Salah satu kekayaan yang sesungguhnya dari kelompok masyarakat adalah makanan. Kekayaannya tidak hanya dilihat dari sisi rasa nikmatnya saja melainkan juga dari bahan-bahan, cara pengolahan dan peralatan yang dipakai.

Rasa dan bagaimana cara pengolahan makanan akan mewakili karakteristik dari masyarakat dimana makanan itu bertumbuh. Lebih dari itu makanan kemudian juga berkembang menjadi identitas dengan makna simbolisnya yang tidak sekedar bersifat material. Ada unsur spiritual atau metafisik dibalik sebuah makanan.

Makanan secara asali merupakan kebutuhan biologi dari mahkluk hidup. Namun makanan kemudian mempunyai pengaruh besar dalam kebudayaan dan peradaban manusia jauh melampaui yang dicapai oleh mahkluk hidup lainnya.

Hal ini terjadi karena manusia melakukan lompatan dalam cara makan, utamanya mengolah makanan.

Lompatan atau revolusi kebudayaan dan peradaban manusia lewat makanan dimulai ketika manusia mampu mengendalikan api. Dengan api manusia makan tidak lagi apa adanya. Bahan makanan diolah atau dimasak, pertama adalah dibakar.

Bahan makanan yang dibakar kemudian akan terasa lebih enak, lebih lunak dan lebih mudah dicerna. Dengan makanan yang dimasak, manusia makan bukan hanya untuk kenyang melainkan juga menikmati rasanya. Nikmat yang kemudian memompa imajinasi dan inovasi.

Dengan makanan yang lebih mudah dicerna, manusia kemudian mempunyai waktu lebih banyak untuk istirahat. Api juga membuat mereka bisa tetap terjaga dalam terang ketika gelap, hangat ketika dingin. Api membuat mereka bisa berkumpul di waktu istirahat, saat tidak berburu.

Dengan berkumpul tumbuhlah kemampuan manusia berkomunikasi lewat bahasa. Bahasa menjadi  bertumbuh. Karena bahasa manusia kemudian bisa menciptakan cerita. Tumbuhlah dongeng-dongeng, kisah-kisah baik yang dituturkan atau kemudian digambarkan di dinding-dinding gua sebagai tempat tinggal perdana.

Lompatan peradaban kemudian semakin berkembang ketika manusia mulai menemukan pola budidaya tanaman pangan. Mulai tinggal menetap memberi waktu lebih banyak lagi untuk berkumpul dan berinteraksi dengan sesamanya.

Makanan mulai diolah dengan cara yang lebih baik, bukan hanya dibakar melainkan juga dimasak dalam wadah serta diberi bumbu-bumbu. Makanan menjadi lebih enak dan kemudian menjadi alat perekat lewat makan bersama, makan besar sebagai sebuah perayaan.

Bahasa yang semakin terbentuk juga membuat kemampuan narasi manusia menjadi lebih berkembang, imajinasi terus bertumbuh. Makanan kemudian diberi makna. Diberi cerita tentang asal-usulnya, dibalik makanan kemudian ada pengetahuan dan kebijakan lokal.

-000-

Dalam perkembangan selanjut, peran sentral makanan menjadi terlihat ketika muncul istilah “Makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan,”.

Orang yang beradab adalah orang yang memperlakukan makanan sebagai energi untuk mendorong kehidupan, membuat hidupnya semakin berkembang. Orang yang menjadikan makan sebagai tujuan, hanya sekedar kenyang, suka makan banyak akan disebut sebagai rakus atau serakah.

Makanan kemudian memasuki fase dalam kebudayaan, karena bukan sekedar kebutuhan biologis melainkan juga sebagai penentu mutu hidup. Maka pola atau cara makan kemudian diatur dengan sopan santun atau tata krama.

Masing-masing kebudayaan punya tata kramanya sendiri soal makanan. Tata krama menyangkut apa yang boleh dan tidak boleh dimakan, bagaimana cara makanan diolah, cara menyajikan dan cara menyantapnya.

Makanan menjadi sebuah kebudayaan karena dibaliknya terkandung teknologi, seni dan spiritual. Dalam berbagai kebudayaan makanan kemudian menjadi sarana untuk memelihara hubungan dengan yang Maha Tinggi, Dewa, Roh-Roh dan entitas lain yang tak kelihatan. Makanan kemudian masuk dalam wilayah transcendental, kuliner menjadi meta kuliner.

Bentuk laku kultural yang berhubungan dengan makanan nampak dalam berbagai upacara di masyarakat, baik upacara yang terkait dengan siklus musim maupun siklus hidup.

Kenyataan ini menegaskan bahwa pangan dan aktivitas makan tidak lepas dari proses ejarah, teknologi dan pemaknaan yang diciptakan.

Pangan atau makan sebagai budaya material kemudian ditempatkan sebagai yang adiluhung. Sesuatu yang tinggi mutunya, high class atau bahkan kemudian bernilai mahal.

Unggul atau adiluhung bisa dimaknai dari berbagai sisi, baik sisi kultural maupun produksi konsumsi. Pada pola konsumsi produksi yang disebut unggul berkaitan dengan mahal atau harga yang harus dibayar karena alas an etik, prestise, keseharan, gaya hidup dan lain-lain yang terkait dengan produksi makanan serta cara makan.

-000-

Diskursus tentang makanan adiluhung tidak lepas dari konteks lokal. Alami dan tidak alami, murni dan tidak murni. Makanan yang menyimbolkan kemurnian selalu berasal dari bahan lokal, dikerjakan oleh masyarakat lokal dan bersumber pada pengetahuan lokal.

Namun murni dan tidak murni kemudian juga berkembang, ketika makanan kemudian dihubungkan dengan kesehatan dan kualitas hidup. Maka meski berasal dari tumbuhan yang ditanam, kemurnian bahan pangan tetap dipertanyakan tatkala tumbuhan yang ditanam adalah hasil rekayasa genetika.

Perdebatan soal murni dan tidak murni kemudian menjadi semakin panjang. Apakah yang dimaksudkan dengan murni?. Apakah yang disebut murni itu artinya alami, segar, tidak diolah berlebihan, tidak ditambahi dengan bahan buatan lainnya, atau apa?.

Atau murni itu artinya bersih, higenis, tidak mengandung mikroba atau bakteri berbahaya dan dijamin tidak akan membuat orang sakit atau berisiko pada kesehatan dalam jangka pendek serta panjang.

Yang sebut murni secara alami bisa jadi tidak sehat dari sisi scientific. Namun yang murni secara scientific bisa jadi mahal dan tidak alami.

Dan lebih menjadi soal lagi apabila yang dipandang sebagai murni dikaitkan dengan warna. Apa yang dianggap bersih dan murni adalah yang berwarna putih. Sehingga apa saja kemudian diputihkan.

Dan terbukti apa yang putih tidak selalu baik dan menyehatkan. Oleh karena perlu perspektif baru soal pangan yaitu bermutu dan tidak bermutu. Ini bukan soal kelas yang sering diwujudkan dalam makanan berkelas dan tidak berkelas.  Sehingga hidangan yang disebut tinggi, menjadi hidangan yang hanya boleh dimakan oleh kelompok tertentu.

Lalu apa makanan yang murni, bermutu dan sehat?. Jawabanya tentu masih dicari dan terus dicari. Pencarian yang mungkin saja tak akan berujung karena tradisi, kebudayaan dan peradaban juga terus berkembang.

Namun dalam konteks tradisi, kebudayaan dan perabadaban setiap masyarakat akan selalu punya dekripsi tentang makanan yang murni dan agung dalam versinya masing-masing. Sebuah makanan yang diolah , dimiliki, dikonsumsi dan diperbincangkan oleh masyarakatnya dengan kebanggaan.

Masyarakat bangga pada makanannya karena dianggap sebagai representasi identitas kedirian mereka. Makanan yang bernilai tinggi dan itu sering kali tidak terkait dengan otentik atau tidak otentik. Dimanapun yang disebut orisinalitas lebih banyak merupakan sebuah klaim.

sumber gambar : travelingyuk.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here