KESAH.ID – Pak Prabowo, tenang pak, saya sudah ada disini. Begitu Gibran Rakabuming Raka menegaskan kesediaannya untuk menjadi calon wakil presiden bagi Prabowo Subianto. Prabowo mungkin lega setelah sekian lama bimbang akan memilih siapa. Akankah dengan mengandeng Gibran bisa membuat Prabowo memenangkan pilihan kaum milenial?. Semua akan ditentukan pada 14 Februari 2024 nanti. Yang pasti begitu ditetapkan menjadi cawapres Prabowo Subianto, hidup dan hari-hari Gibran ke depan menjadi tidak mudah.
Kurang lebih ada 42 Kepala Daerah dan Wakil yang berusia di bawah 40 tahun. Yang namanya sempat populer adalah Emil Elestiantao Dardak, peraih gelar doktor termuda di Ritsumeikan Asia Pasific University ini pada usia 32 tahun terpilih sebagai Bupati Trengalek pada tahun 2016.
Namanya kemudian meredup karena maju berpasangan dengan Khofifah Indarpawansa sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur terpilih. Dan kemudian dari antara para pemimpin atau kepala daerah muda yang kemudian namanya melambung adalah Gibran Rakabuming Raka, Walikota Solo.
Lepas dari Gibran adalah anak presiden atau bukan, kepemimpinannya di Solo menunjukkan tren positif untuk masa depan yang cerah dalam dunia politik. Pada pemilu 2024 nanti, Jawa Tengah yang ditinggal oleh Ganjar Pranowo karena telah dua periode memimpin, sebenarnya memberi karpet merah untuk Gibran menuju kursi Gubernur.
Atau bahkan Gibran bisa mengikuti jejak bapaknya, dari Walikota Solo ke kursi DKI 1. Sebab dengan tingkat popularitas yang dicapai oleh Jokowi dan loyalitas pengikutan, bukan hal yang sulit bagi Gibran untuk bersaing memperebutkan kursi Gubernur DKI Jakarta.
Andaikan Gibran jadi Gubernur entah Jateng atau DKI selama dua periode, maka dia akan mengakhiri kedudukan sebagai Kepala Daerah dalam usia yang matang, 47 tahun pada saat pemilu 2034. Melewati perjalanan politik yang normal, bisa dipastikan karpet merah menuju kursi Presiden RI 2034 terbentang untuknya.
Tapi itu bayangan saya dalam mereka-reka perjalanan politik secara organik, perjalanan yang mematangkan seorang pemimpin hingga kemudian menjadi idola masyarakat karena kinerjanya yang telah terbukti.
Dalam konteks kepemimpinan politik atau pemerintahan, capaian dalam satu dua tahun meski kelihatan gemerlap, mesti diuji dalam waktu yang lebih lama lagi agar penilaian masyarakat tidak terdistraksi.
Tapi nampaknya garis politik Gibran dan saudara kandung maupun saudara iparnya memang agak lain. Perjalanan mereka bukan perjalanan organik, Gibran, Bobby dan Kaesang adalah produk-produk dari politik fast track.
Gibran dan Bobby menjadi walikota karena wild cards yang diberikan oleh Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri. Sementara Kaesang menjadi Ketua Umum PSI karena kemauan Bro Sis senior-senior PSI.
Terbiasa dengan jalur tol, Gibran nampaknya ingin lebih sat-set. Layaknya anak-anak kelas percepatan, yang masih kelas 1 atau 2 namun sudah ikut ujian akhir. Gibranpun demikian, kedudukan sebagai gubernur sekalipun itu Gubernur DKI Jakarta tidak menarik untuknya. Gibran langsung ingin masuk ke kancah tertinggi, ikut kontestasi pemilu presiden 2024.
Dalam memori tersimpan ingatan bahwa di politik hampir tak ada satupun yang tak mungkin. Melihat pengalaman bapaknya, siapa yang menyangka mantan pengusaha mebel itu bisa menjadi Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta lalu terpilih jadi Presiden.
Meski ada halangan konstitusi, toh konstitusi bukan Kitab Suci yang isinya sudah final dan tak bisa dirubah-rubah lagi. Konstitusi bisa direvisi dan ada banyak jalan ke Roma untuk merevisi konstitusi. Dan terbukti Mahkamah Konstitusi yang diberi hak untuk itu kemudian membuat keputusan yang menyingkirkan halangan bagi Gibran untuk maju sebagai calon wakil presiden.
BACA JUGA : Ducati Akan “Kesulitan” Tahun Depan
Kisah tentang jalan tol atau kasarnya kelahiran pemimpin yang dikarbit sebenarnya bukan khas Gibran Joko Widodo. Sebelumnya ada nama Agus Harimurti Yudhoyono, Mas Agus yang karirnya moncer di TNI ‘dipaksa’ meninggalkan medan perangnya di tentara, masuk ke medan politik untuk bersaing dalam memperebutkan kursi Gubernur DKI.
AHY yang dibahunya telah menyandang satu bunga melati ternyata kalah. Tapi karir politiknya tak tamat karena bapaknya punya partai. AHY pun diberi jalur cepat yang kedua kalinya, dijadikan Ketua Umum Partai Demokrat.
Nasibnya lebih baik daripada anak-anak Suharto yang terus gagal rebound ketika ingin kembali masuk dalam politik sesudah kejatuhan orang tuanya. Kalah sebagai calon gubernur tidak membuat AHY menjadi gembel politik. Kedudukan politiknya tetap terhormat karena memimpin partai medioker dalam politik di Indonesia.
Lalu bagaimana dengan Gibran, apakah kalau kalah dalam pemilu nanti akan jatuh ke lubang sumur paling dalam?. Apakah Gibran akan mampu rebound lagi, mengingat bapaknya tidak punya partai. Walau mungkin sekarang ini ketika masih berkuasa menjadi ‘kakak pembina’ bagi hampir separuh partai besar, menengah dan gurem di Indonesia.
Tentu saja kemungkinan semacam ini sudah dihitung oleh Gibran dan keluarganya, keluarga besar Jokowi. Bahkan mungkin Prabowo sebagai capres yang kemudian meminta Gibran menjadi cawapres juga bimbang. Bimbang hingga kemudian penentuan Gibran sebagai cawapresnya menjadi ayng terakhir diantara pasangan lainnya, mendaftar ke KPU pun pada hari terakhir.
Pun bahkan seandainya Prabowo – Gibran menang, tidak akan otomatis pengaruh politik dan popularitasnya naik. Banyak pihak masih terus mempertanyakan kemampuan dan kematangannya dalam berpolitik. Pengalaman dan pengetahuan dalam politik kepemerintahan di level tertinggi masih sangat terbatas.
Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok yang adalah teman baik bapaknya pun berterus terang kalau pengalaman Gibran tidak cukup. Ahokpun dengan tegas tidak menyatakan tak akan memilih pasangan Prabowo – Gibran.
Rocky Gerung yang mengaku berteman dengan Prabowo pun juga bingung, kenapa Prabowo sampai memilih Gibran sebagai pasangannya.
Keraguan ini bisa dimengerti terutama atas resiko Prabowo tidak mampu menjalankan pemerintahan di tengah jalan dan kemudian harus digantikan oleh Gibran sebagai wakilnya. Pastinya selain akan mencatat rekor sebagai wakil presiden termuda, jika secara tetap Prabowo nanti berhalangan maka Gibran akan tercatat sebagai presiden termuda.
Tapi bayangkan apa jadinya kalau Indonesia dipimpin oleh presiden yang muda, muda dalam umur tapi juga muda dalam pengalaman.
Kita sebenarnya juga tak pernah akan tahu, yang ada hanyalah duga-duga dan memori atas pengalaman-pengalaman lampau. Seorang yang muda memimpin kabupaten atau kota barangkali memang masih diterima, karena kalau ada kesalahan dampaknya tidak besar bagi negara. Tapi jika seorang presiden salah langkah, teledor atau konyol karena belum mampu menguasai emosinya, ada bahaya besar bagi keutuhan bangsa dan negara. Terlalu banyak resiko yang harus dipertaruhkan.
BACA JUGA : Lionel Messi Tetap Yang Terdepan
Apakah Prabowo, Pak Jokowi, Ibu Iriana dan saudara-saudari Gibran tidak paham dengan resiko itu?. Tak mungkin seorang Joko Widodo dan Prabowo tak paham resiko semacam itu. Maka pertanyaannya apakah Gibran itu korban atau dikorbankan demi kepentingan tertentu, kepentingan yang mungkin hanya diketahui oleh Prabowo, Joko Widodo dan keluarganya.
Ya kemungkinan Gibran adalah korban dari bujuk rayu dari Prabowo yang sangat intensif mendekati keluarga Joko Widodo dan Gibran terutama sejak Ganjar Pranowo ditetapkan sebagai capres oleh PDI Perjuangan.
Mungkin berkali-kali, Prabowo secara langsung meminta kepada Joko Widodo atau Iriana untuk mengijinkan meminang Gibran sebagai cawapresnya. Dan terbukti Cak Imin hanya dipakai sebagai penyamaran, diberi harapan palsu untuk maju sebagai cawapres lewat Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya yang kemudian bubar. Cak Imin malah tak diduga-duga digandeng oleh Anies Baswedan, calon dari Koalisi Perubahan.
Pertimbangan Prabowo mengandeng Gibran, selain untuk semakin menegaskan bahwa kelak pemerintahannya adalah melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh Jokowi, juga berharap pendukung atau masyarakat yang puas terhadap pemerintahan Joko Widodo akan menjadi pemilihnya. Kontinuitas antara Jokowi dan Prabowo dihadirkan lewat tanda nyata yakni anak dari Joko Widodo.
Jadi Gibran menjadi korban ambisi dari Prabowo yang sudah berkali-kali nyapres tapi kalah. Dan ini adalah kesempatan terakhir untuk Prabowo, maka Gibran dipakai menjadi tiket untuk memenangkan kontestasi pamungkasnya.
Sekalipun memang, Gibran akan tetap menjadi kurban. Sebab kedudukan sebagai wakil presiden tak lebih dari ban serep. Sorotan media tidak semeriah ketika menjadi walikota atau gubernur. Lihat saja, Emil Dardak, yang bersinar ketika menjadi bupati. Namanya kemudian seolah hilang, tenggelam ketika menerima pinangan sebagai calon wakil gubernur dan kemudian menang.
Emil yang mestinya punya kapabilitas itu tak pernah disebut-sebut dalam dinamika kontestasi pemilu presiden 2024, dia kalah dengan Erick Thohir, Sandiaga Uno, AHY dan lainnya.
Lalu apa yang dimaksudkan Gibran sengaja dikorbankan?. Lagi-lagi ini hanya duga-duga. Jokowi sendiri mengaku cawe-cawe terhadap Pemilu Presiden 2024. Jokowi mungkin tak ingin situasi atau kondisi pemilu 2014 dan 2019 terulang, dimana masyarakat tercabik-cabik dan residunya masih terasa hingga sekarang.
Masyarakat yang terbelah dan ternyata tak mudah untuk menyambung yang retak. Langkah rekonsiliasi yang mengajak Prabowo ke dalam pemerintahannya sekalipun belum mampu merekatkan kembali apa yang terpisah.
Ganjar tentu saja dijaga oleh PDI Perjuangan sebagaimana halnya Joko Widodo dijaga oleh PDI Perjuangan. Jokowi tentu percaya bahwa PDIP dan partai koalisinya tidak akan membawa isu politik identitas dan memobilisasi kelompok keagamaan yang radikal untuk memenangkan calonnya.
Namun Prabowo walau bukan berasal dari latar yang lekat dengan politik identitas namun ditenggarai jika terpaksa akan kembali memobilisasi gerbong yang dulu pernah dipakai untuk menopang pencalonannya. Bisa jadi untuk memastikan hal itu tak terjadi maka Gibran direstui menjadi pasangan Prabowo dengan semua resikonya.
Calon dan partai pengusung atau pendukung memang tak ada yang buas. Tapi bisa jadi mereka akan memanfaatkan kelompok yang buas di lapangan untuk merubah peta suara dan dukungan.
Mungkin ini yang sedang dipastikan oleh Joko Widodo lewat cawe-cawenya. Dan dia berani mengorbankan anaknya untuk memastikan hal itu agar tak terjadi.
Tapi sekali lagi ini hanya duga-duga, buah permainan pikiran ketika menghisap kretek dengan aroma dan rasa mangga yang baru dirilis oleh pabrik rokok ternama.
note : sumber gambar ilustrasi – CNNINDONESIA.COM







