KESAH.IDBanyak orang kerap bertanya bagaimana bisa menulis dengan baik, ikut workshop atau kelas menulis namun tak menghasilkan tulisan. Tentu saja ada aspek teknis dan artistik tentang tulisan yang mesti dipelajari dan dikuasai. Tapi semua itu tidak bisa diasah dan dikuasai tanpa kerajinan yang cukup untuk terus berlatih menulis.

Seperti kebanyakan murid lainnya, saya merasa pelajaran mengarang bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Menggambar jelas lebih menyenangkan meski tidak selalu gambar pemandangan bebas.

Mengarang tidak menyenangkan karena sebelum menulis karangan, guru selalu meminta lebih dahulu membuat kerangka tulisan, mulai dari menentukan tema, sub tema dan topik-topik penting dalam masing-masing sub tema. Baru bikin kerangka saja sudah pusing.

Ditambah dengan teori lainnya seperti alur, sudut pandang dan unsur artistik lainnya, jangankan karangan, kerangka saja nggak jadi-jadi.

Kelak saya tahu, penyebab kesulitan pada waktu itu dikarenakan saya tak sungguh-sungguh menguasai apa yang hendak saya tuliskan, tak punya cukup bahan.

Walau begitu waktu di SMA, saya bisa menuliskan cukup banyak puisi. Kenapa puisi?. Karena saya menyukainya.

Kala itu saya dan beberapa teman punya gerombolan yang disebut Kopi Basi, Kelompok Pengemar Baca Puisi. Kami suka membaca puisi di berbagai kesempatan di sekolah maupun di kampung.

Saya suka membaca puisi mbelingnya Remy Sylado dan Yudhistira ANM Massardi. Juga puisi begaya mantra dari Sutarji Calzoum Bachri walau sebenarnya saya tak terlalu mengerti.

Suatu ketika saya berpikir “Kenapa tidak menulis puisi sendiri?”

Mulai tumbuh keinginan untuk menulis puisi tapi saya tak ingin menulis puisi picisan seperti yang dilakukan oleh kebanyakan remaja yang kemudian mendadak ‘sastrawan’ karena jatuh cinta.

Saya mulai membaca puisi-puisi karya Rendra, Putu Wijaya dan lain-lain yang ada di perpustakaan. Mesti membaca penyair lain karena saya merasa tak cukup punya kemampuan untuk menulis dengan kocak ala Remy Sylado dan juga Yudhistira ANM Massardi. Menjadi mbeling dan lucu itu sulit.

Pada akhirnya saya menyukai gaya tulisan puisi ala Si Burung Merak, Rendra.

Dia menulis dengan gaya bertutur, puisinya seperti berisi cerita walau ada umpama-umpama namun tak terlalu berbunga-bunga.

Keinginan untuk membacakan puisi karya sendiri membuat saya bersemangat untuk menuliskannya. Dan berhasil, entah apakah puisinya baik atau tidak, yang penting saya merasa puas.

Pengalaman menulis puisi membuat saya belajar bahwa menulis mesti didasari oleh keinginan dan ada tujuan, sehingga menulis menjadi hal yang menyenangkan.

Saya tak ingat persis berapa puisi yang berhasil saya tuliskan waktu itu, tak ada yang tersimpan. Kalaupun saya simpan mungkin juga sulit untuk dibaca lagi karena hanya diketik diatas kertas buram. Karbon mesin ketiknya juga tidak prima sehingga tak terlalu meninggalkan bekas di permukaan kertas.

BACA JUGA : Terkadang Orang Jahat Melakukan Hal Baik 

Menjelang tahun 2000-an, rasanya amat bangga jika tulisan kita muncul di halaman koran. Sayapun ingin tulisan dengan nama saya sebagai penulis dimuat di koran.

Sekitar akhir tahun 1996, saya mulai pakai komputer. Menulis jadi lebih gampang karena bisa disimpan di disket, bisa diedit dengan cepat, tidak menghabiskan kertas, tix ep dan lainnya.

Jaman itu tulisan dikirim masih dalam bentuk cetakan, perlu diprint sehingga kalau tulisan diterima atau layak muat maka akan disalin sambil diedit oleh penanggungjawab rubrik.

Dalam benak saya pasti lebih banyak tulisan yang tidak dimuat dan langsung di buang ke keranjang sampah. Jadi harus ada kiat agar tulisan diterima.

Kecil kemungkinan bagi saya untuk mengalahkan tulisan-tulisan menarik dari mereka yang tulisannya biasa dimuat di koran. Tentu saja saya berusaha sebaik mungkin dalam menulis, namun masih butuh waktu panjang.

Maka saya harus menulis berdasarkan momentum, tulisan harus relevan dengan hari-hari penting atau situasi yang terjadi saat itu.

Waktu itu saya tinggal di Manado dan salah satu koran yang terkenal adalah Manado Post, ada juga koran lain yakni Cahaya Siang.

Saya memilih Manado Post dan mengirimkan tulisan pertama tentang HIV/AIDS. Tulisan saya kirimkan menjelang peringatan Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember.

Ada keyakinan besar bahwa pasti tulisan itu akan dimuat. Walau mungkin tata tulisannya belum baik namun isinya pasti relevan dan belum banyak orang menuliskannya.

Saya amat percaya diri karena tulisan itu berisi pengetahuan dan pengalaman saya yang waktu itu bekerja sebagai Outreach Workers untuk Program Pendidikan Pencegahan HIV/AIDS pada kelompok resiko tinggi di Manado dan Bitung.

Dan benar tulisan saya dimuat. Dan semenjak saat itu kiat menulis berdasarkan momentum terus saya pertahankan sebagai tiket untuk memperbesar kemungkinan diterima oleh redaktur.

Sayapun tak hanya menulis tentang kesehatan masyarakat.

Salah satu yang saya ingat adalah tentang anak-anak PRD yang waktu itu melakukan aksi mogok makan. Aksi itu tak jauh dari kantor saya yang bertetangga dengan kantor YLBHI Manado tempat mogok makan dilakukan.

Lagi-lagi saya yakin tulisannya akan dimuat karena tulisan saya punya perspektif yang berbeda dengan kebanyakan tanggapan atas mogok makan itu. Saya menyatakan dukungan dengan pendekatan spiritual, mogok makan adalah aksi kenabian.

Dan benar tulisan itu dimuat lalu mengantar saya berkenalan dengan sebagian peserta mogok makan. Beberapa masih terus berteman dengan saya hingga sekarang.

Saya masih ingin terus menulis, sayang sepertinya tak punya waktu.

Semangat itu terlecut lagi ketika suatu waktu saya bertemu dengan seseorang yang dikenal kampiun dalam urusan tulis menulis. Tulisannya asyik dan yang lebih luar biasa dia bisa menulis dengan cepat, duduk di depan komputer sambil ngobrol atau mendengarkan obrolan orang lain.

Kelak ketika mulai ada Nokia Communicator dan Blackberry, saya menyaksikan sendiri bagaimana dia menghasilkan tulisan dengan tombol qwerty.

Setengah berbisik saya bertanya padanya “Bagaimana bisa menulis dengan baik?”

Dia menjawab singkat “Menulis setiap hari, jadi nggak jadi,”

Saya tak langsung mempraktekkannya, buat saya jawaban singkat itu adalah lambang kemalasannya untuk berbagi ilmu menulis.

BACA JUGA : Kos Berlabel LV    

Tahun 2002 ketika saya mulai tinggal di Samarinda dan tak lagi kerja ‘kantoran’ waktu untuk menulis jadi lebih banyak. Sayapun mulai mempraktekkan yang dahulu dikatakan oleh kawan itu.

Bermodal PC tua mulailah saya berusaha menulis setiap harinya. Tak begitu lancar, jarang yang selesai, kebanyakan berakhir dengan judul dan satu dua paragraf lalu macet.

Sayapun dapat nasehat kembali, tidak secara langsung. Intinya untuk bisa menulis maka kita harus membaca. Orang yang membaca kemungkinan besar akan mampu menulis.

Tulisan yang berhasil tuntas kemudian saya kirimkan ke Koran Tribun Kaltim yang waktu itu baru mulai terbit. Kebetulan ada teman wartawan yang sebelumnya saya kenal saat dia bekerja di Harian Posko Manado dan aktif di Aji Sulut.

Mengirim tulisan waktu itu lebih mudah karena tak perlu dicetak, cukup dikirim lewat email.

Tentu saja tak mungkin mengirimkan tulisan setiap hari ke koran.

Untuk saja internet berkembang hingga kemudian muncul media sosial, blog dan juga community blog.

Sayapun bisa menulis setiap hari dan mempublikasikannya setiap hari. Awalnya saya menulis dan menerbitkannya lewat Facebook Note, namun kemudian fitur itu dihapus oleh Facebook.

Sebelum fitur itu dihapus, saya juga lebih dahulu sudah mencoba menulis di community blog atau blok keroyokan. Waktu itu yang terkenal adalah kompasiana.

Ada kurang lebih 348 tulisan saya di Kompasiana, 15 menjadi headline dan 78 menjadi pilihan editor. Tulisan saya dibaca sebanyak 231,914 kali. Dan 1 tulisan dipilih untuk diterbitkan dalam buku berjudul ‘Jokowi Bukan Untuk Presiden’.

Tapi sampai pada waktu itu saya belum benar-benar menulis setiap hari.

Sekitar tiga tahun lalu beberapa teman kemudian menunjukkan sebuah weblog yang mereka buat. Maunya menjadi tempat menulis bersama namun saya tahu itu dibuat lebih karena saya suka menulis.

Semenjak saat itu saya berusaha keras untuk menulis setiap hari, hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk memastikan ada sebuah tulisan mulai hari Senin dampai Jum’at setiap minggunya.

Tidak langsung berhasil, walau menulis merupakan hal yang menyenangkan untuk saya. Komitmen dan konsistensi kadang sulit untuk dijaga.

Kadang semangat menulis menurun karena terganggu oleh pertanyaan apakah tulisan saya penting, bisa diterima atau ditanggapi benar oleh yang membacanya, walau yang membaca mungkin tak banyak.

Terkadang kepercayaan diri saya juga terganggu, tulisan saya nampaknya begitu-begitu saja, tidak banyak berkembang, masih kurang menggigit karena ide atau gagasan yang saya tawarkan kurang wow.

Sayapun harus bergulat dan terkadang ingin menyerah.

Bertemu dengan kawan saya yang tak banyak, ngopi-ngopi dan ngobrol kanan kiri membuat keinginan untuk menyerah urung. Pertemuan selalu berhasil memompa semangat, walau kawan-kawan tak secara frontal menyemangati.

Sayapun tak mau membebani diri sendiri, memberi target muluk-muluk atas tulisan saya. Dibaca syukur, nggak dibaca ya sudah. Tapi tak berarti saya menulis asal jadi atau yang penting sudah menulis.

Sampai sekarang saya masih terus berjuang untuk bisa menulis setiap hari dengan menganggapnya sebagai sebuah latihan. Latihan rajin menulis sembari terus memperbaiki berbagai aspek kepenulisan dan meningkatkan ketrampilan kebahasaan agar tulisan menjadi semakin sederhana serta mudah dicerna.

Setiap hari sebelum menulis apapun saya juga membaca 3 sampai 4 tulisan dari penulis atau media-media yang menurut saya mempunyai gaya tulisan tersendiri.

Membaca tulisan orang lain terutama tulisan-tulisan yang bernilai sastrawi penting untuk mengasah sisi estetika dari tulisan saya. Tulisan harus mempesona sejak baris pertama sehingga orang akan terus membacanya hingga akhir.

Apakah tulisan saya sudah benar dan menarik untuk pembaca?.

Entahlah, sayapun belum berani menilai karena kalau dilihat dari jam terbang sejak tiga tahun lalu, saya nampaknya belum melewati 3000 jam berlatih menulis.

Masih perlu sekitar 7000 jam lagi untuk memastikan apakah saya penulis atau bukan. Untuk mencapai itu maka modal yang harus saya pertahankan agar terus menulis adalah rela hati.

note : sumber gambar Thom Milkovic on Unsplash  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here