Pada Senin, 08 Februari 2021 malam, saya nongkrong di Djong Book & Coffee. Kedai ini ada di Jalan Perjuangan 2, tak seberapa lama dari ujung Jalan Pramuka, Samarinda.
Nongkrong kali ini bukan sekadar untuk menyesap segelas kopi, tapi untuk ngobrol tentang seni dan sastra. Tajuk obrolannya bernama Mantra (Malam Apresiasi Seni dan Sastra).
Kok seni dan sastra, bukankah sastra adalah bagian seni?. Iya juga, mungkin agar sesuai saja dengan singkatannya. Atau karena kegiatan ini diinisiasi oleh 4 orang yang cinta puisi, maka sastra menjadi ditekankan plus seni pada umumnya.
Mantra bukanlah acara awarding, melainkan laku untuk menghadapi kegelisahan dan kecemasan atas apresiasi terhadap seni utamanya puisi. Puisi yang semakin hari semakin kehilangan roh relevansi sebab mulai langka kehadirannya dalam hidup sehari-hari.
Jadi mantra adalah kegiatan literasi, puisi bukan hanya ditulis dan dibaca melainkan juga dibincang pengkaryaannya.
Mantra malam itu adalah yang pertama dan akan dilanjutkan dengan malam-malam berikutnya.
Sebagai yang pertama saya merasa gembira, mantra tak seperti kebanyakan kegiatan literasi lainnya yang lebih rajin memposting foto-foto penuh gaya di berbagai platform media sosial.
Habis Nafas
Soal puisi, saya mencoba memutar kembali perjalanan waktu. Saya lahir di jaman puisi masih cukup berwibawa. Menulis dan membaca puisi itu keren.
Di setiap kelas pada tingkat sekolah dasar, siswa waktu itu akrab dengan deklamasi. Membaca puisi diiringi musik dan disertai dengan gaya.
Seperti banyak anak-anak lainnya saya juga menulis puisi. Terutama ketika mulai berani ‘surat-suratan’ dengan bidadari yang menarik hati.
Hingga kemudian bersama teman-teman lain yang suka puisi bersekutu dalam Kopi Basi (Kelompok Pengemar Baca Puisi). Sampai sekarang saya masih mengemari kopi basi, bukan baca puisi tapi benar-benar minum kopi yang telah didiamkan semalaman.
Cukup lama saya mengeluti puisi, membaca Chairil Anwar, Rendra, Sutarji Calzom Bahri, Mustofa Bisri, Danarto dan masih banyak lagi.
Sampai dengan jaman kuliah saya masih membaca puisi dalam pentas, baik dibaca begitu saja maupun diteaterikalisasi.
Perlahan puisi surut. Puisi tak garang lagi. Paska reformasi puisi seperti kehabisan nafas. Senandung puisi makin lirih, hingga kemudian mati suri.
Ada yang berusaha terus memelihara, menjaga kehadirannya termasuk di berbagai platform media sosial.
Buku puisi masih terus terbit. Kebanyakan dalam bentuk antologi. Namun jika ada antrian orang membeli buku puisi jelas adalah keajaiban.
Seperti banyak bentuk kesenian lainnya terutama seni tradisi yang pelan-pelan mati. Terus menerus menghadirkan dalam ruang publik adalah satu-satunya cara agar puisi dan lainnya bisa bertahan.
Soal menghadirkan sebagai sebuah panggilan, aktivisme atau komoditi itu adalah pilihan. Yang penting disadari soal idealisme tidak selalu identik dengan tak melakukan monetiasi.
Bagaimana Menjadi Relevan
Sesuatu ada karena dibutuhkan. Kehadirannya relevan dengan keadaan sejaman atau dianggap penting untuk masa depan.
Ada banyak hal kemudian luruh, berganti dengan yang lainnya karena ditelan jaman.
Tentu ada yang disesali bahkan ditangisi. Tapi larut dalam nestapa menangisi senjakala hanya akan membuat kita prihatin tanpa berbuat apa-apa.
Puisi sejatinya akan tetap relevan karena lewat puisi berbagai ungkapan terus bisa digaungkan. Yang paling mudah, puisi kerap berhubungan dengan kegalauan. Dan galau adalah abadi.
Puisi juga jalan untuk melakukan refleksi. Jalan mundur ke belakang untuk mengenali hari ini, tetapi juga lompatan untuk menerawang masa depan.
Lewat puisi kita juga bisa menyampaikan kritik. Sentuhan yang menggelitik. Dan banyak hal bisa serta harus dikritik agar kehidupan bersama jadi semakin baik.
Puisi tentu saja harus ditulis, tetapi penyampaian tidak selalu harus dalam bentuk tulisan dan lisan. Jaman ini adalah jaman mix dan hybrid. Jadi agar relevan, syair puisi bisa disyiarkan dalam pendekatan multimedia mix.
Kolaborasi menjadi kunci. Melibatkan sebanyak mungkin orang dengan berbagai latar belakang.
Dan jaman telah membuktikan sebuah karya kolektif akan lebih bertahan dan relevan.
Semakin banyak yang terlibat maka daya jangkau dan daya cengkramnya akan lebih luas serta dalam.
Saya tahu, sedikit atau bahkan tak ada anak anak sekarang yang ingin menjadi penulis puisi. Dalam dunia yang serba cepat menjadi reflektif memang tidaklah hebat.
Saya yakin dunia dan kemanusian butuh puisi. Sebab lewat puisi kita tetap bisa mempertanyakan hidup dan kehidupan.
Tapi mungkin saja kelak kita akan berpuisi dengan mengatakan “Oke Google, buatkan puisi tentang rindu untukku,








