Ada adagium yang terkenal di Samarinda, bunyinya “Bilamana satu kali sudah terminum air Sungai Mahakam, pasti akan meminum untuk kedua kalinya,”. Ungkapan ini hendak mengatakan sesiapa saja yang datang ke Samarinda, cepat atau lambat pasti akan kembali lagi.
Sungai Mahakam yang panjangnya kurang lebih 920 km itu adalah sungai yang melewati sebagian wilayah Kalimantan Timur, mulai dari Mahulu, Kutai Barat, Kutai Kartanegara dan Samarinda. Air sungai ini adalah sumber air bersih bagi warga di sepanjang alirannya.
Begitu vitalnya sungai ini maka tak heran jika airnya dianggap bertuah, mampu memanggil orang untuk datang kembali. Tentu saja air Sungai Mahakam adalah air yang baik, air yang bermutu atau berkualitas sehingga mempunyai daya panggil. Akibatnya siapapun yang meminumnya akan merasakan kesegarannya, pengalaman yang kemudian tersimpan dan membuatnya rindu untuk kembali datang.
Tapi mungkin itu adalah cerita masa lalu, saat sungai airnya masih bisa diminum secara langsung. Dan cerita serupa meski dalam versi yang berbeda juga dipunyai oleh sungai atau sumber-sumber air lainnya di penjuru nusantara, saat dimana orang pada saat itu terbiasa menenggak air langsung dari sumbernya.
Sungai, sumur atau sumber air lainnya di masa lalu adalah sumber untuk pasokan air perish. Tak mengherankan jika kemudian sungai sebagai sumber air dan juga kehidupan melahirkan berbagai peradaban besar di dunia maupun nusantara.
Kerajaan-kerajaan besar di Nusantara tumbuh di dekat sungai atau sumber air. Seperti Sriwijaya yang diyakini dekat dengan muara Sungai Musi, Majapahit yang dibangun di hutan tepian Sungai Brantas, Kesultanan Kapuas yang berada di tepian Sungai Kapuas.
Dan di Kalimantan Timur, Kerajaan Martapura {Kutai Muara Kaman}, Sri Bangun, Sendawar dan Kesultanan Kutai Kartanegara berada di tepian Sungai Mahakam. Hubungan kerajaan dengan sungai sangat dekat. Kisah-kisah legenda asal mula kerajaan berhubungan dengan sungai. Pun nantinya dalam menyambut kelahiran, anak-anak yang dilahirkan pertama kalinya akan dimandikan di sungai.
Kedekatan antara sungai dan kehidupan terpatri dalam banyak kebudayaan. Sungai sering disebut sebagai air kehidupan, air yang sangat berharga. Tak heran jika ada yang menyebut sungai sebagai tirta amarta, tirta kencana, banyuurip dan seterusnya.
Sungai Mahakam salah satu artinya adalah anugrah cinta yang besar, berasal dari kata dalam bahasa sansekerta maha dan kama. Cinta dalam wujud air yang menghidupkan dan itu tercermin dalam wujudnya yang bisa dikatakan sebagai anugrah air kehidupan yang besar.
Oleh karenanya Mahakam kemudian kerap dianggap sebagai sungai yang keramat dan dihubungkan dengan kata meekam atau makam. Bukan hanya karena keganasan sehingga membunuh banyak orang melainkan karena hidup pasti berakhir dengan kematian, sehingga ketika ada kehidupan di sepanjang alirannya maka akan ada pula kematian.
Air Kematian
Adalah biasa bagi masyarakat dulu meminum air sungai secara langsung. Tapi sekarang mungkin akan mencengangkan. Jika dahulu meminum air Mahakam akan membuat orang kembali datang, mungkin kini jika kita meminum air Mahakam secara langsung maka kita juga akan kembali tetapi bukan ke Samarinda melainkan kembali kepada Yang Maha Kuasa.
Ya, karena di sungai kini jumlah sampah dan limbahnya sungguh mencengangkan. Setiap hari limbah baik padat maupun cair terus digelontorkan ke sungai. Limbah biologis, limbah domestik, limbah industri dibuang dan masuk ke sungai, jumlahnya sulit untuk dihitung dengan pasti.
Ambil contoh saja tinja, berapa ton jumlah tinja yang dibuang ke sungai setiap harinya?.
Dan tinja hanyalah salah satu dari yang rutin dibuang ke dalam sungai dari sekian banyak hal lainnya yang dibuang setiap harinya.
Akibatnya sebagian besar sungai pada saat ini berada dalam status tercemar berat. Sedikit sekali yang berkondisi baik dan lebih sedikit lagi yang mengalami perbaikan. Padahal dari jaman dahulu hingga sekarang sebagaian besar kebutuhan air bersih tetap dipasok oleh sungai. Kualitas air sungai sebagai sumber air baku yang kian memburuk tentu membuat biaya untuk mengolahnya sehingga menjadi layak konsumsi butuh biaya yang semakin besar.
Pemerintah boleh saja menerbitkan undang-undang atau peraturan yang berderet-deret. Namun terbukti undang-undang dan peraturan yang selalu menyertakan sanksi tidak membuat plastik, bangkai, tinja, air sabun, residu pupuk dan lainnya berhenti mencemari sungai.
Undang-undang, peraturan dan kebijakan gagal membuat masyarakat memuliakan sungai. Sebab undang-undang, peraturan dan kebijakan bukanlah alat penyadaran. Maka undang-undang, peraturan dan kebijakan tanpa bantuan pendidik, budayawan, agamawan dan kaum pengerak serta peduli lingkungan hanya akan menjadi deretan pasal dan ayat yang panjang serta tebal namun tak bermakna apa-apa.
Maka adalah tugas dari pendidik, budayawan, agamawan dan kaum pengerak serta peduli lingkungan untuk menyadarkan dan mendidik masyarakat agar kembali menjadi insan yang memuliakan sungai, sebab memuliakan sungai berarti memuliakan kehidupan.
Jadi jika Samarinda berkeinginan menjadi pusat dari peradaban baru maka salah satu langkah kuncinya adalah membangun keadaban dari penista sungai menjadi pemulia sungai.








