KESAH.IDCara berpolitik lama kita adalah mengobral janji kosong, janji buta yang sulit untuk ditepati. Saya menang rakyat sejahtera misalnya jelas janji yang kelewat bohong. Sebab tak menerangkan bagaimana caranya dia membuat rakyat sejahtera. Pun dengan janji jika menang maka harga akan turun, ini itu gratis. Padahal yang disebut harga tidak dalam kendalinya, pun juga mengratiskan ini dan itu jelas-jelas tergantung pada kemampuan keuangan negara.

Sekitar lima tahun lalu saya diberi kaos PSI yang sampai sekarang masih saya simpan dalam lemari. Kaos yang belum pernah saya pakai itu diberikan oleh seorang calon anggota DPR RI yang mewakili Dapil Kalimantan Timur.

Waktu itu saya mengagumi PSI, sebuah partai baru yang kental sekali dengan aura dan semangat anak-anak muda. Pengurus dan anggotanya orang-orang muda, kebanyakan jurnalis serta terlihat idealis.

Namun jujur saja pengetahuan saya tentang PSI terbatas pada apa yang disiarkan oleh media. Beberapa sosok petinggi atau pengurus PSI memang kerap tampil di media. Tsamara Amani salah satunya.

Meski ramai diperbincangkan dan diberitakan toh PSI tak cukup mampu untuk meraup suara. Partai orang-orang muda yang memberi harapan ini tidak bisa tembus electoral threshold. Jumlah suara yang diraupnya tak cukup untuk mendudukkan kadernya di kursi DPR RI.

PSI hanya berhasil mendudukkan 67 kadernya di 6 DPRD Provinsi dan 37 DPRD Kabupaten/Kota. Dan kiprah anggota dewan yang paling menonjol dari PSI ada di DPR DKI Jakarta.

Ikut mendukung pemerintahan Joko Widodo, PSI mendapat jatah wakil menteri. Namun jarang sekali PSI terlihat diundang atau terlihat bersama dengan partai-partai koalisi lainnya.

Tidak mempunyai kader yang duduk di kursi DPR RI membuat PSI tidak bisa bicara banyak, daya tawar politiknya di tingkat nasional menjadi kecil.

PSI kemudian berhasil kembali menarik perhatian tatkala dipimpin oleh Giring Ganesha, vokalis grup Nidji. Giring dengan gagah berani mengkampanyekan dirinya sebagai calon presiden RI, ketika belum ada satu sosokpun mendeklarasikan diri.

Hanya saja selama ini Giring lebih dikenal sebagai penyanyi ketimbang politisi. Track records-nya dalam bidang politik yang belum panjang membuat publik menganggap Giring merupakan politisi ingusan. Partainya pun masih dianggap sebagai partai bocil.

Setelah berkeliling Indonesia untuk mensosialisasikan pencapresannya, Giring justru menemukan nama-nama yang dikehendaki oleh rakyat untuk menjadi calon presiden pada pemilu 2024. Giring kemudian membatalkan pencapresannya dan bersama PSI mengklaim telah mengumpulkan 9 nama yang paling tepat memimpin Indonesia.

Kesembilan nama itu adalah Emil Dardak, Erick Thohir, Ganjar Pranowo, Mahfud Md, Muhammad Andika Perkasa, Ridwan Kamil, Muhammad Tito Karnavian, Najwa Shihab dan Sri Mulyani Indrawati. Tidak ada nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan dalam daftar nama itu.

Pada tanggal 3 Oktober 2022, lewat sebuah konperensi pers secara daring, PSI menyatakan akan mengusung Ganjar Pranowo sebagai calon presiden pada pemilu 2024.

Keputusan ini menurut PSI merupakan hasil dari rembuk rakyat yang dilakukan secara berjenjang. Keputusan PSI sudah bulat, membatalkan pencapresan ketuanya dan kemudian mendukung Ganjar Pranowo kader PDI Perjuangan yang tengah menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah.

Ganjar Pranowo sendiri setelah melalui berbagai drama akhirnya memang ditetapkan oleh PDI Perjuangan menjadi calon presiden pada Kamis, 27 April 2023.

PSI tentu saja senang dengan deklarasi itu. Namun pada saat Sekjen PDI Perjuangan mengumumkan Pembentukan Tim Pemenangan Ganjar, ternyata nama PSI tidak disebut. Nama partai pendukung yang disebut adalah Hanura dan PPP.

Deklarasi dukungan PSI pada Ganjar Pranowo tidak dianggap oleh PDI Perjuangan.

BACA JUGA : Peta Koalisi Yang {Masih} Berubah ubah

PSI mati angin dihadapan PDI Perjuangan, namun tidak didepan Jokowi. Merasa mendapat angin atau sekurangnya tak ada reaksi negatif dari Joko Widodo, PSI melakukan berbagai manuver. Salah satunya adalah mendekati anak-anak Joko Widodo, kakak adik Gibran dan Kaesang.

Untuk Gibran, PSI berjuang agar Gibran bisa masuk dalam orbit calon wakil presiden. Untuk itu PSI melakukan gugatan ke Mahkaman Konstitusi perihal pembatasan usia calon wakil presiden. Sedangkan untuk Kaesang, PSI mendorong-ndorong bahkan sudah mengkampanyekan putra bungsu presiden itu untuk maju dalam pemilihan kepala daerah Depok.

Nampaknya umpan dan permainan PSI dimakan oleh Prabowo. Prabowo pun menyambangi markas PSI dan menunjukkan kesamaan chemistry. PSI kemudian membatalkan dukungannya kepada Ganjar Pranowo.

Pembatalan ini menimbulkan riak tersendiri dalam tubuh PSI, walau tak menjadi badai. Beberapa kader kemudian menyatakan keluar karena ingin tetap hidup mati mendukung Ganjar.

Salah satu yang paling getol melawan keputusan PSI untuk dekat-dekat dengan Prabowo adalah Guntur Romli. Guntur bahkan telah membentuk atau aktif dalam kelompok relawan bernama Spartan Ganjar.

Dalam beberapa kesempatan Guntur Romli bahkan telah terlihat memakai jaket merah PDI Perjuangan.

Sosok tukang gedor yang selalu gaspol kalau bicara PSI ini akhirnya pindah ke lain hati.

Gunturpun mulai keberatan jika wajah Gibran dipasang-pasangkan dengan Prabowo.

Koalisi Prabowo yang sudah gemuk bakal semakin bengkak jika PDI bergabung. Bergabungnya PSI sebagai anggota koalisi sudah diklaim oleh Sekjen Partai Gerindra.

Meski demikian PSI ingat kepada nasehat Joko Widodo “Ojo Kesusu”. Sabar dan mencermati dinamika politik, PSI pun mengatakan akan mendengarkan arahan dari Joko Widodo soal kemana arah untuk berlabuh.

Wakil Ketua Dewan Pembina DPP PSI, Grace Natalie yang kini rajin bertemu dengan Joko Widodo mengatakan “Jadi justru tidak bijak untuk PSI pagi-pagi memutuskan di saat situasinya belum jelas. Jadi kita masih pantau terus seperti Pak Jokowi katakan netral aja dulu ojo kesusu, ini masih ada banyak drama sinetron kata Pak Jokowi,”

PSI dicueki PDI Perjuangan, didekati oleh Prabowo namun tegak lurus pada Joko Widodo.

Dianggap sebagai Partai Bocil, PSI ternyata mulai beranjak dewasa dalam berpolitik. Tidak lagi menunggang arus melainkan berusaha ikut mengemudikan angin.

Dari antara partai-partai yang tak punya kursi, PSI menjadi partai paling berada di orbit pilpres. PSI ikut meramaikan dinamikanya walau kita belum tahu ujungnya kemana.

Tapi bisa diduga tidak akan berakhir dengan plot twist sebagaimana Muhaimin Iskandar yang meninggalkan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya, menyeberang ke Koalisi Perubahan.

BACA JUGA : Demam Smelter Nikel 

Hanya saja buat saya, PSI terasa kelewat dewasa. Perasaan kok tiba-tiba PSI menjadi begitu tua. Bukan karena kini PSI kemudian dihuni oleh sosok-sosok tua semacam Ade Armando, Helmy Yahya atau Mongol, melainkan karena baliho-baliho kampanyenya yang berisi kalimat janji politik yang bapack-bapack banget.

Entah sudah habis kreatifitasnya atau apa, sampai-sampai PSI menuliskan tagline PSI Menang, BPJS Gratis.

PSI mulai omong kosong, mengatakan yang tidak sebenarnya atau bahkan tidak mungkin diraihnya.

Mengatakan menang, menang apa?.

Menang pemilu. Demikian kita kerap mengatakan hal itu. Padahal sebenarnya tidak pernah ada partai yang benar-benar memenangkan pemilu. Yang ada meraup suara terbanyak dan memperoleh kursi terbanyak di DPR. Tapi kita semua tahu, DPR itu lembaga kolektif, tidak ada wakil rakyat yang berasal dari satu partai yang bisa memutuskan. Keputusan selalu diambil bersama, kecuali di masa pemerintahan Presiden Suharto.

Di DPR para wakil rakyat dari partai yang memperoleh suara paling banyak dalam pemilu tidak disebut partai pemenang melainkan mayoritas.

Dan jika pada saat yang bersamaan sebuah partai meraih kursi terbanyak di DPR sekaligus calon yang diajukan memenangkan pemilu presiden. Maka yang disebut pemenang adalah presidennya, bukan partainya. Begitu menjadi presiden, seseorang tak bisa lagi disebut sebagai pilihan partai, karena presiden merupakan pilihan rakyat.

Boleh saja partainya merasa telah memenangkan pemilu presiden dan kemudian menyebut presidennya sebagai petugas partai, namun rakyat tidak menganggap demikian.

Lain halnya jika sistem pemerintahan di Indonesia adalah parlementer. Dalam sistem ini partai mayoritas {50 persen plus 1} bisa membentuk pemerintahan secara otomatis.

Kita memang terus memelihara salah kaprah lewat istilah partai pemenang pemilu, partai penguasa dan partai oposisi. Semua istilah yang tidak kita kenal dalam konstitusi dan sistem pemerintahan di Indonesia.

Dan PSI partai yang paling banyak diisi oleh anak-anak muda, mencitrakan diri sebagai partai orang muda ternyata tidak mampu lepas dari jebakan itu. PSI sama sekali tidak menawarkan gaya dan cara politik yang out of the box, keluar dari langgam lama politik Indonesia.

Padahal jika berkeinginan untuk mengratiskan BPJS, tak perlu menunggu sampai PSI menang pemilu. Karena ditunggu sampai kapanpun rasanya sulit untuk menang.

Menghasilkan perubahan dengan menunggu sampai menjadi pemenang bukanlah watak orang muda. Yang dinamakan advokasi kebijakan tidak selalu harus atau bisa dilakukan jika sudah merengkuh atau berada dalam kekuasaan.

Anak muda adalah pejuang. Maka perjuangan anak-anak muda seharusnya tidak mengikuti cara-cara orang tua. Anak muda itu rebel, melawan. Maka untuk meraih sesuatu mesti dilakukan dengan cara-cara baru, cara yang segar bukan ikut business as usual.

Gelagat PSI yang kemudian tegak lurus pada Joko Widodo, jelas bukan watak orang muda. PSI lebih memilih pengikut dengan menjadi penyempurna kebusukan dan keburukan partai-partai senornya.

note : sumber gambar ilustrasi – FAJAR.CO.ID