KESAH.ID – Konstruksi sosial etnoreligius kerap membuat masyarakat di Indonesia terjebak dalam berbagai konflik. Hal-hal yang secara hukum tidak bermasalah kemudian menjadi persoalan karena dinilai berdasarkan perspektif moral dan nilai yang berbau kesukuan dan keagamaan.
Lahir di kota kecil bagian selatan Jawa Tengah, kota yang kerap disebut sebagai kota pensiunan hingga lambat berkembang membuat saya jadi kurang gaul.
Bertemu dengan orang itu-itu saja, yang diomongkan juga muter disitu-situ saja, kebanggaan yang kami punya hanyalah lokalitas sebagai orang Jawa. Pada masa itu tuduhan yang paling ditakuti oleh mereka yang lebih dewasa dari kami adalah PKI, sementara untuk saya dan teman-teman sebaya adalah dikatai “Tidak Njawani’ atau orang jawa yang tidak jawa lagi.
Siapapun yang pergi ke Jakarta dan pulang-pulang mulai sering memakai lue serta gue bakal segera di paido, atau dicela dan dibully.
Yang terjadi memang glorifikasi untuk segala sesuatu yang berbau Jawa. Saking merasa superior semua-semua selalu dilabeli dengan Jawa. Ada gula, asam, cuka, kambing dan lain-lain diberi label jawa.
Semua yang bukan Jawa akan di-poyoki, diolok-olok.
Kalau ada teman yang matanya sipit sedikit bakal dipanggil China. Yang suka makan roti akan dijuluki Londo Ireng {Belanda Hitam}, yang rambutnya kriting dipanggil Irian, kalau kasar akan dijuluki Batak, masih kecil tapi ‘anu’nya besar bakal berubah nama jadi Arab.
Suatu kali ada seorang teman yang bertanya pada saya “Apa kiatnya biar cepat diterima oleh orang Jawa,”
Saya segera menjawab dengan yakin “Jadilah orang Jawa,”
Ya menjadi Jawa tak perlu ganti nama jadi Rusdiono, Suparman, Suharto, Joko Widodo, Susilo atau Sukarno, tapi tunjukkan mau bersungguh-sungguh menggunakan bahasa Jawa lalu bertindak tanduk berdasarkan unggah ungguh cara Jawa.
Ibu-ibu yang kedatangan tamu anak muda dari suku lain dan kemudian mampu berbahasa Jawa biar tercampur dengan logat suku asalnya dan menunjukkan sopan santun ala Jawa niscaya bakal lebih senang menganggap tamu itunya sebagai anak ketimbang anaknya sendiri.
Maka dalam khasanah kejawaan ada banyak orang dari Batak, Papua, Ambon, Dayak, Kutai, Flores, Manado dan lainnya yang kemudian ‘dibaptis’ sebagai orang Jawa.
Saya punya seorang teman dari Papua Barat. Dia kemudian sering dipanggil dengan nama Gunadi, karena tingkah laku dan tindak-tanduknya ‘dianggap’ mirip-mirip orang Jawa, tidak kelihatan stereotype-nya sebagai orang Papua.
Dulu saya mengenal banyak pastor dari Belanda dan negeri lainnya. Walau belum pernah menjadi pastor di gereja paroki tempat saya tinggal, namun dalam kepala saya tersimpan nama Pastor Rusmeiyer.
Saya ingat karena Romo Rus fasih berbahasa Jawa mulai dari ngoko, ngoko alus sampai kromo inggil. Di Wonosobo, Romo Rustmeiyer juga sering mengadakan misa memakai bahasa Jawa, lagu liturgi diiringi gamelan dan perlengkapan pakaian misa serta altar yang berbau budaya Jawa.
Romo Thomas yang berasal dari Brasil juga mengagumkan. Sopan santunya keterlaluan. Ketika membawa mobil dan melewati perempatan yang waktu itu belum ada lampu merah, Romo Thomas akan berhenti, mempersilahkan pengendara lain melintas di persimpangan.
Romo Thomas akan membuka kaca jendela pintu mobil lalu mempersilahkan “Monggo,”
Saya juga mempunyai pengalaman nyata berurusan dengan ‘men-jawa-kan’ orang lain. Saat sekolah di kolese berasrama yang isinya murid laki-laki semua, ada beberapa orang yang berasal dari luar pula Jawa.
Mereka mesti mengikuti pelajaran bahasa Jawa dalam kelas tersendiri.
Dan pasti akan diberi tugas oleh guru untuk menghafal, salah satunya hitungan dalam bahasa Jawa.
Disitulah kesempatan saya dan teman-teman lain nggojlok mereka. Mengajari teman-teman dari luar pulau Jawa itu dengan kata dan kalimat yang tak benar, yang bisa membuat guru murka saat mereka mengucapkannya dalam kelas.
‘Ah, kalian tipu kami,” ujar mereka setelah jam pelajaran.
Dan kamipun tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut.
“Siji, loro, telu, papat, limo, jembut ireng ….,”
Dan belum sampai sepuluh, guru sudah menghentikan sambil marah dengan muka memerah.
Yang dimarahi tidak tahu, kenapa?
BACA JUGA : Dunia Terus Berputar Karena Segelintir Orang Tamak
Perjalanan pertama saya meninggalkan Jawa dan segala sesuatu yang njawani terjadi setahun setelah tamat SMA. Saya meninggalkan Purworejo dengan KA Sawunggalih dari Stasiun Kutoarjo menuju Stasiun Gambir Jakarta.
Menumpang Bis Kota dari Gambir saya menuju Grogol, itu saat pertama kali saya merasakan betapa sulitnya menyeberang jdi jalanan Ibu Kota, kendaraan seperti tak punya rem. Andai saja Romo Thomas di Jakarta, sopan santunnya dalam berkendara pasti akan menyebabkan kemacetan panjang.
Dengan KM Kambuna, saya dan teman-teman seperjalanan menuju Bitung, Sulawesi Utara, berangkat dari Tanjung Priok, singgah di Tanjung Perak menyeberang ke Ujung Pandang, Pantoloan, Kwangdang dan finis di Bitung.
Tibalah saya di Sulawesi Utara, bumi nyiur melambai. Dimana-mana tumbuh pohon kelapa, tinggi-tinggi, melambai karena ditiup angin yang datang dari laut dan dari gunung.
Dari Bitung, saya dan teman-teman lainnya menuju Pineleng, sebuah desa di pertabatasan antara Kota Manado dan Kabupaten Minahasa, tapi lebih dekat ke Kota Tomohon, karena mesti melewatinya jika ingin ke Tondano, Ibukota Minahasa.
Dunia saya berubah karena perjumpaan dengan keberanekaragaman.
Secara etnis, saya tidak lagi termasuk dalam etnis mayoritas. Teman seasrama saya kebanyakan berasal dari Manado dan Minahasa, Maluku {Ambon, Key, Tanimbar} dan beberapa dari Sangihe Talaud, Luwuk Banggai, Toraja serta Jawa tapi kelahiran Papua.
Saya tak lagi bebas berbahasa Jawa, sebab bercakap dalam bahasa Jawa dengan teman yang sama-sama dari Jawa dan kemudian didengar oleh teman dari etnis lainnya bisa-bisa dikira tengah menghibah mereka.
Komunikasi yang setara mesti memakai bahasa Indonesia. Hanya saja berkomunikasi dalam bahasa Indonesia tak selalu lancar karena masing-masing kerap membawa logat dan dialek suku asalnya. Sering ada kata atau bunyi-bunyian yang lucu.
Perlahan-lahan kamipun mulai belajar Bahasa Manado, teman-teman yang dari Indonesia Timur bisa lebih cepat menguasainya. Sementara kami yang dari Jawa, terbentur pada gaya medok ala jawa. Mengucapkan kata dalam bahasa Manado tapi logatnya Jawa. Jadilah kami tertawaan.
“Jang bapaksa kwa, muntah ubi nanti,” ujar mereka sambil meniru-niru apa yang saya ucapkan untuk mengolok-olok.
Sebelum berangkat ke Sulawesi Utara kami sempat diberi wejangan soal makanan dan minuman serta banyak hal lainnya.
Ternyata tak mudah untuk merubah kebiasaan makan, makan makanan yang menunya berbeda dengan keseharian kita sebelumnya.
Pineleng masih dekat dengan pesisir jadi makanan sehari-hari dominan dari laut. Buat saya ikan laut terlalu amis. Cukup lama saya berjuang hingga kemudian rela mengunyah dan menelan ikan kuah terang.
Pesta seharusnya menyenangkan, namun pesta pertama saya di Pineleng justru membuat trauma. Ada banyak makanan yang disajikan saya tak tahu itu apa. Saya terkejut ketika di piring ada makanan mirip tembakau susur dan sambal dimana-mana, baik dalam wadah maupun disiram atau diguyurkan diatas makanan.
Manado memang dikenal dengan makanan pedas, rica-rica. Pedasnya bikin mulut berasap, muka berkeringat dan kalau tidak kuat, perut terasa perih.
Yang lebih mengejutkan adalah cara makan. Setelah khusyuk berdoa makan, begitu amin, orang-orang segera menyerbu makanan, seperti gerombolan yang sepuluh tahun tak lihat nasi.
Saya ternganga melihat gadis-gadis yang menurut saya cantik-cantik kembali dari meja makan dengan piring berisi gunungan nasi.
Kelak ada gurauan, mukjizat Yesus dalam bentuk memberi makan 5 ribuan orang hanya dengan tiga roti dan dua ikan itu tak akan terjadi jika yang diberi makan orang Manado.
Di asrama saya tidak hanya mengenal makanan Manado dan Sulawesi Utara pada umumnya. Teman-teman dari daerah lain juga memperkenalkan makanan kebanggaannya. Teman-teman dari Key memperkenal Mbal, sejenis sagu lempeng yang terbuat dari ketela.
Cara makannya dicelupkan dalam kuah atau teh, lalu dikunyah. Persis seperti makan roti kering yang dicelup di susu atau minuman lainnya.
“Jang minum banyak-banyak habis makan mbal, nanti puru polote,” pesan seorang kawan.
Ya, mbal akan mengembang jika terendam dalam air, minum banyak-banyak setelah makan mbal bakal perut sesak karena mbal mengembang dalam perut.
Pendek kata ada banyak hal yang mengejutkan dan saya berjuang untuk berproses menerimanya, sembari meluruhkan ego saya sebagai orang Jawa.
Pada akhirnya sebagian besar kemudian menyenangkan untuk saya, sedikit sekali yang kemudian tetap saya tidak suka. Hampir dua belas tahun lamanya saya tinggal di Manado dan sekitarnya, itu menjadi salah satu masa yang paling menyenangkan dan membahagiakan dalam hidup saya.
Sepanjang itu saya belajar dan terus berupaya untuk menghapus stigma serta stereotype pada kelompok-kelompok etnis diluar diri saya. Di Manado pula saya mulai bergiat untuk membangun kebersamaan bersama kelompok iman lainnya, membangun gerakan interfaith group.
Bersama dengan beberapa teman, saya membentuk Koma, Komunitas Majemuk yang kemudian berkembang menjadi Kelompok Dialog Lintassara.
BACA JUGA : Menulis Dengan Rela Hati
Meski telah memproklamirkan diri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia, bangsa dan negara Indonesia sebagai nation state, sesungguhnya dibangun pada pondasi masyarakat etnoreligius. Berbasis pada suku, kelompok masyarakat di Indonesia sangat kental karakter kesukuannya yang dalam kebanyakan suku berhimpit erat dengan agama.
Ada banyak suku yang kemudian identik dengan agama tertentu. Batak, Minahasa dan beberapa suku di Nusa Tenggara Timur, Dayak serta Papua identik dengan Kekristenan. Sementara Bugis, Minang, Kutai, Banjar, Betawi dan banyak lainnya identik dengan Islam. Demikian juga Bali yang identik dengan Hindu.
Dalam konstruksi etnoreligius semacam ini, menanggalkan agamanya lalu memeluk agama lain bisa berakibat kehilangan hak kesukuannya.
Memang tidak mutlak sebab banyak orang Minahasa, Batak, NTT, Dayak dan Papua yang muslim sedari lahir, demikian pula dengan orang Bugis, Minang, Kutai, Banjar, Betawi dan lainnya yang juga Kristen.
Menjadi Indonesia artinya menanggalkan segala urusan terkait minoritas mayoritas dan lainnya. Seseorang menjadi Indonesia bukan karena suku dan agamanya, tidak ada eklusifitas. Indonesia adalah inklusif, apapun suku, agama, rasa tau aliran {golongan} dianggap sama dan setara sebagai warga bangsa dan negara.
Hanya saja transformasi dari komunits etnoreligius menuju masyarakat negara bangsa tidak selamanya mulus. Masih banyak residu-residu konstruksi etnoreligius yang menimbulkan percikan-percikan disana-sini.
Meski tidak bisa dibenarkan bukan berarti tak bisa diterima atau dipahami. Dikarenakan dalam kehidupan kita sebagai warga bangsa dan negara kita yang mestinya bersandar pada hukum positif negara dalam prakteknya masih kuat pengaruh moralitas yang berbasis suku dan agama.
Dalam konteks ini maka bisa dipahami kenapa Babiambo, yang melabeli diri sebagai rendang babi Padang kemudian menimbulkan persoalan. Orang Padang, Minangkabau, tidak merasa bermasalah ketika ada orang Jawa dan lainnya membuat restoran Padang.
Atau mereka juga tak mempersoalkan jika ada tempe, tahu, ayam, ikan yang dilabeli dengan rendang. Tapi akan murka jika ada babi rendang. Rendang adalah cara masak dan bumbu dari Padang. Masyarakat yang secara adat adalah masyarakat muslim yang taat. Maka masakan Padang adalah masakan halal.
Apakah babi, anjing, ular, kucing, kelelawar tidak bisa dimasak rendang?. Ya bisa saja. Tapi secara moral dan nilai tidak sesuai dengan adat istiadat orang Padang.
Silahkan dimasak rendang, tapi jangan dinamai babi rendang, apalagi babi rendang Padang.
Ini juga berlaku untuk makanan lainnya. Sebaiknya tidak usah mencoba-coba membuat restoran yang menjual menu Nasi Bekepor Daging Babi Asap. Bisa dipastikan orang Kutai akan marah. Atau Nasi Uduk Dendeng Celeng Aceh, orang Aceh pasti meradang.
Kalau mau aman tulis saja Nasi Rempah Babi Asap atau Nasi Gurih Dendeng Celeng.
Kreasi dan inovasi memang bebas, dijamin pula oleh konstitusi dan hukum di Indonesia, bahkan dianjurkan karena pemerintah sekarang ini sedang giat-giatnya bicara soal ekonomi kreatif.
Hanya saja mesti diingat perjalanan atau proses transformasi dari masyarakat etnoreligius menuju masyarakat negara bangsa belum tuntas.
Namun saya harus jujur mengatakan bahwa pada masyarakat akar rumput kesadaran kebangsaannya sudah cukup tinggi. Polemik semacam Bambiambo atau Nasi Uduk Dendeng Celeng Aceh tidak terlalu menjadi persoalan.
Yang bermasalah justru di kelompok elit, kelompok yang berkuasa atau tengah mencari kekuasaan. Isu-isu semacam ini terus dikapitalisasi oleh mereka untuk mencari pengaruh. Merekalah yang justru kerap memompa-mompa isu semacam ini agar terus ‘fly to the moon’.
Paska reformasi, politik identitas memang kerap menjadi senjata kaum elit atau kelompok yang ingin menduduki posisi elit. Mereka suka sekali menekan tombol kipas angin agar bara residu etnoreligiusitas terus membara.
Saya tak tahu persis kapan hal ini akan berakhir, tapi ada satu cara atau metode aktif yang bisa kita lakukan agar tak mudah ikut-ikutan panas atau terpengaruh dengan isu semacam itu, yakni dengan berpiknik.
Dengan memperbanyak piknik, perspektif orang akan berkembang, agar tak jadi katak dalam tempurung dan melihat segala sesuatu dengan kacamata kuda. Karena piknik bukan hanya untuk melihat hal-hal indah di tanah orang melainkan juga mempelajari dan mengerti cara hidup orang lain.
Meninggalkan tanah Jawa, berkeliling di Sulawesi, menjejakkan kaki di Bali, menyeberang ke Lombok terus ke Sumbawa, melihat danau Toba lewat Medan menuju Siantar, menikmati senja di Kaimana, naik long boat ke Teluk Triton, merasakan ombak di Raja Ampat, menikmati sei dan minum moke di Kupang, makan nasi kuning di Ambon, pesta papeda di Sorong dan menyusuri sungai, danau serta rawa di Kalimantan Timur, membuat perspektif etnis dan religiusitas saya berubah.
Saya tak lagi menganggap bahwa rawon hanya masakan orang Jawa, sebab saya tahu di Toraja ada juga masakan berbumbu kluwak, bukan hanya biji melainkan juga daging buahnya. Mereka menyebutnya pemerasan, yang dimasak bukan daging sapi tapi ikan emas.
Pun juga di Gorontalo, mereka tidak menyebutnya sebagai rawon melainkan kuah hitam.
Jadi rawon atau apapun namanya bukan hanya eklusif milik orang Jawa. Pun juga rawon bukan hanya daging sapi.
Di Jawa saya tak pernah melihat pohon kluwak, yang saya temukan hanya bijinya, banyak dijual di pasar, tapi sering kali juga saya temukan mengapung di sungai, hanyut dari hulunya.
Di Minahasa saya baru menemukan pohon kluwak, mereka menyebutnya pohon pangi. Jarang berbuah karena orang Minahasa lebih suka mengkonsumsi daun mudanya. Pohon sering digunduli, dipangkas cabang dan rantingnya agar tumbuh trubusan.
Daun kluwak atau pangi muda itu dimasak dengan cara dibuang urat daunnya lalu diiris tipis-tipis seperti irisan tembakau, dibumbui,dicampur dengan lemak dan daging babi,bisa juga daging ayam.
Lalu dimasukkan dalam bambu lalu di bakar seperti membakar nasi lemang.
Setelah masak dan dikeluarkan dari bambu, pangi berbentuk loncoran atau gumpalan bulat memanjang. Sepintas mirip gulungan tembakau susur yang basah.
Mulanya saya tak suka tapi lama-lama doyan juga.
Ada pangi yang lebih asyik lagi dan mungkin akan segera disukai oleh siapa saja. Namanya pangiboran.
Tapi itu sulit saya terangkan disini, piknik saja ke Manado kalau pingin tahu dan merasakannya.
note : sumber gambar CTREEMAQZ.ID








