KESAH.IDMenurut beberapa orang yang hadir dalam upacara bendera peringatan HUT Kemerdekaan RI di Ibu Kota Nusantara di deretan tenda-tenda ada tenda khusus diberi tulisan Pawang. Yang ada di dalamnya ternyata pawang yang dulu menghebohkan Sirkuit Mandalika. Dan hujan tetap turun namun pawang selalu bisa berkilah. Sebagai sebuah tontonan, aksi pawang hujan dibayar kelewat mahal.

Berapa biaya yang dibutuhkan untuk membuat Samarinda dan Balikpapan banjir agar persiapan pelaksanaan upacara HUT RI pertama di Ibu Kota Nusantara berhasil?.

Eh, maksud saya bukan banjir melainkan rekayasa cuaca. Sebab jika IKN terus tertimpa hujan niscaya akan kerepotan karena banyak kegiatan untuk mengejar target penyelesaian jadi terhambat.

Menurut sumber yang terpercaya di Badan Penanggulangan Bencana Daerah, rekayasa cuaca di IKN dan daerah sekitarnya sudah lazim dilakukan. Jika menjelang pelaksanaan upacara HUT Kemerdekaan dimaksudkan untuk mengusir hujan, pada kesempatan lain sebelumnya dimaksudkan untuk menurunkan hujan.

Pasalnya, jika hujan tak turun-turun wilayah IKN berdebu, kurang air dan kurang lembab. Pekerjapun kerepotan.

Saya tak tahu persis berapa biaya yang diperlukan untuk melakukan rekayasa cuaca seperti itu, yang jelas pasti mahal karena butuh pesawat terbang.

Warga Samarinda yang gemar begadang atau sulit tidur di awal-awal bulan Agustus ini jika telinganya normal pasti mendengar bunyi pesawat muter-muter di angkasa pada dini hari.

Pesawat itu terbang bukan karena pilotnya susah tidur lalu cari kegiatan. Pesawat itu terbang untuk menentukan titik-titik dimana zat, material atau senyawa untuk mengumpulkan awan dan menjatuhkannya akan ditebarkan.

Nampaknya hujan berhasil dipindahkan dan dijatuhkan di tempat yang dikehendaki, yakni wilayah Kota Samarinda dan Balikpapan. Namun sepertinya di Balikpapan berlebih sehingga menimbulkan banjir atau genangan, bukan hanya di jalanan tapi juga di kebun-kebun pertanian.

Sedangkan di Samarinda, kabarnya banjir terjadi di daerah yang memang biasa banjir. Jalanannya lumpuh karena genangan cukup dalam di jalanan yang oleh masyarakat dikenal sebagai kompleks pergudangan. Pergudangan baru, bukan yang lama.

Tapi hujan karena rekayasa cuaca ini karakternya menjadi agak aneh. Pagi sampai tengah hari sering kali mendung menggayut disertai rintik. Namun setelah itu tiba-tiba panas menyengat. Fluktuasi cuaca seperti itu membuat banyak orang menjadi tak nyaman di badan. Banyak yang kena batuk dan pilek.

Tak apalah, toh hanya batuk pilek kecil bukan seperti saat terkena Covid 19 yang bisa bikin seseorang mangkat meninggalkan dunia yang fana ini.

Anggap saja itu pengorbanan kecil demi keberhasilan perayaan dan upacara HUT RI di Ibu Kota Nusantara kebanggaan kita bersama karena tidak berbau kolonial.

Seperti yang dikatakan oleh Kepala KSP, bahwa tak ada yang mahal atau mewah untuk mensukseskan acara perayaan kemerdekaan perdana di Ibu Kota Baru. Maka sedikit derita warga Kota Samarinda dan Kota Balikpapan karena rekayasa cuaca tak perlu diungkit-ungkit atau dibesar-besarkan.

Jangan sampai suara keberatan itu nantinya malah disalahartikan sebagai keinginan menggagalkan perpindahan IKN. Ini malah bisa bikin konflik karena ternyata tak sedikit yang pasang badan dan siap menghantam saudara sendiri yang ‘dituduh’ menghambat-hambat keberhasilan pemindahan IKN.

Padahal kan Ibu Kota Negara belum pindah walau sudah ditetapkan lokasi barunya. Dan rasanya tak ada yang menghambat-hambat pembangunan di Ibu Kota Nusantara. Kalau belum jadi-jadi memang rencananya begitu, pembangunannya bertahap sesuai dengan kemampuan keuangan dan partisipasi investor.

BACA JUGA : Mas Anies

Ternyata rekayasa cuaca bukan hanya dilakukan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika saja. Di Ibu Kota Nusantara juga diundang seorang Pawang Hujan dari Banyuwangi.

Pawang Hujan dalam kebudayaan dan tradisi iklim di Indonesia memang penting, dia dipercaya bisa mencegah turunnya hujan dengan cara memindahkan ke tempat lain.

Selain memakai jasa Pawang Hujan, banyak kelompok masyarakat di Indonesia yang punya resep untuk mencegah hujan tatkala membuat hajatan.

Semenjak kecil saya akrab dengan cerita tentang Pawang Hujan. Saya juga sering melihat Sapu Lidi dipasang terbalik lalu ujungnya diberi lombok, bawang merah dan lain-lain untuk mencegah hujan di acara hajatan.

Ada juga yang mencegah hujan dengan melempar dalaman perempuan ke atas genteng atau talang.

Tapi saya belum pernah melihat Pawang Hujan membuat ritual atau aktivitas untuk mencegah hujan. Katanya orang-orang, Pawang Hujan akan bekerja diam-diam, tidak kelihatan.

Aksi Pawang Hujan terang-terangan saya lihat lewat siaran televisi. Ritual memindahkan air hujan itu dilakukan pada saat balapan Moto GP di Sirkuit Mandalika.

Yang dilakukan oleh Pawang Hujan itu menjadi tontonan yang mendunia. Balapan Moto GP di Mandalika menjadi lain daripada yang lain karena kehadiran Pawang Hujan.

Di sirkuit lainnya, jika hujan turun dan teramat deras biasanya balapan ditunda. Penyelenggara hanya menunggu hujan reda. Setelah reda jika banyak genangan di lintasan, petugas akan melakukan pengeringan baik secara manual maupun dengan mesin.

Rasanya aksi Pawang Hujan di Mandalika terbilang tak berhasil. Tapi ya sudahlah, toh kehadirannya yang menarik perhatian bisa menjadi alat marketing dan branding untuk Sirkuit Mandalika yang baru pertama kalinya dipakai untuk balapan seri dunia.

Mandalika kemudian terkenal dan dikenang oleh mereka yang membalap di lintasannya.

Tapi memanggil Pawang Hujan untuk mencegah agar hujan tak turun terus menerus di wilayah Ibu Kota Nusantara apa urgensinya?.

Kebenaran bahwa Pawang Hujan bisa memindahkan hujan atau merekayasa cuaca bukanlah kebenaran obyektif, melainkan kebenaran intersubyektif.

Masyarakat atau warga boleh saja percaya pada yang gaib, mistik atau tahayul tapi negara atau pemerintah tidak.

Negara dan pemerintah harus bertindak rasional.

Pembangunan seharusnya tidak menyertakan hal-hal yang tidak rasional. Sebab bisa menandakan adanya cacat dalam perencanaan. Segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan tentu saja bisa dihitung dan diperkirakan resikonya. Resiko yang kemudian harus dimitigasi secara rasional pula, bukan bersandar pada hitung-hitungan metafisik atau paranormal.

Alam punya hukumnya sendiri, hukumnya sudah jelas. Cara untuk menyelaraskan atau mengharmonisasinya juga sudah jelas karena ilmu pengetahuan bekerja untuk memahami cara kerja alam dan kemudian menemukan teknologi yang tepat untuk meng-hack atau meng-crack hukum alam.

BACA JUGA : Kota Kocak

Plt Wakil Kepala Badan Otorita sendiri telah membantah kalau kehadiran Pawang Hujan dari Banyuwangi ke IKN dengan membawa seribu dupa dan 3 keris dibiayai oleh APBN.

Raja Juli Antoni mengatakan negara hanya membiayai rekayasa hujan yang dilakukan oleh BMKG walau jumlaj persisnya dia tak hafal. Sedangkan untuk pawang, Raja Juli Antoni mengatakan sebagai sebuah bantuan.

Yang membiayai Pawang Hujan adalah pihak yang ingin membantu agar pelaksanaan HUT Kemerdekaan RI di Ibu Kota Nusantara terlaksana dengan baik. Bantuan itu tidak ditolak oleh Otorita Ibu Kota Nusantara.

Dengan niat untuk membantu maka Pawang Hujan yang didatangkan dari Banyuwangi itu bisa beraktifitas di IKN selama berhari-hari. Konon kabarnya juga ada yang membantu membiayai pawang hujan yang dulu populer di Mandalika untuk membantu mengusir hujan pula. Menjatuhkan hujan di tempat lain, mungkin hingga Kalimantan Barat.

Tentang Pawang Hujan, masyarakat kita memang masih menyimpan DNA sisa-sisa jaman dinamisme dan animisme. Kita masih percaya bahwa bisa berkomunikasi dengan alam atau gejala-gejala alam.

Dupa, keris dan lainnya dianggap bisa mengantarkan pesan yang kemudian ditangkap oleh alam dan dituruti olehnya.

Sekali lagi tidak ada yang salah dengan keyakinan seperti ini. Kepercayaan atau keyakinan jelas tak bisa dibatas-batasi terlebih lagi jika sudah menjadi bagian dari tradisi hingga disebut sebagai kearifan tradisional.

Negara dan pemerintah selayaknya menghormati hal itu. Namun mestinya tidak ikut-ikutan memakai hal yang demikian karena kebijakan atau tindakan negara dan pemerintah mesti bisa dipertanggungjawabkan secara rasional serta sesuai dengan ilmu pengetahuan. Negara dan pemerintah tak boleh mempercayai tahyul. Tahyul apapun juga.

note : sumber gambar – METROMILENIAL