KESAH.IDTak ada demo yang tak ditunggangi, apalagi di masa sekarang ini saat media sosial menyediakan ruang bagi setia orang untuk menjadi influencer, orang terkenal. Yang berkepentingan dengan demo semakin meluas, terutama gerombolan mereka yang ingin memperluas jangkauan, meningkatkan jumlah viewer. Demo bukan lagi jadi jalan untuk panjat sosial bagi kaum aktivis sosial politik, tetapi juga mereka yang ingin ternama di jagat maya.

HP saya bermasalah dan tukang servicenya sungguh lemot, sudah lewat 15 hari belum ada kabar bagaimana nasibnya, tetap mati atau bisa dihidupkan kembali.

Memakai HP darurat dengan merek yang sudah lama saya tinggalkan, saya merasa kurang nyaman dengan User Intefacenya. Maka saya jarang membuka jejaring media sosial dengan HP darurat itu.

Karena mengakses media sosial dengan laptop maka dalam banyak hal saya tertinggal.

Tak mungkin saya terus mantengin layar laptop, walau gadget ini masuk dalam kategori mobile hanya saja tak sepraktis HP.

Hanya saja dengan semua keterbatasan, toh saya masih bisa merasakan demo besar-besaran yang dilakukan oleh masyarakat beberapa waktu terakhir ini berbeda dengan masa-masa sebelumnya.

Di waktu lalu, demo besar atau yang membesar selalu dikonsolidasi oleh kelompok tertentu. Ada sekolompok orang yang merencanakan dengan berbagai pertimbangan yang dimatangkan dalam sebuah konsolidasi.

Ada demo tunggal misalnya demo yang dilakukan buruh, demo guru, demo perangkat desa dan demo lainnya. Jika demonya bersifat plural, maka akan dilabeli dengan demo koalisi atau aliansi. Siaran persnya jelas, demo dilakukan oleh siapa, siapa-siapa yang terlibat dan apa tuntutannya.

Demo yang dipersiapkan matang biasanya sudah disertai dengan safeguards, sebuah panduan keamanan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti jika kemudian dipukul mundur oleh polisi, kemana arah yang akan dipakai untuk lari dan dimana titik berkumpul untuk berlindung dari kejaran polisi.

Panduan safeguards dirancang berdasarkan analisis terhadap SOP Polisi dalam mengamankan demonstrasi. Polisi pada awal biasa akan menyambut demonstran, membiarkan demonstran berorasi atau menyampaikan aspirasi. Kemudian polisi akan memediasi, mempertemukan antara demonstran dan para pihak yang dituntut untuk bertindak. Umumnya alot, karena polisi biasa menyukai perwakilan.

Mediasi bisa berhasil tapi juga sering gagal.

Setelah sekian lama, terutama menjelang senja, Polisi akan selalu mengupayakan agar demonstrasi bubar. Ketika permintaan itu disampaikan dan biasanya disambut dingin oleh demonstran, perlahan-lahan polisi akan melakukan tekanan.

Tekanan akan semakin ditingkatkan ketika mobil komando ditarik ke belakang dan kemudian digantikan oleh mobil water kanon di depan.

Peringatan untuk menunjukkan polisi akan serius menekan, biasa disampaikan dengan menembakkan gas air mata. Lontaran gas air mata biasanya akan membuat demonstran terburai, kerapatan barisan di depan memudar. Polisi kemudian akan memajukan barikadenya.

Hanya saja demonstran di bagian depan sudah makin piawai menghadapi lontaran gas air mata. Ada yang mengambil dan balik melempar ke polisi, atau bahkan membalas dengan serangan petasan lontar.

Perang lontaran bisa berlangsung beberapa saat.

Ambulance dan tim kesehatan mesti bersiap, sebab beberapa saat kedepan kemungkinan akan terjadi chaos.

Chaos biasanya dimulai dari serangan air oleh kendaraan water kanon. Barisan biasanya buyar ketika mobil tanki dengan pompa tekanan tinggi itu merangsek ke depan. Di  belakang water canon itu ada barisan polisi dengan berbagai atribut yang siap memukul mundur para demonstran.

Jika barisan demonstran tak terkonsolidasi, gerakan mundurnya bisa tercerai berai. Kelompok pecah kecil-kecil dan dikejar gerombolan polisi ini biasa akan kena hajar. Polisi biasa akan main sabet dengan pentungan entah karet atau rotan.

Dalam pengejaran polisi dengan cepat akan melakukan profiling. Yang dianggap pentolan dan terkejar, akan dikepung dan dengan segala upaya akan diamankan. Bukan hanya pentungan yang bakal diterima, tapi juga bogem, bahkan injakan.

BACA JUGA : Kopi Revolusi

Dalam kasus tertentu yang terjebak bukan yang dikejar melainkan polisinya. Polisi yang balik dikejar, hingga kemudian demonstran, polisi dan masyarakat umum berbaur di jalanan.

Kasus Affan Kurniawan bisa jadi terjadi dalam situasi ini. Polisi terjebak di tengah-tengah, mengejar demonstran di depan namun dikejar demonstrans di belakang. Kendaraan lapis baja yang melindas Affan, sebenarnya tengah berusaha keluar dari kepungan massa.

Beberapa demo terkini memang terlihat acak. Demonstran datang karena seruan. Boleh dibilang yang mengundang masyarakat untuk datang bukan organ tertentu, entah koalisi, aliansi atau apapun. Sebenarnya yang mengundang masyarakat datang adalah media sosial.

Maka terlihat di dalam berbagai rekaman video yang beredar di media sosial, sebagian pendemo bisa disebut Bonek, Bondo Nekat.

Dengan modal nekat, agresivitasnya sulit untuk diduga.

Dipicu sedikit saja andrenalinnya langsung menyala dengan tindakan-tindakan spontan. Kerusakan yang ditimbulkan oleh aksi-aksi spontan tak terencana ini sungguh terasa.

Tapi demo yang diorganisir oleh media sosial ini jauh bisa lebih berbahaya, karena di tengah kerumuman itu ada banyak yang punya kepentingan untuk menaikkan viewer, meningkatkan engagement akun media sosialnya dengan menyiarkan siaran langsung.

Yang berbahaya adalah chalenge, yang menyiarkan siaran langsung menchalenge pemirsanya untuk melakukan apa demi meningkatkan jumlah pemirsa.

Misalnya dia menuliskan ini di siarannya “Kalau viewernya 1500, saya akan lempar batu ke mobil polisi,” atau “10.000 viewer, saya akan pecahkan kaca mobil polisi,”

Ini yang mungkin luput dari terawangan polisi dan intel. Sehingga demo yang meriah dinilai buah dari campur tangan kelompok asing, aseng atau lainnya. Ada invisible hand, kelompok kepentingan yang memandang dari jauh, padahal yang terjadi ada kelompok kepentingan viewer untuk panjat sosial dan mereka ada dalam gerombolan demonstran.

Dari tangan demonstran medsos ini amplifikasi aksi menjadi meluas. Bisa saja yang live pada aksi menyampaikan SOS, permintaan bantuan yang kemudian memanggil demonstran dadakan dalam jumlah besar. Mereka bergabung dan kemudian membuat demonstrasi makin meriah.

Rekaman gambar hidup yang disiarkan secara langsung dengan cepat akan menumbuhkan empati atau simpati. Masyarakatpun kemudian tergerak karena melihat gambar-gambar itu dan kemudian ikut bersolidaritas.

Sebuah demonstrasi yang terkonsolidasi sekalipun kemudian akan cair ketika banyak masa lain yang bergabung secara dadakan. Pertambahan demonstrans yang cepat membuat kumpulan yang mulanya punya ikatan kuat menjadi melemah, kelompok demonstran kemudian menjadi gerombolan.

Ketika sebuah kelompok menjadi gerombolan, yang didengar adalah perintah yang paling keras dan tegas. Ketika yang didengar adalah lempar, hancurkan dan bakar, batu, tendangan, bantingan dan api akan menyala.

BACA JUGA : Bom Waktu

Tapi ada fakta lain yang menarik selain aksi para ‘influencer’ wannabe, trend menjarah rumah anggota DPR dan Pejabat Pemerintah punya warna tersendiri.

Penjarahan berlangsung santai, tenang dan damai.

Salah satu penyebab demo memang kekecewaan pada polah, tindak dan perbuatan anggota DPR. Tapi menjarah rumah anggota DPR  siapa yang mengarahkannya?.

Disini analisis intelejen mestinya berjalan. Tapi sayang kaum intel juga terbelah, punya tuan masing-masing.

Jelas ada tangan-tangan profesional disini, mengarahkan massa mendatangi tempat tertentu dan kemudian memerintah untuk meninggalkannya setelah mengambil sesuatu.

Gedung wakil rakyat, kantor polisi, cenderung akan dibakar. Tapi rumah yang dijarah, walau nampak ada puing kehancuran, tak ada nyala api disini. Seperti ada kesadaran kalau dibakar maka api akan merembet, merugikan yang bukan menjadi sasaran.

Yang mesti diwaspadai, ini bisa memicu counter provokasi dari pihak lawan, agar kerusakan menjadi semakin massiv.

Yang kalah bisa saja mengambil strategi bumi hangus.

Apapun skenario yang dituliskan oleh para pihak yang menunggang angin, tak selalu akan mulus.

Pada tahun 1998, Suharto memakai beberapa kelompok berseragam hijau untuk melakukan operasi penyelamatan kekuasaan. Tapi pada akhirnya aksi yang dilakukan oleh kelompok ini justru membuat Suharto terjepit dan memaksanya untuk mengambil keputusan mengundurkan diri untuk menghindarkan bangsa ini dari kehancuran yang lebih parah.

TNI pernah disebut sebagai Partai Hijau dan Polisi juga disebut sebagai Partai Coklat. Aparat penegak hukum dan penjaga pertahanan keamanan ini sudah masuk jaring politik kekuasaan.

Berada dalam spektrum ini maka akan ada kelompok-kelompok di dalamnya yang akan menyanyikan mars “Maju Tak Gentar Membela Yang Bayar”.

Tentu bukan Tiongkok, Amerika Serikat, atau Jepang yang membayar. Ngapain mereka susah-susah dan buang duit untuk membuat gejolak di Indonesia. Kalau hanya dengan kipas-kipas saja sudah cukup.

Jadi kelompok yang paling mungkin rela mengeluarkan uang atau bakar duit untuk mengerakkan aksi, satu kemungkinan yang paling kuat adalah kelompok yang merasa nyaman, aman dan tentram di jaman Joko Widodo namun kemudian terusik di jaman Prabowo.

Aksi beberapa waktu lalu adalah investasi pertama dengan tujuan menimbulkan goncangan dan memancing aksi organik yang meluas dari Sabang sampai Merauke.

Jika aksi yang nampaknya organik meluas dan gejolak serta goncangan timbul dimana-mana,  yang mengakibatkan polisi lumpuh, pemerintah lemah, maka akan diluncurkan investasi kedua untuk melakukan gerakan politik. Gerakan yang akan memaksa penguasa untuk tunduk atau melindungi kepentingan mereka.

Yang berkepentingan memang belum terlalu jelas, karena momentumnya tepat, tepat karena masyarakat sudah muak dengan perilaku elit-elit politik yang nampaknya bahagia sejahtera namun kebijakannya membuat rakyat terjepit, terhimpit dan tertekan.

Sudah saatnya kita melawan para penunggang gelombang. Agar aksi-aksi ini bisa menghasilkan perubahan. Apapun ujungnya nanti jangan sampai perubahan yang terjadi hanya melestarikan kepentingan tertentu. Kelompok bangsat yang menguasai ekonomi politik Indonesia dari belakang layar.

note : sumber gambar – KOMPAS