Ketika komunitas manusia masih sederhana, dimana hampir semua kebutuhannya bisa dipenuhi sendiri atau kelompoknya, belum diperlukan alat tukar berupa uang.

Kemudian berkembang dan ada berbagai kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi sendiri. Maka siapa yang punya apa, bisa menukarkan dengan apa yang dibutuhkan. Muncullah sistem pertukaran yang disebut barter.

Lama kelamaan barter tidak mencukupi. Sebab sering kali yang akan dipertukarkan tidak sebanding. Antara barang dan jasa misalnya.

Muncullah gagasan tentang uang. Sesuatu yang didalamnya punya nilai yang setara dengan barang atau jasa yang hendak dibeli atau dipakai.

Untuk mewakili nilainya, maka uang perdana berbentuk koin dari logam yang berharga. koin dibuat dari emas, perak atau perunggu.

Pada masa-masa kelahiran agama abrahamis, mata uang koin dari emas, perak dan perunggu inilah yang dipakai.

Mata uang itu dinamai dirham, dinar, syikal dan lain sebagainya sebagaimana dicatat dalam teks kitab suci maupun teks pendukung lainnya.

Dalam perkembangannya uang koin ini terasa berat dan juga tidak praktis serta makan tempat. Hingga kemudian dibuat mata uang yang disebut flat currency, terbuat dari kertas yang nilai instrinsiknya tidak besar.

Agar bernilai maka uang kertas itu harus ada jaminan. Jaminannya adalah emas yang disimpan di bank sentral atau tempat lainnya.

Namun emas sebagai cadangan atau jaminan pencetakannuang kemudian dihapuskan. Uang kemudian dicetak berdasarkan proyeksi produktifitas ekonomi sebuah negara.

Otoritas keuangan kemudian mencetak uang dari hasil proyeksi itu. Jika ternyata uang yang dicetak ternyata lebih tinggi dari produktifitas maka nilai uangnya akan turun. Akan tetapi jika jumlah uang yang dicetak lebih rendah dari produktifitas maka nilai uang akan naik.

Naik turunnya nilai uang kemudian memunculkan perdagangan uang yang disebut dengan trading.

Selain itu muncul bisnis-bisnis lain yang terkait dengan uang, seperti simpan pinjam, investasi dan lain sebagainya.

Dan seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mulai muncul uang elektronik. Uang yang tidak punya wujud. Uang jenis inilah yang saat ini berkembang dan kemungkinan dalam jangka waktu 20 hingga 30 tahun ke depan uang kertas atau jenis lainnya tidak akan dicetak lagi.

Rumah uang bukan lagi brankas atau dompet melainkan super komputer, gadget dan kartu dengan chip, bar code atau QR code.

Moralitas dan spiritualitas uang

Segala sesuatu sekarang berhubungan dengan uang, UUD atau ujung ujungnya duit begitu kata banyak orang. Pendek kata uang adalah segala-galanya.

Pun demikian uang juga menjadi salah satu mesin perusak. Karena ingin memperoleh dan mengumpulkan banyak uang orang melakukan aneka kejahatan. Mulai dari cara yang paling kasar hingga paling halus.

Salah satu yang paling dirusak oleh uang adalah moral. Persahabatan hancur karena uang, hubungan keluarga renggang karena uang, kekuasaan rusak karena uang.

Nah, maka muncullah pemikiran dari sekelompok orang. Uang sekarang ini merusak karena jenis yang dipakai tidak sesuai dengan yang ditulis dalam teks suci.

Mereka berpikir bahwa uang yang merusak akan teratasi jika aktifitaa ekonomi memakai uang sebagaimana yang tertulis dalam teks-teks suci.

Sekilas dasar argumentasinya benar. Tapi sebenarnya terlalu menyederhanakan persoalan dan ahistoris.

Teks suci ditulis dengan didasarkan wahyu pada masyarakat jaman itu. Maka yang tertulis adalah uang pada masa itu. Uang koin entah itu dirham, Dinar atau syikal bukanlah uang suci melainkan uang yang dipakai saat itu.

Jadi moralitas soal uang tidak ada hubungan dengan jenis uang melainkan niat dari mereka-mereka yang berurusan dengannya.

Bahwa dinamika uang saat ini tidaklah adil memang benar. Ada uang kuat ada uang lemah. Ada uang yang bisa dipakai dimana saja, ada juga uang yang tak lalu dimana-mana.

Namun sekali lagi ini bukan soal uangnya melainkan sistem yang berkembang di belakangnya.

Maka perubahan yang diperlukan bukan soal menganti mata uang melainkan mendorong dan mendesakkan sistem ekonomi yang lebih adil. Pasar yang setara antara produsen, pedagang dan pembeli.

Apapun jenis uangnya selama keserakahan dan ketamakan masih merajalela maka uang akan tetap menjadi salah satu perusak moral dan spiritual.

Dan ngomong-omong jika uang kembali dibuat dari emas rasanya Amerika Serikat akan kembali menjadi negara yang punya paling banyak uang. Uang yang ditambang dari bumi Indonesia