Dalam soal sebaran atau terdiaspora yang bisa menyaingi bangsa Yahudi hanyalah bangsa China. Menyebar ke berbagai penjuru dunia, membuat bangsa China adalah salah satu bangsa yang punya pengaruh atau berdampak pada catatan sejarah peradaban dunia.

Masyarakat Nusantara mempunyai catatan yang panjang soal hubungan dengan dengan penjelajah, pendatang dan pedagang dari China. Catatan tentang interaksi ini terekam dalam berbagai jurnal China sejak abad ke empat. Hubungan ini tak pelak memberi pengaruh dalam perkembangan kebudayaan masyarakat Nusantara dan Indonesia. Disana ada  kontribusi dan peran orang-orang China.

Berbagai temuan arkeologi dalam bentuk benda-benda kuno bisa ditemukan di banyak penjuru Indonesia. Penemuan genderang perunggu berukuran besar di Sumatera Selatan bahkan bisa menunjukkan kemungkinan hubungan antara masyarakat Nusantara dan China sudah terjadi sebelum masehi.

Jejak arkelologis lain adalah temuan adanya koloni masyarakat China di Tuban, Gresik, Jepara dan Lasem pada masa pemerintahan Kerajaan Airlangga.

Sejarah kita kemudian mencatat nama seorang penjelajah dari China yang sangat termahsyur yaitu Panglima Cheng Ho.

Kini patung Cheng Ho yang diklaim sebagai terbesar di dunia ada di kompleks Kelenteng Sam Po Kong di Semarang. Berdiri megah di pelataran yang luas, tempat dimana sering digelar pertunjukan Barongsai, tarian atau drama Tiongkok pada hari peringatan perjalanan Laksamana Cheng Ho.

Pada salah satu bangunan yang ada di komplek Kelenteng Sam Po Kong juga ada jangkar kapal besar bersandar di dinding. Itu adalah jangkar dari salah satu kapal Laksamana Cheng Ho.

Replika kapal dari Laksamana Cheng Ho juga ada di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Kota Samarinda. Pun juga sebuah Masjid yang dinamai sebagai Masjid Cheng Ho yang berada di Jalan Samarinda – Balikpapan.

Selain muhibah penjelalahan dan perdagangan, migrasi masyarakat Cina ke wilayah Nusantara juga terjadi dalam beberapa gelombang. Hingga jaman penjajahan Belanda, kelompok masyarakat China masih datang ke wilayah Nusantara.

Jejak migrasi yang meliputi wilayah Malaysia, SIngapuran dan Indonesia di masa kini meninggalkan salah satu penanda yang sama yaitu sebuah kedai yang lazim disebut sebagai Kopi Tiam.

Kopi adalah nama minuman dari seduhan bubuk kopi dalam bahasa Melayu dan Tiam adalah toko/warung dalam salah satu dialek bahasa China.

Kedai atau warung ini bukan hanya menjual minuman melainkan juga makanan, seperti roti bakar dengan selai srikaya atau roti goreng telur.

Kini kedai-kedai kopi yang terus dipertahankan oleh anak cucu mereka dikenal sebagai kedai-kedai legend di berbagai kota di Indonesia.

-000-

Lama berinteraksi dan mendiami berbagai wilayah Nusantara, makanan yang dibawa oleh kelompok masyarakat China menjadi dikenal oleh masyarakat Nusantara. Bahkan banyak diantara kemudian dianggap sebagai bagian dari makanan Nusantara.

Kuliner China sendiri mempunyai berbagai jenis dan gaya masakan. Namun yang umumnya berkembang dan mendominasi di wilayah Nusantara adalah jenis masakan dari Fujian yang banyak didiami oleh suku Hokkian.

Maka dialek Hokkian ini yang kemudian dipakai untuk menyebut nama-nama makanan seperti kwetiau, bihun, misoa, bakmi, bakcang juga kecap. Kecap misalnya dalam bahasa Hokkian disebut qui cap.

Deretan panjang pengaruh China dalam makanan Nusantara masih panjang. Makanan seperti bakso, bakpao, bakpia, fuyunghai, cap cae, tahu, taoge, tauco, lobak, keluyuk, siomay, swike, kimlo, bakwan, mantau, cakwe, dimsum, lumpia, pangsit dan lain-lain.

Mereka juga mengenal bumbu dan bahan seperti bawang putih, kedelai dan aneka saos serta minyak-minyakan. Dari kedelai yang diperkenalkan oleh orang China kemudian muncul tempe.

Apa yang diperkenalkan oleh orang China kemudian diadaptasi dan dikonsumsi oleh warga Nusantara serta sebagaian dikembangkan secara produktif lama kelamaan menjadi bagian dari kuliner masyarakat Indonesia.

Selain makanan, pengaruh orang China juga ada dalam pembuatan minuman fermentasi yang berasal dari sadapan pohon palma {kelapa, aren, dll}, sari tebu dan juga pembuatan gula dari aren, kelapa dan tebu.

Dalam konteks makanan seluas-luasnya, maka yang diperkenalkan dan kemudian ditularkan oleh masyarakat China bukan hanya bahan, melainkan juga cara mengolah atau masak seperti cah dan tim serta fermentasi. Selain itu juga budidaya yang meliputi tanaman pangan seperti padi, kedelai dan tebu.

Alhasil kita menjadi lazim, sangat mengenal dan fasih mengucapkan banyak kata yang merupakan serapan dari bahasa China terutama dalam hubungan dengan bahan, proses dan jenis makanan sehari-hari.

Setelah kemerdekaan banyak makanan yang dipengaruhi oleh kebudayaan China berkembang menjadi makanan ikonik dari berbagai kota di Indonesia. Seperti Lumpia Semarang, Bakpia Pathuk Yogyakarta, Mantau Balikpapan, Bakwan Pontianak, Empek Empek Palembang, Kimlo Solo, Biapong Manado, Mie Titi Makassar, Bakso Malang dan lain-lain.

Kedai-kedai kopitiam juga terus bertahan dan kemudian juga muncul kedai yang secara jelas mencantumkan nama Kopitiam sebagai merk tumbuh dimana-mana dengan model franchise. Label Chinesse Food juga dengan mudah ditemui di sepanjang jalan. Tidak selamanya yang menjual makanan China menaruh label Chinesse food, namun di Samarinda Kedai atau Depot dengan nama Singkawang misalnya, dipastikan akan menjual makanan yang berbasis kebudayaan China.

Memang pada masa-masa akhir Orde Lama dan sepanjang masa Orde Baru, ada upaya untuk meluruhkan yang berbau China. Di masa akhir Orde Lama misalnya para perantauan China dan keturunannya dilarang tinggal di daerah selain ibukota kabupaten/kota. Mereka yang ada di pelosok-pelosok kemudian pindah ke kota besar.

Mereka juga diminta untuk memilih kewarganegaraan, menganti nama dengan nama berbau Indonesia. Nama toko, kios atau tempat usahanya juga harus di-Indonesia-kan.

Masyarakat Nusantara sejatinya tidak pernah menolak kehadiran perantauan dari China. Namun setelah kemerdekaan karena dinamika politik, masyarakat China kemudian diminta untuk memilih kewarganegaraan. Dan mereka memilih tetap tinggal di wilayah yang kemudian bernama Indonesia diminta untuk lebih berbaur, melakukan asimilasi.

Tekanan ini kemudian lebih kuat di masa Orde Baru, identitasa ke-China-an ditanggalkan. Proses asimilasi paksa ini membuat banyak sekolah-sekolah China ditutup, anak dan cucu para keturunan China perantauan kemudian mulai tak bisa membaca dan berbicara dalam bahasa China.

Untung saja nama-nama makanan yang berbau China tidak ikut dirubah namanya.

Hubungan antara masyarakat lokal Indonesia dengan kelompok masyarakat keturunan China perantauan memang mengalami pasang surut. Beberapa kali terjadi kerusuhan akibat persekusi terhadap keturunan China.

Namun dalam makanan kita tetap bersatu. Buktinya kita semua doyan makan mie.

-000-

Selain makanan, peninggalan lain dari kebudayaan masyarakat China perantauan di Nusantara adalah koloni atau kawasan permukiman orang-orang China. Kawasan ini lazim disebut sebagai China Town karena mayoritas penghuninya adalah orang keturunan China.

Paska reformasi, kawasan ini kemudian berkembang menjadi destinasi wisata, tempat dimana bisa disaksikan pertunjukan dan upacara-upacara kebudayaan China.

China Town ini tersebar di berbagai kota besar di Indonesia, berikut beberapa diantaranya :

Glodok, Kota Tua, Jakarta – inilah pusat dari kawasan China Town di Jakarta disini masih terdapat bangunan khas China. Ada kelenteng Toa Se Bo dan Vihara Dharma Bakti yang ramai dikunjungi saat perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh.

Pecinan Bandung – ada tiga kawasan yang dikenal sebagai daerah permukiman orang China di Bandung. Daerah di seberang Pasar Baru yang disebut sebagai Jalan Pecinan Lama. Lalu daerah belakang Pasar Baru hingga jalan Kebonjati. Dan yang ketika berada di kawasan jalan Gardujati hingga Andir.

Di kawasan ini masih terdapat banyak bangunan dengan ciri khas arsitektur China. Maraknya pamer foto di media sosial, menjadikan kawasan ini sebagai spot foto instagramable.

Sudiroprajan Solo – kawasan ini dulunya merupakan pasar keraton yang kemudian berubah menjadi pusat perdagangan dan permukiman yang dihuni oleh orang Jawa dan China. Disini ada kelenteng Tien Kok Sie yang berdiri sejak tahun 1754.

Di kampung ini ada upacara Grebeg Sudiro, diselenggarakan setahun sekali yang ditandai dengan susunan kue keranjang yang menyerupai gunung dalam ukuran yang besar.

Semawis Semarang – dikenal sebagai pasar malam yang terletak di Gang Warung, Semarang. Buka setiap hari Jum’at hingga Minggu, sore hingga tengah malam, kawasan ini menjadi salah satu street food terpanjang di Semarang.

Aneka kuliner tersaji disini mulai dari halal dan non halal.

Kya Kya Surabaya – dalam dialek Hokian, kya kya diartikan sebagai jalan-jalan. Kawasan ini ada di sepanjang jalan Kembang Jepun. Ada penanda gapura dengan nuansa khas Tionghoa. Disini ada bangunan cagar budaya berupa Rumah Abu Keluarga Han dan kelenteng Hok An King.

Sempat menjadi ramai layaknya pasar malam, namun kini tak seramai dulu. Berbagai jenis makanan bernuansa Chinesse Food bisa ditemukan di kios-kios kuliner yang ada disini.

Kesawan Medan – kawasan menjadi salah satu landmark Kota Medan. Memiliki banyak bangunan bersejarah termasuk salah satunya rumah Tjong A Fie yang memiliki gaya artsitektur perpaduan antara Eropa, Melayu dan China.

Malam hari kawasan ini menjadi pusat jajanan, destinasi wisata kuliner yang menyajikan makanan tradisional hingga internasional. Resto yang menyajikan makanan halal dan non halal akan membedakan diri dengan warna bangku dan atributnya. Yang halal berwarna hijau, sementara non hal berwarna merah.

Kota Cina Singkawang – berjarak kurang lebih 145 km dari Pontianak, Singkawang adalah kota yang mayoritas penghuninya peranakan China. Dikenal sebagai Kota Seribu Kelenteng, nuansa budaya China di kota ini amat kental terasa.

Datang ke kota ini pada saat upacara Tahun Baru Imlek atau di saat perayaan Cap Go Meh akan terasa sedang berwisata ke negeri China.

Kota Lama Tanjung Pinang – hampir mirip seperti Singkawang hanya saja jumlah penduduk Melayunya lebih banyak. Ornamen khas China banyak menghiasi sudut kota ini. Memiliki banyak Vihara Besar seperti Vihara Bahtera Sasana dan Vihara Dewi Kwam In. Street food di kota ini lebih banyak berbahan makanan laut.

Nagoya Hill Batam – namanya bernada Jepang, namun kota yang merupakan area perdagangan bebas di ASEAN ini dihuni banyak keturunan China. Wisatawan yang datang juga kebanyakan dari Singapura yang mayoritas keturunan China.

Ada banyak Vihara yang terkenal dan ramai dikunjungi antara lain Vihara Budhi Bhakti, Pa Auk Tawya dan Maha Vihara Duta Maitreya.

Sebenarnya di setiap kota besar selalu ada kawasan pecinan. Sebagian merupakan warisan dari model pembangunan dan tata kota dari Kolonial Belanda. Kebijakan pemerintah kolonial saat itu adalah memisahkan kawasan berdasarkan penduduknya. Ada kawasan untuk orang Eropa, orang China dan Arab lalu kawasan lainnya untuk pribumi.

Di Manado misalnya masih kelihatan jelas pembagian itu. Masih ada kampung China yang berada di dekat Kampung Arab.

Bagaimana di Kota Samarinda?. Kawasan Kampung China yang masih tersisa di Kota Samarinda berada di Jalan Yos Sudarso. Bangunan yang paling menonjol adalah Thien Le Kong yang usianya sudah lebih dari 100 tahun.

Meski hadir lebih dahulu di Mahakam jauh sebelum kedatangan Kolonial Belanda, namun kemudian pemerintah Kolonial mengkonsentrasikan permukiman orang China di daerah tepian Sungai Mahakam yang berada disekitar muara Sungai Karang Mumus. Kawasan ini diapit oleh jalan yang dulu bernama Straat Te Eng dan Bloem Straat.

Namun wajah kawasan ini sudah sangat berubah karena kebakaran besar dan pembangunan yang kemudian tidak mempertahankan corak dan identitas kawasan.

Namun dalam soal kuliner, disekitar kawasan ini kita masih menemukan beberapa kedai kopi yang telah diusahakan secara turun temurun oleh keturunan masyarakat China perantauan. Termasuk mereka yang tadinya merantau ke Sanga-Sanga, kota pertambangan di masa Kolonial Belanda.

Di sekitar kawasan ini ada beberapa kedai kopi yang melegenda seperti Timur Subur dan Yulia yang berhadapan dengan Pelabuhan Samarinda, Kopi Ko Abun yang berada di jalan Pelabuhan, Kopi Mekar Sari atau Ko Liem di jalan Diponegoro dan Kopi Hainan di Jalan Niaga Utara, sekitar kompleks Citra Niaga.

sumber gambar : kulineria.id