KESAH.ID – Ada banyak tokoh yang bisa dikategorikan sebagai inspirator hidup berbangsa dan bernegara bagi Indonesia. Namun Gus Dur menjadi salah satu yang utama dan tetap relevan untuk menjadi benchmark atas tantangan hidup berbangsa dan bernegara hingga hari ini. Keberanian Gus Dur untuk tidak populer karena pembelaan pada mereka yang tertindas, kaum minoritas atau yang terpinggirkan teramat jarang ditemui pada tokoh-tokoh lainnya, termasuk mereka yang tengah berkuasa pada hari ini.
Seorang teman dengan benar menggambarkan diri saya ketika mengatakan “Dia ini bakal marah kalau tiga orang yakni Gus Dur, Messi dan Marc Marquez, direndahkan, dihina atau dicela,”
Saya memang nge-fans dengan Gus Dur, Messi dan Marc Marquez. Dan sebagai fanboy memang wajib hukumnya membela walau yang sebenarnya saya bela adalah perasaan suka saya sendiri.
Gus Dur, Messi dan Marc Marquez tak perlu dibela. Sama seperti Gus Dur sering mengatakan bahwa Tuhan juga tak perlu dibela, lha wong kekuatan kita jauh lebih dibawahNYA.
Dari 3 orang yang saya idolakan itu, Gus Dur sudah mangkat. Beliau meninggal pada tanggal 30 Desember 2009, 14 tahun yang lalu.
Dan sejak beberapa tahun lalu, teman saya meminta pada saya untuk hadir dalam acara Haul Gus Dur untuk memberi testimoni. Selalu gagal karena biasanya pada akhir tahun saya pulang mudik.
Tapi tahun lalu karena saya sudah lebih dahulu mudik sebelum akhir tahun maka saya bisa memberi testimoni perihal Gus Dur dalam Haul Gus Dur.
Dan tahun ini karena saya juga tidak mudik, saya kembali diminta untuk berbicara dalam peringatan Haul Gus Dur. Yang kali ini mengundang saya adalah Komunitas Gusdurian. Saya sendiri meski mengagumi Gus Dur dan sering mempengaruhi orang lain untuk turut mengagumi Gus Dur namun tidak bergabung dengan Komunitas Gusdurian.
Bukan apa-apa, karena ketika Gusdurian lahir, saya berteman dengan Darwis, sehingga saya lebih memilih menjadi Darwisian. Tidak ada masalah prinsip, ini hanya soal perkoncoan saja.
Toh biarpun bukan Gusdurian saya juga tetap nderek Gus Dur.
Kenapa mesti Gus Dur, bukankah banyak tokoh lainnya yang juga hebat?.
Dari pelajaran sejarah, saya tahu Mahatma Gandi adalah tokoh yang hebat. Gandi melawan penjajahan Inggris di India dengan gerakan anti kekerasan. Lewat ahimsa, hartal, satyagraha dan swadesi, Gandi melakukan perlawanan pada kolonial Inggris yang menyengsarakan hidup rakyat India.
Di Amerika Latin ada Che Quevara, seorang dokter kelahiran Argentina yang berkelana keliling berbagai negara dan melihat penderitaan, kemiskinan, kelaparan, penyakit dan lainnya yang membuat warga menderita.
Berkembang menjadi seorang gerilyawan, Che Quevara kemudian mengerakkan revolusi sosial kala bergabung dengan Fidel Castro di Kuba. Kemenangan Revolusi Kuba membuat Che menghantar Che menjadi pejabat tinggi, pernah menduduki jabatan menteri hingga menjadi Duta Besar Keliling Kuba. Dalam banyak kesempatan pidatonya, Che Quevara selalu mengkritik politik luar negeri Amerika Serikat dan politik apartheid di Afrika Selatan.
Tokoh lain yang mengagumkan dan mirip Mahatma Gandi adalah Nelson Mandela. Ditahan dengan vonis seumur hidup dalam penjara karena tuduhan sabotase dan persekongkolan untuk mengulingkan pemerintah, Nelson tetap melakukan perlawanan dalam dalam penjara.
Setelah 27 tahun berada dalam penjara, Nelson kemudian dibebaskan oleh FW De Klerk yang menganggap politik apartheid telah gagal. De Klerk dan Nelson Mandela kemudian berbincang serta melakukan negosiasi untuk membentuk pemerintah multiras di Afrika Selatan. Atas inisiatif itu De Klerk dan Nelson Mandela dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian.
Sebenarnya masih banyak tokoh lain yang mengagumkan. Namun ketika membaca Gus Dur semua keutamaan dan nilai-nilai dasar yang diperjuangkan para tokoh revolusi sosial dunia ternyata ada dalam diri Gus Dur, maka tidak alasan untuk tidak mengaguminya, mendalami pemikiran serta meniru praksis yang dilakukannya.
BACA JUGA : Dilarang Dan Kembali Datang Kuasai Tokopedia
Sebagian besar orang Indonesia mengenal Gus Dur sebagai Presiden terpilih dengan jabatan yang tidak lama. Gus Dur masih dipilih oleh MPR yang waktu itu ogah memilih Megawati meski PDIP yang memenangkan pemilu.
Menurut ceritanya ada juga tokoh lain yang berniat mencalonkan diri namun dihambat-hambat juga. Hingga kemudian muncul istilah poros tengah, dimana Gus Dur dipasangkan dengan Megawati.
Dalam masa kepresidenannya yang tidak lama, Gus Dur tetap mampu menunjukkan dirinya sebagai sosok yang punya magnet luar biasa. Durasi kepemimpinan yang teramat singkat mampu memberikan kemajuan besar untuk iklim sosial politik di tanah air.
Jika umumnya Presiden menambah-nambah Kementerian, Lembaga, Badan dan lainnya untuk mengakomodir tim sukses, Gus Dur justru membubarkan Departemen Penerangan. Kementerian ini di masa orde baru memang lebih difungsikan sebagai corong pemerintah dan menjadi lembaga sensor yang suka mengekang kebebasan pers.
Langkah berani lainnya yang dilakukan oleh Gus Dur adalah mengusulkan pencabutan Tap MPRS No. XXV Tahun 1966 tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan Penyebaran Paham Komunisme, Marxisme dan Leninisme. Selain mendorong kebebasan pers, Gus Dur juga mendorong kebebasan untuk berideologi.
Komitmen Gus Dur pada hak asasi manusia memang tak perlu diragukan lagi dan Gus Dur berani mengambil resiko untuk memperjuangkannya.
Soal kebebasan beragama misalnya, Gus Dur yang adalah sosok pemimpin organisasi muslim terbesar di Indonesia sering di demo oleh organisasi atau kelompok muslim sendiri.
Gus Dur kerap di demo karena langkahnya yang dipandang kelewat berani, termasuk dalam membongkar kerak dan sumbatan tafsir, kebijakan, mitos atau perilaku di masa lalu yang menghambat ke-Indonesia-an dan penerapah HAM yang murni serta konsekwen.
Salah satu yang monumental dan membuat Gus Dur dijadikan sebagai ‘wali’ oleh masyarakat keturunan Thionghoa adalah ketika Gus Dur menetapkan Hari Imlek sebagai hari libur nasional. Khonghucu kemudian diakui secara resmi sebagai salah satu agama resmi di Indonesia.
Dan Gus Dur yang memulai karirnya sebagai seorang guru, juga dianggap pahlawan oleh para pahlawan tanpa tanda jasa. Gus Dur menaikkan gaji dan penghargaan pada para guru yang menjadi sokoguru pendidikan.
Namun keberanian Gus Dur melakukan berbagai perubahan nampaknya tidak seiring sejalan dengan kemauan para elit lainnya. Bisa jadi mereka menunggu kecipratan kue karena telah menghantar Gus Dur ke kursi presiden. Tapi Gus Dur tak peduli.
Gus Dur barangkali bukan hanya dianggap tak memberi keuntungan, kebijakan-kebijakannya bahkan dianggap membahayakan kepentingan para elit.
Dan akhirnya para elit kembali bersatu, kalau dulu menaikkan Gus Dur, kini mereka kemudian menjadi yang paling terdepan untuk menurunkan Gus Dur.
Kelompok elit ini berani bersatu untuk menurunkan Gus Dur karena mereka tahu kalau Gus Dur tak akan melawan. Gus Dur bukan tipikal orang yang mau mengangkangi kekuasaan.
Benar, Gus Dur pun tidak melawan. Kemunculan terakhir di depan istana bahkan menjadi monumental. Gus Dur tampil dengan celana pendek, seolah mau mengatakan datang dan pergi dari istana tetap sebagai orang yang biasa dan biasa-biasa saja.
Sikap Gus Dur yang tidak melawan adalah pertanda kecintaannya pada Indonesia. Gus Dur tak mau hanya karena dirinya, bangsa Indonesia akan saling memerangi saudaranya sendiri.
BACA JUGA : Moto GP 2024 Akankah Marc Marquez Pecahkan Rekor Baru?
Saya sendiri tak punya pengalaman interaksi langsung dengan Gus Dur. Walau begitu saya tak bisa menyangkal bahwa Gus Dur mempunyai dampak besar terhadap hidup saya terutama pergulatan dalam soal ke-Indonesia-an.
Sebelum membaca Gus Dur, saya lebih dahulu membaca So Hok Gie dan Ahmad Wahid. Keduanya punya impresi besar yang menghantar saya pada pemikiran tentang multikulturalisme. Tapi keduanya sudah tiada sehingga praksis tidak saya alami.
Gus Dur terutama pemikirannya baru saya kenali setelah tamat SMA. Saat saya menyeberang lautan untuk melanjutkan pendidikan di sebuah sekolah tinggi. Di gedung perpustakaan yang beberapa bukunya masih menyisakan bekas peluru, saya mulai membaca tulisan-tulisan Gus Dur yang dimuat di majalah Prisma.
Kumpulan tulisan Gus Dur di majalah Prisma menjadi saksi perjalanan intelektualitas organik Gus Dur yang kemudian berpindah dari Jawa Timur untuk tinggal di Jakarta. Gus Dur masuk dalam kelompok intelektual pembaharu yang waktu itu bergabung di LP3ES.
Gus Dur yang juga mulai aktif di PBNU itu dengan cepat berkembang, gagasan dan pemikirannya menarik banyak pihak hingga kemudian selain menulis, Gus Dur juga kerap diminta menjadi pembicara dalam berbagai acara.
Lahir dengan garis keturunan yang mestinya bisa punya privilege, namun Gus Dur yang merupakan cucu pendiri Nahdatul Ulama dan putera Menteri Agama membangun kompetensinya dengan jalan sendinya sendiri.
Kelak saya kemudian merasa lebih dekat dengan Gus Dur ketika mulai bergabung dengan komunitas interfaith, di dalam komunitas ini saya mengenal sahabat dan teman-teman Gus Dur yang kerap menceritakan perihal A sampai Z -nya Gus Dur, termasuk gurauan-gurauannya yang menyegarkan.
Tentu saya belajar meng-Indonesia bukan hanya dari Gus Dur, ada banyak sosok lainnya yang juga saya jadikan panutan. Tapi Gus Dur menjadi Istimewa karena sosoknya yang multidimensional. Ya, sulit untuk mengambarkan Gus Dur secara tunggal, dia mencintai hampir semua hal yang berkaitan dengan kemanusian.
Gus Dur piawai mengomentari mulai dari musik, sepakbola hingga budaya dan hal-hal rumit lainnya. Namun semua dikemukakan dalam bahasa yang sederhana dan manusiawi. Gus Dur bukan pengamat yang ndakik-ndakik, bukan filsuf yang mbulet karena tampil sebagai sosok yang apa adanya dan istiqomah sederhananya.
Bahkan ketika mencapai kedudukan tinggi Gus Dur tetap tampil apa adanya, termasuk yang paling apa adanya adalah tidak mengenggam kekuasaan. Tabiat demikian teramat langka untuk mereka-mereka yang rajin menyatakan cintanya hanya untuk Indonesia.
Buat saya, apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh Gus Dur merupakan acuan untuk mempertanyakan sejauh mana saya sudah meng-Indonesia.
note : sumber gambar – WWW.KOMPASIANA.COM







