KESAH.ID – Ada banyak pendapat tentang cara dan pola makan yang baik, sehat serta ideal. Namun pada dasarnya sulit untuk memastikan mana yang paling baik, paling sehat dan paling ideal karena makan serta makanan bukan hanya menyangkut soal kebutuhan biologis belaka. Dalam perjalanan panjang sejarah manusia, makanan telah diberi atribusi berbagai nilai mulai sosial, budaya, religi hingga politik.

Membincang soal makanan itu mengasyikkan, tapi pada akhirnya kerap tiba pada perdebatan bahkan pertentangan soal bagaimana cara makan yang terbaik. Makanan sebagaimana pakaian telah memasuki wilayah yang bukan sekedar fungsi melainkan telah diberi nilai dan bahkan diperlakukan sebagai identitas.

Saya punya seorang teman yang sama sekali tidak menyebut dirinya vegan karena memang takt ahu apa-apa tentangnya. Namun dalam keseharian dia mempraktekkan apa yang dilakukan oleh kaum vegan.

Dengan sedikit pengetahuan tentang anatomi tubuh, teman saya ini beranggapan giginya yang cling dan membuat wajahnya manis saat tersenyum itu strukturnya lebih mirip gigi kambing ketimbang gigi harimau.

Dengan keyakinan itu dia kemudian lebih memilih cara makan yang mirip kambing ketimbang harimau. Keseharian dia memilih untuk memakan tumbuh-tumbuhan dan menghindari memakan daging-dagingan.

Dengan cara makan seperti itu dia merasa lebih sehat dibanding kakaknya yang doyan daging. Dia semakin yakin makan hijauan-hijauan itu membuat hidupnya lebih amanah ketika membandingkan diri dengan kakaknya yang lebih suka marah-marah.

“Daging membuat orang emosian, kayak macan,” begitu katanya kepada saya suatu saat.

Saya jadi teringat kepala sekolah yang galak. Sewaktu cerita tentang betapa galaknya pak kepala sekolah pada bapak saya, dia hanya tertawa.

Ternyata kepala sekolah saya itu teman bapak. Dan dia kemudian bercerita waktu muda dulu, kepala sekolah saya itu suka makan daging mentah.

“Makanya dia galak kayak macan,” ujar bapak saya.

Saya curiga bapak saya sesekali ikut juga makan daging mentah, karena dalam keseharian juga termasuk orang galak terutama pada anak-anaknya.

Keyakinan bahwa memakan tumbuh-tumbuhan lebih cocok untuk manusia perlahan tertanam dihati saya. Ada untungnya juga karena kemudian saya jadi suka sayur-sayuran.

Terlahir di tahun 70-an, dijaman kebanyakan orang sama-sama susah, saya waktu kecil memang terbilang jarang makan daging-dagingan.

Nanti saya mulai sering makan telur ketika di bapak mulai pelihara ayam petelur, kalau tak salah 10 ekor. Daging ayam juga sesekali saat hari-hari besar, atau ketika pulang libur diberi ayam oleh nenek untuk dikembangbiakkan namun tak lama kemudian berakhir di belanga.

Daging sapi juga terbilang jarang, yang lebih sering makan abon karena lebih awet.

Dulu ada istilah nempil, saat ada tetangga yang memelihara sapi atau kambing dan tiba-tiba salah makan lalu mesti dipotong. Sebelum dipotong dia akan keliling menawarkan dagingnya, begitu dirasa cukup maka binatang peliharaannya akan dipotong.

Waktu itu keluarga-keluarga yang dikenal sering menyajikan daging di meja makan akan dianggap sebagai wong sugih. Orang kaya atau berkecukupan.

Generasi yang sekelas dengan saya ini ketika tinggal di asrama dan saat makan ada sajian istimewa berupa daging akan memperlakukan sebagai gong. Daging akan dimakan sedikit demi sedikit atau bahkan disisakan lebih dahulu untuk kemudian dinikmati sebagai gong penutup.

BACA JUGA : Murid Rossi Membawa Ducati Ke Tahta Juara

Ada orang yang juga beranggapan bahwa makan sayur-sayuran atau bahan makanan yang berasal dari tumbuhan memang lebih baik karena nenek moyang manusia pada dasarnya pemakan tumbuh-tumbuhan.

Anggapan itu bisa dibenarkan, namun faktanya nenek moyang kita yang lebih banyak makan tumbuh-tumbuhan itu hanya pada periode tertentu. Secara umum sebelum nenek moyang kita menemukan peralatan berburu, posisinya dalam piramida makanan berada di tengah-tengah.

Selain makan tumbuh-tumbuhan, nenek moyang kita waktu itu juga memakan daging binatang namun yang bisa ditangkap dengan tangan. Seperti ikan, burung, ular, serangga dan lainnya. Mereka belum mampu menangkap satwa besar seperti kijang, anoa, babi hutan, kancil dan lain-lain yang larinya cepat.

Pada masa itu bahkan nenek moyang kita lebih sering tinggal di pesisir karena bisa mudah menangkap kerang. Makanya banyak temuan arkeologis yang mendapati tumpukan kerang seperti sampah dapur diatas perbukitan-perbukitan.

Nenek moyang kita kemudian mulai doyan memakan daging dari hewan-hewan besar ketika mulai menemukan alat berburu seperti tombak dan panah. Juga ketika mulai pintar membuat jebakan sehingga bisa menangkap binatang tanpa harus mengejar-ngejar dan membidiknya.

Dan ketika memasuki masa menetap, saat mulai melakukan budidaya, selain bertanam nenek moyang kita juga mulai beternak. Binatang didomestifikasi, untuk kepentingan peliharaan, keamanan, bantuan untuk bekerja dan sekaligus konsumsi. Yang paling umum dikonsumsi hari-hari adalah jenis unggas. Untuk diambil telur dan dagingnya.

Mempunyai peralatan berburu dan bisa melakukan domestifikasi hewan liar menjadi hewan ternak atau peliharaan,nenek moyang kita kemudian menempati urutan tertinggi dalam piramida makanan. Mereka membawa kita sebagai pemakan segala atau omnivora.

Kita manusia sekarang ini adalah pemakan tumbuhan, binatang, jamur bahkan juga bakteri.

Manusia dalam kerajaan mahkluk hidup berada dalam kelompok binatang. Salah satu yang khas dalam kerajaan binatang adalah hukum mematikan kehidupan lain untuk mempertahankan kehidupan. Ya binatang hidup dengan cara mematikan kehidupan lainnya.

Kegemaran manusia memakan daging binatang terutama binatang besar sebenarnya berjalan secara evolutif. Berada di bagian tengah piramida makanan, manusia waktu itu tidak punya kemampuan untuk membunuh binatang besar.

Maka bagian pertama yang dikenal dan dikonsumsi oleh manusia adalah sumsum tulang. Sumsum itu berasal dari binatang yang dibunuh oleh predator, ditinggalkan setelah kenyang dan kemudian masih dimakan sisanya oleh binatang oportunis.

Baru setelah serigala dan sejenisnya membiarkan, manusia mendekat untuk mengambil sisanya.

Karena yang tersisa tulang, maka tulang dipecah untuk kemudian diambil sumsumnya yang lunak.

Upaya memecahkan tulang ini kemungkinan besar membawa kelompok manusia menemukan teknologi alat bantu berbasis batu. Darinya manusia belajar mana batu yang keras dan mana batu yang tajam. Batu kemudian jadi palu, kapak, mata tombak dan lain-lainnya yang membuat manusia kemudian punya kemampuan membunuh binatang besar dengan berburu.

Jadi kegemaran untuk mengkonsumsi sumsum dan mungkin juga jeroan yang masih bertahan saat ini merupakan kebiasaan yang diturunkan saat nenek moyang manusia belum punya kemampuan sendiri untuk membunuh binatang besar. Kelompok manusia saat itu berlaku sebagai pemulung, mengambil apa yang dibunuh oleh predator dan disisakan oleh binatang oportunis.

Manusia kemudian menyukai makanan yang berasal dari hewan, daging-dagingan karena cenderung lebih enak dan lezat dibandingkan dengan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Ketika dimasak bukan hanya rasa yang nikmat, aromanya juga tak kalah menggoda, membangkitkan nafsu makan.

Kelak kegemaran makan daging menjadi bermasalah. Kesukaan pada daging yang berlebihan dianggap sebagai biang kegemukan. Dan kegemukan meningkatkan resiko serangan penyakit mulai dari sakit jatung, diabetes hingga kanker.

BACA JUGA : Polisi Di Balik Tambang Liar dan Hal Hal Lain Yang Illegal

Soal makan peradaban manusia secara global kemudian merumuskan bahwa manusia hidup bukan untuk makan melainkan makan untuk hidup.

Nilai ini membuat mereka yang seolah mengabdikan hidupnya hanya untuk perut akan dibilang sebagai manusia serakah.

Evolusi sosial kemasyarakatan kemudian membawa manusia melampaui kebiasaan alamiah binatang dalam soal makan. Makan dan makanan bukan hanya pemenuhan faktor biologis untuk bertahan hidup. Fungsi, nilai dan peran makanan dalam kehidupan manusia kemudian meluas, spektrumnya bahkan sampai kepada politik.

Makanan sebagai pembangkit tenaga atau energi kehidupan kemudian diberi nilai seiring dengan perkembangan sosial masyarakat. Seperti individu dalam lingkungan sosial, makananpun juga mempunyai kelas, diberi nilai.

Nasi misalnya, pada suatu masa  pemakannya dianggap lebih mulia, lebih manusiawi ketimbang ubi, jagung atau sagu. Masyarakat yang mengkonsumsi tiwul yang berasal dari tepung gaplek dianggap miskin, ketinggalan dan kurang gizi.

Makanan pun kemudian dibedakan dari siapa yang mengolahnya. Pembuat nasi goreng di pinggir jalan yang berjualan dengan gerobak atau tenda sekalipun enak dan laku akan tetap akan disebut sebagai tukang nasi goreng. Sebutan yang kalah jauh dengan mereka yang memasak di restoran dan hotel berbintang. Yang memasak akan disebut sebagai chef atau koki.

Perbedaan sebutan bagi yang mengolahnya akan menentukan perbedaan harga.

Di luar itu makanan sebagaimana manusia juga diberi identitas. Masing-masing kelompok masyarakat berupaya menamai dan mengklaim makanan tertentu sebagai makanan khas daerahnya. Makanan kemudian menjadi simbol kebanggaan komunal, meski berasal dari bahan yang sama makanan yang disebut sebagai makanan khas akan dianggap sebagai yang terbaik dari pada yang dihasilkan oleh masyarakat lainnya.

Dunia sekarang bisa digambarkan sebagai dunia yang kelebihan makanan. Makanan ada dimana-mana, kita bisa makan apa saja, kapan saja dan dimana saja. Tak heran jika kemudian sampah atau limbah bekas makanan menjadi salah satu pencemar terbesar di dunia.

Seperti halnya seks, masyarakat sekarang melakukannya lebih banyak bukan untuk meneruskan kehidupan, melainkan untuk bersenang-senang. Istilah kulineran atau wisata kuliner menjadi bukti bahwa makan lebih ditujukan untuk bersenang-senang, menikmati hidup dengan memuaskan hasrat mata dan lidah.

Dan kemakmuran ternyata membawa masalah. Bukan hanya bagi lingkungan hidup tetapi juga pada kualitas kesehatan manusia.

Pola, cara dan kebiasaan makan sekarang ini sebagian besar bermasalah. Yang pintar atau merasa pintar kemudian memberikan panduan, metode bahkan ideologi cara makan yang sehat. Termasuk berlomba-lomba menjadi penyedia jasa makanan sehat. Mulai dari makanan pokok hingga makanan suplemen.

Metode diet menjadi salah satu yang paling populer, hingga kemudian banyak orang bingung memilih yang mana. Dan ketika sudah memilih ternyata tak mudah untuk melakukannya.

Sebenarnya sulit untuk menyimpulkan cara atau metode makan mana yang paling baik. Sebab dampak asupan makanan pada tubuh bisa jadi berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.

Dan yang lebih aneh lagi disaat banyak orang membangkitkan kesadaran akan pentingnya pola dan cara makan bagi kualitas hidup, ternyata banyak orang dengan sengaja menikmati makanan dengan cara menyiksa diri. Populernya makanan yang jumbo-jumbo, trend mukbang dan makan dengan level kepedasan yang gila membuktikan bahwa banyak orang sengaja makan untuk menderita. Menderita tapi senang.

Sekali lagi ini menjadi bukti bahwa kita sudah kelebihan makanan, sehingga yang dicari dari makan bukan lagi kenyang, enak atau lezat melainkan sensasi.

Jangan tanya pada saya soal makanan dan cara makan yang terbaik. Namun jika harus mengatakan sesuatu tentang cara makan, saya akan membagikan nasehat dari seorang teman.

DIa mengatakan jika kamu sudah tak dipusingkan dengan pertanyaan hari ini makan apa, dan mulai bisa menentukan makan dimana dan makan dengan siapa, jangan sekali-kali berpikir atau berencana soal siapa yang hendak dimakan.

note : sumber gambar-LEGACYNEWS.ID