“Seorang pemimpin adalah seorang yang melihat lebih banyak dari orang lain, yang melihat lebih jauh dari pada yang dilihat orang lain dan yang melihat sebelum yang lainnya melihat”

Kutipan yang disampaikan oleh  Levoy Eims penulis  buku Be The Leader You Were Meant To Be itu diambil oleh Mustofa sebagai pengantar sebuah kegiatan yang dinamai oleh Mustofa dan Bondan sebagai Young Leadership for Karang Mumus River.

Meski mereka menjuduli kegiatan mereka dalam bahasa Inggris, namun sama sekali ini bukan merupakan pertemuan internasional. Tak satupun dari mereka yang ikut itu  berbahasa Inggris. Mereka memang bukan siapa-siapa, mereka adalah teman Mustofa yang dikumpulkan gara-gara Mustofa dan Bondan berkhayal untuk menjadikan Sungai Karang Mumus sebagai sungai kebanggaan kotanya.

Pertemuan ‘ngeramput’ gaya Mustofa dan Bondan ternyata menjadi viral di sosial media. Sebagai aktivis sosial media, Bondan memang mengupload segala sesuatunya di page facebook. Tak sedikit muncul caci maki dan sindiran nyinyir terhadap pemimpin kota. Komentar itu umumnya berangkat dari kutipan tentang kepemimpinan yang disampaikan oleh Mustofa di hadapan teman-temannya.

“Mumus, ngerik ini komentar-komentarnya,” ujar Bondan pada Mustofa sambil menunjukkan layar smartphonenya.

Mustofa dan Bondan kemudian sama-sama membaca komentar yang dituliskan di page facebook Pustaka Karang Mumus itu.  Salah satu komentar terpedas adalah “Kalau pemimpin itu adalah orang yang melihat lebih banyak dari orang lain, maka dalam kasus Sungai Karang Mumus, pemimpin kita kehilangan penglihatannya karena dia justru yang paling sedikit melihat dibanding orang lain,”

Kemudian ada komentar lain yang bunyinya “Orang Jawa sering berucap ngerti sak durunge winarah, atau melihat sesuatu sebelum terjadi. Pemimpin yang benar adalah pemimpin yang antisipatif. Di Sungai Karang Mumus hampir tak ada satupun upaya antisipatif, misalnya untuk mencegah pertumbuhan permukiman dan pendudukan lahan di kanan kiri sungai. Percuma kita bicara relokasi yang sudah puluhan tahun tak sukses juga. Alasannya karena uang dan makin lama kita makin tak punya uang untuk merelokasi padahal yang disebut permukiman pinggir sungai dan menduduki badan sungai terus bertumbuh,”

“Iya ngerik memang tapi benar yang mereka katakan itu?” ujar Mustofa. 

Mustofa yang bahkan belum dewasa itu paham benar bahwa di sepanjang aliran Sungai Karang Mumus memang tidak terlihat adanya kepemimpinan. Aliran sungai ini melewati beberapa kecamatan, kelurahan dan puluhan RT.  Tapi hampir-hanpir tak menunjukkan adanya kehadiran mereka yang seharusnya hadir itu.

“Iya, dari muara sampai hulu hampir tidak bisa ditemukan adanya papan peringatan, peringatan untuk tidak membangun di pinggir sungai, memperjual belikan lahan tepi sungai, membuang sampah ke badan sungai dan papan peringatan tentang bahaya yang ada di sungai,” 

“Yang kamu maksud tentang bahaya di sungai itu aoa Bondan?”

“Lho, bukankah air Sungai Karang Mumus sudah diatas berbagai ambang batas. Airnya sudah berbahaya bukan hanya untuk diminum, disentuhpun sebenarnya tidak disarankan,” ujar Bondan.

“Oh, begitu ya?”

“Lha iya Mumus, bukankah UU Lingkungan Hidup mengisyaratkan hal itu. Yang berwajib harus memasang papan peringatan,”

“Urusan pasang memasang papan peringatan yang sebenarnya sederhana ini memang sulit di Samarinda. Itu anak-anak yang tenggelam di kolam bekas lubang tambang ternyata hampir semua lubangnya juga tak ada papan larangan, coba kalau kedalamannya ditulis, pasti anak-anak takut nyebur ke dalam kolam bekas lubang tambang,’ tambah Mustofa.

“Iya, mereka lebih suka memasang papan peringatan di pintu kantor, yang tidak berkepentingan dilarang masuk,” sambung Bondan sambil tertawa.

“Peringatan itu membuka borok, ternyata yang masuk-masuk ke kantor urusan publik adalah orang-orang yang tidak berkepentingan,” tambah Mustofa yang lagi-lagi juga sambil tertawa.

“Nah, makanya memang penting kita mencari pemimpin kita sendiri, terutama anak-anak muda yang tumbuh di tepian Sungai Karang Mumus ini,” 

“Betul dan kita sudah melakukan itu, kita punya banyak calon pemimpin di masa depan yang sadar sungai,”

Sadar sungai, ya memang kebanyakan pemimpin tidak sadar sungai. Kalaupun punya kesadaran maka bentuknya adalah membendung sungai, mengalihkan sungai, membangun jembatan diatas sungai, menurap sungai, mengeruk sungai atau bahkan membuat sudetan sungai. Sangat sedikit pemimpin yang melakukan pendekatan ke sungai untuk mengembalikan fungsi sungai dari sisi hidrologi, morfologi, ekologi, sosial ekonomi dan kultural.

“Mungkin diantara kita tidak akan ada yang jadi Gubernur, Walikota, bahkan Camat sekalipun. Tapi mungkin akan ada yang jadi Lurah atau RT. Adalah sudah lumayan kalau Lurah dan RT punya perspektif sungai dalam menjalankan aktivitas kepemimpinannya,”

“Wah itu doa buruk namanya Mumus, masak nggak ada teman-teman kita yang akan jadi Gubernur atau Walikota. Jangan anggap remeh anak anak sini Mumus, sudah dua Walikota lahir dari tepian Sungai Karang Mumus ini,” protes Bondan.

“He..he.. bukan begitu Bondan, maksudku nda usah jadi Gubernur atau Walikota. Pemimpin kan tidak selalu setinggi itu. Cukup jadi pemimpin biasa, misalnya Lurah atau RT tapi mampu menjalankan mandatnya,”

“Lho tetap lebih bagus jadi Gubernur atau Walikota, kewenangannya kan lebih banyak, lebih bisa mengambil langkah strategis,”

“Betul Bondan, tapi pernah kah kamu lihat ada langkah strategis dari mereka yang kamu sebut itu punya langkah strategis soal Sungai Karang Mumus?”

“Nggak sih sampai  hari ini, walau di dokumen rencana pembangunan berderet yang disebut sebagai program strategis dan prioritas,”

“Maksudku soal Sungai Karang Mumus?”

“Oh, itu …mungkin menyusuri sungai, kerja bakti di sungai yang lebih banyak penontonnya, memasang spanduk di jembatan dan menyumbang kloset sudah dianggap kegiatan strategis. Begitu sih,”

“Maka perlu lahir pemimpin lokal, pemimpin yang mencintai lingkungannya bukan kedudukan dan jabatannya serta fasilitas-fasilitasnya,”

“Kalau begitu kita dirikan IPS saja Mumus,”

“Apa itu IPS,”

“Ikatan Pemimpin Setempat,” kata Bondan sambil tertawa.

“Nah betul sudah itu Bondan, karena pemimpin setempat maka anggotanya adalah pemimpin got, pemimpin sungai, pemimpin TPS, pemimpin gerobak sampah, pemimpin ancau, pemimpin tempirai, pemimpin tahu tempe dan lain-lain yang punya komitment kuat untuk menjaga dan merawat Sungai Karang Mumus,” ujar Mustofa.

Dan seperti biasa, setiap kali menemukan sebuah gagasan maka Mustofa akan selalu menuliskannya di ATM alias Anjungan Tinja Mandiri yang masih berderet di belakanga rumahnya. Dan kini di dinding ATM belakang rumah Mustofa tulisan IPS terpampang dengan jelasnya.