KESAH.IDSecara esensi sebenarnya tak sulit untuk mengelola banjir. Air hujan mesti sebanyak mungkin diresapkan atau ditangkap dengan menyediakan ruang banjir. Ruang genangan ini bisa berupa rawa, polder, embung atau wadah air lainnya. Konsep untuk membuang air permukaan atau air hujan secepat mungkin ke laut lewat sistem drainase dalam jangka panjang justru memancing bencana. Salah mengelola air hujan karena terlalu berpikir untuk mengatasi banjir justru membuat mengundang berbagai bencana. Banjir belum tentu bisa diatasi, datang kekeringan di musim kemarau. Lalu longsor di musim penghujan dan kebakaran di musim kering.

Memasuki bulan Januari, Samarinda sehari-hari hujan dengan intensitas yang berbeda-beda. Terkadang saat panaspun hujan turun, hujan tokek kata orang tua dulu-dulu.

Minggu, 26 Januari lalu hujan turun sejak pagi, tidak terlalu deras namun awet sampai lewat tengah hari.

Esoknya di dalam WAG ada yang mengirimkan foto dan video, Kelurahan Budaya Pampang banjir. Tak lama berselang banyak berseliweran foto dan video di media sosial tentang banjir di Pampang. Nampak halaman lamin tergenang air cukup dalam.

Ada sebuah foto yang nampaknya diambil dengan drone yang menunjukkan luas genangan air di Pampang. Nampak hampir semua kawasan permukimannya terendam.

Saya mulai menduga sehari kemudian airnya akan sampai di Waduk Benanga atau Bendung Lempake. Dulu butuh waktu dua sampai tiga hari, tapi kini lebih cepat karena anak sungai dari Pampang ke waduk alirannya telah diperlancar dengan proyek normalisasi.

Dan benar, mulai hari Senin air Waduk Benanga meninggi, menyentuh bagian kuning.

Menjelang sore saya ke tepian Sungai Karang Mumus di sebelah Jembatan Kehewanan. Air sungai terlihat tinggi dengan warna kecoklatan. Artinya air yang dominan adalah air kiriman dari Waduk Benanga.

Melihat air berwarna coklat agak tua itu saya yakin banyak orang mulai berdoa “Semoga tidak hujan,”

Selasa pagi, langit nampak mendung. Namun sempat panas menjelang tengah hari. Pagi-pagi sekali di tanggal 28 Januari itu telah ada pemberitahuan yang dikirimkan di WAG tentang operasi air di Bendung Lempake.

Penanggungjawab Bendung Lempake memberitahukan pembukaan pintu bendungan untuk mengurangi tekanan air di Waduk Benanga.

Dengan dibukanya pintu itu, volume air yang masuk ke Sungai Karangmumus akan semakin besar. Beberapa daerah di bagian tengah dan hilir Sungai Karangmumus berpotensi untuk mengalami genangan.

Ketika saya memposting perihal pembukaan pintu Bendung Lempake banyak yang bertanya “Bukankah Bendung Lempake tak punya pintu air?”

Memang kalau tidak diperhatikan baik-baik, pintu air di Bendung Lempake tak terlalu kelihatan. Yang kelihatan dari jauh adalah Spill Way atau pelimpas air. Air akan otomatis mengalir jika ketinggiannya melewati beton pelimpas dan masuk ke Sungai Karang Mumus.

Dan Bendung Lempake mempunyai dua pelimpas air, namun yang satu tak kelihatan dari pinggir jalan. Pelimpas air pembantu itu mengalirkan airnya ke anak Sungai Muang Dalam, yang kemudian akan masuk ke Sungai Karang Mumus kira-kira dua puluhan meter setelah Spill Way utama.

Pintu air Bendung Lempake tidak besar. Berada disisi kanan arah pandang kita ke waduk. Kalau tidak salah ada dua pintu pengatur, satu akan membuang air ke Sungai Karang Mumus dan yang satu akan mengalirkan air ke saluran irigasi untuk pertanian.

Pintu air Bendung Lempake memang bukan berderet seperti banyak bendung lainnya. Tak heran jika kemudian banyak yang mengatakan tak ada pintu airnya.

BACA JUGA : Super Hero

Seingat saya ketika baru datang ke Samarinda pada awal tahun 2000-an, setiap kali Samarinda banjir atau calap, orang-orang akan mengatakan “Pintu Waduk Benanga dibuka,”.

Dan ketika saya datang ke Bendung Lempake yang lebih populer disebut Waduk Benanga tak terlihat jajaran pintu di bendungan. Terlihat air langsung melimpas tanpa ditahan atau diatur oleh pintu-pintu air.

Jadi tak benar kalau banjir di Samarinda selalu disebabkan oleh dibukanya pintu air di Bendung Lempake.

Pada waktu itu orang membincang banjir di Samarinda sebagai hal yang biasa. Bahkan Walikotanya saat itu pernah mengatakan kalau itu cuma air tergenang. Ya banjir di Samarinda memang bukan air bah, atau banjir bandang.

Kecuali ada beberapa peristiwa seperti ketika dinding penahan Waduk Benanga atau Bendung Lempake jebol. Atau di beberapa daerah yang mengalami banjir bandang karena ada lubang tampungan air bekas tambang jebol.

Dulu bahkan ada ketua RT yang memarahi warganya karena melapor dan mengeluh soal banjir.

Ketua RT menyebut warganya kurang bersyukur. Menurutnya ketua RT harusnya warga bersyukur karena hari banjir sangat sedikit bila dibandingkan dengan hari tidak banjir.

Saya tertawa mendengar cerita itu karena belum cukup punya referensi banjir di Kota Samarinda dari waktu ke waktu.

Kebetulan daerah tempat saya tinggal boleh diiklankan sebagai bebas banjir. Karena kalau sampai rumah saya kebanjiran, rasanya sebagian besar wilayah Kota Samarinda bakal jadi lautan.

Tapi setelah bertahun-tahun tinggal di Kota Samarinda, saya mulai tahu bahwa banjir dari tahun ke tahun makin parah. Sampai-sampai ada yang bergurau “Baru mendung Samarinda sudah banjir,”.

Samarinda memang akrab dengan banjir. Dan sejarahnya memang begitu, seperti diawetkan dalam istilah Banjir Kap, saat Samarinda booming penebangan kayu gelondongan.

Dilihat dari bentuk arsitektur vernakularnya, struktur rumah rumah panggung dan jalanan penghubung berupa jembatan kayu panjang memang ditujukan untuk mengantisipasi genangan air.

Kota Samarinda memang tumbuh di perlembahan.

Dan sebagai daerah yang banyak air, tanah di Samarinda mempunyai kekurangan. Tanahnya cepat jenuh ketika hujan, kurang menyerap air. Akibatnya banyak daratan Samarinda berupa rawa-rawa. Rawanya ada yang terhubung dengan sungai dan ada juga yang tidak.

Sayangnya ketika kota ini tumbuh, rawa-rawa yang berada di tanah yang datar kemudian diuruk. Rawa dijadikan daratan atau lahan kering untuk membangun permukiman dan fasilitas umum serta gedung-gedung lainnya.

Rawa yang adalah ruang parkir air atau ruang genangan menjadi hilang. Dan kemudian air hujan yang tidak terserap oleh tanah menjadi air permukaan dan kemudian mengenangi permukaan yang tidak semestinya digenangi oleh air.

Karena air mengenangi tempat yang tidak seharusnya digenangi maka banjir kemudian jadi masalah.

BACA JUGA : Prabowo Trump

Beberapa tahun terakhir ini Kota Samarinda bergiat dengan berbagai proyek yang bertujuan untuk mengatasi banjir atau lebih tepatnya mengendalikan banjir.

Kata teman saya mudah saja mengatasi banjir. Kalau jalanan banjir bikin semua jalan jadi fly over. “Nah, kita diatas banjir kan,” ujarnya sambil cengar-cengir.

Sungai-sungai dinormalisasi, terutama Sungai Karang Mumus yang sudah sejak tigapuluhan tahun lalu dicanangkan untuk normalisasi.

Normalisasi artinya mengeruk sedimen sungai, membuat sungai lebih dalam, lebih lebar, lebih lurus dan kemudian dinding sungainya diperkuat dengan lebar semen atau sheet pile. Sungai diturap dan ditanggul.

Got atau saluran air juga diperdalam, diperlebar dan diperbesar agar daya tampung airnya meningkat serta airnya lancar. Got bukan lagi tempat air tergenang melainkan air mengalir untuk mengirim secepat mungkin air permukaan ke sungai.

Dampaknya memang segera terasa. Perempatan Lembuswana dan Perempatan Sempaja yang biasanya banjir kemudian lancar jaya dilewati walau hujan lebat.

Tapi hal ini tak bertahan lama. Lagi-lagi kata seorang teman, biasanya setelah pengerukan wilayah di tepi Sungai Karangmumus yang biasa banjir bakal libur tergenang. Namun dua atau tiga tahun kemudian akan banjir lagi.

Pun begitu juga dengan perempatan Lembuswana, kabar hari ini Selasa, 28 Januari banyak yang mengirimkan gambar laju kendaraan antri mengular karena genangan.

Juga jalan KS Tubun dan Pasundan, yang beberapa waktu terakhir ini sejenak beristirahat dari genangan dan aliran yang deras di jalanannya saat hujan. Got yang telah diperdalam dan diperlebar ternyata belum mampu mengirim air secepat mungkin ke Sungai Mahakam.

Normalisasi dan revitalisasi got belum mampu menghilangkan defisit ruang air saat hujan deras dalam waktu yang cukup lama, terlebih lagi jika dikombinasi dengan pasang air Mahakam.

Tanpa mengecilkan peran dan manfaat pembangunan yang getol dilakukan oleh pemerintah, masih banyak Pekerjaan Rumah yang belum dilakukan atau mungkin belum terlalu dipertimbangkan. Pemerintah Kota mesti segera mendata rawa-rawa yang tersisa, lalu menetapkannya sebagai kawasan lindung air. Rawa harus dijaga kelestariaannya dan tidak boleh diuruk untuk dijadikan lahan kering.

Selain itu pemerintah juga mesti berusaha lebih keras untuk menambah ruang air dalam rupa polder, kolam penampung air, embung atau apapun agar air permukaan bisa ditampung dan diparkir sementara.

Hanya mengandalkan sungai dan got atau saluran air untuk mengendalikan limpahan air pada saat hujan jelas bakal sia-sia, genangan akan tetap terjadi dimana-mana.

Soal air seyogyanya kita mesti menyadari kalau air hujan adalah ibu dari segala air. Maka sebagian besar air hujan harus diresapkan atau ditangkap. Jika lebih banyak air hujan yang kita buang ke laut lewat parit, got dan sungai, niscaya kita akan kelebihan air di musim penghujan dan kekurangan air di musim kemarau.

Banjir dan kekeringan adalah saudara kembar karena kita tak abai menamam air. Dan saudara kembar ini masih punya saudara tiri yakni longsor di musim penghujan dan kebakaran di musim kemarau.

Perlakuan yang salah terhadap air hujan akan mengundang keempat bencana diatas.