Beberapa tahun lalu adalah biasa jika malam-malam terjadi keributan di kantor penerbitan koran. Yang berkelahi biasa pembuat dummy iklan dengan redaktur yang sudah repot-repot menulis berita tapi ruangnya dirampas oleh iklan.
Kisah perdebatan, adu urat bahkan mungkin sampai baku jotos itu kini tak ada lagi. Koran cetak sebagian besar sudah susah cari iklan. Jangankan dapat iklan bertumpuk-tumpuk, mempertahankan agar tetap terbit saja sudah setengah mati.
Di masa orang lebih suka menonton ketimbang membaca, televisi lebih menarik untuk pemasang iklan. Selain lebih menarik karena menampilkan audio visual, iklan di televisi juga bisa disampaikan lewat acara interaktif.
Meski begitu, kini posisi televisi sebagai platform untuk memasang iklan juga terancam dengan berbagai platform iklan di internet atau media sosial. Pada platform internet semua orang bisa beriklan, tak sedikit pula yang mengiklankan sesuatu secara sukarela. Iklan di internet juga lebih terpersonalisasi, terarah pada sasaran iklan.
Dalam dunia periklanan {pemasaran} di internet dikenal istilah influencer, buzzer dan endorser.
Model iklan di internet ada yang merupakan kelanjutan dari iklan di media-media konvensional sebelumnya tetapi sebagian lain merupakan hal yang baru. Sosial media adalah media baru, yang tidak berisi berita atau informasi yang dicari oleh reporter dan ditulis oleh redaktur melainkan dibuat sendiri oleh pemilik akun. Selain tentang dirinya sendiri, pemilik akun juga bisa berbagai apapun yang menarik dari sumber lain.
Media sosial menarik karena orang bisa berbagi informasi baik berupa teks, audio dan visual. Hingga kemudian menjadi rujukan informasi untuk banyak orang. Hingga kemudian media sosial yang bersifat user content generator melahirkan banyak kreator.
Kreator- kreator yang mempunyai banyak pengikut dan karyanya dilihat, ditonton oleh banyak orang akan mendapat reward. Ada rewards yang diberikan oleh platform namun ada juga oleh pihak lain yang memakai kreator sebagai penyampai iklan.
Salah satu platform yang memberikan rewards kepada kreator adalah youtube. Karya kreator di youtube bisa dimonetasi dengan cara dipasangi iklan oleh pihak youtube. Jumlah rewards akan tergantung pada jumlah penonton, isi konten dan berbagai hal lainnya yang ditentukan oleh youtube.
Facebook juga tumbuh sebagai media sosial yang memperoleh banyak pendapatan dari iklan facebook. Dan sekarang pada video-video yang diupload di facebook juga mulai disisipkan iklan.
Penonton Bayaran
Nonton dan dibayar adalah hal yang biasa. Seperti dulu kerap disaksikan dalam berbagai acara live di televisi. Kerumunan dalam acara di studio, yang akan diarahkan untuk bersorak, berjoget dan bertepuk tangan juga bertingkah konyol adalah penonton bayaran. Mereka dibayar untuk membuat acara menjadi hidup.
Sekarang di internet juga beredar ajakan untuk bergabung dalam aplikasi tertentu yang akan memberi bayaran setelah menonton iklan. Enak sekali nonton iklan dan dapat uang.
Benarkah?. Mungkin saja benar hanya saja siapa yang membayar?. Adalah bertentangan dengan ide dasar iklan jika pemasang iklan terutama iklan produk membayar orang untuk menonton. Sebuah iklan pasti menginginkan orang untuk menonton dengan sukarela. Sebab iklan ditujukan bukan untuk memperoleh viewer semata melainkan juga orang tertarik dan kemudian memberi.
Dahulu ada semacam tabloid yang berisi iklan saja dan tabloid semacam itu tidak dijual melainkan dibagi gratis di berbagai tempat strategis.
Namun mungkin saja penonton iklan dibayar, karena mereka diminta masukan atas iklan tersebut. Atau penonton konten tertentu juga bisa dibayar karena pembuat konten sedang mengejar subscriber dan viewer agar kemudian bisa dimonetisasi oleh youtube.
Tapi sekali lagi pembuat iklan dan pembuat konten sejati pasti menginginkan penontonnya adalah orang-orang yang tertarik, tergerak menonton bukan karena iming-iming bayaran.
Dan yang lebih ajaib para pengembang platform nonton iklan dan beroleh bayaran ini dihembus-hembuskan sebagai bisnis, bisnis mudah untuk siapa saja. Tak sedikit pula yang dalam upaya untuk merekrut pemakai anggota baru menabur kata-kata religius seperti bisnis berkah dan amanah.
Apapun itu selama mengiming-imingi uang selalu menarik untuk banyak orang. Dan bisnis yang berbasis pada memperoleh uang dengan cara gampang, tak pakai modal dan ketrampilan selalu memunculkan pemasar-pemasar yang militan. Yang akan menjadi tentara pembela yang galak ketika ada yang mengkritisi model bisnis seperti itu.
Apakah bisnis nonton iklan dan kemudian mendapat uang itu penipuan?. Belum tentu demikian. Hanya saja bisnis semacam ini janggal terutama dari logika periklanan.
Tapi begitulah bisnis meskipun tak logis tetap saja bisa berkembang dan yang mengelola mendapat untung. Selama belum ada yang merasa dirugikan dan merasa ditipu maka bisnis apapun belum bisa dikatakan sebagai sebuah bentuk kejahatan atau penipuan.
Sayangnya banyak kejadian nanti terbukti sebagai kejahatan atau penipuan ketika yang tertipu atau dirugikan jumlahnya sudah banyak. Kejadian seperti itu terus berulang mirip penipuan berkedok menggandakan uang yang selalu saja masih menelan korban.








