Bapak Mustofa kerap bercerita waktu jaman masa kecilnya dulu yang terpenting di sekolah adalah kecerdasan intelektual atau IQ. Menurut bapak Mustofa, tokoh yang diidolakan sebagai orang cerdas saat itu adalah Albert Einstein. Berbeda dengan jaman bapaknya, jaman Mustofa yang diagung-agungkan adalah kecerdasan emosional. Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan diri, seimbang dan tidak moody. Mereka yang punya kecerdasan emosional akan lebih mudah berhasil ketimbang mereka yang pintar namun galau terus.

Kecerdasan emosional konon akan lebih lengkap jika seseorang juga mempunyai kecerdasan spriritual. Kecerdasan yang bersifat transendental, mengatasi kenyataan yang kasat mata. Kecerdasan sritual banyak diperbincangkan oleh mereka-mereka yang gemar mengadakan pelatihan-pelatihan yang dianggap akan mampu mendekatkan pesertanya kepada yang mengada diatas segala yang ada.

“Kita memang tidak cerdas. Buktinya sungai dijadikan tempat sampah,” begitu Mustofa kerap mendengar pernyataan yang keluar dari mulut pengerak Gerakan Memungut Sehelai Sampah SKM setiap kali tampil dalam talk show di media massa.

Pernyataan itu ditemukan oleh Mustofa dalam page dan group facebook yang dipakai oleh GMSS SKM untuk mempublikasikan segala seluk beluk kegiatan merawat dan menjaga Sungai Karang Mumus.  Kehadiran internet, perkembangan sosial media dan kesadaran untuk memakai sosial media sebagai bagian dari kewargaan di internet adalah bagian dari kecerdasan terbaru yaitu kecerdasan digital.

-000-

“Score mu berapa Mumus?”

“Score apa?”

“Tes IQ-mu.”

Mustofa tertawa lalu mengatakan “Nggak jauh dari Albert Einstein,”

Dan kemudian balik bertanya ke Bondan “Kalau kamu berapa,”

“Biasa, IQ jangkrik,”

Bondan dan Mustofa tertawa terbahak-bahak.

“Bondan yang penting sekarang ini adalah kecerdasan emosional dan spiritual, ESQ”

“Iya kah, kok bisa?”

“Lah iya, kan bangsa kita ini bangsa timur, bangsa yang sopan dan halus serta beriman. Tapi orangnya gampang ngamuk dan menunggangi agama untuk kepentingan kelompok atau golongan,” ujar Mustofa.

“Betul memang kata orang, konon orang Jepang sedikit bicara banyak kerja, orang Amerika banyak bicara banyak kerja, orang Indonesia lain yang dibicarakan lain pula yang dikerjakan,” sahut Bondan.

“Padahal kita banyak berucap, tertib, aman, tentram dan nyaman. Padahal awut-awutan. Contohnya membuang sampah, dari dulu selalu sembarangan,”

“Iya lihat saja sungai kita ini, entah masih pantas disebut sungai atau tidak. Kalau lihat tampilannya sih pantasnya disebut saluran limbah atau tempat sampah terpanjang,” sahut Bondan yang hari ini gemar memilih kata-kata ekstrim.

“Kita selalu tertinggal, kita masih bicara soal emosional spritual, sesuatu yang sudah kita geluti sebagai bangsa sejak ribuan tahun yang lalu. Sekarang ini sudah jamannya kecerdasan digital,”

“Weh, ngeriknya kamu Mumus, ngarang-ngarang darimana lagi itu kecerdasan digital?”

Mustofa kemudian memaparkan, kalau dengan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai konvergensi dari berbagai jenis platform teknologi, hardware dan sofware telah merubah dengan sangat fundamental berbagai aspek kehidupan.

“Bondan, sekarang ini yang disebut sebagai kecerdasan digital itu sesuatu yang utama, tanpa itu kamu ke depan sulit akan mendapat pekerjaan,”

“Kecerdasan digital itu apa?”

“Ya kita ini adalah warga digital, karena kita tinggal di smart city. Segala sesuatu urusan kini sifatnya sudah terdigitasi,”

“Lalu orang yang mempunyai kecerdasan digital akan berkreasi dengan segala macam perangkat yang sifatnya digital, kita ini menjadi orang kreatif digital,”

“Bingung aku Mumus,”

“Ya kamu menghasilkan produk, karya atau apapun dalam bentuk digital dan memakai perangkat atau gadget digital,”

“Kalau kita jualan pakai online shop atau digital market place itu apa Mumus?” ujar Bondan ikut-ikutan pakai istilah digitalized.

“Nah itu namanya technoentrepreneurship. Itu salah satu juga kecerdasan digital,”

Bondan manggut-manggut mendengar penjelasan Mustofa. Bondan tak menyangka kalau Mustofa punya pengetahuan terdepan soal kecerdasan. Padahal Bondan tidak tahu kalau Mustofa hanya mendapat dari link yang dibagi oleh temannya, link berbahasa Inggris itu dibacanya dengan google translate.

Perbincangan mereka terus berlanjut, Mustofa dan Bondan terus mengurai apa yang disebut kecerdasan digital dan juga membicarakan aspek-aspek apa yang harus dikuasai oleh generasinya sebagai digital native yang tentu berbeda dengan orang tua mereka yang adalah digital migrant.

“Jadi Bondan sebagai pemakai smartphone maka kita harus punya identitas sebagai warga digital, Kita musti bisa menjadi orang yang online dan offline dengan integritas. Artinya omongan dan kelakuan ya harus sejalan bukan hanya di dunia nyata tapi juga di dunia maya. Jangan jadi orang lain saat online,”

“Oh begitu ya Mumus?”

“Iya, jadi kalau pegang HP ya harus multitasking. Jangan sembarang klik link dan share. Kalau dapat link, pindah dulu ke browser, baca isinya baik-baik baru pikirkan pantas di share apa nggak,”

“Kalau bully-bully-an gimana Mumus?”

“Nah itu salah satu ketrampilan atau kepekaan yang harus kita punya adalah mendeteksi gelaja bullying secara dini dan menghadapi dengan bijaksana. Kalau ada yang nyindir-nyindir atau nyinyir di internet atau sosial media, biarkan saja. Kalau perlu block atau laporkan ke penyedia layanannya,”

“Oh, iya Mumus keamanan itu memang penting. Kita kan sering abai di dunia maya, padahal penjahatrnya sama saja, malah lebih kencang sekarang cyber crimenya,”

“itu sudah, jadi lindungi data pribadi kita, buat passwords yang kuat,”

“Setuju aku Mumus, di internet atau sosial media banyak form yang meminta data pribadi. Itu harus dikelola dan dilindungi baik-baik biar tidak dimanfaatkan oleh penjahat. Jangan sekali-sekali menshare data pribadi ke pihak yang tidak kita kenal. Pilihlah modus privat jangan publik,”

“Nah, sekarang kan informasi berhamburan, itu mesti bagaimana kita sikapi,”

“Berpikir kritis Bondan, tidak semua yang ada di dunia maya itu benar. Maka bedakan mana yang baik, mana yang buruk, mana yang asli, mana yang palsu, konten mana yang berbahaya dan lain sebagainya. Jangan jadi monyet lalu main klak-klik saja,”

“Oh iya, berselancar atau menyusuri dunia maya itu kan sama artinya kita jalan-jalan jadi ada jejak yang kita tinggalkan,”

“Betul Bondan, jejak di dunia maya itu alamiah saja. Jadi ya itu harus hati-hati, jangan meninggalkan jejak yang bikin susah di kelak kemudian hari. Misalnya kata-kata yang membuat kita nanti suatu saat ditagih atau diprotes. Juga foto-foto yang mungkin suatu saat kita dianggap tak senonoh, atau tak pantas. Ingat Bondan jejak didunia maya itu abadi, susah dihilangkan dengan permanen apalagi kalau sudah viral. Moda private pun bisa dicapture lalu dishare di saluran lain,”

“Haish ngeri ya Mumus,”

“Ya sebetulnya tidak sih kalau kita baik di dunia nyata, kita juga baik di dunia maya. Di dunia maya kita juga perlu empati. Kita juga perlu sadar apa yang namanya kepunyaan orang lain, apa kebutuhan orang lain, jangan seenaknya. Kita harus punya perasaan online,”

Bondan begitu bersemangat mendengar keterangan Mustofa itu. Dan kemudian berkata “Mumus, kita harus menerapkan kecerdasan digital ini ke Sungai Karang Mumus,”

“Nah, itu dia maksudku,”

“Lalu gimana caranya?”

“Ya kita bisa belajar dari GMSS SKM yang menjaga dan merawat Sungai Karang Mumus dengan rajin berbagi kisah dan ceritanya di sosial media,”

“Oh iya kah?”

“Lah, kamu ini ngapain pegang-pegang smartphone kalau nggak tahu fanpage Gerakan Memungut Sehelai Sampah Skm dan group facebook Save KarangMumus?”

“Biasa Mumus game online, Smule dan Bigo Live,”

“Pantas saja IQ-mu jangkrik brooooooo …..”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here