Saat periode pertama pemerintahannya, Presiden Joko Widodo kerap mengaungkan slogan kerja kerja kerja. Kata kerja yang diulang sampai tiga kali mau menunjukkan harapan atau himbauan untuk kerja keras, terus bekerja, rajin bekerja. Dengan kerja kerja kerja diharapkan kerja membuahkan hasil, menjadi orang sukses, membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sejahtera.
Saya tak berani menduga atau menyimpulkan apakah presiden Joko Widodo punya anggapan sama dengan kebanyakan orang, bahwa kerja keras, kerja dari pagi sampai sore setiap hari adalah yang menentukan sukses tidaknya seseorang. Jadi mereka yang miskin dan tidak berhasil adalah orang-orang malas, orang yang berslogan tidur tidur tidur.
Adalah masih merupakan kenyataan umum bahwa kita kerap kali menyapurata, menganggap orang miskin itu adalah orang malas.
Dengan menganggap orang miskin adalah orang malas maka mudah untuk menuntaskan kemiskinan yaitu menghimbau dan meminta orang untuk bekerja keras.
Padahal kurang keras apa kerja para petani, buruh, pedagang kecil, nelayan dan lain sebagainya. Mereka bekerja dari pagi jauh sebelum karyawan kantor mandi pagi dan pulangnya juga sore ketika matahari sudah surup, terbenam di barat. Seharian mereka berkeringat, terkadang sambil menahan lapar dan haus, bermandi panas dan terkadang basah kuyub tersiram air hujan.
Ada aspek lain yang membuat kemiskinan sulit dientaskan yaitu kemiskinan struktural. Mereka yang bahkan paling keras bekerja sekalipun tidak akan mendapatkan hasil yang sepadan karena berada dalam tatanan struktural yang menindas.
Jejak ini bisa ditarik ke jaman perbudakan dan kolonial. Dimana para budak dan pekerja paksa bekerja melebihi jam dengan kondisi yang sama sekali tidak layak, membuat para tuan dan kolonial beroleh hasil yang baik serta pendapatan yang melimpah namun mereka yang bekerja tidak mendapat apa-apa.
Struktur ekonomi seperti ini diteruskan meski jaman sudah berubah. Kemerdekaan tidak membuat rakyat biasa yang mengandalkan tenaga memperoleh pendapatan yang setara dengan hasil yang mereka sumbangkan. Kelompok petani, buruh, nelayan dan pekerja subsisten serta informal lainnya tetap menjadi yang terbawah dalam tatanan sistem ekonomi.
Mereka karena struktur ekonomi yang berpihak pada penguasa modal dan kuasa politik dengan mudah terus didominasi, didiskriminasi dan diekploitasi. Mereka pulalah yang kemudian terus menerus menjadi korban paling menderita dari berbagai bencana yang membuat mereka harus disantuni.
Karena kerap menyatuni maka para penguasa ekonomi dan penguasa politik dengan semena-mena bisa menuduh kelompok masyarakat miskin sebagai masyarakat benalu, masyarakat yang bergantung pada pemerintah dan tak mampu menolong dirinya sendiri. Mereka kemudian sering distigma sebagai kelompok malas, tidak peduli pada masa depan dan tak mau bangkit untuk menolong dirinya sendiri.
Bagaimana orang-orang miskin ini bisa menolong dirinya sendiri jika tak punya kekuatan. Ladang tempat mereka mencari penghidupan dengan mudah digusur oleh investasi, entah perkebunan, tambang ataupun pembangunan infrastruktur lainnya yang tidak memberikan ganti untung yang sepadan.
Bertahun-tahun kita bicara soal pengentasan kemiskinan dan berderet-deret program dilahirkan untuknya. Pun juga kemudian melangkah ke arah yang lebih maju yaitu pemberdayaan.
Namun apa daya, semua itu hanyalah sebutan dan sebutan itu tak akan bermakna apa-apa jika semua yang melakukan masih bermental tuan dan kolonial karena masih belum berhasil melepaskan diri dari kebiasaan mereka yang lemah, yang tidak berhasil, yang miskin sebagai orang-orang malas, orang yang tak mau bekerja keras dan tak mau mengakui bahwa ada struktur dan sistem yang menindas.
kredit foto : Giacomo Berardi – unsplash.com








