KESAH.ID – Kesehatan merupakan isu penting untuk manusia, namun dunia kesehatan {biologis medis} baru berkembang kurang lebih 300 tahun terakhir ini. Dimulai dengan temuan mikroskop sehingga bisa mengenali bakteri dan virus. Antibiotik sebagai obat untuk infeksi juga baru ditemukan pada tahun 1928. Jadi sepanjang sejarah manusia masehi dunia kesehatan lebih dialami sebagai praktek non medis, itulah mengapa kita masih sering tidak rasional dalam urusan kesehatan.
Ada banyak teori tentang asal usul manusia modern {homo sapiens}. Salah satunya, teori Out Of Africa.
Menurut teori ini, evolusi dari manusia purba ke manusia modern sebagian bermula dari Africa. Dari sana homo sapiens menyebar ke seluruh penjuru dunia karena benua Afrika mengalami kekeringan sehingga mengancam kehidupan mereka.
Yang mengembara ke arah tenggara tersebar dan menghuni pesisir India, China, Nusantara hingga Australia. Rute ini disebut “Southern Route”.
Sedangkan yang mengambil “Northern Route”, meninggalkan Afrika melalui lembah Sungai Nil dan gurun Sinai lalu menghuni daratan Euroasia.
Proses ini berlangsung kurang lebih 300 hingga 150 ribu tahun yang lalu.
Tapi memperbincangkan peradaban manusia modern sampai sejauh itu akan lebih menimbulkan perdebatan ketiadaan catatan atau informasi yang dituliskan oleh mereka sendiri pada masa itu. Jejaknya lebih kepada artefak yang kemudian hanya bisa dibaca dengan bantuan teknologi untuk menghitung umur dan juga memetakan DNA-nya.
Membincang manusia modern akan lebih mudah dan berguna mulai sekitar 2000 tahun yang lalu. Saat kita memasuki perhitungan tahun yang disebut dengan masehi, peradaban ini sekurangnya lebih punya relasi dengan kita saat ini.
Tantangan besar umat manusia abad masehi bisa dirangkum dalam 3 bidang besar yakni kesehatan, pangan dan perang.
Sepanjang sejarah perjalanan peradaban manusia masehi ketiga hal itu telah menyebabkan banyak kematian, bahkan mungkin kepunahan pada bangsa atau suku tertentu.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam jangka waktu 100 tahun terakhir ini memberi sumbangsih besar sehingga kesehatan, pangan dan perang tak lagi menjadi musuh utama manusia pada masa sekarang ini.
Ilmu biologi memberi sumbangan besar dalam mengatasi masalah kesehatan manusia dengan temuan organisme penyebab infeksi. Dari pengetahuan ini kemudian para peneliti kesehatan atau farmasi bisa menemukan antibiotik dan obat-obat lainnya yang bisa membunuh microorganisme penyebab infeksi. Sekarang kita mempunyai obat dan vaksin yang membuat serangan virus, bakteri, jamur dan parasit secara massal bisa diatasi, masih menyerang namun lama kelamaan serangannya tidak menyebabkan kematian yang amat besar jumlahnya.
Kerugian karena serangan pandemi terakhir yakni Covid 19 bukan pada jumlah orang yang meninggal melainkan lebih ke kerugian ekonomi atau keuangan. Dibanding dengan pandemi lainnya, Covid 19 meski mencekam namun korban yang ditimbulkan atau kematiannya hanya nol koma dari populasi. Pandemi lain di masa lalu bisa menimbulkan kematian sampai dengan 15 persen dari populasi manusia.
Sekarang ini masih banyak orang yang kekurangan gizi namun kematian karena kelaparan sudah sangat jarang. Yang lebih banyak justru orang mati karena kekenyangan. Meski masalah ketersediaan pangan masih menjadi perhatian namun teknologi budidaya telah mampu menghasilkan kelimpahan pangan. Indonesia bahkan dicatat sebagai salah satu negara yang doyan membuang pangan karena sampah makanan bekasnya tercatat sebagai salah satu yang terbesar di dunia.
Negara yang berperang juga masih ada, namun perang massal yang melibatkan hampir keseluruhan negara di dunia tidak terjadi lagi. Perang tak lagi menimbulkan korban jutaan orang, kematian satu dua orang karena perang sudah membuat dunia murka.
Temuan senjata pemusnah massal atau nuklir justru membuat pembesar-pembesar negeri mulai berpikir bahwa perang bukan lagi sebuah pilihan bijaksana untuk mengalahkan negeri lain. Perang dengan menggunakan kekuatan militer dan senjata lebih banyak merugikan. Menang sekalipun juga tetap menderita.
Perang saat ini justru asimetris karena terjadi lewat perang dagang atau ekonomi, perang teknologi, perang informasi dan perang kebudayaan.
BACA JUGA : Ecologikal Utopia
MIPA, matematika, fisika, kimia dan biologi dikenal sebagai ilmu alam/ilmu pasti atau eksata. Disebut sebagai ilmu pasti karena berisi pengetahuan tentang hal-hal yang kongkret, nyata dan bisa dibuktikan lewat percobaan dan penelitian yang kalau diulang dengan metodologi yang sama akan menghasilkan hasil atau temuan yang tidak berbeda.
Ilmu ini sering juga disebut sebagai ilmu pengetahuan alam karena mempelajari tentang alam mulai dari asal-usul, cara kerja, lingkungan dan ekosistemnya, hukum-hukum yang menetap didalamnya. Manusia dan mahkluk hidup lainnya termasuk dalam kajiannya karena merupakan bagian dari alam.
Meski disebut sebagai ilmu pasti namun teori dalam ilmu-ilmu masih terus diperbaharui. Pengetahuannya terus berkembang bersamaan dengan temuan-temuan teknologi atau peralatan yang bisa membantu pengamatan lebih dalam. Masih ada banyak misteri yang belum terpecahkan karena ketiadaan alat atau teknologi untuk mengenalinya.
Ilmu biologi yang kini disebut sebagai ilmu pasti bahkan belum lama kembali ke pangkuan sains. Sebelum temuan teori evolusi Darwin, biologi adalah ilmu yang masih mengkonsumsi teologi. Biologi pada masa itu lebih dekat dengan filsafat. Kajian atas tubuh, dinamika alam dan lain-lainnya masih dikaitkan dengan kekuatan diluar entitas dirinya.
Pada masa ini antara filsuf, dukun, dokter, tabib dan lainnya hampir tak ada bedanya. Semua masih percaya bahwa orang sakit itu disebabkan karena ‘kesambet’ atau dirasuki oleh roh lain dari luar dirinya. Mereka juga masih percaya bahwa ada penyakit yang disebabkan oleh kutukan.
Dalam dunia kesehatan, pemisahan antara medik dan non medik belumlah lama. Yang sekarang kita kenal sebagai penyembuhan alternatif atau penyembuhan tradisional, dua atau tigaratus tahun lalu merupakan penyembuhan mainstreams karena masih ada jurang yang lebar dalam soal pengetahuan. Ada banyak sebab yang belum diketahui penyebabnya. Hingga kemudian penyebab diterangkan secara tidak ilmiah.
Hipokrates yang disebut sebagai bapak kedokteran karena menulis catatan Corpus Hippocraticum yang bertujuan membuang semua tahyul masyarakat Yunani Kuno mengenai kesehatan dan obat-obatan ternyata juga menciptakan tahyul baru.
Dia mengambarkan manusia atau eksitensinya berdasarkan 4 cairan, yakni darah, empedu kuning, empedu hitam dan lender. Mirip teori Empedocies yang mengambarkan alam terbuat dari 4 elemen dasar yakni tanah, air, api dan udara.
Teori Hipocrates ini kemudian menjadi tahyul baru ketika diterapkan dalam ilmu psikologi yang kemudian membagi sifat atau perilaku manusia sebagai bertipe sanguine, melancholic, choleric dan phlegmatic.
Diagnose terhadap penyakit oleh dokter pada masa itu didasarkan pada teori ini. Seseorang akan sakit jika ada kelebihan masing-masing cairan itu. Penyembuhannya dengan cara dibuang, bekam adalah salah satu model penyembuhan yang lahir dari teori Hipocrates dengan tujuan untuk membuang darah kotor yang berwarna hitam. Demikian juga gurah yang bertujuan menguras lendir di dalam tubuh.
Teori Hipocrates kemudian runtuh ketika ditemukan berbagai macam alat sehingga sekarang ini paling tidak ada sebelas cairan yang ditemukan dalam tubuh seperti cairan empedu, cairan darah, cairan menstruasi, lendir, nanah, mani, air liur, keringat, air mata, urine, dan cairan muntah.
Daftar cairan masih bisa diperpanjang dengan cairan ketuban, cairan serebrospinal, dan cairan lain yang melumasi permukaan jantung, paru-paru, organ perut, sendi dan lain-lain.
Dan kemudian diketahui bahwa penyebab penyakit umumnya adalah infeksi dari microorganisme seperti virus, bakteri, jamur, parasit dan kegagalan kerja organ dalam tubuh.
Dunia kedokteran kemudian berkembang pesat ketika ditemukan berbagai macam obat serta peralatan yang memungkinkan para dokter mencari jawaban atas penyakit bukan dari pengetahuan atau kepercayaan diluar tubuh manusia.
Meski mempelajari biologi, sesungguhnya dokter bukanlah ilmuwan. Seperti halnya dukun, tabib, penyembuh tradisional atau sebutan lainnya, dokter adalah penyembuh. Tugas dokter adalah menyembuhkan penyakit yang diderita oleh pasien, lewat serangkaian diagnostik ilmiah yang kemudian ditangani lewat sebuah prosedur baku.
Kemampuan dokter untuk menangai pasiennya menjadi berbeda-beda tergantung kepada akses pengetahuan atau prosedur terbaru, peralatan dan juga obat-obatan. Ketiadaan peralatan tertentu misalnya membuat diagnosa yang dilakukan oleh dokter menjadi tidak lengkap, penyebab sakit yang sesungguhnya tidak dikenali. Hingga kemudian pengobatannya menjadi tidak mujarab.
Antara dokter dan pasien juga ada jurang pengetahuan, dokter tak mungkin menerangkan semuanya secara ilmiah karena pasiennya malah bisa tambah sakit. Sehingga kerap ada istilah-istilah populer yang dipakai untuk menerangkan fenomena atau gejala penyakit tertentu agar mudah dipahami walau kemudian tidak dikenal sebagai istilah medis.
Permasalahan lain yang sering kali menyebabkan ketidakpuasan atau pemahaman masyarakat atas penyakit adalah waktu. Jumlah antara dokter dan pasien yang tidak seimbang membuat dokter tidak bisa berkomunikasi panjang lebar dengan pasiennya. Masyarakat kemudian kerap merasa tidak ada penjelasan yang gamblang perihal sakitnya.
Layanan kesehatan yang memuaskan kemudian kerap terkait dengan teknologi. Dan teknologi yang paling maju atau terdepan harganya mahal sehingga akses masyarakat umum pada layanan kesehatan yang baik menjadi tidak merata. Mencari penyembuhan kemudian terasa ribet sehingga masyarakat kemudian lebih memilih jalan alternatif, jalan yang lebih mudah dengan harapan bisa sembuh tanpa dibedah-bedah, meminum obat berkali-kali dalam sehari selama berbulan-bulan, pantang ini dan itu dan hal-hal lain yang membuat hidup serasa tidak nyaman.
BACA JUGA : Indonesia Raya, Jangan Remehkan Musisi Cafe
Dua puluh tahun lalu ketika bekerja dalam sebuah program pendidikan untuk pencegahan penyakit menular {seksual}, saya mulai mendalami perilaku masyarakat dalam pencarian pertolongan untuk pengobatan.
Saya baru paham ternyata begitu merasa sakit atau tak nyaman bodi yang pertama dipikirkan bukan dokter atau pengobatan medis. Biasanya orang akan bertanya obatnya ke orang-orang terdekat, pada temannya. Kebiasaaan ini membuat obat-obatan di warung menjadi lebih laris daripada apotik. Lama kelamaan apotikpun jadi seperti warung atau toko obat, lebih banyak menjual obat bebas, atau tak menanyakan resep dokter pada yang datang untuk membeli obat.
Salah satu obat yang kemudian menjadi populer adalah antibiotik, obat untuk infeksi bakteri. Obat yang mestinya hanya bisa dibeli dengan resep atau anjuran dokter ini dijual bebas, dikonsumsi seperti permen. Antibiotik yang pertama terkenal adalan penicillin.
Kalau gejalanya agak aneh atau tak biasa yang pertama dipikirkan adalah dukun atau orang pintar. Pengetahuan tentang kesehatan yang terbatas membuat orang kerap berpikir bahwa penyakitnya didapat karena diguna-guna, kesambet dan lainnya.
Dokter tidak menjadi pilihan pertama karena beberapa penyakit dianggap sebagai sebuah aib yang harus disembunyikan, baik dari orang lain atau pasangan. Penyakit terutama yang ditularkan akibat hubungan seks yang tidak aman dan tidak halal, jika dibawa berobat ke dokter akan bermasalah terutama untuk pria beristri atau perempuan bersuami. Dokter akan meminta pasangannya untuk dibawa berobat juga.
Sebab penyakit menular seksual untuk orang yang berpasangan jika diobati sendiri-sendiri akan menimbulkan fenomena ping-pong. Karena disembunyikan pada akhirnya akan saling kembali menularkan.
Sikap atau perilaku semacam ini kemudian menimbulkan mitos-mitos dalam dunia kesehatan, bukan hanya soal pengobatan melainkan juga cara pencegahannya. Masyarakat membuat cerita atau prosedur sendiri tentang pencegahan dan pengobatannya yang kemudian ditularkan dari mulut ke mulut sehingga menjadi ‘kebenaran’ komunal.
Dalam beberapa keluhan atau gangguan kesehatan, obat-obatan non medis memang bisa efektif. Seperti jahe yang bisa membuat perut yang terasa kembung menjadi nyaman, atau badan yang dingin menjadi hangat.
Banyak tanaman memang bernilai obat dan sebagaian besar obat-obatan medis memang diproduksi dari hasil ektraksi tanaman.
Hanya saja yang disebut dengan infeksi spektrumnya lebar, mulai dari infeksi ringan sampai infeksi berat. Infeksi yang sifatnya ringan bisa saja diatasi tanpa bantuan dokter, atau bahkan bantuan siapa-siapa, cukup dibiarkan saja dan kemudian sembuh sendiri. Mengobati diri sendiri dengan ramuan yang berasal dari tanaman serta bahan lainnya bisa menurunkan atau mengurangi perasaan tidak nyaman, nyeri dan lainnya. Begitu keluhan itu hilang atau berkurang, umumnya orang merasa sembuh.
Setiap orang yang sakit pasti ingin segera sembuh. Dan dokter tak bisa memberikan jaminan itu, karena memang tidak ada obat yang segera bisa menyembuhkan penyakit. Semua perlu proses, tergantung dari hasil diagnostiknya. Selalu ada prosedur yang mesti dilewati ketika berobat ke dokter.
Dan dokter tidak bisa menyembuhkan segala penyakit. Jika tidak bisa menangani atau tak punya kewenangan untuk menangani maka dokter akan merujuk ke dokter lainnya yang punya keahlian khusus atau spesialis.
Lain ceritanya kalau kita berobat ke dukun atau orang pintar. Semua penyakit bisa disembuhkan olehnya, karena hanya sedikit dukun yang mendeklarasikan dirinya spesialis. Walau memang ada dukun-dukun spesialis seperti dukun beranak, dukun pijat, dukun sunat, dukun tulang dan lain-lain.
Meski begitu dukun pijat bisa saja mengklaim pijatannya bisa menyembuhkan semua penyakit. Karena sumber-sumber penyakit biasanya ada di titik-titik tertentu. Maka dipijat pada titik itu penyakitnya akan hilang.
Pada akhirnya dalam urusan penyakit, masyarakat kita akan selalu memilih cara tergampang untuk menyembuhkannya atau mencegahnya. Sebenarnya ini bukan salah kita karena memang begitu cara kerja otak. Otak manusia selalu akan mencari cara termudah untuk menyelesaikan masalah.
Itu yang menerangkan kenapa pungli, suap dan lainnya juga marak. Masyarakat akan lebih memilih memberi amplop pada petugas, melakukan salam tempel biar tak antri, dokumennya cepat selesai, dibiarkan lewat tanpa diperiksa dan lain-lain.
Demikian juga dalam urusan kesehatan. Masyarakat akan memilih melakukan pengobatan non medis, alternatif atau apapun sebutan lainnya karena prosedurnya tidak rumit. Kalau tulang patah, lalu pergi ke dokter atau rumah sakit maka bakal diperiksa sana sini lalu dioperasi dan setelah itu masih bolak-balik ke rumah sakit atau dokter untuk kontrol.
Pergi ke dukun tulang jelas lebih simple, tak perlu di-rontgen. Jadi begitu datang langsung ditangani, dioles dengan minyak lalu berharap langsung sembuh.
Pun kalau tak sembuh, tak ada bekas pasien dukun yang komplein lalu melaporkan ke polisi karena malpraktek. Yang berobat ke dukun tulang, lalu sembuh tapi tangannya bengkok pasti malu mencuit di twitter. Sebab bukan dukunnya yang akan di-cancel, tapi dirinya yang malah akan di-bully netizen.
Soal dukun kalau seseorang berobat lalu tak sembuh bukan kemudian tak percaya pada dukun melainkan kemudian akan mencari dukun lain yang dianggap lebih mujarab.
Tak perlulah resah dan gelisah, yang berperilaku seperti ini bukan hanya orang Indonesia. Di negeri-negeri yang masyarakatnya lebih maju, sekolahnya lebih tinggi juga masih banyak yang percaya pada ‘keajaiban’ penyembuhan lewat dukun atau apapun sebutan lainnya diluar penyembuh medis.
Secerdas apapun sebuah masyarakat jika ada pilihan yang paling mudah dan diyakini efektif meski tak masuk diakal pasti akan dipilihnya.
Sembuh nggak sembuh bukan masalah, namanya juga ikhtiar.
note : sumber gambar – LAMPUNGTIMES.COM








