One Man One Vote menjadi pencapaian tertinggi dari demokratisasi di Indonesia.
Setiap orang, siapapun dia (selama memenuhi syarat perundangan) dianggap punya nilai sama dalam pemilu.
Namun pemilu tidak sesederhana itu, hanya memberikan suara. Ada banyak proses dan dinamika sebelum serta sesudahnya.
Proses dan dinamika inilah yang akan menentukan buah dari pemunggutan suara di bilik pencoblosan.
Pemilu terutama pemilihan presiden dan kepala daerah pada beberapa pemilu terakhir ini cenderung membuat masyarakat terbelah. Ada polarisasi yang berulang karena perdebatan di masyarakat masih berkutat tentang kandidat.
Apa yang digaungkan sebagai pendidikan politik paska reformasi untuk mendorong pemilih menjadi rasional (cerdas) ternyata menemui jalan buntu.
Jangankan rakyat atau pemilih, partai politik yang merupakan salah satu institusi yang paling bertanggungjawab untuk melakukan pendidikan politik, mewujudkan masyarakat cerdas dalam berpolitik ternyata juga tidak bertambah kecerdasannya.
Yang amat berkembang justru siasat politik. Yang maknanya tak jauh dari transaksi dan bagi-bagi kekuasaan (transaksional distributif).
***
Kabar baiknya polarisasi dalam kontestasi pemilu tidak hanya merupakan gejala khas di Indonesia. Amerika Serikat kampiun demokrasi sekalipun tidak terlepas dari gejala itu.
Ini menandakan bahwa menjadi rasional dalam politik adalah tantangan umat manusia. Sebab politik sejatinya memang emosional.
Bicara polarisasi yang terjadi pada pemilu presiden yang terakhir, seorang kawan yang akrab dengan dunia Tim Sukses memberi simpulan yang menarik di akun media sosialnya.
Terbiasa sebagai TS yang tidak selalu berhasil memenangkan calonnya, kawan saya ini perlahan menjadi dewasa dalam berpolitik.
Tetap mengucapkan selamat pada yang menang namun tak mencari muka. Dan sabar menunggu kesempatan lima tahun lagi untuk merebut kemenangan agar bisa mendapat buah dari kemenangan yang disebutnya sebagai politik balas budi.
Menurut kawan saya yang sabar ini, polarisasi pemilih paska pemilu akan melahirkan dua kelompok yang disebut olehnya sebagai Penjilat dan Pemarah.
Yang disebut dengan penjilat adalah kelompok yang selalu pro pada apapun yang dilakukan oleh pemimpin. Pemimpin yang didukungnya dan menang dalam pemilu.
Tidak ada nada lain selain pujian. Bahkan jika pemimpinnya kepleset melakukan sebuah kesalahan maka para penjilat akan menjadi benteng paling depan untuk melakukan pembelaan.
Maka bisa jadi para penjilat sering lebih sibuk dari pemimpinnya sendiri dalam menerangkan ini dan itu.
Oh iya yang disebut sebagai penjilat tidak tentu berasal dari kelompok pendukungnya dahulu. Penjilat bisa juga berasal dari kelompok lawan yang kemudian menyeberang.
Menyeberang karena yang tidak didukung ternyata yang jadi pemenang. Dan tidak bersama pemenang akan membuat dirinya tak eksis. Jadi mencari muka dengan menjadi penjilat menjadi cara untuk mendapat perhatian. Harapannya adalah mendapat jatah meski dulu tidak ikut berkeringat dan berdarah-darah.
Sebaliknya yang disebut sebagai kelompok pemarah adalah kelompok pendukung yang kalah.
Kelompok ini akan selalu ngegas terhadap apa yang dilakukan oleh calon yang tidak didukungnya namun keluar sebagai pemenang, menjadi pemimpin.
Kelompok pemarah ini selalu punya ingatan yang baik atas semua kesalahan atau kelemahan yang ditunjukkan oleh pemimpin. Mereka punya mantera serba salah yang siap dipakai untuk meluapkan kemarahan.
Jika kelompok penjilat selalu punya pujian, kelompok pemarah selalu punya lumbung hujatan.
Meski kedua kelompok ini seperti berlawanan namun sesungguhnya keduanya punya kesamaan. Mereka sama-sama tak berpikir dengan jernih. Apa yang disampaikan selalu dilandasi pikiran emosional ketimbang rasional.
Mereka hanya ingin segala sesuatu yang menyenangkan untuk mereka. Yang satu hanya mau pemimpinnya dipuji dan selalu benar. Sementara yang satunya ingin pemimpinnya selalu dihujat dan salah.
***
Sebenarnya tidak benar jika sebuah masyarakat hanya akan terbelah dua secara sempurna, hitam dan putih.
Selalu ada kelompok lain, seperti kelompok tak peduli, kelompok yang merasa tak perlu memikirkan pemimpin sebab memikirkan dirinya sendiri saja sudah berat.
Lalu pasti ada kelompok yang kritis. Kelompok yang bisa memuji kalau memang menemukan kebaikan yang perlu dipuji, tapi juga bisa menghujat jika ada kesalahan yang benar berat. Istilahnya adalah kelompok kritis, menilai pemimpin berdasar nalar lewat kinerjanya.
Hanya saja kelompok ini menjadi tidak menonjol dan kurang populer. Tidak eksis terutama di ruang publik yang sekarang hampir identik dengan ruang maya.
Kewargaan kita memang tengah bergerak ke arah kewargaan internet, netizen.
Dan algoritma internet memang cenderung ekstrim. Ramah pada kontroversi dan konfirmasi. Dan hal ini menjadi ekosistem yang pas untuk pertempuran dua kelompok yang disebut penjilat dan pemarah. Selalu ada bahan bakar yang membuat mereka bisa melontarkan pujian yang kemudian disiram dengan hujatan.
Dominasi dua kelompok terpolarisasi di ruang publik ini membuat mereka yang tak peduli menjadi semakin tak peduli. Sementara kelompok kritis juga berpikir dua kali untuk mengkritisi.
Sebab bukan tidak mungkin dengan mengkritisi hasilnya malah bully-an baik dari kelompok penjilat maupun pemarah.
Dan soal urusan bully membully baik kelompok penjilat maupun pemarah adalah ahlinya.
Alhasil dalam kondisi seperti ini hanya mereka yang punya nyali yang berani mengkritisi keadaan negeri ini, berdiri di tengah tanpa niat menyenangkan para penjilat dan membuat suka kaum pemarah.
Jumlah kaum ini sangat sedikit.
Sumber gambar : news.detik.com








