Rasanya setiap hari di media sosial muncul keriuhan. Riuh disana-sini yang membuat negeri ini menjadi berisik.

Ramai membahas sesuatu sebagai sensasi yang kemudian mengaburkan substansi dan esensinya.

Kita fasih membincang sesuatu tapi tak makin cerdas, terus memelihara tahayul dan percaya bahwa investasi terbaik adalah memelihara tuyul serta ‘ngepet’.

Semua keriuhan di media sosial tak lepas dari yang disebut sebagai Influencer, Buzzer dan gerombolan pembenci (Haters).

Inilah 3 kelompok atau kasta yang menentukan masa depan kewargaan internet (netizen) Indonesia yang oleh Microsoft ditempatkan di nomor 29 dari 32 negara yang disurvey.

Menempati peringkat 29, artinya warga internet Indonesia dianggap sebagai salah satu yang paling tidak sopan didunia.

Tentu saja Microsoft dikutuk oleh warga internet Indonesia. Dan mungkin banyak yang merasa kutukannya telah berjalan karena Bill Gates dan Melinda akhirnya bercerai setelah 27 tahun berumah tangga.

***

Perubahan pola bermedia yang dahulu disetir oleh penerbit atau perusahaan media  lalu bergeser ke penerbit independen melalui media sosial memunculkan istilah Influencer, Buzzer dan Hater.

Influencer sesuai dengan arti katanya adalah seseorang yang punya pengaruh di dunia internet.

Pengaruh didapatkan dari jumlah follower di media sosialnya. Yang disebut dengan pengaruh adalah kemampuan Influencer untuk menyetir persepsi dan preferensi pengikutnya.

Cara berpikir dan cara bertindak seseorang bisa dipengaruhi oleh seorang Influencer. Dalam konteks ini maka Influencer bukan hanya penting untuk dunia marketing melainkan juga bidang lainnnya seperti politik dan ideologi.

Dengan demikian pengaruh seorang Influencer tidak semata-mata sebagai alat pemasaran melainkan juga aset dalam.komunikasi dan hubungan sosial yang bisa dipakai untuk tujuan tertentu.

Mengacu pada jumlah followers maka Influencer bisa dibedakan dalam beberapa kategori yaitu Mega, Macro, Micro dan Nano influencers.

Sedangkan bila dinilai berdasarkan konten yang dibuatnya, influencers bisa dikelompokkan sebagai bloggers, YouTubers, Social Post Only, Streamer/Host dan Podcaster.

Sementara dari sisi pengaruh seorang Influencer dikategorikan sebagai selebritas, reputation/chromo Influencer dan key opinion leader.

Buzzer hampir mirip dengan Influencer namun seorang Buzzer tidak perlu menunggu menyebarkan pengaruh dengan membangun reputasi.

Buzzer umumnya berkelompok dan dibanding Influencer mereka lebih bertugas untuk menyebar pesan secara terus menerus dengan tujuan apa yang disebarkan menjadi viral.

Buzzer juga lebih dekat dengan urusan kontestasi politik. Aktivitasnya bertujuan untuk memenangkan opini masyarakat atas isu, sosok, institusi tertentu.

Dibanding dengan Influencer, Buzzer akan lebih sering mempublikasikan pesan di media sosial, bahkan cenderung memborbardir sehingga mereka yang tidak suka pesan itu bahkan tak bisa menghindar.

Karena tak peduli pada reputasi, Buzzer kerap kali sengaja menyebarkan pesan-pesan bohong. Pesan tidak benar yang memang sengaja diproduksi demi kepentingan tertentu.

Pendek kata, Buzzer bekerja demi kepentingan atau kampanye tertentu. 

Diluar Influencer dan Buzzer adanyang disebut Hater. Ini adalah kelompok kaum pembenci yang secara eksplisit mengungkapkan kebenciannya di media sosial.

Dibanding dengan Influencer dan Buzzer, cara kerja Hater ini paling tidak terorganisir. Hater bekerja atas preferensi keyakinan pribadi.

Polanya adalah mereka selalu nyolot dan menolak apa saja yang disampaikan atau dilakukan oleh yang dibencinya. Kebencian bisa berdasar pada berbagai alasan, termasuk salah satunya alasan politik dan religius.

Yang menjadi soal, di media sosial para Hater ini berlaku sungguh keterlaluan, tidak segan menyerang kepribadian atau hal-hal pribadi dari sosok atau orang yang tidak disukainya.

Kepuasan Hater adalah mengumbar kebencian secara paripurna. Kesalahan atau kelemahan dari yang dibenci adalah bahan bakar untuk mengobarkan kebenciannya.

***

Sepak terjang tiga mahkluk, warga internet ini membuat dunia maya kerap menjadi riuh. Dipenuhi dengan sahut-sahutan satu sama lain tanpa adanya wasit.

Tak heran jika kemudian ada yang meyebut era ini adalah era kematian pakar.

Di media sosial semua orang bisa menjadi pakar. Termasuk pakar deligitimasi atas kepakaran seseorang. 

Berbasis pada kemampuan berbicara, seseorang bisa meyakinkan orang lain meski dengan argumen yang sesungguhnya tidak benar. 

Sayangnya di media sosial kita memang lebih doyan argumen yang bernuansa konspiratif ketimbang yang konfirmatif.

Kecepatan arus informasi di media sosial juga kerap membuat kita lebih memilih sesuatu yang kita sukai ketimbang sesuatu yang berguna atau yang benar.

Media sosial membuat kita tak cukup punya waktu untuk berpikir dalam. Kita sepertinya didorong untuk memilih dan merespon dengan cepat. 

Tak mengherankan jika kemudian preferensi di media sosial atas isu atau pokok permasalahan kemudian hanya didasari atas pilihan senang dan tidak senang.

Pilihan yang jika diperdebatkan akan menghasilkan pertentangan yang berlarat-larat karena akan melebar kemana-mana.

Watak inilah yang kemudian menjadikan dunia maya, kewargaan internet menjadi masyarakat yang berisik.