Koran koran, hanya tulisan, alat perang seniman, isi perut wartawan.

Selarik baris itu adalah syair lagu yang seingat saya dinyanyikan oleh Franky Sahilatua yang saat itu kerap berduet dengan Jane. Duo mereka dinamakan Franky & Jane.

Koran pada saat itu memang penting. Kabar berita atau serpihan peristiwa dikabarkan lewat koran. Berlangganan koran dan kemudian membaca koran pagi-pagi ditemani segelas teh atau kopi sungguh berkelas.

Masuk koran karena diberitakan atau tulisan diterbitkan sungguh membuat hati bersuka, Dengan diberitakan di koran, rasanya menjadi orang penting. Dengan dimuat tulisannya di koran bikin diri merasa jadi orang pintar.

Tapi itu cerita dulu, lebih dari 10 tahun yang lalu. Berkembangnya internet, website dan kemudian blog serta media sosial membuat fungsi koran sebagai pengkabar berita mulai surut. Koran mulai menghilang dari lapak-lapak. Mencari penjual koran kini lebih sulit daripada mencari tukang tambal ban.

Kini koran-koran hanya mencoba bertahan, tidak hanya terbit dalam versi cetak melainkan juga mesti membuat versi online, yang beritanya terus diperbaharui beberapa jam sekali. Judulnya pun harus dibuat agar menarik perhatian. Sebab jika tidak pasti akan kalah bersaing dengan cuplikan video-video pendek yang diunggah dan dibagi lewat media sosial.

Koran dalam versi onlinepun kini bukan lagi memegang monopoli sebagai penyebar berita. Banyak peristiwa atau kejadian dengan cepat disebar oleh warga, netizen atau pemakai media sosial. Apa yang terjadi di depan mata dengan cepat difoto atau direkam dan kemudian diunggah lalu menyebar bak virus, menjadi viral.

Namun keinginan untuk menjadi penyebar yang pertama, paling cepat mengabarkan berita maka kebenaran yang disampaikan menjadi tidak utuh. Peristiwa atau kejadian yang disebarkan hanyalah penggalan dari sebuah realitas. Belum lagi agar apa yang disebarkan menjadi wow, maka akan ditambahkan keterangan atau caption yang berlebihan.

Arus informasi menjadi tak terkendali. Ada yang tak sengaja menyebar berita atau peristiwa yang tak lengkap. Tapia da juga yang memang sengaja, merekayasa berita sesuai dengan kepentingan masing-masing. Peristiwa atau kejadian akan dipilih, disebarkan hanya hal-hal tertentu, sementara hal lainnya akan disembunyikan atau dianggap tak terjadi.

Dulu wartawan adalah pengendali informasi. Ditangan merekalah informasi diproduksi. Tapi kini semua orang bisa menjadi produsen berita, namun yang paling menonjol dan getol adalah para buzzer, kelompok yang disebut dengan pendengung. Mereka entah karena dibayar atau karena kepentingan tertentu kerap menyebar rumor dan gosip agar menjadi perbincangan dalam masyarakat, lapangan mereka adalah media sosial.

Saya sendiri sudah bertahun-tahun tak membeli dan tak membaca koran cetak. Kalau melihat koran tergeletak juga tak tertarik lagi untuk membacanya. Selain beritanya sudah basi, isinya juga banyak yang ditulis sendiri oleh yang diberitakan (berita humas).

Senjakala koran cetak memang telah tiba. Memang masih ada yang membaca yaitu kelompok yang disebut sebagai silent generation, kelompok yang usianya 60-an tahun keatas. Mereka nampaknya masih merasa gagah jika masih membaca koran.

Jika kelompok ini habis maka kemungkinan besar pembaca koran akan kembali menurun drastis. Memang masih akan ada yang membeli atau membaca koran, karena selalu ada kelompok pengemar vintage, retro dan juga penyuka segala sesuatu yang arkaic.

Maka jangan heran jika masih ada yang menerbitkan koran baru di jaman serba online ini. Selain karena punya banyak uang dan tak ingin mencari untung, mereka bisa jadi belum mampu move on dari rasa jaya dan kebesaran di masa lalu.

Kredit foto : suarabbc.com