KESAH.ID – Memulai debut di tim senior sejak tahun 2005, nama Lionel Messi terus mewarnai dunia sepakbola karena torehan-torehan prestasi. Saking akrabnya dengan kemenangan dan rekor, prestasi Messi kemudian sering menimbulkan kecurigaan. Messi digambarkan sebagai anak emas yang karena berbagai kepentingan dalam dunia olahraga sepakbola kemudian selalu didahulukan. Hanya Christiano Ronaldo yang sanggup bersanding dengannya untuk saling melampaui, nama-nama besar lainnya yang sempat muncul tak mampu bertahan menepis sinar cemerlangnya.
Dalam olahraga profesional, usia biologis sangat menentukan perfoma seorang atlit di dalam pertandingan. Harus bertanding terus menerus selama satu musim pertandingan, seiring bertambahnya usia resiko cidera dan tak sanggup bermain secara penuh menjadi semakin besar.
Menepi ke liga atau kompetisi yang lebih ringan biasanya menjadi pilihan untuk menutup kariernya. Seperti Ronaldo yang kemudian menepi ke Liga Sepakbola Arab Saudi, Lionel Messi kemudian juga menyusul dengan memilih Liga Sepakbola Amerika Serikat.
Meninggalkan Liga Eropa, Messi melepas semua keinginan untuk merengkuh rekor-rekor pribadi. Catatan prestasi yang mungkin bisa ditorehkan di Liga Champion ditutup olehnya. Beberapa rekor yang telah dicapai oleh rival abadinya yakni Christiano Ronaldo mustahil untuk dikejar.
Walau begitu, ketika berpindah dari Paris Saint Germain Perancis, ke Inter Miami Amerika Serikat, Messi mempunyai simpanan prestasi yakni Messi memimpin Timnas Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 di Qatar. Prestasi ini diyakini akan membuat Messi merengkuh gelar Ballon D’or 2023.
Dan benar, Selasa 31 Oktober 2023 dini hari waktu Indonesia, Lionel Messi diumumkan sebagai peraih penghargaan individu paling bergengsi dalam dunia sepakbola itu. Bisa dipastikan ini akan menjadi trophy Ballon D’or terakhir untuk Messi.
Namun meski sebagai trophy terakhir nama Messi bakal abadi karena dengan meraih Ballon D’or 2023, Lionel Messi telah menjejerkan 8 trophy. Saingan terdekat Messi hanya Ronaldo yang telah meraih 5 trophy dan mustahil menambahnya lagi.
Dan sebagaimana biasanya, raihan prestasi Messi selalu menciptakan rekor. Selain menjadi peraih Ballon D’or terbanyak, Messi juga menjadi pemain pertama yang meraih penghargaan Ballon D’or bukan sebagai pemain sepakbola aktif di Liga Eropa.
Tanda-tanda Messi akan meraih Ballon D’or 2023 sudah bocor dari beberapa waktu yang lalu. Beberapa sosok penting dalam sepakbola telah mengungkapkan lebih dahulu. Faktor Messi meraih gelar Juara Piala Dunia sekaligus terpilih sebagai pemain terbaik dalam kejuaraan itu dianggap sebagai faktor penentu.
Raihan prestasi bersama Timnas Argentina dan permainan yang tidak buruk bersama PSG di tahun 2022 membuat Messi mampu mengalahkan Erling Haaland dan Kylian Mbappe, dua bintang muda masa depan Liga Eropa.
Erling Haaland yang bersinar benderang bersama dengan Manchester City kemudian diganjar penghargaan Gerd Muller Trophy, penghargaan sebagai striker terbaik Ballon D’or. Pun juga dengan klubnya yakni Manchester City yang dianugerahi sebagai klub terbaik dunia 2023.
Christiano Ronaldo, rival abadi Lionel Messi tidak masuk dalam nominasi. Dengan demikian Ballon D’or 2023 akan menutup episode persaingan dua orang pesepakbola terbaik di dunia yakni Lionel Messi dan Christiano Ronaldo, untuk kemudian memasuki era persaingan baru antara Erling Haaland dengan Kylian Mbappe atau pemain-pemain muda Liga Eropa lainnya.
Lionel Messi masih akan bermain sepakbola dalam beberapa tahun ke depan dan tetap akan ikonik serta sesekali menunjukkan magis-nya dalam mengocek bola bundar. Namun Messi akan lebih memilih untuk menyenangkan diri dan para pengemarnya, gelar tidak lagi menjadi tujuan. Sebab semua gelar terbaik bagi pemain sepakbola di dunia telah direngkuhnya.
BACA JUGA : Moralitas Itu Top Down, Makanya Kita Perlu Pemimpin Yang Bermoral
Selama perjalanan karir sepabola Lionel Messi dengan seabrek penghargaan untuknya, raihan Ballon D’or oleh sebagian pengamat dianggap kontroversi. Messi dianggap sebagai pemain sepakbola kesayangan sehingga beberapa Trophy Ballon D’or yang diraih olehnya lebih merupakan penghormatan ketimbang penghargaan. Karena nama besar, Messi kemudian punya poin lebih dari yang lainnya dimata mereka yang diberi hak untuk memilih.
Penghargaan Ballon D’or 2023 ini juga dianggap kontroversial, mengingat Messi meski tak buruk-buruk amat di PSG namun tak mampu membawa klub itu berjaya di Liga Eropa. Jika yang diukur adalah perfoma dan konsistensi dalam rentang yang panjang, maka Erling Haaland yang semestinya mengangkat trophy Ballon D’or 2023. Bersama Manchester City, Haaland tampil bak singa sepanjang musim, membawa Manchester City meraih Treble Winner.
Karena dilema ini banyak yang mengusulkan agar Ballon D’or 2023 ada dua piala. Satu piala khusus untuk Messi karena dianggap meraih penghargaan abadi, dan satu piala reguler untuk Erling Haaland.
Bahkan seorang pelatih nasional sekalipun tak bisa menahan mulutnya untuk nyinyir pada Messi. Louis Van Gaal yang tak bisa menerima kekalahan anak asuhannya melawan tim yang dipimpin Messi menyebut piala dunia 2022 dirancang untuk memenangkan Messi.
Andaikan ucapan itu disampaikan di Indonesia Layer Club yang dimoderatori Karni Illyas, niscaya ada lawan bicara yang akan menanggapi bahwa tuduhan itu amat serius dan berpotensi di bawa ke meja laporan polisi.
Bayangkan seorang pelatih nasional menganggap perhelatan piala dunia sebagai sebuah konspirasi.
Van Gaal yang orang Belanda itu ternyata mempunyai logika gothak-gathuk ala orang Jawa.
Tuduhannya sekilas memang masuk akal. Sebab Lionel Messi yang telah bertabur prestasi dan memulai karir sebagai pemegang gelar Piala Dunia Yunior ternyata melempem di ajang piala dunia senior.
Prestasi terbaik Messi di tingkat timnas dimana dia selalu menjadi kapten adalah finalis piala dunia 2014 dan dikalahkan oleh Jerman. Satu-satunya hiburan untuk Messi sebelum meraih piala dunia 2022 adalah kemenangan dalam Copa Amerika tahun 2021 saat Argentina bisa menundukkan Brasil.
Bagi banyak orang piala dunia 2022 di Qatar adalah piala dunia terakhir untuk Messi. Maka ini menjadi penentuan, sekarang atau tidak selamanya.
Dan perjalanan meraih gelar di piala dunia Qatar memang tidak mulus. Argentina yang sudah dalam posisi terjepit ternyata bisa lepas dari lubang jarum hingga merangkak ke final lalu berhasil mengalahkan Perancis lewat perpanjangan waktu dan adu pinalti.
Dengan logika gothak-gathuk memang bisa tercipta narasi kalau disana ada konspirasi, memberi jalan kepada Messi agar dapat menyamai gelar yang pernah direngkuh oleh seniornya Diego Armando Maradona.
Bagi Van Gaal, tanpa gelar piala dunia semua prestasi Messi menjadi kurang sempurna. Messi dianggap sebagai raja tanpa mahkota jika belum berhasil membawa Argentina mengangkat trophy Piala Dunia.
Tapi nyinyiran Van Gaal hanya sekedar omong kosong. Bagaimana mungkin perhelatan sebesar piala dunia bisa diatur tanpa bocor rencana buruknya. Kalau penentuan tuan rumah mungkin saja benar ada deal-deal tertentu bahkan juga amplop, namun tidak untuk permainan di lapangan.
Ucapan Van Gaal adalah cerminan frustasi insan sepakbola Belanda yang banyak melahirkan pemain-pemain hebat namun sampai sekarang belum juga berhasil meraih gelar Piala Dunia, bahkan ketika timnas Belanda punya trio terhebat sekalipun. Van Basten, Frank Rijkaard dan Rudd Gullit hanya berhasil membawa Belanda memenangi Piala Eropa 1988, namun gagal di piala dunia 1990.
BACA JUGA : Menguak Karnaval Sound Sebagai Ekpresi Kegembiraan Bersama
Penghargaan Ballon D’or memang subyektif karena dipilih melalui voting oleh kapten, pelatih dan media perwakilan dari negara-negara anggota FIFA. Masing-masing memilih 3 orang pemain dengan urutan 1, 2, 3. Pemain nomor satu mendapat poin 5, pemain nomor dua mendapat point 3 dan pemain nomor 3 mendapat poin 1.
Poin-poin itu kemudian dijumlahkan dan yang mendapat poin terbanyak adalah pemenangnya. Jika ada dua orang mempunyai poin yang sama maka yang akan keluar sebagai pemenang adalah yang paling banyak mendapatkan pilihan nomor 1.
Tahun ini dari 209 anggota FIFA, hanya perwakilan dari Indonesia dan Kuwait yang tidak ikut memilih karena sedang menjalani hukuman.
Karena seperti survey popularitas dan elektabilitas maka tak bisa dihindari soal suka dan tidak suka. Dan mereka yang populer akan cenderung menang. Indikator atau barometernya menjadi sangat subyektif.
Mereka yang menganggap kompetisi panjang lebih punya nilai tentu akan memilih pemain yang hebat dalam kompetisi liga, sementara mereka yang menganggap piala dunia adalah lambang supremasi tentu akan memberi tempat lebih besar pada pemain yang berhasil meraih gelar Juara Piala Dunia.
Meski begitu voting atau pemilihan Ballon D’or tidak seperti pemilu, karena para kandidat tidak berkampanye agar dipilih. Mereka dipilih berdasarkan track records walau pembobotannya dilakukan sendiri oleh para pemilihnya.
Dan yang pasti sulit untuk melakukan transaksi, kandidat tidak bisa menyuap atau memberi amplop kepada pemilihnya. Andai itu dilakukan dan yang disuap dibocorkan, bisa-bisa karir sang kandidat akan tamat.
Adalah biasa dalam pemilihan para pemilih akan cenderung memilih yang populer. Dan Messi yang mulai meredup di Liga Eropa kemudian moncer ketika pindah ke Liga Amerika Serikat {MLS}. Ditambah dengan raihan Trophy Piala Dunia 2022, sinar cemerlang yang kembali berpendar memang lebih memikat. Suka atau tidak suka, raihan Ballon D’or ke delapan dari Messi mesti diterima dengan lapang dada oleh siapapun.
Apakah ini akan mengakhiri perdebatan apakah Messi atau Ronaldo yang terbaik?. Tidak, karena masing-masing punya pengemar yang tentu akan menilai secara subyektif.
Dan karena telah mengkoleksi 8 trophy, Messi yang masih aktif bermain dan belum mau pensiun di Tim Nasional Argentina masih punya kemungkinan meraih satu Ballon D’or lagi, yakni Super Ballon D’or. Selama ini baru satu pemain yang memperolehnya yakni Alfredo Di Stefano, legenda Real Madrid. Penghargaan khusus itu diberikan saat majalah France Football merayakan ulang tahun ke 30.
Bisa saja kelak, menjelang pensiun majalah yang sama akan memberikan penghargaan khusus untuk Lionel Messi sebagai penghormatan atas dedikasinya pada dunia sepakbola modern. Dan kalau itu terjadi mungkin nama penghargaannya adalah Super Duper Ballon D’or.
note : sumber gambar ilustrasi – LIPUTAN6.COM







