KESAH.IDTiang dan jaringan kabel di kota kita sekarang tak lagi serapi gambar pemandangan anak SD di jaman bahari. Dan kedepannya dengan semakin banyaknya provider yang memasang jaringannya sendiri, niscaya kesemrawutan tiang beserta kabelnya akan semakin akrab dengan keseharian kita hingga kita tak merasa terganggu lagi olehnya.

Listrik di kampung saya kalau tidak salah mulai terpasang setelah pemilu 1982. Rasanya senang sekali ketika melihat truk pengangkut tiang beton menurunkan tiang listrik PT. Wijaya Karya.

Waktu itu banyak pohon harus ditebang, namun masyarakat tak keberatan walau harus kehilangan beberapa pohon kelapanya, pohon petai yang kerap berbuah lebat dan pohon lainnya.

Jaringan listrik yang dipasang adalah jaringan medium dengan voltase 220 yang sentrumnya lebih kenceng. Tersentrum listrik 220 rasanya seperti tertarik atau tersedot dan kemudian langsung terasa pegal, tidak seperti listrik 110 yang rasanya seperti digigit semut.

Setelah listrik terpasang ritual rutin setiap sore untuk membersihkan seprong lampu dan mengisi minyak tanah jadi hilang.

Walau harus berhemat karena kapasitas terpasang rata-ratanya 450 watt namun suasana kampung jauh lebih terang dari sebelumnya. Hingga mulai jarang terdengar ada kabar anak hilang jalan kala matahari mulai tenggelam dan dikabarkan dibawa oleh lampor, lelembut yang suka menyasarkan serta menyembunyikan anak-anak.

Listrik waktu itu memang jadi impian. Walau jarak rumah saya dengan pusat kota tak jauh, hanya 2 km namun ketiadaan listrik membuat kami jadi inferior, merasa ndesani karena penerangan di rumah pakai lampu minyak tanah.

Keinginan dan kerinduan untuk mempunyai aliran listrik itu menjadi salah satu alasan kenapa setiap kali diperbolehkan mengambar bebas di Sekolah Dasar maka yang akan digambar adalah pemandangan gunung, sawah dan jalan berkelok dihiasi tiang listrik.

Sebelum ada tiang listrik, dijalanan depan rumah saya sudah ada tiang telepon. Tiangnya dari kayu balok kotak dan kabelnya hanya sebiji. Tiang itu menghubungkan kabel untuk satu-satunya pesawat telepon di Kantor Kawedanan.

Baru berapa tahun kemudian tiang itu diganti dengan tiang besi dan kabelnya lebih besar karena masyarakat sudah ikut memasang telepon rumah.

Tiang telepon ada di satu sisi jalan dan tiang listrik di sisi jalan lainnya.

Karena rumah masih cukup jarang, selalu ada jarak antara rumah satu dengan rumah lainnya baik kabel telepon atau kabel listrik masih terlihat rapi, belum menganggu pandangan.

Saya tak tahu persis apakah sekarang masih serapi itu, pasalnya setiap kali mudik pulang kampung saya tak terlalu memperhatikannya. Namun yang pasti rumah-rumah sudah mulai berhimpit, tak banyak lagi rumah yang mempunyai halaman depan yang luas, pinggiran jalan sudah dipenuhi dengan kios, bengkel, salon dan lain-lain.

Pemandangan tiang berjejer rapi melewati persawahan seperti yang terlukis di buku gambar juga jarang terlihat, sawah yang dulu menjadi pemisah antara kampung saya dan kampung sebelah sudah hilang berubah menjadi perumahan dan ruko.

Dulu ketika membuka pintu belakang rumah dan melangkah ke pekarangan belakang akan terlihat hamparan sawah dan gunung di kejauhan. Sekarang kalau berdiri di belakang rumah yang terlihat tembok perumahan.

BACA JUGA : Selamat Tinggal Angkutan Kota

Saat mulai tinggal di Kota Samarinda, sejak awal saya sudah menemukan gejala-gejala keruwetan tiang dan kabel. Waktu itu tiangnya memang masih tiang listrik dan telepon, namun kabelnya bertambah banyak karena mulai ada kabel internet serta kabel tv.

Di tiang telepon mulai bergantung banyak kabel yang sebelumnya mungkin tak direncanakan akibatkanya banyak tiang tak berdiri tegak, miring karena tertarik beban.

Bentangan kabel dari satu tiang mengarah kemana-mana, tidak lagi memanjang mengikuti arah jalan melainkan membentang diatas badan jalan, berseliweran.

Ada banyak rumah diatas atapnya melintas kabel, awalnya tegang namun lama kelamaan kendor dan menempel diatas seng atau genteng.

Ketika kabel internet tak lagi melewati kabel telepon karena berpindah ke kabel fiber, tiang-tiang bertambah. Ada yang berdiri terpisah namun banyak pula yang didirikan berdekatan dengan tiang telepon sebelumnya.

Memasuki pertengahan tahun 2022 ini nampaknya provider internetnya bertambah dan membangun jaringan sendiri. Tiangnya pun bertambah, maka jadi jamak di satu titik berdiri 2 sampai tiga tiang berhimpitan.

Di pinggiran jalan semakin banyak tiang, bentangan kabelnya juga makin terlihat dan silang sengkarut kabelnya sebentar lagi akan lebih ruwet ketika provider yang baru mulai melayani sambungan ke rumah-rumah.

Untung saja sudah tidak banyak anak-anak bermain laying-layang sebab akan sulit bagi mereka untuk menerbangkan layang-layang tanpa tersangkut kabel-kabel yang malang melintang di halaman rumah mereka yang umumnya sempit itu.

Pun kalau berhasil ditebangkan dan adu tajam dengan layang-layang teman lainnya, layang-layang yang putus bakal sudah dikejar dan diraih karena tersangkut di kabel.

Listrik dan internet sudah menjadi kebutuhan pokok serta tak mungkin dihindari lagi. Namun infrastruktur penghubungannya makin hari makin tidak rapi. Tiang dan centang perentang kabel menjadi pemandangan yang tidak mengenakkan.

Apakah bisa kabel-kabel itu tidak kelihatan bersilang-silang diangkasa?.

Bisa saja andaikan sejak semula infrastruktur penghubung listrik, internet dan telepon memakai kabel bawah tanah. Seperti pipa air PDAM atau pipa gas.

Beberapa kompleks perumahan sudah menerapkan hal itu sehingga cakrawalanya tidak dihiasi oleh tiang-tiang yang bertumpukkan dan kabel yang centang perentang.

Pun demikian juga dengan beberapa kota atau wilayah yang umumnya di luar negeri. Kotanya bersih dari pemandangan tiang dan kabel yang bertumpukkan.

Untuk merubah jaringan diatas tanah menjadi jaringan dibawah tanah dibutuhkan biaya yang sangat besar dan perencanaan yang baik. Padahal umumnya kota-kota di negeri kita tumbuh tanpa rencana yang adekuat. Kota berkembang secara organik, tambal sulam sesuai dengan kepentingan masing-masing.

Usaha merapikan hal itu jelas butuh kemauan politik yang kuat dan didukung oleh sumberdaya uang yang besar.

Maka alih-alih merapikan jaringan listrik dan kabel lainnya, pemerintah lebih senang merapikan dan menertibkan pedagang kaki lima, atau menggusur permukiman di pinggir sungai.

Jangankan merapikan, menyadari bahwa tiang dan kabel-kabel itu telah menganggu estetika kota saja barangkali belum sampai kesana.

BACA JUGA : Runtuhnya Trotoar Kami Di Simpang Jalan Estetika

Semrawutnya tiang dan kabel tentu saja merupakan pemandangan serta kabar buruk. Walau begitu ada kabar baiknya karena yang buruk itu tidak hanya terjadi di Kota Samarinda, kota-kota besar lainnya bahkan lebih buruk.

Bahkan keburukan itu bisa jadi memecahkan rekor dunia. Rekor karena pada satu titik bisa berhimpit lebih dari 10 tiang dengan gulungan kabel yang mengelantung tak beraturan. Kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan dan lainnya bisa memperebutkan rekor itu.

Pasti sudah banyak orang mengeluh, bahkan berniat protes. Beberapa berhasil, terlebih jika yang memprotes adalah orang-orang terkenal, kaum influencer yang banyak pengikutnya yang bisa mempengaruhi citra institusi tertentu apabila dia tidak suka.

Tapi kebanyakan yang lainnya hanya bisa memendam keluhan. Dan kalau lama memendam lama-lama akan terkena tekanan darah tinggi bahkan jantungan.

Sejauh ini tidak ada UU yang melarang pemasangan tiang di wilayah jalan untuk memanfaatkan ruang yang tidak dipakai sebagai badan jalan.

Jadi PLN, Telkom dan provider lainnya bebas memasang tiang dan menarik kabel sejauh tidak menganggu fungsi jalan atau pengguna jalan. Kalaupun ada kabel putus atau tiang ambruk dan menimpa pengguna jalan, itu hanyalah kecelakaan.

Dan juga tidak ada larangan jika tiang yang dipasang oleh provider tertentu dicantoli kabel dari provider lainnya yang tidak mampu memasang tiang sendiri.

Jadi pemandangan tiang dengan silang sengkarut kabel nampaknya merupakan nasib yang harus diterima. Sebuah keadaan yang barangkali akan susah atau lama untuk diubah.

Maka sebagai warga agar tak lekas jantungan mulai sekarang jangan terlalu punya ekpektasi yang tinggi, punya angan-angan yang berlebihan walau kota kita ini telah mendeklarasikan diri sebagai Kota Pusat Peradaban.

note : sumber gambar – NEWS.DETIK.COM