Jumlah pulau bernama yang telah didaftarkan oleh Pemerintah Indonesia ke Perserikatan Bangsa Bangsa sebanyak 16.056 pulau. Sementara jumlah danau sebagaimana termuat dalam Buku Series Indetifikasi Danau Indonesia terbitan tahun 2020 tercatat 5.807 buah. Dimana 1.022 adalah danau alami, 1.314 danau buatan dan 3.471 belum terindentifikasi sebagai buatan atau alami.
Bisa jadi jumlah danau dan pulau akan bertambah andai danau dan pulau di Daerah Aliran Sungai Mahakam dimasukkan. Di DAS Mahakam mungkin ada ribuan danau yang merupakan danau alami dan buatan. Danau alaminya berupa danau kaskade yang jumlahnya puluhan dan danau lain yang tidak berhubungan dengan aliran sungai Mahakam. Sementara danau buatan yang jumlahnya sangat banyak adalah lubang bekas galian tambang dan galian lainnya yang kemudian tidak ditutup.
Sementara pulau di sepanjang aliran sungai dan danau kaskade Mahakam jumlahnya mungkin ratusan. Ada pulau ditengah sungai seperti Pulau Kumala di Tenggarong dan Pulau Harapan di Muara Muntai, ada pulau di danau dan ada lebih lagi banyak pula di wilayah delta Mahakam.
Dalam rentang waktu tertentu jumlah pulau ini bisa bertambah karena aliran air Mahakam membawa sedimen yang lama kelamaan akan mengendap berkumpul dan kemudian membentuk daratan.
Kemungkinan besar Kabupaten Kutai Kartanegara yang mempunyai paling banyak danau dan pulau di Provinsi Kalimantan Timur.
Selama ini danau yang dikenal dan selalu di sebut-sebut adalah Danau Jempang di Kabupaten Kutai Barat dan Danau Semayang serta Melintang di Kabupaten Kutai Kartanegara. Padahal masih banyak danau lainnya. Dan beberapa diantaranya mempunyai pulau.
Berikut ini 3 danau berpulau yang berada di Kabupaten Kutai Kartanegara atau di daerah yang lazim disebut sebagai Mahakam Tengah.
- Danau Kedang Murung/Tanjung Sarai
Terletak di Desa Kedang Murung, danau yang terletak tak jauh dari danau Semarang juga kerap disebut danau Murung. Sebutan lainnya adalah Tanjung Sarai karena terletak di hadapan perbukitan yang disebut Tanjung Sarai.
Berada di sisi kiri mudik sungai Mahakam, danau ini bisa dicapai melalui jalan darat dan juga jalur air dari Kota Bangun. Letaknya tak terlalu jauh dari sungai Mahakam. Anak sungai untuk masuk dari sungai Mahakam di kanan kirinya berdiri permukiman dan rumah-rumah walet. Rumah walet di sisi masuk paling ujung konon dimiliki oleh pengusaha yang mampu menghasilkan sarang 30 kilogram sebulan. Alhasil setiap bulan warga di sekitar dan sekolah selalu diberi sembako oleh sang pengusaha itu.
Setelah melewati permukiman dengan segera akan terlihat hamparan air danau yang dikelilingi oleh perbukitan yang cukup tinggi. Dan di dalam danau ada sekitar 4-5 pulau yang akan kelihatan jika danau terisi air. Namun jika danau surut maka pulau-pulau itu akan hilang menjadi perbukitan.
Oleh pemerintah desa, danau ini telah ditetapkan sebagai destinasi wisata. Dan konon salah satu rencananya adalah membangun jembatan yang menghubungkan antara Tanjung Sarai dengan pulau-pulau di danau tersebut.
- Danau Uwis
Seperti Danau Kedang Murung, Danau Uwis juga terletak di sisi kiri arah mudik sungai Mahakam. Danau ini juga berseberangan dengan Danau Melintang dan Danau Semayang. Letaknya di Desa Muara Wis, Kecamatan Muara Wis.
Masuk dari sungai Mahakam, perjalanan ke Danau Uwis akan melewati sungai yang kanan kirinya adalah ladang masyarakat. Masih ada pohon-pohon besar di kanan kiri sungai diperkaya dengan pohon kademba yang ditanam oleh warga. Jika beruntung dalam perjalanan akan bertemu dengan monyet yang berlompatan di atas pohon.
Sama halnya dengan Danau Kedang Murung, Danau Uwis juga tidak terlalu luas. Pulau-pulau di Danau Uwis terletak berderet pada sisi arah daratan. Danau ini juga dipromosikan oleh pemerintah setempat sebagai destinasi wisata. Di danau ini pernah dilaksanakan Festival Seribu Nusa pada tahun 2019, namun tahun berikutnya tak bisa dilaksanakan karena pandemic Covid 19.
Pulau di danau ini telah menghutan, banyak ditumbuhi pohon besar yang dihiasi oleh sulur pohon merambat. Tutupan vegetasinya cukup rapat. Hamparan pinggir pulau membentuk pantai yang indah. Cocok untuk bercengkrama karena tidak berlumpur.
Perjalanan ke danau ini bisa dicapai dengan moda transportasi darat kemudian disambung dengan perahu. Bisa dari Daerah Lebak Cilong, atau dari Kota Bangun Seberang.
- Kenohan Kahala/Danau Berambai
Sebutan danau dalam bahasa lokal adalah kenohan. Dan salah satu yang disebut dengan kenohan adalah Kahala. Dikenal juga dengan nama Danau Berambai, danau ini terletak di Desa Kahala, Kecamatan Kenohan.
Danau ini bisa dicapai dengan perjalanan darat yang disambung perahu melalui Jembatan Martadipura, melewati desa Muhuran, Sebelimbingan, Teluk Muda dan Tuana Tuha. Sementara untuk perjalanan melalui air bisa ditempuh melalui danau semayang dari Kota Bangun melewati Desa Pela/Desa Sangkuliman, Desa Semayang dan Desa Tubuhan.
Perjalanan lewat air akan jauh lebih menarik karena akan menyeberangi Sungai Mahakam, melewati Sungai Semayang, Sungai Tubuhan, masuk kembali ke Danau Semayang baru kemudian masuk ke Sungai Kahala.
Sepanjang perjalanan akan ditemui alur sungai yang kanan kirinya masih rimbun dihiasi aneka pepohonan besar dengan bentuk batang yang menarik. Setelah melewati padang kumpai {pulau rumput} di Danau Semayang, memasuki Sungai Kahala akan disambut dengan Lorong berupa hutan dengan dominasi pohon Prupuk.
Deretan pepohonan yang terendam air itu menjadi pembatas antara danau dengan sungai.
Semakin masuk kearah daratan, jenis pepohonan semakin bervariasi. Di pinggiran banyak tumbuh pohon Jelutung, Rengas, dan Mangga-Manggaan yang menjulang tinggi. Memasuki area danau akan ditemui juga gerombolan tumbuhan Pandan yang tegak cukup tinggi.
Pulau di danau ini tidak setinggi pulau di Danau Kedang Murung dan Danau Uwis. Pada beberapa pulau telah berdiri rumah walet. Berbeda dengan danau lainnya disekitar Kenohan Kahala ada area tempat tumbuhnya anggrek langka dengan warna bunga putih, hijau kehitaman dan merah. Wilayah ini dinamai sebagai Solong Pinang Merah yang harus dicapai dengan cara jalan kaki dari tepian danau. Jaraknya ada yang mencapai tiga jam perjalanan.
Di kawasan ini tumbuh berkelompok kurang lebih 7 jenis anggrek dan juga kantong semar. Daratannya juga menarik karena sebagian berupa pasir putih. Menurut kesaksian warga area Solong Pinang Merah jauh lebih menarik dibandingkan dengan Kersik Luway di Kutai Barat.
Masih banyak danau berpulau lainnya di Kabupaten Kutai Kartanegara kesemuanya potensial untuk dikembangkan menjadi lokasi destinasi wisata maupun area perlindungan keanekaragaman hayati. Pun juga dengan danau-danau buatan seperti eks lubang tambang yang di beberapa tempat juga sudah dikembangkan menjadi area wisata buatan.
Namun masih banyak pekerjaan rumah terutama untuk menjaga kelestarian danau alami dan pulau-pulaunya. Intervensi dengan alasan pengembangan jika tidak dilakukan dengan hati-hati dan bijaksana justru akan menimbulkan perusakan.
Danau dan pulau-pulaunya selama ini merupakan sumberdaya bersama, maka pemanfaatan untuk tujuan tertentu perlu dirumuskan model tata kelola dan legalitasnya. Pemerintah setempat mesti melakukan penataan ruang dan penguatan kelembagaan serta kapasitas masyarakat. Sehingga nantinya pengelolaan kawasan akan dilakukan oleh masyarakat dan memberi manfaat serta keuntungan untuk masyarakat setempat.


note : tulisan ini merupakan catatan perjalanan kesah.id dengan fasilitasi dari Bidang Pengembangan Karya Seni Budaya/Ekraf, Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur.








