KESAH.ID – Keyakinan bahwa pupuk adalah kunci produktifitas tanaman memang tidak salah. Namun ada faktor lainnya yang tak kalah penting yakni kesesuaian lahan. Ada banyak proyek pengembangan komoditas gagal karena dipaksakan untuk dilakukan di lahan-lahan yang tidak tepat. Akibatnya pengembangan lahan budidaya pangan besar-besaran malah menyebabkan degradasi lingkungan hidup.

Dalam debat keempat atau debat terakhir untuk calon wakil presiden sebelum hari pencoblosan pada pemilu 2024, Cawapres nomor urut 2, Gibran Rakabuming Raka berkali-kali mengatakan “Pupuk adalah kunci,”.

Salah satu tema debat memang soal pangan yang berkorelasi dengan tema lainnya yakni pembangunan pangan dan keberlanjutan lingkungan hidup.

Dalam konteks mewujudkan ketahanan pangan, semenjak jaman pemerintahan Suharto pemerintah telah melakukan serangkaian program pembangunan pangan yang dimulai dari ektensifikasi lahan pangan dan kemudian diteruskan dengan intensifikasi tanaman pangan lewat revolusi hijau.

Pada masa pemerintahan Suharto ada sebuah teori yang kemudian menimbulkan kekhawatiran. Teori Maltus {Thomas Robert Maltus} menyebutkan bahwa pertambahan penduduk akan mengikuti deret ukur dan produksi pangan akan mengikuti deret hitung.

Dengan demikian pertambahan jumlah penduduk akan lebih cepat dari pertumbuhan produksi pangan sehingga dalam masa tertentu dikhawatirkan akan terjadi kekurangan atau kelangkaan pangan. Jumlah pangan yang dihasilkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk.

Hal ini tentu mengkhawatirkan masa depan bukan hanya bangsa dan negara melainkan juga manusia.

Maka langkah yang ditempuh oleh pemerintah sedunia hampir sama yakni pembatasan pertumbuhan penduduk yang diistilahkan dengan family planning atau keluarga bencana dan pembangunan pertanian baik lewat ekstensifikasi maupun intensifikasi lahan tanaman pangan.

Teori Malthus tidak sepenuhnya benar, dalam sepuluh tahun terakhir ini ternyata banyak negara pertumbuhan penduduknya minus, bukan karena program keluarga berencananya berhasil melainkan karena perubahan cara berpikir masyarakat dan perilaku seksualnya. Seks semakin jauh dari prokreasi atau meneruskan keturunan.

Pada negara yang masyarakatnya masih menghormati pernikahan, muncul kecenderungan child free, menikah namun tidak ingin punya keturunan dengan berbagai macam alasan.

Jepang yang konon paling kritis, karena ada kecenderungan kaum mudanya mulai malas ngeseks.

Jika kecenderungan berlanjut itu maka bangsa atau manusia Jepang terancam punah.

Bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi sudah dekat untuk bisa ‘menciptakan’ manusia buatan, orang yang tak terlahir dari hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan, namun produk manusia seperti ini bukanlah manusia, melainkan post human.

Kembali ke soal kekhawatiran bahwa jumlah manusia lebih besar dan jumlah produksi pangan sekali lagi tidak terbukti. Produk pangan ternyata justru berlimpah, tidak ada lagi kelaparan absolut. Bahwa penghasil pangan memang tidak merata itu memang benar. Namun dengan pola distribusi dan transportasi yang semakin baik, kekurangan di satu tempat bisa segera dipasok dari tempat lainnya.

Ambil contoh Samarinda atau bahkan Kalimantan Timur, dimana produksi bahan pangan dalam arti seluas-luasnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan warganya. Namun tak pernah terdengar kekurangan pangan di Kalimantan Timur secara ekstrim.

Fakta lain soal kelebihan pangan adalah obesitas. Hampir sebagian besar negara-negara di dunia warganya mengalami kelebihan berat badan. Sehingga program diet menjadi salah satu program yang paling populer di dunia selain olahraga.

Benar bahwa sekarang ada kecenderungan soal kurang gizi atau stunting. Faktanya kejadian ini bukan diakibatkan oleh kurang makan atau kurang pangan. Stunting pada masa ini lebih dikarenakan karena kualitas makanan.

BACA JUGA : Yang Menyatukan Tapi Tak Diimani

Kembali ke soal ‘Pupuk adalah kunci’, slogan ini berkorelasi dengan stunting. Pemakaian pupuk, pestisida dan herbisida sintetik dalam jangka panjang ternyata menyebabkan hasil pertanian menjadi kurang atau bahkan tidak berkualitas karena mengandung banyak unsur berbahaya. Kadarnya telah melewati ambang batas.

Benarkah pupuk adalah kunci?. Benar jika yang dimaksudkan dengan pupuk adalah kesuburan.

Salah satu parameter dalam usaha pertanian atau budidaya tanaman adalah kesuburan lahan.

Lahan yang subur adalah tanah yang kondisinya mampu mendukung tumbuh kembangnya tanaman dengan komponen fisika, kimia dan biologi didalamnya. Kesuburan tanah selalu merupakan gabungan berbagai komponen yang kemudian kita sebut sebagai unsur hara atau nutrisi.

Setidaknya ada 16 unsur hara essensial yang dibutuhkan oleh tanaman. Beberapa diantaranya adalah karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N), kalium (K), kalsium (Ca), zat besi (Fe), tembaga (Cu), dan boron (B).

Setiap hari unsur hara dalam tanah akan diserap oleh tanaman sehingga makin lama makin habis, maka diperlukan asupan pupuk tambahan. Pupuk tambahan ini bisa berasal dari siklus alam dan pupuk buatan yang meliputi pupuk organik dan pupuk sintetik.

Kenapa saya tidak menyebut pupuk kimia dan non kimia?. Karena semua pupuk pada dasarnya kimia.

Dari antara semua pupuk itu mana yang terbaik?.

Tentu pupuk yang berasal dari siklus alamiah adalah yang terbaik, seperti yang ditunjukkan oleh masyarakat tradisional yang mempraktekkan perladangan rotasi.

Kelemahannya adalah penggunaan lahan yang tidak panjang, hanya satu atau dua kali tanam lalu harus diistirahatkan dalam waktu yang cukup panjang agar menghutan kembali.

Kenapa pupuk alamiah terbaik?. Karena lahan bisa ditanami tanpa mengolah tanah. Petani tradisional Kalimantan Timur misalnya tidak pernah mencangkul lahannya, tanaman ditanam pada lahan yang dilubangi dengan kayu bulat yang ujungnya diruncingkan atau nugal.

Kelebihan lain dari pupuk alamiah tkarena unsur haranya berasal dari sumberdaya setempat. Unsur hara diperoleh dari dekomposisi material organik yang berasal dari batang tubuh pohon atau tanaman setempat yang diurai oleh mahkluk pengurai yang berada di tanah. Dengan demikian bisa diperoleh secara gratis atau murah.

Hasil penguraian itu sebagian menjadi nutrisi dan sebagian lainnya menjadi material organik yang telah terdekomposisi menutupi permukaan tanah, menjadi mulsa untuk melindungi tanah dari paparan matahari langsung sehingga terjaga kelembabannya.

Tanah yang tertutupi humus juga akan membantu menahan dan menyimpan air hujan, baik di permukaan maupun pelan-pelan diresapkan ke dalam tanah.

Skema produksi pupuk alamiah ini bisa diadaptasi pada pertanian menetap dengan cara memproduksi sendiri pupuk dengan bahan-bahan organik, bahan yang ada di sekitar kita. Pupuk organik bisa diproduksi dari limbah/sampah rumah tangga, limbah/sampah peternakan dan limbah pertanian.

Pupuk organik yang diproduksi sendiri akan bisa diatur kandungannya berdasarkan kebutuhan lahan atau tanaman. Seperti halnya pupuk sintetik atau pabrikan.

Hanya saja petani kerap kali merasa memproduksi atau membuat pupuk sendiri terasa memberatkan sehingga lebih suka membeli pupuk sintetik.

Padahal pemakaian pupuk sintetik dalam jangka panjang akan membuat tanah atau lahan menjadi kritis. Pupuk sintetik memang mampu memberi nutrisi pada tanaman namun tidak mampu memelihara atau menjaga microorganiser atau mahkluk dekomposer di dalam tanah.

Salah satu dampak jangka panjang, tanah menjadi keras.

BACA JUGA : Siapa Sih Yang Nggak Suka Jambu?

Pupuk adalah kunci bisa menjadi petaka jika yang dimaksudkan adalah pupuk sintetik. Harganya juga semakin hari akan semakin naik, kemampuan pemerintah untuk mensubsidi juga semakin berkurang. Pada sisi lain subsidi yang tidak ditangani dengan baik justru rawan penyelewengan sehingga yang menikmati justru bukan petani.

Bukan cerita karangan jika petani yang mulai frustasi karena bertani tak lagi menguntungkan akibat modal produksi yang tinggi namun harga jualnya rendah atau fluktuatif kemudian lebih suka menjual lahannya, menjual modal kehidupannya.

Lahan tidak dipertahankan karena petani gagal membangun kemandirian dalam menghasilkan atau memenuhi kebutuhan pupuknya. Terus mencekoki petani dengan pupuk sintetik, selain melemahkan petani dalam jangka panjang juga membuat lahan menjadi tidak berkelanjutan. Produktifitas lahan semakin lama akan berkurang.

Tanpa direstorasi atau dibenahi lahan kemudian akan dianggap tidak produktif, ditinggalkan atau dibiarkan hingga kemudian dianggap lahan nganggur lalu dialih fungsikan.

Pemulihan lahan atau mengembalikan lagi kemampuan tanah untuk menghasilkan kesuburan alamiahnya mestinya disadari oleh para pengambil kebijakan agar tidak dengan mudah melakukan ekstensifikasi, membuka lahan baru dengan cara membabat hutan, merubah lahan gambut, rawa dan lainnya yang menimbulkan ketidakseimbangan lingkungan.

Masalah pertanian dan petani memang kompleks namun pengambil kebijakan cenderung menyederhanakan solusi untuk menyelesaikan. Sebagai salah satu kelompok terlemah di dalam masyarakat petani memang kelewat banyak di-php dengan jargon-jargon.

Pemerintah sering kali dengan mudah melontarkan istilah-istilah seperti smart farming atau pertanian presisi namun dalam proyek-proyek pengembangan pertanian seperti food estate dan lainnya tidak menunjukkan semangat itu.

Berkali-kali kita menyaksikan proyek gagal, karena tidak didasari atas riset yang kuat soal kesesuaian lahan. Bahwa yang ditanam tumbuh memang benar namun dari sisi ekonomi sebenarnya tidak layak. Bertani bukan semata soal tumbuh belaka melainkan juga produktif dan menghasilkan keuntungan untuk petani.

Apel atau anggur bisa saja tumbuh di seluruh penjuru Indonesia, tumbuh sebagai penghias halaman. Namun tidak di semua tempat apel dan anggur bisa menghasilkan buah yang layak untuk dijadikan sandaran hidup bagi yang membudidayakannya.

Negeri kita ini dipenuhi para pedagang, yang gemar memasarkan dagangannya dengan narasi yang menyesatkan. Para pedagang gemar sekali membuat cerita tentang kebutuhan yang tinggi pada komoditas tertentu, tapi dia bukan pembeli komoditas itu melainkan hanya penjual bibitnya.

Pun demikian dengan calon pemimpin kita, sebagian diantaranya sesungguhnya berwatak pedagang. Salah satu contohnya ingin mensejahterakan petani namun visi misinya justru jualan pupuk.

note : sumber gambar – MAXINDONESIA.COM