KESAH.ID – Sampai sejauh ini nampaknya benar bahwa model ekonomi yang paling berkembang atau menang adalah yang bisa mengakomodir keserakahan.
“Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan kita semua, namun tidak cukup untuk memenuhi keinginan segelintirkecil manusia yang serakah,” kata Mahatma Gandhi
Kalimat bijaksana itu tentu bukan hanya Mahatma Gandhi yang mengungkapkan, jauh sebelumnya telah dikenal pepatah dalam latin, Homo Homini Lupus, manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya.
Keserakahan atau ketamakan ada semenjak di dunia hadir mahkluk bernama manusia. Manusia tidak seperti binatang lain pada umumnya yang hidup untuk makan dan berkembang biak agar terus hidup serta tak punah.
Manusia menjadi unik karena selain punya kebutuhan biologis juga punya gudang keinginan sehingga akan mencari dan menumpuk apapun jauh melebihi yang dibutuhkan oleh dirinya.
Namun benarkah dunia tidak cukup untuk memenuhi keinginan segelintir manusia yang serakah seperti yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi?
Dengan segala hormat, nampaknya apa yang dikatakan olehnya sampai sekarang tidak terbukti sepenuhnya benar.
Bahkan harus diakui bahwa dunia bergerak, berkembang dengan pesat dari waktu ke waktu karena jasa orang-orang yang serakah.
Ketika keserakahan atau ketamakan tak lagi dipupuk dengan kekuatan otot dan kekuatan senjata serta kejahatan maka keserakahan itu tak lagi menakutkan. Dalam sejarah memang bisa dengan mudah disaksikan mereka yang kaya dan berkuasa jatuh dan hancur karena serakah, seperti kisah para raja-raja narkoba di Chili, Colombia atau Mexico.
Namun di tangan mereka yang mempunyai ilmu pengetahuan dan menguasai teknologi dengan berpayung ekonomi, keserakahan dan ketamakan itu menjadi sah, terus berkembang dan tidak tergoyahkan.
Persekutuan antara pengetahuan dan teknologi menjadi mesin produksi lewat korporasi inilah yang kemudian mengerakkan dunia, menciptakan sebuah siklus yang bukan hanya memenuhi kebutuhan hidup manusia melainkan juga mengakomodir keinginan yang tanpa batas.
Bahkan dalam regim ekonomi, batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi kabur, lewat aksi marketing, keinginan bahkan bisa dikreasi sebagai sebuah kebutuhan. Make up atau alat kecantikan adalah salah satu bukti tidak jelasnya batas antara kebutuhan dan keinginan untuk menjadi cantik.
Seorang marketer yang hebat akan selalu menyombongkan diri dengan mengatakan “Laku tidaknya barang atau jasa tak tergantung pada apanya melainkan siapa yang menjualnya,”. Congkak sekali.
Dan memang benar seperti yang terjadi dalam dunia kripto. Koin abal-abal sekalipun bakal ‘fly to the moon’ jika diendorse oleh Elon Musk.
Cuitan Elon di twitter bisa mempengaruhi naik turunnya uang kripto. Kesaktian itu yang mungkin saja membuat Elon Musk kemudian ingin membeli twitter, walau sebagai entitas bisnis akan memberi beban untuknya.
BACA JUGA : Menulis Dengan Rela Hati
Rakus berbeda dengan serakah. Seseorang disebut rakus apabila makannya banyak, semua dimakan, seperti tidak pernah merasa kenyang.
Sedangkah serakah atau ketamakan adalah keinginan untuk memiliki atau menguasai kekayaan entah barang atau uang untuk dirinya sendiri, melampaui kenyamanan dan kebutuhan untuk hidup yang berlaku pada umumnya.
Dalam dunia bisnis keserakahan dinyatakan lewat ungkapan ‘The winner tak all’, pemenang akan mengambil semuanya, tak menyisakan untuk yang lain. Bentuk prakteknya adalah monopoli lewat group usaha yang bergerak dari hulu hingga hilir.
Saingan atau calon pesaing akan dicaplok, diakuisi. Atau bahkan dibeli dan kemudian disuntik mati.
Akar dari keserakahan itu egoism, seseorang yang egois tidak pernah akan merasa puas, tak pernah merasa cukup bahkan ketika dirinya sudah bingung bagaimana menikmati yang dipunyainya.
Logika umum kebanyakan orang adalah mesti bekerja keras agar semua kebutuhan terpenuhi, menjadi kaya dan sejahtera. Tapi ternyata cara kerja uang atau kekayaan tidak begitu, ketika menjadi kaya dan banyak uang, orang tak akan berhenti untuk kemudian menikmati.
Mereka yang kaya dan nampak bersenang-senang dengan kekayaannya pada umumnya adalah orang-orang yang mendapat kekayaan dengan cara yang tidak benar. memperoleh kekayaan dengan cara yang mudah.
Tapi mereka yang kaya karena kerja keras, berpikir dengan cerdas dan terus berinovasi akan selalu dihinggapi oleh keinginan berekspansi. Kekayaan harus dibiakkan, tak bisa hanya disimpan dan mengendap serta dibelanjakan dengan foya-foya.
Kekayaan yang hanya disimpan dan tak digerakkan untuk menghasilkan kekayaan baru bahkan bakal digerogoti, makin lama makin berkurang karena punggutan pajak, atau nilainya akan turun karena inflasi.
Sistem ekonomi yang memungkinkan manusia melampaui batasnya atau bahkan memupuk kekayaan tanpa batas adalah kapitalisme. Sistem ekonomi ini bekerja dengan mengakumulasi modal di pasar yang bebas. Selama pasar menghendaki atau berhasil direkayasa maka modal akan berbiak menghasilkan keuntungan. Pemerintah, otoritas kekuasaan dilarang melakukan intervensi.
Sebenarnya bukan hanya dilarang tapi besar kemungkinan juga tak akan mampu. Memaksakan diri untuk mengintervensi pasar bahkan bisa bikin pemerintah bangkrut, kehabisan devisa cadangan.
Hasil dari pasar bebas adalah kesenjangan. Bisa jadi ini yang dimaksudkan oleh Mahatma Gandi. Andai apa yang ada di dunia ini terbagi secara adil, tak akan ada orang yang berkekurangan. Penguasan aset atau kapital {keserakahan} yang hanya ada segelintir orang tertentu akan membuat banyak orang hidup tidak berkecukupan.
Dan kesenjangan ini mengelisahkan. Salah satu yang paling gelisah adalah Karl Marx. Dia mengemukakan sistem ekonomi kapitalis membuat manusia berada dalam kondisi tidak manusiawi. Pemilik modal memperlakukan rakyat kebanyakan yakni kaum pekerja sebagai ‘sapi perah’, dipaksa bekerja keras tapi tak pernah akan menikmati hasilnya secara layak.
Masyarakat terpaksa bekerja dengan upah yang ditentukan oleh pemilik modal karena masyarakat tak menguasai alat produksi. Dan karena tak punya alat produksi, masyarakat yang jumlahnya jauh lebih banyak itu kemudian tak punya kekuatan untuk menghadapi segelintir orang yang menguasai modal. Mereka bahkan dianggap penolong karena memberi pekerjaan dan upah.
Karl Marx mengusulkan revolusi agar kepemilikan tidak terkonsentrasi pada kelompok tertentu melainkan menjadi kepunyaan semua orang. Tidak ada kepemilikan pribadi.
Hanya saja usul Karl Marx sudah terlambat, masyarakat egaliter yang dibayangkan olehnya sudah lama terkubur. Komune, masyarakat yang setara atau egaliter, sama-sama menguasai alat produksi, sama-sama menguasai lahan dan ketrampilan atau ekonomi inklusif sudah lama punah digilas oleh peradaban. Masyarakat seperti itu hanya diberi ijin untuk berada di masa peradaban pemburu pengumpul.
Model masyarakat, ekonomi dan politik yang menjadi proposal Karl Marx untuk menghadapi dunia kemudian hanya menjadi konsep tanding, perlawanan pada ekonomi mainstreams dan lama-lama melemah.
Yang melawan tentu saja bukan hanya Karl Marx, atas salah satu cara Nikola Tesla juga melawan. Dia ingin energi bisa dinikmati oleh semua orang secara gratis. Tesla menciptakan ‘Menara Tesla’ untuk memancarkan energi itu. Tapi Tesla gagal karena tak didukung oleh investor.
Linus Torvalds, seorang penghobi komputer ingin dunia menikmati sistem operasi secara gratis. Dia menciptakan Linux yang kodenya dirilis dengan Lisensi Publik Umum. Siapapun boleh memakai dan memodifikasinya secara gratis.
Tapi para kapitalis tak kehilangan akal. Mereka selalu menjadikan kritik dan perlawanan sebagai energi untuk mengembangkan layanan yang makin baik, ramah pada pengguna namun tetap menghasilkan keuntungan berlipat ganda.
Para pemilik modal tahu, bahwa produk atau jasa apapun yang gratis tetap harus didistribusikan dan harus mampu membangun komunitas pemakainya. Hal ini butuh sumberdaya kapital untuk melakukannya. Tanpa hal itu yang gratis tidak akan sampai pada pemakainya.
Para pemodal dalam dunia teknologi informasi dan komunikasi kemudian mengembangkan layanan fremium. Pengguna atau masyarakat menikmati layanan-layanan gratis. Tapi kalau ingin lebih dan ingin memodifikasi untuk keperluan tertentu harus bayar.
Dalam layanan gratis itu pengguna harus rela untuk ‘melihat’ iklan. Dari iklan itulah pemberi layanan gratisan memperoleh uangnya.
Pengembang layanan gratis ini beberapa diantaranya menjadi kaya raya, karena valuasi perusahaannya menjadi sangat tinggi, laku di pasar saham. Dari sana pula mereka memperoleh uang dan kekayaan.
Kenapa telepon pintar dari China menjadi jauh lebih murah dari Iphone?.
Ada banyak alasan sehubungan dengan upah buruh, bahan baku, lisensi, model pemasaran dan lainnya. Namun salah satu konsekwensi yang mesti ditanggung oleh model ponsel kebanyakan keluaran dari China adalah notifikasi yang berisi iklan.
Dalam ponsel buatan China selalu disertakan iklan-iklan yang muncul begitu saja ketika gadget dioperasikan.
Tapi kalau mau pakai smartphone buatan China yang tak membawa iklan bawaan bisa juga, hanya saja harganya juga tak beda jauh dengan Iphone.
BACA JUGA : Terkadang Orang Jahat Melakukan Hal Baik
Andai uang satu dunia dikumpulkan dan kemudian dipakai untuk membiayai kebutuhan pokok semua manusia penghuni bumi bisa sama-sama cuti atau rebahan di rumah selama setahun lebih, dunia bisa beristirahat.
Hanya saja jika semua uang dibagi dan masing-masing orang punya uang maka uang tak akan ada lagi nilainya, ekonomi akan lesu.
Cara kerja uang agar tetap bernilai adalah dengan membatasi peredarannya, uang mesti terkonsentrasi pada kelompok-kelompok tertentu, atas cara seperti itu uang menjadi bernilai.
Mesin untuk menjaga hal ini adalah lembaga keuangan terutama perbankan dan perusahaan pembiayaan. Merekalah yang akan mengerakkan uang agar dunia bergerak dan terus bertumbuh.
Di abad ke 14, saat dunia belum mengenal kata inflasi, Mansa Musa, raja dari Mali pernah membuat ekonomi Mesir lumpuh karena kedermawanannya.
Mansa Musa melakukan perjalanan untuk berhaji melalui gurun Sahara, melewati Mesir dengan rombongan besarnya. Perjalanan berhaji ini membawa serta ribuan kilo emas.
Rombongannya singgah di Mesir, tinggal selama kurang lebih 3 bulan. Saat di Mesir, Mansa Musa membagi-bagikan emas kepada orang-orang miskin. Semua diberi tanpa kecuali.
Kebaikan Mansa Musa itu bukan hanya membuat harga emas di Mesir anjlok, ekonomi kemudian juga menjadi terpuruk selama bertahun-tahun.
Bayangkan jika setiap orang punya emas yang berlimpah dan setiap orang merasa kaya, maka semua harga pasti akan naik demikian juga dengan ongkos tenaga kerja. Tak ada lagi orang mau dibayar murah karena di rumah punya emas berlimpah, yang menyuruh dan disuruh sama-sama kaya.
Kini ada beberapa orang di dunia yang kekayaannya seperti Mansa Musa, jumlahnya memang tak banyak, jauh dibawah 1 persen dari populasi dunia. Tapi mereka bisa jadi menguasai 99 persen uang yang beredar di dunia.
Andai mereka semua mengikuti jejak Mansa Musa, menjadi orang yang dermawan dengan membagikan semua kekayaannya, niscaya dunia akan lumpuh. Ekonomi akan mengalami hyper inflasi.
Inilah nasib manusia, binatang yang sudah jauh melampaui cara kerja alamiahnya sehingga tak kenal lagi batas yang disebut cukup.
Ular, singa, harimau, beruang, orang utan dan lainnya jika kenyang akan tidur, istirahat dan rebahan. Singa dan harimau yang kenyang tak akan gila urusan, menerkam rusa yang lewat didepannya.
Lain halnya dengan manusia. Jika kenyang lalu tidur-tiduran akan disebut pemalas. Tak boleh malas bangun pagi karena dianggap akan kehilangan rejeki.
Tanpa orang serakah dan tamak, dunia memang akan berhenti berputar.
note : sumber gambar – Sharon McCutcheon on Unsplash








