia. Angka 100 hari menjadi sebuah patokan penting dalam politik di Indonesia. Dalam patokan 100 hari, kepemimpinan seorang presiden biasa diukur untuk pertama kalinya. Begitu juga dengan perfoma para pembantunya, menteri-menteri dalam kabinetnya.

Dalam laporan berjudul Rapor 100 Hari Prabowo Gibran yang dikeluarkan oleh Celios atau Center of Economic and Law Studies, salah satu temuannya adalah menteri-menteri berkinerja buruk.

Dari daftar panjang anggota Kabinet Merah Putih, menteri yang berkinerja buruk dalam 100 hari pertama adalah Natalius Pigai, Budi Arie Setiadi, Bahlil Lahadalia, Raja Juli Antoni, dan Yandri Susanto.

Budiman Sujatmiko yang memimpin Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan juga dianggap tidak terlihat bekerja sehingga tak bisa dinilai baik atau buruk kinerjanya.

Celios mengusulkan menteri-menteri yang berkinerja buruk untuk diganti atau direshufle.

BACA JUGA : Ultah Kota

Dengan memakai indikator : Pencapaian program, Kesesuaian rencana kebijakan dengan kebutuhan publik, Kualitas kepemimpinan dan koordinasi, Tata kelola anggaran, dan Komunikasi kebijakan maka Celios memberi 5 dari 10 untuk Prabowo Subianto dan 3 dari 10 untuk Gibran Rakabuming Raka.

Rapor ini diberikan sebagai hasil sintesa dari survei persepsi publik yang menghasilkan ketidakpuasan atas janji politik yang dianggap setengah hati, kebijakan yang tak sesuai dengan kebutuhan publik, capaian program yang tidak optimal, tata kelola anggaran yang mengecewakan, hubungan antar lembaga yang tak serasi, minimnya intervensi dalam sektor ekonomi, reformasi TNI yang tak tuntas, dan kinerja Polri yang tak presisi.

Laporan lain diterbitkan oleh LSI Denny JA yang diketahui merupakan bagian dari kemenangan Prabowo – Gibran. Lembaga yang dikenal sebagai penyedia jasa survei dan marketing politik ini gencar mengkampanyekan Prabowo – Gibran akan menang dalam satu putaran.

LSI Denny JA merilis program-program yang mendapat sentimen positif dan negatif.

Pada deretan yang positif disebut makan bergizi gratis, rehabilitasi dan renovasi sekolah, serta swasembada pangan menjadi 3 top program yang paling mendapat penilaian positif. Sedangkan wacana pemilihan kepala daerah oleh DPRD menjadi wacana yang dinilai paling buruk.

Prabowo – Gibran dalam laporan LSI Denny JA dianggap bukan hanya berprestasi di tingkat nasional melainkan juga dalam isu internasional atau global lewat keanggotaan Indonesia dalam BRICS dan keaktifan dalam program transisi energi hijau.

Dengan capaian-capaian ini LSI Denny JA tak ragu memberikan angka 80 persen untuk approval rating atau tingkat kepuasan publik pada kinerja Prabowo – Gibran.

Kredit tinggi diberikan oleh LSI Denny JA pada wakil presiden Gibran Rakabuming Raka. Gibran mencatatkan percakapan daring yang tinggi dibandingkan para menteri-menteri utama Kabinet Merah Putih.

Tingginya frekwensi percakapan ini ditafsir karena relevansi kebijakan dan daya tarik personal. Gibran sebagai pemimpin generasi baru dianggap mampu mengintegrasikan tradisi dan inovasi dengan memanfaatkan teknologi digital untuk menjadi tokoh sentral dalam diskursus publik. Personal branding Gibran dianggap efektif.

Padahal faktanya tingginya traffic perbincangan di dalam jaringan sebenarnya bermata dua. Dalam diskusi daring pujian yang tinggi juga akan membuka kritisisme yang tinggi.

Pujian yang tinggi terhadap Gibran bisa dengan mudah dipatahkan oleh kritik yang pedas.

Rapor yang diberikan oleh kedua lembaga penelitian ternyata berbeda nuansa. Laporan Celios lebih beraroma negatif atau mengecewakan, sementara rapor dari LSI Denny JA cenderung positif atau memuaskan.

Kenapa bisa berbeda, tentu karena indikator, metodologi atau sistem penilaian yang berbeda.

Abaikan saja kedua laporan itu, nilai dengan kemampuan kita sendiri. Ukurannya sederhana saja, puas atau tidak puas.

Kalau saya sendiri merasa tidak puas. Tak perlu saya urai apa alasannya, karena puas atau tak puas tidak butuh banyak alasan.

Lagi pula kalau saya urai alasannya, dengan mudah alasan itu juga bisa dibantah atau dimentahkan. Pun sebaliknya kalau saya bilang puas.

BACA JUGA : Super Hero

Lupakan dulu Prabowo, karena di Amerika Serikat sana juga ada Mr Imposible. Ya Donald Trump tak banyak yang menyangka bakal jadi presiden. Pada pemilu pertamanya dia berhasil mengalahkan Hilary Clinton, politisi senior, istri presiden dan pernah menduduki jabatan sebagai menteri luar negeri Amerika Serikat.

Donald Trump yang nampaknya mustahil menang ternyata bisa menang, bukan karena lebih baik dari Hilary namun nampaknya pemilih Amerika Serikat memang masih mustahil untuk memenangkan calon presiden perempuan.

Dan ketika maju kembali setelah kalah dalam pemilu kedua yang diikuti, Donald Trump lagi-lagi membongkar kemustahilan. Dia berhasil menang kembali setelah sebelumnya kalah, dan lagi-lagi kemenangannya karena melawan calon presiden perempuan. Fakta ini semakin menegaskan bahwa warga Amerika Serikat masih enggan dipimpin oleh perempuan.

Kemustahilan lainnya, Donald Trump memenangkan pemilu di Amerika Serikat dengan janji-janji politik yang terbilang ‘menyeramkan’ baik untuk orang Amerika atau yang ingin menjadi Amerika, negara sahabat atau sekutunya dan juga negara-negara lainnya.

Trump tak perlu menunggu 100 hari, bahkan di hari pertamanya sebagai presiden 100 janjinya sudah mulai dijalankan.

Ada banyak programnya yang kontroversial, selain soal imigran atau pendatang, Trump juga mengusik sekutu dan rekan dekatnya yakni Mexico dan Kanada. Trump tak lagi mau bermanis-manis, produk dari kedua negara itu akan dipajaki saat masuk Amerika Serikat.

Soal transisi energi sepertinya Trump tak peduli. Mobil listrik tak lagi akan diistimewakan.

Yang mengkhawatirkan untuk dunia adalah niat Trump yang tak mau lagi mengobral uang untuk mendukung WHO dan UNFPA. Minus dukungan terhadap kedua lembaga PBB ini oleh Amerika Serikat bakal berdampak pada Indonesia. Indonesia merupakan salah satu penerima manfaat dari program-program kedua lembaga ini.

Meski teramat meyakinkan dengan 100 program unggulannya, ternyata ada juga hal receh didalamnya, hal yang tak penting-penting amat.

Salah satunya adalah niat Donald Trump untuk merubah nama gunung. Trump ingin merubah nama Gunung Denali, gunung tertinggi di Amerika Serikat menjadi Gunung McKinley.

Dalam tulisan Dahlan Iskan disebutkan Denali berasal dari bahasa lokal suku Alaska yang artinya tinggi.

Willian McKinley adalah presiden Amerika Serikat ke 25 yang meninggal seminggu setelah ditembak.

Meski ditentang oleh kelompok Partai Republik, namun Trump tak peduli. Dekrit untuk perubahan nama itu sudah ditandatangani olehnya dan harus diterapkan dalam jangka waktu 30 hari.

Walau mungkin dunia tak terlalu mengenalnya dibanding dengan George Washinton dan Abraham Lincoln, namun McKinley adalah salah satu presiden terbesar Amerika Serikat karena meninggalkan warisan mengakhiri kekuasaan mutlak parlemen.

Trump mungkin ingin seperti William McKinley yang meninggalkan warisan besar untuk Amerika Serikat. Mungkin keinginan ini yang agaknya mustahil.

note : sumber gambar – CNBC INDONESIA