Maraknya industri tambang di Kalimantan Timur tentu saja memancing migrasi. Mereka yang datang mengadu nasib bukan hanya untuk bekerja secara langsung di sektor tambang melainkan juga sektor pendukung lainnya. Salah satunya adalah penyedia jasa kuliner.

Manusia tambang konon disebut manusia 777 artinya berangkat jam 7 {pagi}, pulang jam 7 {malam} dan berlangsung selama 7 hari dalam seminggu.

Dengan model aktivitas seperti ini maka untuk mereka yang bujangan jelas tak sempat masak dan tak sempat bersih-bersih rumah, apalagi cuci baju.

Ini adalah peluang untuk mereka yang punya naluri bisnis untuk menyediakan rumah kontrakan, bangsal, quest house yang terima bayaran kost bulanan, laundry dan warung makan.

Bukan hanya itu, hotel-hotelpun kebanjiran orderan karena tambang. Sebab ada banyak pertemuan baik bisnis maupun teknis yang dilakukan di ruang-ruang pertemuan hotel. Tamu-tamu penting dari perusahaan tambang juga kebanyakan menginap di hotel dan bisa berbulan-bulan.

Maka jangana heran jika di masa booming tambang salah satu sektor yang tumbuh dengan pesat di Kota Samarinda adalah sektor konstruksi. Ada banyak proyek pembangunan gedung untuk berbagai keperluan. Dan sektor ini juga banyak mendatangkan pekerja migran. Pekerja yang tentu saja tak sempat masak karena harus segera menyelesaikan borongannya.

Semua ini tentu saja menjadikan ekonomi di Kota Samarinda bergairah. Yang kena efek sibuk dan penghasilan yang cukup juga banyak. Jadi makan di restoran atau warung makan adalah hal yang biasa karena banyak yang tak sempat atau tak efisien jika harus masak sendiri di rumah.

Dulu ada cerita, orang di Samarinda kalau makan di restoran atau warung selalu takut nambah. Bukan karena takut gemuk melainkan takut membayarnya. Beberapa tahun lalu makan di restoran atau warung makan memang terasa mahal namun kini semakin banyak restoran atau warung makan yang mengklaim “Rasa Bintang Lima Harga Kaki Lima,”.

Kenyang Makan Debu

Sekarang coba tanyakan pada BPS, penyakit apa yang paling banyak diderita oleh warga kota Samarinda. Jawaban yang cukup lama bertahan alias selama bertahun-tahun menjadi juara adalah Infeksi Saluran Pernafasan Atas {akut/non spesifik}.

Jangan tanya pada BPJS, sebab jawabannya akan lain. BPJS akan menjawab penyakit yang paling banyak dibiayai alias menyedot kantong uang BPJS.

Banyaknya penderita ISPA dan terus bertahan selama bertahun-tahun menjadi cermin bahwa kondisi lingkungan Kota Samarinda adalah buruk. Utamanya dari sisi kualitas udara.

Udara yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia, mahkluk lain dan unsur lingkungan hidup lainnya disebut dengan udara ambien. Ini merupakan udara bebas di permukaan bumi pada lapisan troposfir. Dalam kondisi normal, udara ini akan terdiri dari gas nitrogen {78%}, oksigen {20%}, argon {0,93%} dan gas karbon dioksida {0,03%}.

Ada standard tertentu yang harus dipenuhi agar udara disebut sehat. Tentu saja tidak mungkin udara ini akan bebas dari pencemar. Namun dalam batas tertentu pencemaran masih ditoleransi {ambang batas}.

Pencemar udara ambien ini disebut udara emisi. Ini adalah gas buangan dari aktivitas kendaraan bermotor dan mesin industri. Udara emisi akan semakin buruk jika ditambah dengan partikel debu terutama debu-debu halus yang berasal dari aktivitas industri salah satunya adalah tambang.

Bukan hanya debu dari aktivitas pertambangan, pembangkit listrik tenaga uap yang memakai batubara sebagai bahan bakarnya akan mengeluarkan debu buangan yang disebut dengan fly ash. Debu terbang ini apabila terlepas di udara bebas akan berbahaya apabila terhirup oleh manusia karena mengandung banyak unsur kimia yang tidak baik untuk kesehatan.

Beberapa kali terjadi ramai-ramai soal debu tambang batubara di Samarinda dan sekitarnya. Debu yang berasal dari aktivitas pertambangan, konveyor dan hauling yang jaraknya tak jauh dari permukiman. Ada banyak lokasi tambang berada di dekat permukiman walau tak kelihatan karena berada disisi bukit bagian lainnya.

Biasanya ribut-ribut soal debu akan diselesaikan dengan rajin menyemprot jalan, tapi tidak semua jalan bisa disemprot karena banyak kali truk pengangkut batubara melewati jalan yang tak seharusnya. Oleh karenanya ditempuh jalan lain yaitu memberi kompensasi uang debu. Selain uang debu, jika aktivitas tambang terlalu dekat dengan masyarakat dan aktif 24 jam, atau aktif di saat masyarakat istirahat maka warga berpotensi untuk mendapat uang lain yaitu uang bising.

Uang debu plus uang bising kalau dihitung-hitung lumayan, bisalah Rp. 500,000 per bulan per kepala keluarga.

Cukuplah untuk makan di restoran walau setelah itu kenyang menghisap debu selama sebulan. Dan istirahat yang terganggu bakal bikin sering emosi, darah tinggi naik dan seterusnya. Makanya jangan heran jika kemudian penderita penyakit ISPA terus tinggi. BPJS pun juga terus mengeluh karena pengeluaran uang untuk penyakit yang berhubungan dengan tekanan darah dan emosi juga termasuk dari sepuluh jenis penyakit yang paling menguras uang BPJS.