KESAH.ID – Gelaran Moto GP dalam tiga tahun terakhir ini menghasilkan 3 juara dunia dari pabrikan yang berbeda. Suasananya berbeda dibanding era dominasi Valentino Rossi dan Marc Marquez. Akankah musim depan Ducati yang memenangkan gelar tahun ini akan mampu melanjutkan dominasinya dan kembali merebut kampiun juara dunia entah lewat Pecco Bagnaia atau pembalap lainnya?.
Pabrikan motor italia Ducati terbilang langka menduduki tahta juara dalam keikutsertaannya di ajang balap Moto GP. Padahal dalam ajang balap WSBK, motor besutan pabrikan asal Borgo Panigale, Bologna ini telah merajalela. Sepanjang penyelenggaraan World Super Bike, Ducati telah mengantongi 14 kali gelar juara, terbanyak dibanding dengan tim lainnya.
Prestasi terbaik tim balap Ducati di Moto GP hanya diperoleh ketika Casey Stoner berhasil meraih gelar juara dunia pada tahun 2007, Empat tahun setelah keikutsertaan Ducati di Moto GP pada tahun 2003. Dan setelah itu Ducati puasa gelar walau pernah diperkuat oleh salah satu pembalap terbaik dunia yakni Valention Rossi.
Padahal Ducati dikenal mempunyai motor yang kompetitif, namun ternyata pembalap terbaik sekalipun sulit untuk mengendalikannya. Rossi gagal menahklukkan ganasnya motor Ducati.
Sulit bersaing semenjak kepergian Stoner, akhirnya Ducati merekrut Gigi Dall’Igna untuk memimpin tim Ducati pada tahun 2013. Insinyur asal Italia ini sebelumnya merupakan mekanik andalan dari tim Aprilia di ajang WSBK.
Meski mengalami masa sulit pada awal kedatangannya karena sebelumnya dianggap sebagai musuh, Gigi Dall’lgna akhirnya bisa membuat tim balap Ducati solid.
Insinyur yang dijuluki sebagai ‘Si Rubah Jenius’ ini berhasil melakukan pembaharuan pada Desmosedici dengan memperkenalkan winglet, perangkat holeshot, covered wheele, spoiler roda belakang, rear ride hight adjuster dan lain-lain.
Sayangnya pembaharuan yang dilakukan olehnya belum membuahkan keberhasilan merengkuh gelar juara dunia karena disaat yang sama Moto GP kedatangan bintang baru bernama Marc Marquez yang mengendarai Honda.
Ducati mempunyai motor yang hebat namun belum punya pembalap yang tepat, ataupun kalau punya pembalapnya ternyata kalah hebat dibandingkan dengan Marc Marquez.
Dijuluki sebagai The Babby Alien, Marc Marquez langsung menguasai kelas Moto GP setelah kepindahannya dari Moto 2. Marquez berhasil meraih gelar juara berturut-turut dengan jeda sekali pada tahun 2015 karena direbut oleh Jorge Lorenzo dari Yamaha.
Dan setelah itu Marquez baru puasa gelar setelah tahun 2020 karena cidera berat yang membuatnya terpaksa beristirahat panjang sehingga sering tidak mengikuti balapan.
Namun saat Ducati diperkuat oleh Dovisioso, pembalap Itali ini mampu menjadi rival berat Marc Marquez dengan membuntuti sebagai runner up tiga musim berturut-turut ditahun 2017, 2018 dan 2019.
Ducati sudah diambang juara, penghambatnya hanya Marc Marquez yang motornya kerap kali kalah cepat di trek lurus oleh Ducati.
Ketika Marc Marquez istirahat dari balapan, Ducati punya momen besar, namun juara dunia justru diraih oleh Johan Mir, pembalap dari tim Suzuki yang sebenarnya tidak diunggulkan. Mir berhasil meraih juara karena tampil konsisten dibanding Dovisioso, Maverick Vinales, Morbidelli dan Quartararo yang naik turun performanya.
Tahun 2021 tim Ducati melakukan perombakan tim, menjadikan pembalap muda asal Italia sebagai pembalap utama. Ducati melakukan strategi jangka panjang dengan mengutamakan pembalap muda asal Italia.
Dan tahun 2021 gelar juara Moto GP direbut oleh Fabio Quartararo yang mengendarai Yamaha.
Pada gelaran Moto GP tahun 2022, Ducati turun dengan 8 pembalap, diperkuat oleh pembalap-pembalap muda dari Italia, beberapa diantaranya ada hasil didikan dari VR46 Academy, sekolah balap yang didirikan oleh Valentino Rossi.
Marc Marquez yang sejak awal akan ikut bersaing ternyata kembali harus beristirahat dan melewatkan beberapa balapan. Persaingan cukup merata, balapan Moto GP tahun 2022 ini melahirkan banyak pemenang, yang melewati finish pertama berganti-ganti.
Pada paruh pertama terlihat Fabio Quartararo yang akan meraih gelar juara, sempat ketinggalan selisih 91 poin Francessco Bagnaia berhasil mendekat bahkan berbalik meninggalkan selisih 23 saat kompetisi menyisakan satu balapan.
Dan balapan terakhir di Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, Spanyol pada Minggu 6 November 2022 akan menjadi pembuktian apakah yang dilakukan oleh Gigi Dall’Igna pada Desmosedici akan berakhir manis mengantar penunggangnya ke tahta juara dunia Moto GP 2022.
BACA JUGA : Polisi Di Balik Tambang Liar Dan Hal Hal Lain Yang Illegal
Start dari posisi ke delapan dibelakang penantangnya Fabio Quartararo yang start di posisi 4, Pecco yang akan membayar upaya Gigi Dall’Igna selama 15 tahun untuk membawa Ducati kembali menjadi kampiun, mengatakan race terakhir ini bukan saatnya untuk agresif.
Tugasnya adalah membalap dengan seaman dan senyaman mungkin serta finis tidak diatas 14. Sebuah tugas yang tidaklah sulit untuknya, hanya kesialan yang akan membuyarkannya.
Sedangkan Fabio, sebenarnya juga sadar betapa sulitnya merubah ‘takdir’ yang ditunggu oleh Pecco dan Ducati. Tapi sebagai pembalap profesional tetaplah harus membalap dengan kemampuan yang terbaik.
Start dari nomor empat, didepannya ada Jack Miller, Marc Marquez dan Jorge Martin.
Ketiga pembalap ini tentu tak mau posisi direbut oleh Quartararo karena Jack Miller ingin mengakhiri kebersamaan bersama Ducati dengan manis, Jorge Martin yang bisa disebut sebagai raja pole position juga ingin merasakan berdiri di podium utama dan Marc Marquez tentu ingin mengakhiri musim dengan mempersembahkan podium pertama buat Honda yang tengah mengalami paceklik kemenangan.
Prediksi menempatkan Martin, Millier dan Marquez yang akan berebut podium, namun buyar ketika bendera start dikibarkan. Alex Rins dari Suzuki ternyata berhasil membuat start yang bagus. Membuat Marguez sempat berduel dengan Quartararo.
Miller juga merosot dan kemudian terlibat perebutan posisi dengan Quartararo dan Bagnaia. Sempat pepet-pepetan dengan Miller, Quartararo kemudian bersentuhan dengan Bagnaia yang membuat winglet sebelah kanan Bagnaia lepas.
Rins, Martin, Miller dan Marguez di depan. Quartararo dibelakangnya dan dibayangi oleh Baganaia. Namun karena mengalami kesulitan aerodinamika, Bagnaia kemudian dilewati oleh Binder, Olivera, Marini dan Bastianini.
Quartaro sebenarnya mempunyai keuntungan, terbuka peluangnya untuk bertarung memperebutkan podium karena Marquez dan Miller ndlosor mencium gravel. Tapi Binder sedang mempunyai angin baik sehingga melewati Quartararo dan juga Martin.
Sampai akhir balapan akhirnya Quartararo melewati bendera finish pada posisi keempat dan Bagnaia pada posisi kesembilan. Bagnaiapun akhirnya menutup penantian panjang Ducati yang puasa gelar selama 15 tahun.Meski kemenangannya tak meyakinkan namun poinnya tetap tak terkejar oleh Quartararo.
Kemenangan Bagnaia yang menunggangi Desmosideci ini menunjukkan dalam 3 tahun terakhir ini tidak ada dominasi satu pabrikan dalam Moto GP paska Marc Marquez penunggang Honda dihantam oleh cidera.
Tahun 2020 Moto GP dimenangi oleh Suzuki, tahun 2021 oleh Yamaha dan 2022 oleh Ducati.
Yamaha yang mencoba terus berjaya gagal mempertahankan tampuk juara walau pada paruh pertama musim Quartararo tampil menyakinkan. Ducati perkasa namun persaingan diantara para penunggang motornya juga tinggi karena Ducati menurunkan 8 pembalap dalam ajang Moto GP 2022.
Luar biasa untuk tim Pecco Bagnaia, walau sempat tertinggal 91 poin dari Quartararo ternyata tetap mampu membangkitkan asa sehingga berhasil meraih juara dalam race penutup musim balap 2022 yang terasa membosankan.
BACA JUGA : Jagongan, Medang, Madhang dan Nyinyiran
Selebrasi kemenangan Bagnaia ditandai dengan pembukaan selubung angka 21, 42 dan 63. Itulah nomor yang dipakai oleh Bagnaia saat membalap di kelas Moto 3, Moto 2 dan Moto GP. Angka 63 yang merupakan penambahan dari 21 dan 42 menjadi berkah yang mengantar salah satu murid Valentino Rossi menjadi juara dunia.
Kemenangan Bagnaia bersama Ducati membawa banyak gelar bersamanya. Berbagai sejarah baru dicatat oleh Bagnaia. Pecco pertama-tama menjadi pembalap Ducati kedua yang meraih gelar juara dunia sejak Moto GP dimulai dari tahun 2002.
Sepanjang keikutsertaannya dalam Moto GP baru Casey Stoner dan Francesco Bagnaia yang meraih gelar juara dunia, pembalap lain prestasi paling tingginya hanya runner up.
Lagi-lagi Pecco juga menjadi pembalap kedua dari Italia yang berhasil menjadi juara dunia Moto GP selain Velentino Rossi. Namun Rossi menjadi juara dengan motor dari Jepang, sedangkan Pecco menjadi juara dengan motor dari Italia. Rossi kedodoran ketika mengendari Ducati.
Maka meski prestasinya belum semoncer Valentino Rossi, kemenangan Bagnaia terasa istimewa karena Ducati sebelumnya Ducati belum pernah memenangi gelar juara dunia Moto GP dengan penunggang dari Italia. Dovioso berkali-kali hanya nyaris memenangi.
Karena istimewa, Rossipun menyempatkan diri hadir dalam seri penutup dari balapan Moto GP di tahun 2022 ini. Dia turut menjadi saksi dari kemenangan anak didiknya di VR46 Riders Academy.
Akankah kemenangan ini menjadi penerus dari hegemoni Valentino Rossi di Moto GP lewat para murid-muridnya?.
Masih perlu ditunggu musim depan dan seterusnya.
Satu hal yang pasti adalah sulit bagi Francesco Bagnaia untuk mempertahankan gelarnya di musim depan. Bukan hanya karena persaingan dengan Quartararo, Marc Marquez yang punya tandem baru, Jorge Martin yang kecewa karena tak masuk tim utama Ducati, melainkan tandemnya sendiri yakni Enea Bastianini.
Ducati musim depan masih berpeluang untuk meraih kembali gelar juara dunia Moto GP dengan pembalap yang berbeda dari tahun ini.
note : sumber foto – RIDERTUA.COM








