Pengaruh India di Nusantara telah berlangsung cukup lama jika dikaitkan dengan agama Hindu dan Budha. Awalnya hubungan antara India dan Nusantara terjalin melalui perdagangan. Aroma rempah membawa bangsa India berlayar mengarungi samudera menuju wilayah Nusantara.
Rempah pada waktu itu bukan hanya untuk bumbu, melainkan untuk komestik, obat, mengawetkan daging juga pengawetan mayat. Salah satu yang paling bernilai adalah pala.
Rempah yang dibawa oleh orang India, dibeli oleh orang Arab dan kemudian diperdagangkan di Eropa. Sampai akhirnya orang Eropa tahu darimana asal rempah yang luar biasa itu hingga akhirnya mereka datang sendiri ke Nusantara. Pertama untuk berniaga namun lama kelamaan memonopoli bahkan menjajah.
Dalam peta pelayaran samudera, posisi Nusantara memang strategis. Dan kehadiran bangsa lain menjadi sangat terbuka. Kehadiran yang kemudian memberi pengaruh. Salah satu pengaruh yang kuat adalah kehadiran bangsa India yang membawa agama Hindu dan Budha.
Ada banyak teori tentang bagaimana pengaruh Hindu dan Budha masuk wilayah Nusantara. Teori itu antara lain adalah Teori Brahmana, dimana agama Hindu dan Budha dibawa oleh golongan Brahmana yang diundang oleh penguasa Nusantara untuk datang. Teori ini muncul dari pengamatan terhadap sisa-sisa peninggalan Hindu-Budha. Dimana dalam prasasti-prasasti yang ditemukan menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa.
Di India bahasa Sansekerta hanya digunakan dalam kitab suci dan upacara keagamaan. Dan golongan Brahmanalah yang mengerti dan menguasai penggunaan bahasa itu.
Teori lainnya adalah Teori Ksatria. Di India pada masa itu sering terjadi peperangan antar kelompok. Para ksatria yang terdiri dari kaum bangsawan yang mengalami kekalahan kemudian melarikan diri, mencari daerah baru hingga tiba di Nusantara.
Selain itu ada pula Teori Waisya. Teori ini dibangun atas hubungan dagang antara India dan Nusantara. Kaum Waisya dari India datang berdagang ke Nusantara dengan mengikuti angin musim. Sambil menunggu angin musim kembali mereka berdagang dan menetap. Kesempatan ini digunakan untuk menyebarkan agama dan kebudayaan Hindu serta Budha.
Diluar teori diatas ada pula Teori Arus Balik. Dalam teori ini digambarkan ada orang-orang dari Nusantara yang pergi ke India. Pergi untuk berziarah dan belajar Hindu serta Budha. Berada cukup lama di India membuat mereka mengenal kebudayaan India. Apa yang diperoleh dan dipelajari kemudian disebarluaskan di Nusantara saat mereka kembali.
-000-
Kebudayaan India adalah salah satu dari kebudayaan pertama dan kuat di dunia. Tak mengherankan jika pengaruhnya melampaui daratannya dan bertahan lama di negeri-negeri lainnya. Di Nusantara yang kelak kemudian hari menjadi Indonesia, pengaruhnya bertahan bahkan hingga masa modern. Kebudayaan India terutama lagu dan film terus digemari hingga hari ini.
Dalam bidang teknologi, orang Indonesia juga sangat mengenal produsen kendaraan bermotor Bajaj dan Tata.
Selain pengaruh dalam religiusitas, pengaruh India dalam hal kuliner juga kuat. Ada banyak peninggalan makanan India yang sampai hari ini terus bertahan di Indonesia.
Secara umum pengaruh kuliner India di Nusantara dimulai dari Pulau Sumatera. Selain datang untuk membeli rempah mereka juga membawa rempah dari tanah mereka untuk diperkenalkan pada penduduk Nusantara.
Mereka memperkenalkan jintan, ketumbar, jahe hingga ghee semacam mentega yang kemudian dikenal sebagai minyak samin.
Minyak samin yang berwarna kuning dan bertekstur lembut ini kini mesti dipakai dalam masakan Soto Betawi dan Sop Kaki Kambing agar jadi lebih gurih dan aromatik. Minyak samin juga diakai untuk Roti Canai hingga Nasi Kebuli.
Nasi Kebuli merupakan campuran pengaruh Arab dan India, sebab resep nasi kebuli yang asli mesti memakai beras basmati dari India, beras yang bulirnya besar dan pera setelah dimasak. Berdasarkan bumbu dan penampilan, nasi kebuli adalah saudara kembar dari nasi mandi/kabsa dari tanah Arab dan nasi biryani dari India.
Ciri khas pengaruh India yang lain adalah santan. Makanan populer yang dikenal hingga saat ini adalah kari/kare. Masakan ini kaya rempah dan mempunyai cita rasa yang sangat ‘India’ karena penggunaan bumbu jintan, ketumbar, kapulaga, bawang bombay, saus madras dan santan kental.
Dan yang tak boleh dilupakan tentu saja martabak. Hubungan antara martabak dengan India ditunjukkan lewat label Martabak Malabar. Konon martabak juga berasal dari kata maharaj-ba, kue maharaja. Selain martabak telur {Malabar} di Kalimantan Timur , tepatnya di Loa Tebu, Kutai Kartanegara juga dikenal Martabak Kareh. Pengusahanya mengklaim martabak kareh adalah warisan resep dari keluarga besar yang merupakan keturunan India.
Warisan kuliner karena pengaruh India yang lainnya adalah rendang. Makanan yang dinobatkan sebagai terlezat versi situs CNN International ini mempunyai cita rasa khas India yang diwakili oleh jintan dan ketumbar.
Pada berbagai sisi kerap kali pengaruh India bercampur dengan Arab {muslim}. Seperti martabak atau nasi kebuli misalnya yang juga bercorak Arab. Namun ini bisa dipahami karena orang India yang datang ke Nusantara tidak semuanya Hindu dan Budha, melainkan juga ada pedagang Muslim yang salah satunya datang dari Gujarat.
Namun sisa pengaruh India dalam kuliner Nusantara yang paling mengejutkan justru pada Sego Megono. Konon makanan yang dianggap sebagai khas daerah Karesidenan Banyumas ini dipengaruhi oleh kebiasaan dari Kesultanan Mughal.
-000-
Kuatnya pengaruh India pada kuliner dan kebudayaan Nusantara bukan hanya karena pertukaran atau komunikasi antara masyarakat Nusantara dan India di masa lalu. Selain berdagang ada beberapa kelompok suku India yang kemudian menetap di wilayah Nusantara.
Di Sumatera Utara ada banyak orang India yang didatangkan dari India Selatan oleh Inggris untuk bekerja di perkebunan-perkebunan yang dibuka disana. Masyarakat Tamil ini kemudian terus tinggal dan beranak pinak hingga sekarang.
Sementara kelompok suku Punjabi dari India Utara menyebar di Kota Besar Pulau Jawa. Mereka umumnya berdagang dan banyak dari antara mereka yang merupakan penganut agama Sikh.
Kelompok lain yang juga berdagang adalah Sindhi. Mereka banyak bergerak dalam bidang industry garmen dan tekstil, makanan dan pertanian serta batu mulia.
Warisan kuat dari pengaruh India lainnya adalah epos Mahabharata dan Ramayana, kisah yang telah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Pun juga ada banyak nama orang Indonesia yang menggunakan nama-nama berbau India.
Bukan hanya nama orang saja melainkan juga nama daerah seperti di Jakarta ada nama Pekojan dan Koja. Daerah ini dulu merupakan permukiman orang-orang India Muslim yang disebut orang Khoja. Mereka datang dari daerah Cutch, Kathiawar dan Gujarat.
Namun kalau ingin melihat India di Indonesia, silahkan datang ke Medan. Disana ada kampung yang disebut sebagai ‘Little India’. Sebuah kampung yang mayoritas dihuni oleh orang-orang India sejak masa sebelum kemerdekaan.
Kampung Madras atau lebih dikenal sebagai Kampung Keling, luasnya kurang lebih 10 hektar. Di kampung ini akan ditemui suasana dan pemandangan yang sulit didapatkan di tempat lain. Kaum perempuannya sehari-hari mengenakan kain sari dan kaum laki-laki banyak memakai sorban khas India. Tradisi India masih terus dipelihara disana.
Di awal abad ke 19 yang datang ke Medan, Sumatera Utara bukan hanya orang Tamil, melainkan juga, Cheyttar dan Punjab untuk mengadu nasib. Tidak semuanya beragama hindu melainkan ada juga yang Muslim dan Budha. Sehingga di Kampung Keling berdiri bukan hanya Kuil melainkan juga Vihara dan Masjid yang bercorak India.
Di kampung ini terdapat banyak perayaan atau upacara untuk memperingati hari-hari besar sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat di India. Namun salah satu yang terbesar dikenal sebagai Perayaan Deepawali atau Perayaan Diwali.
Perayaan ini dilaksanakan selama lima hari berturut-turut pada akhir Oktober hingga awal November. Ini saat yang paling tepat untuk merayakan India di Nusantara.








