KESAH.IDAksi Kamisan bermula di Jakarta tepatnya di depan istana negara untuk mendesakkan pemerintah mengungkapkan seterang mungkin tragedi penghilangan paksa para aktivis menjelang runtuhnya regim Suharto. Aksi ini kemudian berkembang di beberapa daerah sebagai bentuk aksi langsung tanpa kekerasan untuk mendesak pemerintah menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM yang diingkari atau dibiarkan membeku.

Tiba di Yogya hari Selasa, 10 September 2024  dan akan ke Purworejo hari Jum’at, 13 September 2024 maka saya tak melewatkan kesempatan di hari Kamis untuk datang ke Kamisan.

Setiap hari Kamis datang ke Kamisan sudah menjadi ritual religi saya beberapa tahun belakangan ini, mengganti ritual datang ke gereja di hari Minggu. Saya memang merubah ritual agama menjadi ritual sosial yang dalam tafsir teologi pembebasan tak akan menghilangkan nilai spiritualitas.

Bukan Kamisan Yogya tapi Kamisan Kaltim yang karena tepian Mahakam direnovasi tak berkesudahan, kini mesti dilakukan di pojokan luar komplek Lamin Etam, Rumah Dinas Gubernur Kalimantan Timur.

Nah mumpung di Yogja maka Kamisan Yogya yang saya datangi untuk mereguk spiritualitas di ruang publik dengan atmosfir yang lain. Kamisan Yogya berada di tugu yang ikonik yakni Tugu Yogyakarta. Tugu yang berada dalam poros yang menghubungkan antara Gunung Merapi, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Segara Kidul.

Niat datang ke Kamisan Yogya sudah saya simpan jauh-jauh hari sesaat setelah mendapat kabar untuk pulang ke kampung halaman karena bapak dan ibu akan membuat hajatan. Di Kamisan Yogya, saya akan reuni dengan Raditya Dika, eh bukan,  maksudnya Raditya Mainaka Timur Angin, yang sedari bocil sudah aktif di Kamisan Kaltim.

Ra yang kabarnya kini lebih sering dipanggil Timur itu meninggalkan Kamisan Kaltim beralih ke Kamisan Yogya karena mengejar cita-cita. Cita-cita kuliah di Universitas Gajah Mada. Timur kini menjadi mahasiswa program sarjana ilmu sejarah di Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Umur beda jauh kok reuni?.

Ya, beda umur saya dengan Timur memang jauh, bahkan saya lebih tua dari bapaknya.

Tapi saya dan dia sama-sama murid, murid di universitas kehidupan lewat kuliah di Aksi Kamisan dan Susur Gang Samarinda yang kemudian diperdalam lewat dialektika di tongkrongan.

Di teras Meksiko, Angkringan Elly, Kopi Dul, Kopi Kelana, Klinik Kopi, Starbud, Kopi Kuburan dan lain-lain kami sama-sama belajar, kadang saya lebih tahu, kadang pula dia lebih tahu. Tapi tak jarang kami sama-sama tak tahu.

Karena tak tahu makanya akan mencari tahu. Dan mencari tahu adalah esensi pembelajar. Dan saya tahu Timur mempunyai energi besar sebagai seorang pembelajar terutama soal sejarah dan hubungan budaya serta politik internasional.

Menginap di jalan Pasar Kembang sekitar jam 16.00 saya berjalan kaki melintasi palang pintu kereta api Stasiun Tugu ke arah utara, lurus saja dan tak sampai 15 menit mengayun langkah telah sampai di perempatan dengan bundaran tugu putih di tengahnya.

Di pojokan sebelah pos polisi telah ada beberapa anak muda dengan perangkat aksi. Ada setumpuk spanduk, megaphone dan lain-lainnya. Saya menyaksikan dari sisi pojok lainnya.

Tak lama kemudian mereka mulai memasang spanduk di pagar yang mengelilingi bundaran. Spanduk dipasang menghadap ke empat arah agar terbaca oleh mereka yang lewat.

Beberapa saat kemudian yang datang semakin banyak. Beberapa mengambil spanduk dan kemudian membentang sambil berdiri di tepian jalan. Spanduk dibentang di dua sisi jalan yang mengarah ke selatan. Pengendara yang mempunyai tujuan kearah Maliboro akan melihatnya.

BACA JUGA : Malborough Malioboro

Setengah jam lebih spanduk dibentangkan sambil berdiri menghadap jalan. Beberapa orang bergantian tapi ada juga yang terus bertahan.

Usai itu mereka berkumpul, di taman pojokan. Satu demi satu menyampaikan orasi, testimonia tau penyampaian apapun. Yang menjadi pokok pernyampaian adalah kematian Munir, aktivis HAM yang dibunuh dengan racun saat perjalanan dari Indonesia ke Belanda.

Saya tak menghitung persis berapa orang yang hadir, namun kurang lebih ada 30 an anak-anak muda dan beberapa orang yang cukup tua. Kebanyakan mahasiswa baru dari Universitas Gajah Mada.

Entahlah apakah setiap Kamis yang hadir cukup banyak seperti itu. Untuk saya hal itu cukup mengembirakan karena Kamisan Yogya masih punya cukup masa depan.

Kamisan dimana-mana mungkin mulai kembang kempis, nafasnya seperti senin kamis untuk bertahan.

Di Samarinda Kaltim, walau terus bertahan namun setiap kali Kamisan tak cukup banyak yang datang. Acara Kamisan kerap kali hanya diisi dengan membentang spanduk, foto-foto lalu pulang. Sebagian melanjutkan kongkow di tongkrongan.

Hanya pada saat tertentu saja ada yang mau orasi atau membaca puisi.

Jadi Kamisan Yogya terbilang lumayan. Sebab ada 4 – 5 orang yang menyampaikan orasi. Kumpul-kumpul aksinya juga bisa bertahan sampai sekitar jam setengah tujuhan malam.

Jika di Kamisan Kaltim sehabis aksi dilanjutkan dengan kumpul-kumpul di warung angkringan atau warung kopi, sepertinya di Kamisan Yogya setelah aksi biasanya sebagian akan pergi nongkrong dan ngumpul di sekretariat SMI atau Social Movement Institute.

Kumpul-kumpul memang menjadi roh dari Kamisan, sebab Kamisan bukan sebuah organisasi yang rigid. Kamisan mirip gerombolan yang tak mengenal tata atau struktur yang ketat, semua bisa berperan serta dan mengambil tanggungjawab.

Semangat gotong royong yang dijaga dalam Kamisan karena tak mengenal struktur perintah.

Bertahun-tahun mengikuti Kamisan, saya juga hanya mengambil peran sebagai pengembira. Hanya hadir bersama, ikut nongkrong dan kemudian turut dalam aksi walau hanya berdiri-berdiri.

Sebagai sebuah Aksi Langsung Tanpa Kekerasan, mungkin aksi yang dilakukan oleh Kamisan seperti tidak berdampak, tidak terlihat langsung hasil nyatanya.

Namun justru disinilah tantangannya, karena tak banyak yang mampu bertahan dalam aksi nan senyap.

Di jaman orang berlomba-lomba menarik perhatian, aksi yang dilakukan oleh Kamisan mungkin kurang atraktif, sulit untuk viral karena setiap minggunya berlangsung dalam ritme yang hampir sama.

Akun Aksi Kamisan Kaltim misalnya akan ramai jika melakukan siaran langsung saat ada aksi besar, seperti demonstrasi ke Kantor Gubernur atau Kantor DPRD Kaltim.

Dalam aksi seperti ini biasanya akun media sosial Aksi Kamisan Kaltim jadi rujukan, bukan karena hebatnya melainkan akun media sosial Aksi Kamisan Kaltim mungkin yang paling konsisten melakukan siaran langsung aksi-aksi semacam itu.

BACA JUGA : Kopi Gempa

Mentari mulai surup ke barat, ramai jalanan saat jam orang pulang mulai berkurang. Satu persatu spanduk mulai dicopot dan dilipat rapi untuk digunakan kembali.

Tak ada yang memerintah dan diperintah hingga perangkat aksi kembali tertata rapi untuk dibawa pulang.

Esok pagi saya mesti ke Purworejo. Dan memanfaatkan waktu sisa, saya dan Timur yang kebetulan sedang dikunjungi oleh ibunya kemudian berjalan-jalan ke Malioboro.

Dari arah Tugu Yogyakarta ke Malioboro tidak terlalu ramai, walau mesti melangkah hati-hati karena jalanan antara Tugu Yogyakarta dan Malioboro banyak dilewati kendaraan, mulai dari kendaraan roda dua hingga bis-bis besar pariwisata.

Sebelum menyeberang palang pintu rel kereta api, kami sempatkan menyusuri sisi sebelah timur tempat deretan angkringan kopi joss menawarkan dagangannya.

Di salah satu kiosnya ada yang menjual pizza, gerai kaki lima namun dilengkapi dengan pembakaran. Sebenarnya cukup menarik namun perut belum memberi aba-aba untuk menyinggahinya.

Setelah menyeberangi palang pintu kereta api, keramaian mulai lebih terasa. Jalan Malioboro sudah ditutup dari lalu lalang kendaraan. Malioboro di sore hari memang dikhususkan untuk para pejalan kaki agar bisa menikmati suasana Yogyakarta dengan leluasa.

Mendekati jalan Sosrowijayan, saya pamit pada Timur dan ibunya untuk berpisah jalan, agar mereka bisa melepaskan kangen di Malioboro.

Saya pulang ke penginapan untuk berkemas agar esok bisa meninggalkan Yogyakarta tanpa ketinggalan sesuatu apapun.

Hari Kamis, 19 September 2024 ini saya di Semarang. Sebenarnya Aksi Kamisan Semarang, sayangnya tak ada yang saya kenal.

Jadi Kamis ini saya menghabiskan waktu di Kampung Wisata Nangkasawit, Gunung Pati, Semarang. Duduk manis di teras rumah sambil menikmati pemandangan kampung nan asri. Suasana hati makin berseri karena tuan rumah menyajikan sebotol anggur Cockburn’s, Special Reverse yang manis sekali.

Anggur dengan logo ayam jago berhadapan itu membuat sengatan mentari tak terlalu terasa panas. Karena tegukan anggur yang melewati tenggorokan membawa kehanggatan di badan.