Orang tua selalu menganggap tidur itu keramat untuk anak-anak. Anak yang tertidur pulas akan dipandangi dengan senyum penuh makna. Berdiri di dekat, memandang lekat, terkadang sambil mengelusnya pelan agar tidak terbangun. Lagu pertama yang dikuasai oleh para orang tua adalah nina bobo, lagu untuk menidurkan anak-anaknya.

Anak-anak yang susah tidur akan membuat orang tua gelisah, bahkan terkadang marah-marah. Untuk menidurkan mereka maka orang tua akan menceritakan dongeng, cerita pengantar tidur. Ujar urang Banjar mereka harus be-kesah, menceritakan sebuah kisah.

Kesah memang mempunyai banyak makna. Dalam bahasa Indonesia, kesah bermakna suara yang diungkapkan karena perasaan gelisah (kesal, tidak senang). Atau dalam bidang seni berarti dialog, ucapan panjang, atau guman seorang tokoh yang mengeluhkan nasibnya atau menyampaikan pikirannya langsung pada penonton.

Sebuah kata memang punya banyak makna, bahkan bisa saja maknanya berlawanan. Maka kata selalu harus ditempatkan dalam konteks, memaknai kata tidak selalu bisa berpatokan dari apa yang diartikan dalam kamus. Berpaku untuk mencari makna kata hanya dari kamus membuat kita menjadi masyarakat tekstual. Cara berpikir tekstual memang bukan hanya khas pada kehidupan beragama.

Kehebohan atas ucapan Presiden Jokowi yang membedakan arti mudik dan pulang kampung, membuat Indonesia berisik di tengah serangan pandemi covid 19. Apa yang mau dikatakan oleh Presiden dalam konteks pulang kampung adalah pulang kampung sementara (karena lebaran) dan pulang kampung secara permanen (karena kehilangan pekerjaan di kota). Sialnya, kamus belum menyediakan kata yang membedakan pulang kampung sementara dan pulang kampung permanen.

Kata memang tanpa batas, tapi kamus selalu terbatas. Ada banyak hal yang kita maksud belum termaktub di dalam kamus. Makanya ada banyak orang dalam perbincangan kerapkali menyelipkan kata yang berasal dari bahasa Inggris atau bahasa lainnya. Alasannya belum ada padanan kata dalam bahasa Indonesia atau kalaupun ada maka akan menghilangkan kedalaman dan rasa bahasa.

Rocky Gerung, Filsuf Infotainment kerap kali mengatakan bahwa kata dalam bahasa Indonesia tidak cukup untuk mewadahi dinamika dan cara berpikir filsafat. Oleh karenanya ketika dia mengatakan kitab suci adalah fiksi kemudian menjadi ribut. Rocky dituduh menista kitab suci. Tapi Rocky balik menuduh mereka yang ribut itu tidak bisa membedakan antara fiksi dan fiktif.

“Ah, banyak kesah pian ini,”

Iya, itu memang hanya kesah, omong-omong, cerita, namun bukan omong kosong atau cerita bohong. Jadi tak perlu mengatakan bahwa banyak orang pintar hanya banyak bicara tapi tak melakukan apa-apa. Toh, kalau yang diomongkan itu memang benar, menginspirasi, memberi pelajaran maka itulah perbuatannya. Bukankah kalau yang diomongkan itu berdasar dari pengalaman, maka dia sudah melakukan sesuatu sebelumnya. Atau kalau yang diomongkan adalah hasil penelitian, maka dia sudah melakukan penelitian sebelumnya. Dan apabila yang disampaikan itu adalah hasil bacaan, maka dia sudah berbuat sesuatu sebelumnya yaitu membaca atau belajar.

Nah, mulai hari ini akan hadir kesah.id sebuah wadah untuk menyampaikan dan mengumpulkan berbagai kesah dari, oleh dan untuk Kalimantan Timur. Apa saja yang perlu dan penting untuk di – kesah – kan akan disampaikan disini. Kesah akan disajikan secara multimedia, dengan nada yang ringan, menghibur tanpa melupakan aspek sains agar kita bisa berpikir sesuai dengan jaman.

Siapa saja boleh dan bisa ber-kesah disini. Bisa berbagi peristiwa, pengalaman, pikiran, keluhan, pengetahuan dan bahkan omelan asal tidak bermaksud untuk merendahkan, menjelekkan dan menfitnah siapapun. Atau menyebarkan dan menyuburkan kebohongan apapun.

Selamat bekesah, karena setiap orang bisa dan punya kesah.

kredit foto : womantalk.com