Tidaklah salah jika Mahakam disebut sebagai anugerah air kehidupan yang maha besar. Menyebut Mahakam berarti mengungkapkan tentang sungai, danau dan rawa yang membentang mulai dari wilayah Kabupaten Mahakam Hulu, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda.

Membincang Mahakam baik sebagai sungai, danau kaskade dan rawa-rawa hutannya sungguh unik dan menarik. Daerah Aliran Sungainya yang seluas kurang lebih 7,8 juta hektar membelah wilayah Kalimantan Timur. Dihuni oleh 298 jenis burung dan 147 jenis ikan air tawar.

Mahakam juga merupakan rumah terakhir Pesut {Orcaella brevirostris}, mamalia atau lumba-lumba air tawar yang jumlahnya saat ini tidak lebih dari 100 individu.

Maka Mahakam sebagai ekosistem baik dari sisi DAS, Sungai dan anak-anak sungainya, danau kaskade dan rawa berhutan gambut merupakan ruang hidup bersama. Mahakam adalah sumberdaya pendukung kehidupan bersama karena sumberdaya atau jasa ekologi yang disediakan olehnya.

Dalam rentang yang panjang, Mahakam menjadi saksi dari pencapaian pengetahuan dan pengalaman hubungan timbal balik antara komunitas manusia di sepanjang wilayahnya. Hubungan timbal balik yang berlangsung dari waktu ke waktu dengan berbagai kisah yang memang tak selamanya selalu indah.

Menjadi saksi dari tumbuh kembangnya peradaban air dan juga pemerintahan di Kalimantan Timur, Mahakam masih menyisakan banyak misteri yang belum terkuak. Namun 10 fakta berikut ini bisa menjadi pengetahuan dasar untuk mengenal, mencintai dan kemudian melindungi Mahakam agar tetap menjadi sumberdaya yang lestari, air kehidupan yang abadi.

  1. Nama Mahakam

Tidak ada sumber atau catatan yang pasti sejak kapan sebutan Mahakam dikenal. Ada yang menyebutkan bahwa sebutan ini berasal dari orang luar, pedagang dari India dan Tiongkok yang telah berniaga dengan Kerajaan Martapura {Muara Kaman}.

Mahakam kemungkinan berasal dari bahasa Sansekerta yakni Maha dan Kama. Maha artinya besar atau agung, Kama artinya cinta. Maka mahakama berarti cinta yang besar atau agung. Sebutan mahakama pernah dikenal luas oleh masyarakat Samarinda karena ada sebuah bioskop terkenal yang memakai nama itu.

Namun ada pula yang mengkaitkan nama Mahakam dengan Meekam atau makam. Maka Mahakam diartikan sebagai makam besar. Dan ada juga dugaan lain yang mengkaitkan nama Mahakam dengan Mulawarman dan Muara Kaman.

Apapun asal-usul dan makna kata Mahakam, satu hal yang pasti sistem Mahakam sebagai satu kesatuan adalah lumbung atau sumber air yang sangat besar. Air yang konon bertuah karena akan memanggil kembali mereka yang telah meminumnya . Jadi tidaklah mengada-ada jika kemudian Mahakam dimaknai sebagai anugerah air kehidupan yang besar dan agung untuk Kalimantan Timur bahkan Indonesia karena airnya yang bermuara di lautan juga membawa kesegaran serta kekayaan nustrisi yang menyehatkan lautan.

  1. Sadar Mahakam

Sebagai satu kesatuan ekosistem, Mahakam bukan hanya sekedar sungai terpanjang kedua di Indonesia. Mahakam juga berhubungan dengan danau dan rawa-rawa disepanjang alirannya. Ada hamparan rawa berhutan yang maha luas di sepanjang aliran Sungai Mahakam dengan tutupan vegetasi berupa pepohonan yang membentuk hutan dataran rendah.

Ada juga danau yang disebut sebagai danau kaskade di kanan kiri alirannya, jumlahnya kurang lebih 76 buah. Tiga danau besar yang terkenal adalah Danau Jempang, Danau Semayang dan Danau Melintang. Dua nama terakhir sebenarnya merupakan satu kesatuan. Jempang, Semayang dan Melintang kerap disebut-sebut karena ukurannya sangat besar, puluhan ribu hektar.

Sementara Danau Wis, Danau Berambai, Danau Siran, Danau Kedang Murung dan lain-lain kurang dikenal karena ukurannya tak seluas ketiga danau diatas.

  1. Ombak Danau Mahakam Bak Lautan

Yang disebut dengan danau di sepanjang aliran Sungai Mahakam berbeda dengan danau danau pada umumnya. Rangkaian danau yang kemudian disebut sebagai danau kaskade Mahakam adalah genangan yang timbul karena luapan air sungai Mahakam dan anak-anak sungainya. Danau-danau ini merupakan ekosistem lahan basah yang terkoneksi dengan rawa-rawa disekitarnya.

Oleh karenanya jika musim kemarau dan air sungai Mahakam surut, danau-danau ini bisa mengering dan kemudian berubah wajah dari genangan air air yang luas menjadi bak padang pasir atau padang rumput ketika kemudian tumbuh rerumputan diatasnya.

Dengan karakter seperti ini maka danau kaskade Mahakam tidaklah dalam, rata-rata kedalamannya sekitar 3,5 meter. Meskipun begitu danau danau ini tak bisa disepelekan karena walau tak dalam ternyata ombaknya tak kalah berbahaya dengan lautan.

Pada jam-jam tertentu ombak di danau kaskade Mahakam cukup besar, sehingga percikannya bisa membuat yang berada diatas perahu basah seluruh badan. Tidak sedikit pula perahu yang terbalik karena di saat tertentuk ombaknya bisa menimbulkan gelombang beberapa meter tingginya.

Siapapun yang ingin melintas diatas danau terutama dengan memotong arah tidak menyusuri lewat pinggiran mesti memperhatikan dengan seksama kapan danau akan berombak atau bergelombang.

Terkait dengan angin di danau yang besar selain bisa menimbulkan ombak juga bisa menjadi ancaman yang membahayakan bagi permukiman. Oleh karenanya di beberapa kampung bisa ditemukan semacam benteng, berupa dinding kayu yang berfungsi untuk menahan gempuran angin agar tidak langsung menerpa permukiman. Salah satu dinding penahan angin yang terkenal ada di Kampung Muara Enggelam.

  1. Rawa dan Hutan Gambut

Sebutan gambut merujuk pada dua hal yaitu ekosistem dan substrat.

Sebagai ekosistem yang disebut rawa atau hutan gambut adalah lahan basah yang tergenang dan umumnya berada di belakang tanggung sungai. Sedangkan sebagai substrat, gambut adalah kumpulan material organik yang tidak terdekomposisi dengan sempurna.

Karena substrat gambut maka ekosistemnya menjadi khas. Misalnya airnya kemudian berwarna merah kecoklatan. Tumbuhan dan biota air yang hidup juga bersifat khas sehingga pemandangan hutan atau rawa gambut menjadi unik serta menarik.

Secara essensial fungsi lahan gambut adalah sebagai penyimpan cadangan karbon terbesar dibanding dengan jenis lahan lainnya. Sementara dari sisi keanekaragaman hayati, lahan rawa dan hutan gambut menjadi tempat hidup berbagai macam tumbuhan dan satwa di Kalimantan Timur. Berbagai macam tumbuhan dan satwa langka serta endemik hidup di kawasan ini.

Dan secara sosioekonomi, lahan rawa dan hutan gambut adalah sumber penghidupan bagi masyarakat utamanya ikan tangkap air tawar, kayu untuk bangunan maupun sumber energi dan lain sebagainya.

Konsetrasi gambut yang terbesar di aliran sungai Mahakam berada di kawasan Mahakam Tengah, yang berada di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara. Area gambut berada di sekitar 5 kecamatan yang meliputi kurang lebih 30 desa.

Saat ini wilayah gambut ini terancam oleh alih fungsi lahan untuk dijadikan area perkebunan sawit. Sementara ancaman alami gambut adalah musim kemarau panjang, genangan yang mengering akan berisiko memunculkan kebakaran lahan. Kebakaran terakhir yang cukup besar terjadi antara tahun 97-98 yang menghangguskan tegakan pohon di hutan rawa gambut yang cukup luas.

  1. Urat Nadi Ekonomi dan Kebudayaan

Sejak abad ke 4, dijaman kerajaan Martapura, sungai Mahakam sudah menjadi perlintasan alat transportasi air untuk berniaga. Tak mengherankan jika kemudian tumbuh permukiman yang berkembang menjadi kota bandar di sepanjang alirannya.

Mulai dari Anggana, Samarinda, Loa Kulu, Tenggarong, Muara Kaman, Kota Bangun, Muara Muntai hingga Melak, Tering, Long Bagun dan seterusnya hingga Long Apari. Kota bandar ini kemudian menjadi pusat pemerintahan, ekonomi dan kebudayaan.

Sungai Mahakam dan anak-anak sungainya juga menjadi jalur migrasi bagi suku-suku pedalaman hingga kemudian menyebar ke berbagai penjuru di Kalimantan Timur.

Hingga saat ini sungai Mahakam menjadi alur transportasi utama hasil pertambangan batubara. Setiap hari ratusan ponton dengan gunung hitam diatasnya melintas dari hulu hingga hilir.

Seiring dengan tumbuhnya jalan raya, jalur niaga mulai berpindah ke jalan raya. Namun banyak juga yang masih bertahan, seperti angkutan hasil tambang, perkebunan dan hasil hutan. Pelabuhan sungai Samarinda juga masih bertahan, pusat-pusat keramaian dan ekonomi di sungai juga masih bisa ditemukan di Muara Muntai misalnya. Disana masih ada toko atau depot-depot besar yang berada diatas sungai.

Kebudayaan air dalam rupa permukiman diatas air dengan ekonomi berbasis pada ekosistem sungai, danau dan rawa juga masih bisa ditemukan. Salah satu yang terkenal adalah kampung Muara Enggelam dan kampung Melintang yang berada di Danau Melintang. Dua kampung ini sangat kental dengan kehidupan diatas air karena tak mempunyai daratan.

  1. Surga Ikan Air Tawar

Di sungai, danau dan rawa-rawa Mahakam hidup berbagai jenis ikan dan udang. Yang terkenal antara lain udang Galah, ikan Patin, Jelawat, Baung, Salap, Haruan, Papuyu, Puyau, Bentilap, Belida dan lain-lain.

Udang dan ikan air tawar ini ditangkap dan dijual sebagai ikan segar maupun ikan olahan, seperti ikan asap dan ikan kering/asin atau olahan yang siap santap dalam bentuk rabuk/abon.

Selain ikan tangkap, wilayah ini juga merupakan pusat dari budidaya ikan air tawar. Baik di sungai maupun di danaunya masyarakat membudidayakan ikan air tawar seperti ikan Nila dan ikan Mas di dalam keramba. Keramba juga dipakai untuk membesarkan ikan alam, seperti Patin, Baung, Toman dan lainnya sehingga punya nilai jual yang lebih tinggi.

Ekploitasi yang berlebihan, cara tangkap yang destruktif dan penurunan kualitas serta daya dukung lingkungan akibat alih fungsi lahan, pencemaran limbah terutama limbah domestik membuat beberapa jenis ikan dan udang menjadi langka bahkan sulit untuk ditemukan lagi.

Penurunan jumlah ikan juga disebabkan menurunnya fungsi bank ikan dimana danau-danau yang selama ini berfungsi sebagai reservat ikan mengalami krisis, baik karena pendangkalan yang ekstrim maupun kebakaran lahan gambut sehingga merusak tutupan vegetasi atau hutannya.

  1. Hotel Walet

Menyusuri kawasan Sungai, Danau dan Rawa Mahakam dengan mudah akan ditemukan bangunan-bangunan tinggi. Bak gedung beringkat, apartemen atau hotel. Bangunan itu adalah rumah Walet, yang dibangun untuk memberi hunian bagi walet liar agar bersarang didalamnya dan kemudian dipanen untuk dijual sebagai komoditas dengan nilai yang tinggi.

Banyaknya usaha rumah walet di kawasan Mahakam tidak lepas dari ketersediaan air yang berlimpah serta hutan-hutan rawa yang mempunyai banyak serangga sehingga Walet terpenuhi kebutuhan hidupnya.

Ada banyak jutawan atau bahkan milyader karena keberhasilannya mengusahakan rumah walet. Hanya saja jika pembangunan rumah walet tidak terkendali, keberadaannya bisa mengancam lingkungan hidup,karena konversi lahan yang berlebihan, penebangan kayu untuk bahan pembuat rumah walet dan pencemaran suara, karena rumah walet yang masih kosong akan dipasangi suara untuk memanggil walet agar mau datang bersarang.

  1. Pertanian Lahan Basah

Dalam budidaya tanaman pangan, Kalimantan Timur mengenal dua model pertanian yang ditemukan oleh masyarakatnya sebagai model adaptasi pada kondisi geohidrologis tempatan.

Model pertanian pada lahan kering dipraktekkan oleh masyarakat sekitar hutan. Model itu dikenal dengan sebutan ladang rotasi atau ladang berpindah. Dalam model ini petani akan melakukan budidaya tanaman dengan cara berpindah lahan dalam rentang waktu tertentu.

Lahan yang dipakai untuk bercocok tanam adalah lahan berhutan yang kemudian dibuka. Lahan bukaan ini akan mempunyai kesuburan alami berupa serasah atau humus hasil dekomposisi material organik yang sebelumnya menutupi area ladang. Setelah satu atau dua kali tanam, petani kemudian akan berpindah ke area ladang lain yang sudah ditinggalkan sejak beberapa tahun yang silam sehingga sudah menghutan.

Model berikutnya adalah pertanian lahan basah, yang dipraktekkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar sungai, danau atau rawa. Petani akan menanam pada areal yang tetap, areal yang sebelumnya ditutupi oleh air yang kemudian surut pada saat tertentu.

Di areal yang surut ini akan tersedia hamparan lahan yang siap ditanami. Kesuburan alamiahnya ada pada sedimen yang mengandung substrat atau nutrisi hasil dekomposisi material organik yang kemudian dibawa oleh air.

Di wilayah Mahakam, salah satu kampung yang masih mempertahankan pola pertanian ini adalah Kampung Muhuran yang diapit oleh danau Semayang, Sungai Mahakam dan anak sungai Mahakam yaitu sungai Belayan.

  1. Sumber Air Bersih

Sungai Mahakam adalah salah satu dari sedikit sungai permanen. Sungai yang sepanjang tahun airnya selalu berlimpah. Wilayah Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda paling diuntungkan dengan kelimpahan air sungai Mahakam ini.

Air sungai Mahakam di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda disedot sebagai air baku oleh Perusahaan Daerah Air Minum untuk diolah dan kemudian didistribusikan kepada masyarakat sebagai air bersih. Namun banyak pula yang menyedotnya dan memanfaatkan secara langsung.

Suplai air yang berkelanjutan ini tak terlepas dari keberadaan rawa-rawa dan danau di Mahakam Tengah, tempat sungai Mahakam meluapkan airnya, menahan dan menyimpan sementara dan kemudian mengambil kembali saat permukaan air sungai Mahakam menurun.

Keberadaan danau-danau yang jumlahnya puluhan dan luasnya ribuan hektar serta rawa-rawa dan anak sungainya, menjadi ruang tampung sementara air sungai Mahakam kala dalam kondisi berkelimpahan. Dengan demikian air sungai Mahakam tidak segera dialirkan ke laut.

Dalam konteks bencana, rawa dan danau di Mahakam Tengah adalah benteng pertahanan agar air sungai Mahakam tidak mengenangi area permukiman di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda.

Andai saja tidak ada rawa-rawa dan danau di Mahakam Tengah, niscaya Kota Samarinda dakan jadi kota yang tergenang air, kota banjir permanen karena luapan air sungai Mahakam yang melimpah ruah itu.

  1. Ekowisata

Ekosistem sungai, danau dan rawa Mahakam tak pelak menyajikan lanskap yang bukan hanya indah namun juga beragam. Interaksi masyarakat dengan lingkungan Mahakam juga melahirkan budaya hidup dalam bentuk pengetahuan dan ekpresi yang beragam.

Semua ini merupakan potensi wisata yang akan mampu memberikan keuntungan baik bagi pelaku dunia wisata maupun masyarakat serta lingkungan hidup. Dengan konsep wisata alam dan wisata kebudayaan, masyarakat bisa memperoleh pendapatan dengan cara yang tidak merusak alam, cara yang memastikan kondisi alamnya terjaga.

Dengan mengembangkan kawasan Mahakam sebagai kawasan wisata strategis dan eklusif, niscaya kekayaan alam, keanekaragaman hayati dan kebudayaan masyarakat Kalimantan Timur akan terjaga serta makin berkembang dengan cara-cara yang tidak merusak alam.

Wisata alam di kawasan Mahakam akan mempunyai nilai tambah karena bukan hanya soal keindahan melainkan juga kekayaan pengetahuan. Wisatawan bukan hanya akan melihat sajian lanskap alam yang unik tetapi juga bisa mempelajari atau bahkan meneliti sistem keairan, keragaman flora fauna, hutan dataran rendah dan banyak hal lainnya.

Dan yang paling penting selain kepuasan, dengan berwisata di kawasan Mahakam para wisatawan akan mulai memupuk kesadaran untuk mulai menjaga serta melestarikan alam. Sebab tak akan ada seorangpun yang telah berkunjung, menikmati dan melihat kehidupan di Mahakam rela melihat kekayaan dan keindahan alamnya dirusak.

Semoga sepuluh fakta tentang Mahakam ini akan menjadi pembuka kesadaran bersama kita betapa Mahakam yang adalah Daerah Aliran Sungai, Sungai, Danau dan Rawa adalah lumbung terbesar kehidupan di Kalimantan Timur yang tak akan habis jika dikelola secara berkelanjutan, dipanen tanpa merusak sumber-sumbernya.

Kekayaan bumi Kalimantan Timur sejatinya bukan minyak bumi, gas alam, batubara dan bahan tambang lainnya, melainkan jasa ekologi  atau layanan ekosistem yang tinggal dinikmati dan akan abadi selama kita merawat, menjaga dan melindunginya.

Rumah apung di kampung Muara Enggelam. rRumah ini berada di atas sungai Enggelam yang diapit oleh rawa {hutan} gambut yang seing terbakar saat kemarau panjang
Pemandangan indah di ‘pantai’ salah satu pula yang ada di Danau Wis, Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kartanegara

Note : Tulisan ini merupakan catatan hasil perjalanan kesah.id dengan fasilitasi dari Bidang Pengembangan Karya Seni Budaya/Ekraf Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim.