Bumi sejak semula selalu bersifat dinamis, terus berproses untuk mencapai keseimbangan baru secara evolutif.

Manusia kemudian menjadi binatang yang paling berkembang. Diawali dengan kemampuan menjinakkan dan mendayagunakan api, superioritas manusia semakin paripurna dengan kemampuan mengelola pengetahuan dan mengembangkan teknologi.

Memasuki masa yang disebut modern, revolusi pengetahuan dan teknologi yang merupakan pencapaian manusia berbalik menjadi ancaman untuk bumi. 

Modernitas dengan segala kemajuannya ternyata membawa dampak besar bagi lingkungan seperti hancurnya ekosistem, kepunahan berbagai flora dan fauna, perubahan iklim, segala sesuatu yang bercorak bencana ekologis karena pengaruh aktifitas manusia.

Cara berpikir jangka pendek. Berpikir apa yang penting dan tidak penting membuat manusia mengekploitasi apa yang penting dan memusnahkan apa yang tidak penting untuknya.

Bumi dan isinya seolah hanya ada serta tercipta untuk manusia. Manusia yang adalah bagian dari bumi dan ekosistem kemudian merasa sebagai pemilik dan penentu segala sesuatu di muka bumi.

Pengetahuan ekologis menjadi pengetahuan yang paling tidak populer dan tidak menjadi batu penjuru dasar sikap.dan perilaku terhadap bumi, alam dan lingkungan.

Teknologi budidaya dan rekayasa membuat hubungan manusia dengan alam menjadi renggang. Manusia merasa tak tergantung pada alam. Perasaan yang secara etik kemudian menurunkan rasa hormat dan kepedulian kepada lingkungan alamiah.

Ciptaan Yang Menjadi Pencipta

Realitas alam adalah keberagaman sekaligus keterbatasan. Yang disebut kapasitas bumi untuk menahan tekanan juga punya batas. 

Dan secara ekologis apa yang ada di bumi berada dalam satu kesatuan dengan fungsi masing-masing untuk menjaga keseimbangan.

Kondisi di berbagai permukaan bumi memang berbeda-beda dari satu wilayah dengan wilayah lainnya. Namun itulah realita dan keadilan ekologis secara alamiah. Namun semua bergerak dalam sistem yang sama, berbagai pola.yanh disebut siklus ekologi. Siklus yang menjadikan segala sesuatu di muka bumi mempunyai guna untuk menjaga keseimbangan alam, menjadikan bumi sebagai ekosistem dan rumah untuk semua.

Manusia yang tercipta dalam interaksi antar organ pada ekosistem bumi, kini berubah menjadi pencipta. Sebagai pencipta tentu saja merasa bisa mengendalikan bumi dan seluruh dinamikanya. Manusia bukan lagi beradaptasi pada kondisi atau lingkungan melainkan merekayasa bumi, lingkungan tinggalnya agar sesuai dengan keperluan dan kepentingan dirinya.

Apa yang disebut sebagai dampak perilaku terhadap lingkungan memang tidak serta merta kelihatan. Sehingga kesadaran dan kepedulian ekologis sulit untuk tumbuh. Suara-suara keprihatinan terhadap degradasi lingkungan menjadi teriakan kecil, tertutup oleh kemampuan temuan teknologi misalnya penjernih air, pendingin dan pemanas ruangan dan lain sebagainya.

Signal peringatan atau alarm telah berkali-kali dibunyikan oleh alam. Bencana adalah salah satunya. 

Bencana sebenarnya selalu membawa pesan ada yang salah dalam perilaku kolektif manusia. Ada sesuatu yang harus direm, dikurangi atau bahkan dihindari. 

Salah satunya adalah pertumbuhan non alamiah. Yang kini justru menjadi panji tertinggi manusia yang diwakili oleh sistem ekonominya. Lewat sistem ini manusia menumpuk prestasi yang keberhasilannya dinilai dari penguasaan materi yang jauh lebih besar dari kebutuhannya.

Manusia mengiring dirinya dalam siklus produksi dan konsumsi dengan bersandar pada indikator-indikator ekonomi. Indikator yang menjadi dasar legitimasi doninasi atas bumi dan seisinya.

Paradigma Ekologi Baru

Pengetahuan dan kesadaran pada lingkungan sebenarnya merupakan pengetahuan pertama dan asali.

Manusia sejatinya dibekali dengan kecintaan pada kehidupan. Sebuah kecerdasan yang disebut sebagai biofilia.

Manusia sejatinya adalah anak kehidupan. Dan yang disebut kehidupan selalu merupakan kerjasama antar organ. Tidak ada yang tak penting dan tak punya fungsi dalam rantai kehidupan. 

Hanya kemudian manusia bertumbuh menjadi pecinta kematian, suka mematikan segala sesuatu untuk menghasilkan materi bagi dirinya. Materi yang sejatinya juga tidak terdistribusi secara adil untuk sesamanya.

Atas semua permasalahan yang dialami oleh bumi, sudah saatnya secara kolektif ditumbuhkan paradigma ekologi baru. Gerak nadi pertumbuhan ekonomi yang tidak ekploitatif, ekonomi ekologis sekaligus ekonomi berkeadilan, bukan hanya untuk sesama manusia melainkan juga mahkluk dan bagian bumi lainnya.

Yang disebut sebagai altruis bukan hanya antar manusia, melainkan manusia dengan unsur dan isi bumi lainnya.

Relasi bukan sekedar interaksi sosial, melainkan juga relasi dengan alam dan lingkungan. Relasi pro lingkungan ditujukan bukan hanya untuk mewariskan bumi yang aman dan nyaman untuk generasi berikutnya melainkan juga rumah untuk mahkluk hidup lainnya.

Dengan menjadikan bumi sebagai rumah bersama, mengakui hak-hak hidup mahkluk lain maka manusia sebagai mahkluk yang paling cerdas akan menunjukkan keutamaannya sebagai penjaga kehidupan bukan pencipta kehancuran dan pembangun jalan menuju kiamat.

 Sumber gambar : serikat news.com