“Hah … anak-anak itu mandian di Sungai Karang Mumus kah?”

“Lho …ibu itu nyuci piring pakai air Sungai Karang Mumus,”

“Hoy … air Sungai Karang Mumus dipakai untuk sikat gigi,”

Begitu kekagetan banyak orang ketika melihat air Sungai Karang Mumus yang kotor, dipenuhi sampah mulai dari sampah rumah tangga, sampah pasar, sampah industri hingga jamban ternyata masih dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari bagi warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai.

Banyak dari antara mereka yang menyusuri Sungai Karang Mumus dengan perahu seakan tak percaya pemandangan di hadapan mereka. Buat mereka Samarinda adalah Kota Besar, kota yang hendak membangun dirinya menjadi megapolitan, tapi tak jauh dari pusat kota,  Gedung Balaikota dan Rumah Dinas Walikota pemandangan orang memanfaatkan air Sungai Karang Mumus untuk keperluan sehari-hari amatlah mudah ditemukan. Jambanpun masih berjajar dan mudah disaksikan misalnya dari atas jembatan. 

-000-

“Mus …Mumus mandi yuk di sungai, betajunan kita mumpung airnya tinggi,”

Dan tanpa banyak cakap Mustofa pun mengiyakan ajakan teman-temannya. Mereka lalu ke belakang rumah, bediri di batang dan melepas baju untuk kemudian terjun ke air Sungai Karang Mumus untuk mulai berenangan. Sungai Karang Mumus sampai hari ini memang masih bertahan sebagai kolam renang pertama bagi anak-anak yang tinggal di kanan-kirinya. 

Di beberapa jembatan yang melintas diatas Sungai Karang Mumus tak jarang anak-anak menunjukkan nyalinya dengan terjun dari atas jembatan ke arah sungai. Tingkah polah bocah terjun dari atas jembatan itu bisa disaksikan di Jembatan Arief Rahman Hakim dan Jembatan kehewanan.  Selain berlompatan dari ketinggian, anak-anak tepi Sungai Karang Mumus biasanya juga behanyut entah dengan ban, box bekas kulkas atau terkadang menumpang batang yang dibawa hanyut dan masuk ke Sungai Karang Mumus dari arah Sungai Mahakam. 

Jika sudah bermain di sungai, Mustofa suka keasyikan sehingga lupa waktu. Dan meski tinggal di pinggir sungai, Mamak Mustofa selalu murka jika melihat anaknya mandi di sungai. Apalagi kalau si Mustofa main ciruk, masuk dan menyelam ke dalam air. Selain kulitnya kelihatan keriput karena kedinginan, matanya juga memerah.

“Kamu ini mau jadi hantu banyu kah?” begitu Mamak Mustofa selalu berucap ketika mendapati anaknya mandi di sungai sampai matanya memerah.

Hampir dua jam Mustofa dan teman-temannya bermain di sungai. Meski hampir setiap waktu bermain di sungai dan selalu dimarahi namun Mustofa tidak kapok-kapok. Sesekali bahkan Mustofa dijewer atau dicubit keras oleh Mamaknya. Namun daya tarik sungai ibarat water park atau water world yang tak sekalipun mereka pernah nikmati karena harga tiketnya yang tinggi. 

Bermain di Sungai Karang Mumus selalu menghadirkan pengalaman baru setiap hari. Kala menyembul dari dalam air bisa jadi kepala mereka terantuk sekarung kulit bawang, atau bahkan menyenggol bangkai ayam. Bukan sekali dua kali Mustofa saat berenang seperti dikejar oleh tinja yang mengambang di permukaan air. 

Buat mereka yang baru datang atau melihat Sungai Karang Mumus barangkali akan jijik melihat aneka sampah yang mengapung di permukaan. Tapi buat anak-anak yang bermandian apa yang mengapung di permukaan sungai seperti aneka mainan. Belum lagi baunya yang menusuk hidung terutama jika airnya agak surut dan beberapa hari tidak ada hujan. Semeribit baunya bahkan bisa tercium hingga kejauhan. Namun buat anak-anak tepi Sungai Karang Mumus, bau itu sudah kelewat biasa untuk mereka. Dan apa yang dianggap biasa kemudian tak dijadikan persoalan.