KESAH.ID – Aroma untuk memenangkan padangan Prabowo Gibran dalam satu putaran semakin menguat. Presiden Joko Widodo tak lagi sungkan-sungkan menunjukkan dukungan pada pasangan capres cawapres nomor urut 2. Bahkan Presiden ikut aktif berkampanye untuk memenangkannya.

Denys Lombard selalu disebut oleh teman yang biasa saya panggil dengan julukan Raja Waluh sebagai peneliti sosiobudaya dan historigrafi Nusantara yang paling dihormatinya.

Saya setuju soal penghormatan itu, karena buku berjudul Nusa Jawa : Silang Budaya yang ditulis oleh Denys Lombard tebalnya melebihi 1000 halaman.  Buku yang oleh Henri Chambert Loir disebut sebagai mahakarya itu didalamnya memuat 2.500 catatan kaki, daftar pustakanya sekitar 40 halaman karena berisi kurang lebih 2.000 judul buku.

Sementara itu indeks bukunya meliputi 630 entry, leksikonnya terdiri dari 1.750 kata dan masih dilengkapi dengan 88 gambar serta 50 peta daerah.

Dengan semua kelebihannya maka memang pantas jika Raja Waluh menjadikan buku Denys Lombard seperti ensiklopedia. Dan dengan bekal itu, Raja Waluh hampir selalu memenangkan pertarungan ketika berkesah di warung-warung kopi.

Berpijak dari beberapa catatan yang ada dalam buku Nusa Jawa : Silang Budaya, Raja Waluh kemudian berteori untuk memenangkan wacana dunia perkesahan menjelang pemilu 2024. Namun karena pemilu legislatife terlalu ruwet dan jorok , dia tak tertarik untuk membicarakannya.

“Nggak usah dibahas, urusan pemilu legislatif itu main beli suara saja,” ujarnya.

“Pemilu presiden yang paling penting, karena menentukan masa depan Nusantara,” lanjutnya.

Entah apakah yang dimaksud dengan Nusantara oleh Raja Waluh itu adalah Indonesia atau Ibu Kota Negara yang baru.

Raja Waluh memang kerap menyebut Indonesia sebagai Nusantara, negeri diantara pulau-pulau atau negeri kepulauan. Dan dia juga selalu menyebut Nusantara itu Jawa dengan ungkapan ‘Jawa adalah kunci’

Lewat ungkapan itu Raja Waluh ingin mengatakan soal jawasentris atau jawaisme. Segala sesuatu terpusat di Jawa.

Namun Ibu Kota Negara baru yang berada di wilayah Kalimantan Timur kemudian dinamakan sebagai Nusantara. IKN kemudian menjadi antitesis dari jawasentris, pemindahan dari DKI Jakarta ke Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara adalah upaya agar jawasentris diudar, Nusantara diberi energi baru agar segala sesuatunya menyebar lebih merata, sebagaimana dicita-citakan para pendiri negara dan bangsa.

Soal IKN Nusantara, Raja Waluh memang masih mendua, antara ya dan tidak dengan berbagai alasannya. Masih berpijak dari buku Denys Lombard, Raja Waluh tidak yakin bahwa pemindahan IKN dari Jawa ke Borneo akan memupus jawasentrisme. Dia beralasan ‘rujak’ budaya Nusantara itu diulek di Jawa.

Tapi Raja Waluh tak ingin mengulik terlalu jauh soal IKN yang kini pembangunannya tengah dikebut sehingga wilayah yang jauh dari keramaian itu lalu lintasnya sering macet akibat mobilisasi alat-alat berat.

Demokrasi di Nusantara terutama yang berkaitan dengan pemilu presiden yang lebih menarik untuk Raja Waluh mengudar dan menyemburkan ‘kesah-kesah’ nya.

Dengan nada datar, Raja Waluh kerap mengatakan Demokrasi Nusantara sedang berada di simpang silang sengkarut.

BACA JUGA : Kuncinya Pupuk

Memulai kesahnya di angkringan tanpa nama yang berada di sisi sebuah jalan protokol, Raja Waluh mulai menyorot aktivitas para capres dan cawapres yang mulai berkampanye sejak 28 November 2023 hingga 10 Februari 2024 nanti.

Raja Waluh mulai dengan ungkapan “dua kerja keras, satu yakin menang satu putaran,”

Dua kerja keras itu merujuk pada pasangan Anies Muhaimin dan Ganjar Mahfud.

Menurutnya pasangan Amin bekerja keras merebut dengan hati. Anies Baswedan memulai kampanye dari Tanah Merah, tempat dimana Anies Baswedan pertama diminta oleh warga untuk maju dalam kontestasi pemilu presiden.

Anies berjuang keras untuk memenuhi permintaan itu, tidak ada karpet merah yang dibentang untuknya hingga kemudian terdaftar di KPU sebagai salah satu peserta pemilu presiden 2024.

Sementara Muhaimin memulai kampanye dari Jombang, tempat yang bersejarah untuknya. Jombang adalah tempat kelahiran para tokoh-tokoh besar, tokoh religius namun mempunyai pemikiran kebangsaan yang terbuka atau inklusif. Gus Dur dan Noorcholis Majid adalah dua diantaranya.

Sedangkan Ganjar – Mahfud mencoba merebut hati pemilih berangkat dari Kebhinekaan. Mahfud memulai dari ujung barat dan Ganjar memulai dari ujung timur Nusantara.

Ganjar memulai kampanyenya dari Papua dan Mahfud memulai dari Aceh.

Papua dan Aceh adalah dua wilayah Indonesia yang mempunyai sejarah konflik internal yang coba diselesaikan dengan memberi ‘kekhususan’ kepada kedua wilayah itu. Namun luka akibat pendekatan politik keamanan di masa lalu masih belum tersembuhkan.

Sedangkan pasangan Prabowo dan Gibran nampaknya lebih santai, tidak langsung gas poll seperti kedua pasangan lainnya.

Dibandingkan dengan pasangan yang lainnya, pasangan ini keduanya masih punya jabatan, satu menteri dan satu walikota. Hal ini mungkin saja membuat pengaturan jadwal menjadi lebih sulit.

Untuk Prabowo mungkin ada alasan lain, menjadi calon paling tua diantara calon lainnya bisa jadi stamina Prabowo tidak sekuat Anies dan Ganjar yang belum pernah terkena stroke.

Tetapi banyak juga yang mengatakan, Prabowo – Gibran percaya diri. Mereka mungkin sudah yakin menang tanpa terlalu ngotot berkampanye.

Modal mereka adalah Joko Widodo, dengan tingkat kepercayaan atau kepuasan lebih dari 70% bisa diartikan sejumlah itu rakyat Indonesia yang akan mengikuti arahan Joko Widodo. Dan Prabowo – Gibran adalah calon yang makin hari makin terang-terangan didukung oleh Joko Widodo.

Lagi pula semakin mendekati hari H, Joko Widodo juga turut membantu kampanye pasangan Prabowo – Gibran. Presiden Jokowi makin rajin keliling Indonesia, alasannya mungkin saja untuk pamit karena masa jabatannya sudah mau berakhir. Namun dalam pamitannya itu bisa saja menitipkan pesan pada rakyat untuk memilih capres dan cawapres yang akan meneruskan apa yang sudah dilakukan olehnya.

Presiden Jokowi sendiri menegaskan bahwa seorang presiden boleh berkampanye, boleh memihak pada pasangan tertentu.

Dan memang benar UU memang tak melarang. Yang dilarang adalah melakukannya dengan failitas negara. Masalahnya jabatan presiden itu melekat dalam dirinya, jadi fasilitas negarapun juga menempel pada dirinya.

BACA JUGA : Yang Menyatukan Tapi Tak Diimani

Ketika belum ditetapkan secara resmi sebagai calon presiden, Ganjar Pranowo kerap menduduki posisi tinggi dalam survey-survey. Elektabilitas Ganjar diatas Prabowo.

Namun begitu ditetapkan sebagai capres dan dipasangkan dengan cawapres yang melejit adalah pasangan Prabowo-Gibran. Efek elektoral cawapres untuk menyumbangkan dukungan pada capresnya yang tertinggi adalah Gibran, dibandingkan dengan Mahfud MD dan Muhaimin Iskandar.

Secara demografis, Gibran dianggap mewakili kelompok anak-anak muda, walau dari sisi kompetensi dan pengalaman dianggap underdog.

Posisi ini sesungguhnya menguntungkan. Sebagai anak bawang dengan sedikit polesan performance Gibran kemudian naik sedikit dibanding sebelumnya. Publik pun terkejut.

Sebaliknya Mahfud dan Muhaimin yang merupakan bagian dari pemerintah dan koalisi pemerintahan terasa sedikit canggung, kurang lepas dalam berbicara atau melontarkan gagasan-gagasannya.

Akibatnya performance mereka berdua terasa dibawah dari sebelum-sebelumnya. Meski masih lebih baik dari Gibran namun tak mampu menghadirkan faktor wow.

Kurang dari sebulan sebelum pencoblosan, survey elektabilitas Prabowo Gibran sudah mendekati titik aman, hampir menyentuh angka 50 persen.

Prabowo kemana-mana selalu berjoget, yakin kalau bakal menang satu putaran.

Pun Gibran juga semakin berani, pede sekali karena bapaknya juga semakin berani terus terang, tak lagi menutup-nutupi atau sungkan dalam mendukung anaknya.

Bukan rahasia lagi kalau Joko Widodo tak suka pemilihan umum yang berlarat-larat. Presiden dalam berbagai kesempatan entah tersirat atau tersurat ingin pemilu berlangsung cepat, satu putaran saja.

Alasannya mungkin benar, selain menghemat anggaran juga mencegah konflik atau panas politik yang berkepanjangan.

Masalahnya jika kemenangan dalam satu putaran – yang secara teori sulit karena diikuti 3 pasangan yang kuat – diperoleh dengan menghalalkan cara, justru pemilu yang nggak pakai ribet ini bakal menghadirkan potensi yang berbahaya.

Raja Waluh mengingatkan kemenangan satu putaran bisa menjadi bom waktu yang bakal meledak bahkan sebelum pasangan capres dan cawapres yang menang dilantik.

note : sumber gambar – VOAINDONESIA