Apa yang membuat Bung Karno dikenang sebagai pemimpin besar Indonesia?. Ide dan pikirannya.

Bung Karno memimpin negeri setelah kemerdekaan untuk meletakkan dasar-dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai seorang pembaca berbagai buku dan ilmu pengetahuan Bung Karno dengan jeli melihat perkembangan jaman.

Dari bacaan itu kemudian Bung Karno menentukan visinya, visi yang merupakan hasil pemikiran dan permenungan yang kemudian dikenal oleh rakyat dalam bentuk istilah dan  singkatan-singkatan. Ada banyak singkatan yang dikenang muncul dari Sukarno seperti Manipol Usdek, Nasakom, Jas Merah, Marhein dan lain-lain.

Sukarno dan pemimpin lainnya yang sama-sama gemar buku merumuskan Indonesia di masa depan dari bacaan-bacaan yang luas. Kecintaan Sukarno pada buku ditandai lewat adanya perpustakaan-perpustakaan di tempat-tempat pengasingan atau pembuangannya.

Berhasil meletakkan pondasi kebangsaan, menyatukan negeri kepulauan dengan semua keberagamannya dari Sabang sampai Merauke. Satu hal yang patut terus dijunjung dari Sukarno dan pemimpin lainnya waktu itu adalah keberhasilannya menjadikan ide kesatuan, bhineka tunggal ika terwujud dalan Negara Kesatuan Republik Indonesia hingga saat ini.

Ide ini unik dan agung karena dibanding dengan negara-negara besar lainnya, Indonesia bukanlah negara kontinental sehingga tantangannya lebih besar. Indonesia adalah negara kepulauan yang bersuku-suku, berbahasa dan beragama beda-beda.

Kenyataan sebagai negara kepulauan dengan penduduk yang beragam menjadi sulit untuk dipimpin dengan kekuasaan. Maka ide dan pengetahuanlah yang mesti memimpin. Dan semangat inilah yang kemudian diwujudkan oleh Sukarno dan teman-temannya.

Pada akhirnya Sukarno jatuh karena ingin memimpin dengan kekuasaan. Demokrasi terpimpin yang digagas olehnya kemudian diterjemahkan dalam kecenderungan ingin berkuasa selamanya.

Diganti oleh Suharto, yang memimpin Indonesia ketika jaman memasuki masa modern, dinamika kepemimpinannya mulai berubah. Di masa awal kepemimpinannya Suharto mengembangkan gagasan pembangunan dalam jangka waktu 30 tahunan. Suharto merumuskan Garis Besar Haluan Negara dan konsep pembangunan lima tahunan yang bertujuan membawa rakyat Indonesia tinggal landas.

Meleburkan segala perbedaan dalam semangat budaya nasional, Suharto berhasil membawa banyak perubahan lewat konsepsi pembangunan. Ada loncatan kesejahteraan yang berhasil dilakukan dimasa kepemerintahan Suharto. Namun pada akhirnya Suharto juga jatuh karena kemudian memimpin dengan kekuasaan.

Orde reformasi dimulai dengan penegasan bahwa Indonesia akan berjalan dalam koridor demokrasi. Hanya saja 20 tahunan setelah reformasi perjalan, pemimpin Indonesia paska Suharto ternyata tidak mempunyai gagasan-gagasan besar, ide-ide yang teruji soal bagaimana Indonesia kedepan.

Indonesia kemudian berjalan secara organik, tanpa ide dan rencana bersama yang adekuat. Dinamika Indonesia seperti menunggang angin dan gelombang peradaban dunia. Terombang-ambing seperti kapal yang mati mesin di tengah samudera.

Reformasi tidak berjalan dengan baik, bahkan ada kecenderungan reformasi dikorupsi. Kita akrab dengan jargon-jargon demokrasi namun dalam prakteknya demokrasi ternyata tidak operasional. DNA oligarki tertanam kuat dalam tubuh bangsa Indonesia.

Presiden Jokowi yang memimpin di era migrasi digital, memang mampu membuat atmosfer pemerintahan akrab dan erat dengan teknologi informasi serta komunikasi. Pemerintah gesit merumuskan idiom-idiom berbau digital seperti government 4.0, smartcity, desa digital dan lain-lain.

Namun prestasi tidak dibangun dengan hal itu, yang berbau digital masih jadi lipstik dan chasing belaka karena fokus yang dikejar oleh Presiden Jokowi tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan di masa pemerintahan Presiden Suharto.

Pembangunan infrastruktur yang adalah kewajiban negara terus dijadikan mercusuar untuk membuat terang nama dan derajad pemimpinnya.

Setelah kemerdekaan hingga sekarang, pembangunan infrastruktur besar-besaran selalu melahirkan masalah, terutama masalah lingkungan. Namun masalah ini tak pernah benar-benar diseriusi sehingga para pihak yang bertanggungjawab pada pembangunan tidak menemukan solusi dan inovasi tentang bagaimana membangun tanpa merusak atau merubah lingkungan secara frontal.

Peradaban telah memasuki abad digital, namun perilaku kita sebagai bangsa dan negara masih berkutat pada model peradaban kuno yang bertumpu pada asset sumberdaya alam. Meski dalam keseharian kita akrab dengan berbagai istilah terkini namun produk utama ekonomi kita masih berbasis pada ekstraksi sumberdaya alam.

BACA JUGA :  Beliau Ini Menteri Kehutanan atau Pekerjaan Umum?

Bicara soal masa depan peradaban manusia, Yuval Noah Harari menyebut 3 fase penting yang mempengaruhi peradaban dan praktek ekonomi serta kepemerintahan.

Pada fase pertama yang disebut dengan peradaban kuno, kemanusiaan dan masa depan dibangun dengan pondasi penguasaan tanah. Aset terpenting pada masa itu adalah tanah. Para penguasa tanah yang menjadi pemimpin.

Akhirnya tanah yang maha luas hanya dikuasai oleh sekelompok orang tertentu. Masyarakat terbagi dalam dua kelas, yaitu bangsawan dan rakyat jelata atau bahkan budak. Sebagai penguasa pimpinan bangsawan yang kemudian disebut raja atau sebutan lainnya juga menjadi penguasa pengetahuan. Sistem pengetahuan pada masa itu adalah pengetahuan yang berbasis kekuasaan. Pengetahuan lain diluar pengetahuan itu akan diberangus.

Para intelektual, cerdik pandai, pujangga dan lainnya merupakan bagian dari kekuasaan. Mereka mengabdi kepada penguasa. Siapapun yang mengembangkan sistem pengetahuan diluar kekuasaan akan terancam dihukum, termasuk dihukum mati.

Kondisi ini mengelisahkan dan kemudian memunculkan perlawanan disana-sini. Konsentrasi aset pada penguasa dan kekuasaan penguasa yang meliputi segala lini kehidupan digugat. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi akhirnya pemerintahan yang berbasis pada kelas bangsawan digulingkan. Mulailah dikenal sistem pemerintahan demokrasi. Pemerintahan yang terdesentralisasi.

Lahirlah fase kedua, dimana peradaban dibangun dengan sistem pemerintahan yang berbasis masyarakat sipil. Dan aset terpenting bukan lagi tanah melainkan mesin, alat produksi untuk menopang industrialisasi.

Namun sayangnya lagi-lagi aset penting ini terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Selain sebagai penguasa aset produksi, kelompok ini juga menguasai pengetahuan. Dengan uang yang mereka punyai mereka bisa mengembangkan pusat penelitian sendiri, menggaji para peneliti dan ilmuwan untuk menemukan formula, sistem atau teknologi untuk dikuasai secara eklusif oleh mereka.

Pemerintah yang mestinya membela kepentingan rakyat banyak sering kali terjepit diantara kepentingan masyarakat luas dan kaum industriawan. Hanya saja pemerintah cenderung berada dipihak kaum industriawan, ketimbang rakyat yang hanyalah pekerja. Kelas sosial yang tumbuh pada masa ini adalah kaum kapitalis dan proletar.

Ketimpangan sosial dan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat ini melahirkan kritik yang diawali oleh Karl Marx. Dengan tegas Marx menyebut kapitalis adalah jahat karena memeras manusia lain yang lebih lemah untuk mengakumulasi keuntungan pribadi. Manusia lain diperlakukan sebagaimana layaknya mesin, diekploitasi tenaganya tanpa imbal balik yang manusiawi.

Kapitalis kemudian dilawan oleh komunisme. Namun komunisme dalam berbagai bentuk ternyata tak cukup kuat untuk melawannya.

Beruntung tanpa bendera komunisme sekalipun  ternyata masyarakat dunia merasakan dampak akibat praktek kapitalisme. Muncul berbagai macam tuntutan agar dunia makin adil, peradaban lebih berpihak pada kemanusian, masa depan kehidupan dan juga bumi.

Hanya saja peradaban dunia belum menemukan model pemerintahan terbaik selain demokrasi dalam berbagai variannya.

Mungkin sudah mulai ada model-model tertentu yang belum punya nama. Bukan hanya soal nama melainkan juga siapa yang mesti memimpin, siapa yang dipimpin. Semua belum serba terang, walau sebenarnya ciri-ciri regimnya mulai kelihatan.

Regim itu adalah regim data. Sebuah model peradaban yang menempatkan data sebagai aset terpenting. Data yang bukan hanya akan melahirkan produk semacam gadget, mobil, fashion, material konsumsi dan jasa lain melainkan juga produk yang mengarah pada rekayasa tubuh, otak dan pikiran.

Regim data ini akan dikelola dengan kecerdasan buatan dan learning machine sehingga akan menghasilkan algoritma yang mau tidak mau akan dipatuhi oleh semua orang. Tidak bisa digugat dan hanya dikuasai oleh pembuatnya.

BACA JUGA : Istilah Penting Sehubungan Dengan COP 26

Dimana posisi Indonesia pada formasi regim data ini?.

Secara tampakan kita tidak tertinggal dalam mengikuti trend. Warga Indonesia umumnya melek internet, jumlah smartphone bahkan lebih banyak dari penduduknya. Netizen Indonesia juga dikenal mengilai media sosial dan sangat aktif memakainya.

Beragam aplikasi yang diluncurkan oleh para pengembangnya segera akan mendapat pemakai di Indonesia. Kini dalam dunia perdagangan, toko dan belanja online telah menjadi pengalaman sebagian besar warga Indonesia.

Itu semua mengambarkan betapa kita adalah pemakai atau konsumen teknologi yang loyal. Kita bersama tumbuh menjadi spesies penggila trend. Mudah terjebak dalam tampakan atau penampilan sehingga lupa substansi dan pondasinya.

Dalam soal data, aset terpenting abad ini kita masih berkutat soal validitasnya. Jangankan bicara pemanfaatan, mengumpulkannya saja sudah kesulitan.

Soal kontrol data, berkali-kali kita melihat bahwa pemerintah dan stakeholder lainnya kesulitan untuk mengontrol. Sulit karena tidak menguasai. Alhasil yang terjadi hanya chaos, data dan informasi terus disoal serta menimbulkan konflik.

Bicara soal data, yang menguasai dan mengontrol data tidak lagi pemerintah melainkan sebuah entitas yang telah melampaui batas-batas negara. Entitas yang lahir dan muncul dengan kesadaran global, dunia yang satu dan terhubung.

Entitas semisal google, facebook dan lainnya yang mempunyai berbagai macam platform layanan, disadari atau tidak telah menyedot data dari para pemakainya. Data yang valid yang kemudian menjadi sebuah produk untuk menghasilkan uang yang tak terbatas lewat berbagai layanan.

Dan kini siapa yang menguasai data akan menguasai dunia, bahkan bisa menentukan bagaimana masa depan dunia serta kehidupannya.

Dokter Ryu Hasan menyebut penemuan teknologi komputasi membuat revolusi dalam dunia biologi. Sebagai ilmu pasti, biologi kembali kepada science ketika para ahli mulai menyadari bahwa kerja otak ternyata seperti komputer. Lahirlah neuroscience yang kemudian merontokkan pemahaman lama dalam biologi dan kesehatan.

Pengabungan antara revolusi teknologi informasi dan revolusi biokimia kemudian memungkinkan ilmuwan untuk meretas manusia dan kemanusiaan dalam cara yang baru, cara yang bersandar pada algoritma hasil pengabungan antara infotech dan biotech.

Lagi-lagi, sayangnya negara tak cukup punya kemampuan dan mungkin juga perhatian untuk mengeluti bidang ini. Elon Musk justru mendahului dengan mendirikan Neuralink, sebuah perusahaan neuroteknologi yang bertujuan mengembangkan antarmuka otak dan komputer terimplantasi.

Ketika kode-kode biokimia organisme bisa diretas maka kemanusiaan, kehidupan dan masa depan juga akan bisa diretas oleh sistem komputasi yang maha besar karena ditempatkan di cloud.

Kita menempatkan impian dan harapan di awan, sementara Google, Amazon, Alibaba, Aple, Huwaei dan lainnya menempatkan data disana. Data yang akan menentukan masa depan kemanusian, kehidupan dan planet bumi.